Nara menunjukkan gambar rumah itu tanpa banyak penjelasan.
Atapnya miring. Cat temboknya putih kusam. Ada dua jendela di depan dan satu pohon pisang di sisi kanan. Di antara kedua jendela itu, sebuah pintu digambar dengan pensil hitam sampai nyaris menembus kertas.
“Rumah siapa?” tanya Yabui.
Nara menggeleng.
Mereka duduk di teras tempat les yang hanya berjarak beberapa gang dari Stasiun Cilebut. Sore baru selesai diguyur hujan. Air masih menetes dari talang, sedangkan dari kejauhan terdengar suara kereta melintas.
“Aku lihat dari kereta,” kata Nara.
“Di mana?”
“Enggak tahu.”
“Dekat Cilebut?”
“Awalnya.”
Yabui mengamati gambar itu lagi.

“Awalnya?”
Nara membuka buku gambarnya. Pada halaman berikutnya terdapat rumah yang sama. Bentuk atap, letak jendela, pohon pisang, bahkan retakan di dinding kirinya tidak berubah.
Hanya latarnya berbeda.
Pada gambar pertama rumah itu berdiri di belakang deretan warung. Pada gambar kedua berada di tengah tanah kosong. Pada gambar ketiga muncul di samping jembatan kecil.
“Ini rumah yang sama?”
“Iya.”
“Kereta yang bergerak, kan?”
Nara mengangguk.
“Terus rumahnya?”
“Dia ikut.”
Jawabannya begitu ringan, seolah tidak ada hal aneh di dalamnya.
Yabui hendak bertanya lagi ketika ibu Nara memanggil dari halaman. Langit kembali menggelap dan mereka harus pulang sebelum hujan turun.
Nara menutup buku. Satu lembar gambar terlepas dan jatuh di dekat kaki Yabui.
Ia memungutnya.
Rumah yang sama, tetapi kali ini seluruh jendelanya tertutup. Di depan pintu berdiri seseorang yang digambar sangat kecil.
“Ini siapa?”
Nara sudah berdiri di samping ibunya.
Anak itu melihat gambar di tangan Yabui, lalu menatapnya cukup lama.
“Orang yang terakhir lihat rumahnya.”
“Kenapa berdiri di depan pintu?”
Nara mengenakan helm.
“Karena dia turun.”
Motor mereka bergerak meninggalkan halaman.
Yabui hendak memanggil, tetapi suara mesin telah menjauh. Ia akhirnya memasukkan gambar itu ke dalam tas hitamnya.
Kereta menuju Jakarta tiba ketika magrib hampir habis.
Gerbong tidak terlalu padat, tetapi seluruh kursi sudah terisi. Yabui berdiri dekat pintu, dengan kupluk putih masih menutupi kepalanya dan tali tas melintang di atas kaus putih.
Hujan mulai turun lagi saat kereta meninggalkan Cilebut.
Pada awalnya pemandangan di luar masih jelas: atap rumah, tembok belakang, bengkel, jemuran yang belum sempat diangkat. Setelah beberapa menit, kaca dipenuhi titik-titik air dan semuanya bergerak sebagai warna yang berbaur.
Yabui membuka tas untuk mencari buku catatan.
Gambar Nara terselip di antara halaman.
Ia baru saja mengeluarkannya ketika seorang anak laki-laki di sebelahnya menunjuk ke luar.
“Ma, rumah itu lagi.”
Ibunya tetap menatap telepon.
“Rumah mana?”
“Yang tadi.”
“Rumahnya banyak yang mirip.”
Anak itu masih menunjuk.
Yabui mengikuti arah tangannya.
Di balik hujan, sebuah rumah putih berdiri beberapa meter dari rel.
Atap miring.
Dua jendela.
Pintu gelap.
Pohon pisang di sisi kanan.
Kereta melaju cepat melewatinya.
Rumah itu hilang di balik deretan pohon dan tiang listrik.
Yabui menurunkan gambar Nara. Kemiripannya memang kuat, tetapi bentuk rumah semacam itu tidak langka. Bisa jadi Nara melihat beberapa bangunan serupa, lalu menyatukannya menjadi satu rumah dalam cerita.
Ia memasukkan gambar kembali ke tas.
Beberapa menit kemudian, anak di sampingnya mengetuk kaca.
“Itu lagi.”
Kali ini ibunya ikut menoleh.
Di seberang hamparan rumput basah, rumah putih itu muncul kembali.
Tidak mungkin berada di sana bila yang tadi memang rumah yang sama. Kereta telah melewati cukup banyak permukiman dan satu tikungan panjang.
Namun retakan di dinding kirinya tetap sama.
Pohon pisangnya juga sama.
Tirai pada jendela kiri masih menggantung miring.
“Rumah lain,” kata sang ibu, lebih pelan daripada sebelumnya.
Anaknya tidak menjawab.
Yabui mengamati sampai rumah itu lenyap di belakang semak.
Ketika kaca kembali hanya memantulkan isi gerbong, ia melihat seorang perempuan tua berdiri di sisi lain pintu. Perempuan itu menatap keluar dengan wajah tegang.
“Ibu juga lihat rumah tadi?” tanya Yabui.
Perempuan itu langsung mengalihkan pandangan.
“Jangan dihitung.”
“Maksudnya?”
“Kalau muncul lagi, jangan dihitung.”
Ia lalu berjalan menjauh, menyelip di antara penumpang.
Kereta mulai melambat.
Lampu di dalam gerbong berkedip sebentar.
Di luar, kawasan permukiman berganti menjadi lahan yang lebih terbuka. Hujan menebal, memukul kaca seperti kerikil halus.
Rumah putih itu muncul untuk ketiga kalinya.
Kini lebih dekat.
Sangat dekat hingga Yabui dapat melihat cat yang mengelupas pada kusen pintunya.
Tidak ada pagar yang memisahkan rumah dari jalur. Tidak ada halaman. Anak tangga depan berakhir hanya beberapa jengkal dari kerikil rel.
Pada jendela kanan, tirainya terbuka.
Seseorang berdiri di dalam.
Tubuhnya terlalu gelap untuk dikenali. Kepala sedikit menunduk. Kedua tangan berada di samping tubuh.
Anak laki-laki di sebelah Yabui menempelkan telapak tangannya ke kaca.
“Dia lihat sini.”
Ibunya menarik tubuh anak itu menjauh.
Sosok di dalam rumah mengangkat kepala.
Wajahnya tidak terlihat. Hanya permukaan pucat di antara rambut yang gelap.
Pintu depan rumah terbuka.
Kereta memasuki tikungan dan rumah itu tersapu dari pandangan.
Lampu gerbong mati.
Jeritan kecil terdengar dari beberapa arah.
Dalam gelap, kaca berubah menjadi cermin. Wajah-wajah penumpang melayang di permukaannya. Ada yang pucat oleh cahaya telepon, ada yang hanya berupa bayangan.
Yabui melihat pantulan dirinya.
Di belakang bahunya, dua jendela putih tampak mengambang.
Ia menoleh.
Tidak ada apa pun selain penumpang yang berdiri rapat.
Ketika ia melihat kaca lagi, pantulan rumah telah lebih dekat. Pintu gelapnya berada tepat di belakang kepalanya.
Lampu menyala kembali.
Rumah lenyap.
Kereta mendadak mengerem.
Tubuh para penumpang terdorong ke depan. Yabui menangkap tiang dengan satu tangan dan menahan bahu anak laki-laki di sampingnya dengan tangan lain.
Suara roda berdecit panjang.
Kereta berhenti di antara dua stasiun.
Pengumuman terdengar dari pengeras suara, tetapi putus-putus. Masinis hanya menyebut gangguan pada jalur depan dan meminta penumpang tetap berada di dalam kereta.
Di sisi kanan terdapat tembok panjang.
Di sisi kiri terbentang tanah kosong.
Rumah putih itu berdiri di tengahnya.
Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.
Kemudian beberapa penumpang mulai mendekati kaca.
“Perasaan tadi enggak ada.”
“Rumah kosong kali.”
“Kok dekat sekali sama rel?”
Seorang laki-laki mengangkat telepon dan merekam.
Di layar telepon, tanah itu kosong.
Ia menurunkannya.
Rumah itu kembali terlihat.
Ia mengangkat telepon lagi.
Kosong.
“Ini kenapa enggak masuk kamera?”
Penumpang lain mencoba. Hasilnya sama. Dari balik kaca, rumah itu berdiri jelas. Di layar, hanya ada rerumputan basah dan satu tiang listrik.
Anak di dekat Yabui mulai menangis.
“Jangan buka pintunya,” katanya.
Ibunya memeluknya.
“Pintu apa?”
Anak itu menunjuk ke luar.
Pintu depan rumah bergerak perlahan.
Terbuka sedikit.
Berhenti.
Lalu terbuka lagi.
Di dalamnya bukan ruang tamu, bukan lorong, bukan pula dinding belakang. Yang tampak hanya kegelapan memanjang dengan dua garis besi mengilap di lantai.
Rel.
Rel itu masuk ke dalam rumah.
Tok.
Suara ketukan terdengar dari kaca.
Semua orang terdiam.
Tok.
Kali ini lebih keras.
Suara itu datang dari pintu gerbong.
Yabui melihat bayangan berdiri di luar.
Tubuh panjang. Kepala menunduk. Rambut dan pakaian meneteskan air.
Mustahil ada orang berdiri di sana. Lantai gerbong jauh lebih tinggi daripada permukaan tanah.
Tok.
Bayangan itu mengangkat tangan.
Tiga jari menempel pada kaca pintu.
Lampu indikator menyala.
Pintu bergeser beberapa sentimeter.
Teriakan pecah.
Seorang penumpang menarik gagang darurat. Yang lain mendorong daun pintu agar kembali tertutup.
Yabui ikut menahan.
Udara basah menyusup dari celah. Bau tanah memenuhi gerbong, bercampur dengan aroma kayu lapuk dan kain lama.
Pintu terus terdorong dari luar.
Tidak ada tangan yang terlihat, tetapi sistem mengeluarkan bunyi berulang, seakan menerima perintah untuk membuka.
Yabui menekan bahunya ke daun pintu.
Celahnya sedikit melebar.
Di luar tidak lagi terlihat tanah kosong.
Ada teras rumah.
Lantainya terbuat dari ubin merah yang basah. Sebuah kursi kayu terbalik di dekat dinding. Di ujung teras, seorang anak berdiri sambil memegang buku gambar.
Nara.
Kupluk putih Yabui hampir terlepas ketika ia mencoba mendekat.
“Nara!”
Anak itu memandangnya dari seberang celah.
Wajahnya pucat dan tenang.
Ia membuka buku gambar.
Pada halaman pertama terdapat kereta yang berhenti di depan rumah.
Pada halaman kedua, pintu gerbong terbuka.
Pada halaman ketiga, seorang laki-laki berkaus putih berdiri di teras.
Yabui meraih ke luar.
Jarak Nara tampak hanya dua atau tiga langkah, tetapi tangannya tidak menyentuh udara luar. Ruang di antara gerbong dan teras terasa dalam, dingin, dan tak berujung.
Nara membalik halaman berikutnya.
Halaman itu kosong.
Lalu ia mengangkat pensil.
Ujungnya menyentuh kertas.
Pintu gerbong terbuka satu jengkal lagi.
Yabui mendengar suara napas berat tepat di balik kepalanya.
Ia menoleh sedikit.
Bayangan yang tadi berdiri di luar kini muncul di kaca sebelah dalam.
Bukan di luar.
Di belakang para penumpang.
Yabui tidak melihat tubuhnya ketika menoleh langsung, tetapi pantulannya tampak semakin dekat.
Kepalanya masih menunduk.
Dari ujung rambutnya, air jatuh satu per satu ke lantai gerbong.
Tok.
Tok.
Tok.
Bunyi itu kini datang dari dalam.
Lampu padam lagi.
Seseorang menjerit.
Kereta berguncang keras, seolah dihantam dari samping. Suara rangkaian lain melintas sangat dekat, padahal tidak ada kereta di jalur sebelah.
Angin menerobos gerbong.
Pintu mendadak tertutup.
Lampu kembali menyala.
Kereta bergerak.
Rumah itu telah hilang.
Di luar hanya ada tanah kosong yang memanjang ke belakang.
Para penumpang saling memandang. Beberapa menangis. Sebagian memeriksa tubuh dan barang bawaan. Seorang lelaki bersikeras bahwa pintu hampir terbuka karena kerusakan listrik. Perempuan lain mengatakan ia hanya melihat bayangan pohon.
Laki-laki yang merekam memutar videonya.
Gambar hanya menunjukkan kegelapan, pintu yang bergetar, dan tangan-tangan yang berusaha menahannya.
Namun suara anak kecil terdengar jelas dari rekaman.
“Jangan biarkan rumahnya memilih.”
Anak laki-laki di sebelah Yabui langsung menggeleng.
“Itu bukan suara aku.”
Yabui membuka tas hitamnya.
Gambar Nara tidak ada.
Ia mengeluarkan buku catatan, dompet, botol minum, lalu membalik seluruh isi tas. Kertas itu hilang.
Kereta berhenti di stasiun berikutnya.
Banyak penumpang turun meskipun bukan tujuan mereka.
Ibu dan anak laki-laki tadi ikut keluar. Sebelum pintu menutup, anak itu kembali mendekati Yabui.
“Pak.”
Yabui menunduk.
“Rumahnya enggak mengikuti kereta.”
“Lalu apa?”
Anak itu menatap ke dalam gerbong.
“Kita tadi masuk ke dalamnya.”
Pintu menutup.
Kereta melanjutkan perjalanan.
Malam itu, setelah sampai di rumah, Yabui menerima pesan dari nomor ibu Nara.
Hanya satu foto.
Nara duduk di meja belajar sambil memegang buku gambarnya. Di hadapannya tergeletak enam gambar rumah.
Pada gambar keenam, sebuah kereta melintas di depan rumah putih.
Di salah satu jendela kereta berdiri laki-laki berkupluk putih.
Di belakangnya, seseorang menundukkan kepala.
Yabui menelepon nomor itu.
Tidak aktif.
Ia mengirim pesan.
Tidak terkirim.
Keesokan harinya ia kembali ke tempat les.
Pintu bangunannya tertutup rantai. Kaca depannya berdebu. Di dinding terdapat pengumuman lama bahwa tempat tersebut telah berhenti beroperasi sebelas bulan sebelumnya.
Pemilik warung di sebelah mengatakan tidak pernah ada kelas lagi sejak bangunan itu ditutup.
“Anak bernama Nara?” tanya Yabui.
Perempuan penjaga warung menggeleng.
“Enggak kenal.”
Yabui menunjukkan foto dari teleponnya.
Pada layar tidak ada Nara.
Tidak ada buku gambar.
Yang terlihat hanya sebuah rumah putih dengan dua jendela dan pintu gelap. Di depannya berdiri seorang laki-laki berkaus putih, kupluk putih, dan tas hitam.
Wajahnya menghadap ke dalam rumah.
Yabui memperbesar gambar.
Di salah satu jendela, Nara berdiri di balik tirai.
Tepat sebelum layar padam, anak itu mengangkat satu jari ke bibir.
Beberapa hari kemudian, video dari dalam kereta beredar. Tidak ada yang mengetahui siapa yang pertama kali mengunggahnya. Video tersebut hanya menampilkan pintu gerbong yang bergetar dan teriakan penumpang.
Namun pada satu bingkai, pantulan rumah putih muncul di kaca.
Orang-orang kemudian mulai mencari rumah itu setiap kali kereta meninggalkan Cilebut.
Sebagian mengaku melihatnya sekali.
Sebagian melihatnya dua kali.
Mereka yang melihat untuk ketiga kalinya biasanya menutup tirai, berpindah gerbong, atau menundukkan kepala.
Sebab kini orang-orang percaya, rumah itu tidak benar-benar mengikuti kereta.
Ia hanya muncul berkali-kali untuk memastikan bahwa seseorang di dalam telah melihatnya cukup lama.
Setelah itu, bukan rumah yang bergerak mendekat.
Melainkan jarak di antara keduanya yang mulai hilang.