Kereta meninggalkan Stasiun Depok pukul 21.47.
Yabui mengetahui waktunya karena baru saja melihat jam di atas pintu gerbong. Angkanya merah dan terlalu terang untuk suasana malam yang mulai sepi.
21.47.
Ia menyandarkan punggung, lalu memeriksa ponsel.
21.47 juga.
Perjalanan ke Depok Baru seharusnya singkat. Bahkan sebelum orang sempat merasa nyaman di kursi, kereta biasanya sudah melambat lagi.
Gerbong malam itu tidak penuh. Seorang perempuan tertidur sambil memeluk tas kerja. Dua mahasiswa berbagi earphone di ujung kursi. Di dekat pintu, seorang anak laki-laki berseragam sekolah berdiri bersama ayahnya.

Anak itu masih mengenakan seragam putih abu-abu, meski hari sudah larut. Dasi abu-abunya dimasukkan ke saku kemeja. Salah satu tali sepatunya terlepas.
“Ayah,” katanya pelan, “nanti kalau jamnya berubah, kita turun, ya?”
Ayahnya tidak menjawab.
Ia hanya menatap layar informasi di atas pintu.
Tulisan di sana masih menunjukkan:
STASIUN BERIKUTNYA: DEPOK BARU
Kereta melaju seperti biasa. Cahaya rumah-rumah di luar jendela terputus oleh tiang, dinding, lalu rumpun pohon yang gelap.
Yabui kembali melihat ponsel.
21.48.
Beberapa detik kemudian, lampu gerbong padam.
Tidak lama. Mungkin hanya satu kedipan.
Namun, saat lampu menyala lagi, perempuan yang tadi tertidur sudah duduk tegak. Kedua mahasiswa melepaskan earphone hampir bersamaan. Anak berseragam sekolah memegang lengan ayahnya lebih erat.
Jam di atas pintu menunjukkan 21.52.
Yabui membuka ponsel.
21.52.
Ia mengira baru saja melamun. Tetapi jeda itu terasa terlalu pendek untuk empat menit.
Seorang mahasiswa memandang temannya.
“Tadi jam berapa?”
“Dua satu empat delapan.”
“Sekarang lima dua.”
Temannya tertawa kecil.
“Jamnya loncat.”
“Semua jam?”
Mereka memeriksa ponsel masing-masing.
Keduanya menunjukkan waktu yang sama.
21.52.
Kereta belum tiba di Depok Baru.
Padahal cahaya peron biasanya sudah terlihat.
Ayah anak berseragam itu bangkit dari kursi.
“Jangan sekarang,” katanya.
Anaknya menatap ke atas.
“Sudah lewat.”
“Belum.”
“Tiga menitnya sudah lewat.”
Suara roda kereta terdengar berubah. Bukan makin cepat atau makin lambat, melainkan seperti bergesekan pada bagian rel yang sama berulang kali.
Tak.
Tak.
Tak.
Lalu hening sesaat.
Kemudian kembali.
Tak.
Tak.
Tak.
Yabui melihat keluar jendela.
Di luar hanya ada dinding beton dengan coretan cat putih. Pada coretan itu terlihat angka besar:
3
Beberapa detik kemudian, angka yang sama muncul lagi.
Dinding yang sama.
Coretan yang sama.
Retakan kecil di bagian bawahnya pun sama.
Yabui berdiri.
“Pak,” katanya kepada ayah anak itu, “ini jalur yang sama?”
Laki-laki itu menoleh sebentar.
“Jangan lihat keluar.”
“Kenapa?”
“Kalau sudah lihat sekali, jangan dihitung.”
Anak laki-laki di sampingnya mulai menangis tanpa suara. Air matanya turun, tetapi mulutnya tetap tertutup rapat.
Kereta terus berjalan.
Angka tiga muncul untuk ketiga kalinya.
Setelah itu, dinding menghilang. Lampu-lampu Depok Baru tampak di kejauhan.
Kereta melambat.
Jam di atas pintu masih menunjukkan 21.52.
Ponsel Yabui pun sama.
Ketika pintu terbuka, para penumpang turun dengan tergesa-gesa. Tidak ada yang membicarakan empat menit yang hilang. Bahkan dua mahasiswa tadi langsung berjalan menjauh sambil menunduk.
Yabui turun terakhir.
Ia menoleh ke dalam gerbong.
Ayah dan anak berseragam sekolah masih berdiri di dekat pintu.
“Kalian tidak turun?” tanya Yabui.
Sang ayah menggeleng.
Anaknya memandang Yabui.
“Kami terlambat tiga menit.”
“Turun saja. Ini Depok Baru.”
“Bukan buat kami.”
Bunyi peringatan pintu terdengar.
Ayah itu menarik anaknya menjauh.
Pintu menutup.
Kereta berangkat menuju Pondok Cina.
Yabui berdiri cukup lama di peron, memandangi lampu merah di belakang rangkaian hingga menghilang.
Jam stasiun menunjukkan 21.49.
Yabui mengerutkan dahi.
Ia mengambil ponsel.
21.52.
Jam di peron tetap 21.49.
Beberapa detik kemudian, angka pada jam stasiun berubah.
21.50.
Seorang petugas berdiri tidak jauh dari tangga. Yabui mendekatinya.
“Pak, jam stasiun terlambat?”
Petugas melihat ke atas.
“Tidak.”
“Ponsel saya sudah 21.52.”
Petugas memeriksa jam tangannya.
21.50.
“Ponsel Bapak yang maju.”
“Jam di kereta juga 21.52.”
Petugas itu mengangkat bahu.
“Mungkin gangguan jaringan.”
Yabui memperlihatkan riwayat lokasi di ponselnya. Aplikasi mencatat bahwa ia meninggalkan Depok pukul 21.47 dan tiba di Depok Baru pukul 21.52.
Lima menit.
Terlihat normal.
Namun, grafik perjalanannya kosong di antara 21.48 dan 21.51. Tidak ada titik posisi. Tidak ada perpindahan. Garisnya terputus, lalu muncul kembali menjelang stasiun.
Petugas tadi memperhatikan layar lebih lama.
“Kereta yang barusan nomor berapa?”
Yabui tidak tahu.
Petugas itu berjalan menuju ruang penjaga.
“Bapak ikut.”
Di dalam ruang kecil itu, seorang petugas lain sedang melihat monitor CCTV. Kamera peron menampilkan penumpang yang baru turun. Yabui tampak di sana, berdiri di dekat garis kuning.
“Putar waktu kereta masuk,” kata petugas pertama.
Rekaman dimundurkan.
21.48.
Peron kosong.
21.49.
Kereta belum terlihat.
21.50.
Masih kosong.
Lalu gambar bergoyang.
Pada 21.51, kereta sudah berhenti di peron.
Tidak ada rekaman kedatangannya.
Petugas kedua memajukan video.
21.51 lewat 12 detik: kereta sudah ada.
Ia memundurkannya satu detik.
21.50 lewat 59 detik: peron kosong.
Tidak ada gerakan kereta memasuki stasiun. Rangkaian itu seperti muncul begitu saja di antara dua detik.
“Coba kamera sebelum stasiun,” kata petugas pertama.
Mereka membuka kamera yang menghadap jalur dari arah Depok.
Rekaman menunjukkan rel kosong hingga 21.50.
Pada 21.51, ujung kereta terlihat sudah dekat peron.
“Kameranya putus?” tanya Yabui.
“Tidak ada notifikasi gangguan.”
Petugas kedua menggaruk lehernya.
“Ini kereta yang sama lagi?”
Petugas pertama tidak menjawab.
Ia membuka sebuah folder lama.
Di dalamnya terdapat beberapa rekaman dari tanggal berbeda.
Semua menunjukkan hal serupa.
Kereta dari Depok tidak terekam ketika memasuki jalur. Ia muncul mendadak satu menit sebelum berhenti. Selalu pada malam hari. Selalu setelah pukul sembilan.
“Berapa kali?” tanya Yabui.
Petugas kedua menjawab pelan.
“Tujuh.”
“Dan tiga menitnya?”
Petugas pertama menutup folder.
“Tidak pernah ada.”
“Tidak ada di mana?”
“Di sistem perjalanan. Di rekaman. Di jam stasiun.”
“Tapi ada di ponsel penumpang.”
“Kadang.”
Petugas itu mengambil buku kecil dari laci. Sampulnya sudah kusam. Di dalamnya terdapat daftar tanggal dan beberapa catatan pendek.
Penumpang tiba mengaku 22.14. Jam stasiun 22.11.
Kereta muncul tanpa rekaman masuk.
Anak sekolah turun sendirian. Mengaku ayahnya masih di gerbong.
Yabui berhenti membaca.
“Anak sekolah?”
Petugas pertama menatapnya.
“Bapak lihat anak berseragam?”
“Dengan ayahnya.”
Kedua petugas saling pandang.
“Seragam putih abu-abu?”
“Iya.”
“Dasi dimasukkan ke saku?”
Yabui mengangguk.
Petugas kedua duduk perlahan.
“Anaknya pernah ditemukan di sini tiga tahun lalu.”
“Ditemukan bagaimana?”
“Duduk di tangga. Sendirian.”
“Ayahnya?”
“Tidak ada.”
Menurut catatan petugas, anak itu naik bersama ayahnya dari Depok. Mereka hendak turun di Depok Baru karena sang ayah berjanji mengantarnya menemui ibunya.
Kereta tiba tiga menit lebih lambat dari jadwal.
Tidak ada gangguan.
Tidak ada penghentian.
Tidak ada laporan kendala.
Saat pintu terbuka, anak itu turun. Ayahnya tidak terlihat.
Anak tersebut bersikeras bahwa ayahnya masih berdiri di dalam gerbong. Namun, pemeriksaan di stasiun berikutnya tidak menemukan siapa pun dengan ciri-ciri itu.
“Setelah itu?” tanya Yabui.
“Anaknya dijemput keluarga.”
“Sekarang di mana?”
Petugas pertama tidak langsung menjawab.
“Dia tidak pernah pulang lagi setelah malam berikutnya.”
Yabui menatap catatan.
“Malam berikutnya?”
“Katanya mau mencari ayahnya.”
Pengeras suara stasiun mendadak berbunyi.
Kereta tujuan Jakarta Kota akan segera tiba.
Ketiga orang di ruang penjaga menoleh ke monitor.
Peron tampak normal.
Penumpang menunggu di belakang garis kuning.
Namun, pada kamera yang menghadap jalur dari Pondok Cina, muncul sosok anak berseragam putih abu-abu. Ia berdiri di tengah rel sambil melihat ke arah Depok.
Yabui berlari keluar.
Peron penuh, tetapi tidak ada seorang pun di jalur.
Kereta dari arah Pondok Cina masuk beberapa menit kemudian. Penumpang turun, lalu kereta berangkat menuju Depok.
Saat rangkaian melintas di depan Yabui, ia melihat anak berseragam tadi berdiri di dalam salah satu gerbong.
Sendirian.
Tangannya menempel pada kaca.
Di belakangnya, seorang laki-laki berdiri membelakangi pintu.
Yabui berlari mengikuti gerbong itu sampai ujung peron.
Anak tersebut menggerakkan bibir.
Yabui tidak mendengar suaranya, tetapi dapat membaca kata yang diucapkan.
Terlambat.
Kereta menghilang ke arah Depok.
Jam stasiun menunjukkan 22.03.
Ponsel Yabui menunjukkan 22.06.
Tiga menit itu tidak pernah kembali.
Keesokan paginya, waktunya kembali sama. Jam stasiun, ponsel, dan jam tangan menunjukkan angka yang seragam. Riwayat perjalanan di aplikasi pun terlihat biasa. Tidak ada peringatan. Tidak ada catatan gangguan.
Hanya ada satu hal yang berubah.
Pada galeri ponsel Yabui muncul sebuah video berdurasi tiga menit.
Ia tidak pernah merekamnya.
Ketika dibuka, video itu hanya menampilkan bagian dalam gerbong yang gelap. Tidak ada penumpang. Tidak ada suara kereta.
Pada detik terakhir, anak berseragam putih abu-abu muncul di dekat pintu.
Ia menatap kamera, lalu berbisik,
“Kalau waktunya hilang, jangan turun sendirian.”
Video berakhir.
Setelah malam itu, cerita tentang tiga menit mulai beredar di Depok Baru. Penumpang yang mengalaminya sering mengaku melihat jam ponsel melompat, sementara jam stasiun tertinggal. Beberapa melihat dinding bertanda angka tiga muncul berulang kali dari jendela. Sebagian lain mendengar suara anak sekolah menghitung pelan ketika lampu gerbong padam.
Satu.
Dua.
Kemudian berhenti.
Tidak pernah sampai tiga.
Penumpang lama memiliki cara sendiri untuk melewati perjalanan malam dari Depok menuju Depok Baru. Mereka tidak terlalu sering memeriksa jam. Mereka juga tidak menghitung kedipan lampu.
Sebab menurut cerita yang berkembang, tiga menit itu bukan hilang.
Tiga menit itu tetap ada.
Hanya saja, kereta membawanya ke tempat yang tidak dicatat oleh jadwal mana pun.
Dan terkadang, ada penumpang yang masih tertinggal di dalamnya.
Selesai.