Di belakang Pasar Enjo, masuk ke arah Prumpung, ada satu gang sempit yang tidak pernah benar-benar kering.
Orang-orang menyebutnya Gang Mayong. Nama itu tertulis kecil di papan kusam dekat mulut jalan, setengah tertutup kabel listrik dan spanduk tambal ban yang sudah pudar. Dari luar, gang itu tampak seperti celah di antara bangunan tua: sempit, lembap, dan selalu menyimpan bau yang tidak sepenuhnya bisa ditebak.
Sejak subuh, udara di sana dipenuhi bau kedelai rebus, ampas basah, asap tungku, dan got mampat. Dari arah Pasar Enjo, suara pedagang sayur, tukang ayam, motor pengangkut barang, dan klakson angkot kadang terbawa masuk sampai ke ujung gang. Tetapi semakin ke dalam, suara pasar makin tenggelam, digantikan dengung mesin penggiling kedelai dan gemuruh air mendidih dari pabrik tahu rumahan.

Rumah-rumah di Gang Mayong berdempetan seperti saling menahan roboh. Seng berkarat jadi atap, tripleks jadi dinding tambahan, dan kabel listrik menjuntai rendah di atas kepala seperti akar hitam yang tumbuh dari langit. Kalau hujan turun, air got naik sampai mata kaki. Kalau kemarau datang, bau got justru lebih keras, mengering di batu jalan, menempel pada sandal, lalu terbawa masuk ke kamar-kamar kontrakan.
Di ujung gang itulah pabrik tahu Haji Ripit berdiri.
Bangunannya tidak besar. Hanya rumah petak panjang berdinding batako, beratap asbes, dengan cerobong pendek yang mengeluarkan asap putih sejak pagi buta. Dari luar, orang bisa mendengar mesin penggiling kedelai meraung-raung, suara ember diseret, air mendidih, dan lelaki-lelaki batuk karena panas uap.
Haji Ripit bukan orang kaya besar. Ia lebih sering disebut juragan, orang yang mengatur pekerja, belanja kedelai, menjaga mesin, sekaligus memastikan pabrik tetap jalan meski lantainya licin, kabelnya terkelupas, dan tungkunya sudah terlalu tua.
Di Gang Mayong, orang mengenalnya sebagai haji yang rajin ke musala, ringan memberi utang, tetapi matanya selalu berubah tajam kalau ada pekerja terlalu banyak bertanya.
Dulu, salah satu pekerjanya bernama Jabar.
Tidak ada yang benar-benar tahu dari mana Jabar datang. Ada yang bilang ia dari Karawang. Ada yang bilang dari Indramayu. Ada pula yang bilang ia dulu kuli bongkar di Pasar Enjo, lalu ikut kerja di pabrik tahu karena Haji Ripit butuh orang kuat untuk mengangkat kedelai.
Jabar pendiam. Tubuhnya tinggi kurus, tulang pipinya menonjol, rambutnya selalu basah oleh keringat. Ia tinggal di kontrakan paling ujung, menempel dengan tembok belakang pabrik. Setiap subuh ia datang paling awal, membuka pintu seng, menyalakan tungku, lalu duduk sebentar di dekat got sambil merokok.
Tidak ada yang terlalu memperhatikan Jabar sampai kecelakaan itu terjadi.
Hari itu hujan turun sejak sore. Air dari atap asbes menetes ke beberapa titik lantai pabrik. Mesin masih menyala. Uap panas memenuhi ruangan. Para pekerja sudah beberapa kali bilang agar produksi dihentikan dulu karena lantai licin.
“Tanggung,” kata Haji Ripit. “Tahu sore belum kelar. Besok subuh harus sudah masuk pasar.”
Jabar waktu itu sedang menarik papan cetakan dari dekat mesin potong. Entah karena kakinya terpeleset, entah karena tangannya terlalu lelah, tubuhnya oleng.
Yang terdengar setelah itu bukan jeritan panjang.
Hanya suara pendek.
Seperti napas yang tiba-tiba dipatahkan.
Mesin tidak langsung berhenti.
Seorang pekerja berlari mematikan sakelar. Yang lain muntah di dekat karung kedelai. Haji Ripit berdiri kaku beberapa detik sebelum berteriak menyuruh semua orang menutup pintu pabrik.
Jabar tergeletak di lantai.
Sebelah tubuhnya hancur.
Bukan hilang seluruhnya. Lebih buruk dari itu. Sebelah badannya seperti dikunyah mesin, dari bahu sampai pinggang, membuatnya tidak lagi tampak seperti manusia utuh. Tetapi yang membuat semua pekerja tidak bisa tidur berhari-hari bukan bentuk tubuhnya.
Melainkan matanya.
Mata Jabar masih terbuka.
Mulutnya bergerak-gerak.
Dan kata pekerja yang paling dekat dengannya, Jabar sempat berbisik.
“Saya masih hidup.”
Setelah itu, tidak ada yang tahu pasti.
Ambulans tidak pernah terdengar masuk ke Gang Mayong. Polisi tidak pernah datang. Pabrik tutup dua hari, lalu kembali berasap pada pagi ketiga. Haji Ripit bilang keluarga Jabar sudah membawa pulang jenazahnya ke kampung.
Tidak ada yang bertanya lebih jauh.
Di gang seperti itu, pertanyaan kadang lebih mahal daripada jawaban.
Tiga minggu setelah kecelakaan, warga mulai mendengar suara dari sebelah tembok pabrik.
Bukan suara mesin. Bukan suara tikus. Bukan pula suara orang mabuk pulang dari pasar.
Suara itu seperti seseorang menyeret karung basah di jalan sempit.
Srek.
Diam.
Srek.
Diam.
Biasanya terdengar setelah tengah malam, ketika Pasar Enjo sudah tutup, gang mulai gelap, dan hanya ada lampu kuning di depan kontrakan yang dikerubungi laron.
Lalu muncul cerita itu.
Hati-hati kalau pulang malam lewat Gang Mayong. Jangan menoleh kalau ada suara di sampingmu. Jangan jawab kalau ada yang memanggil dari balik tembok. Jangan berjalan terlalu mepet ke kanan atau ke kiri. Sebab yang datang bukan dari depan atau belakang.
Ia selalu datang dari sebelah.
Mula-mula anak-anak menyebutnya “Orang Sebelah”. Lalu orang dewasa ikut memakai nama itu, setengah bercanda, setengah takut. Nama Jabar pelan-pelan hilang. Kecelakaan kerja berubah menjadi bisik-bisik. Bisik-bisik berubah menjadi larangan. Larangan berubah menjadi mitos.
“Kalau bau tahu basi tiba-tiba muncul tengah malam, jangan keluar,” kata Bu Lilis, pemilik warung kopi dekat mulut gang.
“Kalau dengar ada yang nyeret sesuatu dari arah tembok pabrik, baca doa,” kata Pak Narto, penjaga musala.
“Kalau ada orang jalannya cuma sebelah, pura-pura nggak lihat,” kata anak-anak sambil tertawa, lalu langsung lari pulang begitu angin malam lewat dari arah rel.
Hanya Dani yang tidak percaya.
Dani baru empat bulan tinggal di Prumpung. Ia menyewa kamar petakan di belakang warung Bu Lilis dan bekerja sebagai kurir paket. Umurnya dua puluh tiga, wajahnya selalu tampak mengantuk, dan ia punya kebiasaan buruk: menertawakan ketakutan orang lain.
“Orang Sebelah apaan?” katanya suatu malam sambil menyeruput kopi sachet. “Paling juga orang mabuk nyeret karung. Atau tikus got segede kucing.”
Bu Lilis menatapnya dari balik uap termos.
“Mulut jangan gede kalau belum pernah lihat.”
Dani tersenyum. “Justru karena belum pernah lihat, Bu. Kalau memang ada, saya videoin. Biar jelas.”
Pak Narto yang duduk di bangku panjang warung hanya menggeleng pelan.
“Di gang begini, Nak, kadang yang bikin takut bukan setan. Tapi kejadian yang orang pura-pura sudah selesai.”
Dani tertawa kecil.
“Kalau memang ada, malam Jumat saya buktikan.”
Kalimat itu membuat warung mendadak hening.
Di luar, pabrik tahu Haji Ripit sudah gelap. Hanya ada satu lampu menyala dekat pintu sengnya. Cahayanya jatuh ke genangan air got, pecah-pecah seperti mata kecil yang bergerak.
Bu Lilis menurunkan suaranya.
“Jangan cari perkara, Dan.”
Tetapi bagi Dani, larangan seperti itu justru terdengar seperti undangan.
Malam Jumat berikutnya, hujan turun deras selepas isya, lalu reda menjelang tengah malam. Jalanan Prumpung basah. Aspal memantulkan lampu toko yang sudah tutup. Dari arah Pasar Enjo, beberapa gerobak ditutup terpal. Sisa air menetes dari ujung atap lapak.
Dani pulang lebih larut dari biasanya. Motornya ia parkir di depan gang karena jalan terlalu becek. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 00.47.
Gang Mayong sepi.
Warung Bu Lilis tutup. Pabrik tahu gelap. Di kejauhan, suara kereta terdengar samar seperti besi panjang yang menggesek malam.
Dani berhenti di mulut gang.
Ia membuka kamera ponsel, menyalakan mode video, lalu mengarahkannya ke wajah sendiri.
“Oke,” bisiknya. “Pembuktian Orang Sebelah Gang Mayong.”
Ia mulai berjalan.
Sandalnya menekan lumpur tipis. Di kanan kirinya, pintu-pintu kontrakan tertutup rapat. Ada televisi menyala pelan dari salah satu rumah, tetapi tidak ada suara orang. Hanya cahaya biru berkedip di celah gorden.
Bau kedelai basi menyeruak dari arah pabrik.
Dani mengangkat ponselnya lebih tinggi.
“Katanya kalau bau tahu basi, dia muncul,” gumamnya, sengaja dibuat-buat.
Tidak ada apa-apa.
Ia berjalan lebih jauh. Sampai di tikungan dekat tembok belakang pabrik, lampu gang berkedip. Satu kali. Dua kali. Lalu menyala lagi dengan cahaya lebih redup.
Dani menahan napas, lalu tertawa kecil untuk menenangkan dirinya sendiri.
Saat itulah suara itu terdengar.
Srek.
Dani berhenti.
Suara itu datang dari sebelah kirinya, dari balik tembok pabrik.
Srek.
Diam.
Srek.
Diam.
Seperti karung basah diseret di lantai semen.
Dani mengarahkan kamera ke tembok. Tidak ada lubang. Hanya dinding batako lembap dengan lumut hitam di sela-selanya. Di bawah tembok, air got mengalir lambat membawa ampas tahu yang sudah membusuk.
“Siapa tuh?” panggil Dani.
Tidak ada jawaban.
Srek.
Kali ini lebih dekat.
Dani mencoba tertawa, tetapi suaranya pecah.
“Kalau orang, keluar. Jangan bikin takut.”
Dari balik tembok, terdengar suara napas.
Basah. Berat. Tidak teratur.
Lalu sesuatu mengetuk tembok dari sisi dalam.
Tok.
Dani mundur setengah langkah.
Tok.
Tok.
Ketukan itu pelan, seperti buku jari yang tidak kuat lagi memukul.
“Bang?” suara Dani mengecil.
Ketukan berhenti.
Beberapa detik setelah itu, terdengar suara laki-laki dari balik tembok. Parau, seperti keluar dari tenggorokan yang lama tidak dipakai.
“Saya…”
Dani membeku.
Angin malam lewat dari ujung gang, membawa bau asam kedelai, asap lama, dan sesuatu yang amis.
“Saya masih hidup…”
Ponsel Dani hampir jatuh dari tangannya.
Ia ingin lari, tetapi kakinya seperti menempel pada lumpur. Kamera masih merekam. Di layar, hanya tampak tembok gelap dan cahaya lampu yang berkedip.
Lalu dari celah sempit antara tembok pabrik dan kontrakan kosong di sebelahnya, sesuatu bergerak.
Dani tidak langsung melihat bentuknya. Mula-mula hanya bayangan rendah di tanah. Lalu satu tangan muncul, merayap di atas lumpur. Jari-jarinya kurus, kukunya hitam, lengannya pucat seperti lama tidak terkena matahari.
Tubuh di belakang tangan itu menyeret diri pelan-pelan keluar dari celah.
Dani ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di dada.
Yang keluar dari celah itu adalah seorang laki-laki.
Atau sisa dari seorang laki-laki.
Sebelah tubuhnya ada. Sebelah lainnya seperti berhenti di garis yang mustahil, seolah dunia hanya mengizinkan ia menjadi separuh. Bahu kirinya turun tidak wajar. Sisi pinggangnya terbungkus kain lusuh. Wajahnya tirus, matanya cekung, rambutnya menggumpal oleh kotoran dan air hujan.
Namun ia bernapas.
Ia benar-benar bernapas.
Matanya menatap Dani, bukan seperti hantu yang mencari korban, melainkan seperti orang yang sudah terlalu lama tidak ditemukan.
“Jangan…” laki-laki itu berbisik. “Jangan bilang Haji Ripit…”
Dani mundur, lututnya gemetar.
“Bapak… Jabar?”
Nama itu keluar begitu saja, seperti ditarik dari cerita-cerita warung kopi yang selama ini ia tertawakan.
Laki-laki itu membuka mulutnya. Bibirnya pecah-pecah.
“Saya kerja,” katanya perlahan. “Saya jatuh.”
Ia berhenti, seperti setiap kata harus ditarik dari luka lama.
“Mereka takut pabrik ditutup.”
Dani menelan ludah.
Di belakangnya, salah satu pintu kontrakan terbuka sedikit.
Lalu tertutup lagi cepat-cepat.
Seseorang pasti melihat. Seseorang pasti mendengar. Tapi tidak ada yang keluar.
Jabar menyeret tubuhnya satu jengkal lebih dekat.
Srek.
Dani teringat semua cerita yang pernah ia dengar. Bau tahu basi. Suara seretan. Larangan menoleh. Orang Sebelah.
Tiba-tiba semuanya terasa berbeda.
Yang menakutkan bukan bahwa mitos itu benar.
Yang lebih menakutkan adalah bahwa mitos itu dibuat supaya orang tidak perlu bertanya.
“Kenapa Bapak di situ?” tanya Dani, nyaris tanpa suara.
Jabar menoleh ke arah celah gelap di antara bangunan. Di sana, di balik tumpukan karung bekas dan papan lapuk, ada ruang sempit yang mungkin selama ini menjadi tempatnya disembunyikan.
Atau tempat ia menyembunyikan diri.
Dani tidak tahu mana yang lebih mengerikan.
“Makan ampas,” bisik Jabar. “Buangan pabrik.”
Dani merasa perutnya mual.
Dari arah pabrik, tiba-tiba terdengar pintu seng digeser.
Kreeek.
Lampu dalam bangunan menyala.
Jabar langsung mematung. Matanya melebar, bukan seperti hantu yang marah, tetapi seperti buruh yang ketahuan masih hidup setelah seharusnya dianggap selesai.
“Pergi,” bisiknya kepada Dani. “Jangan lihat saya.”
Dani belum sempat menjawab.
Sosok Haji Ripit muncul di bawah lampu pabrik. Ia mengenakan kaus putih, sarung digulung sampai betis, dan peci hitam yang miring sedikit di kepala. Di tangan kanannya ada senter. Di tangan kirinya, Dani melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada senjata: kunci pintu pabrik.
Sorot senter menyapu gang, melewati got hitam, tembok lembap, lalu berhenti pada tubuh Jabar yang separuh tersembunyi di bayangan.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara.
Wajah Haji Ripit tidak tampak seperti orang melihat setan.
Ia tampak seperti orang melihat rahasia yang keluar terlalu jauh dari tempat penyimpanannya.
“Masuk,” kata Haji Ripit pelan.
Jabar menunduk.
“Masuk, Bar,” ulang Haji Ripit. Suaranya lebih rendah. “Nanti orang-orang lihat.”
Dani mundur setengah langkah. Ponsel di tangannya masih merekam.
Haji Ripit menoleh kepadanya.
“Kamu lihat apa, Dan?”
Pertanyaan itu pendek, tapi di gang sempit itu terdengar seperti ancaman yang sudah lama dipakai berkali-kali.
Dani tidak menjawab.
Ia hanya mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu berlari.
Di belakangnya, suara seretan terdengar lagi, lebih cepat, lebih panik.
Srek. Srek. Srek.
Lalu pintu seng dibanting.
Gang kembali sepi.
Besok paginya, video Dani tersebar di grup warga.
Awalnya orang-orang bilang itu rekaman palsu. Ada yang bilang editan. Ada yang bilang Dani cari perhatian. Tapi menjelang siang, polisi datang. Pabrik tahu Haji Ripit dipasang garis kuning. Karung-karung ampas dibongkar. Tumpukan papan lapuk di belakang bangunan disingkirkan.
Di celah sempit antara pabrik dan kontrakan kosong, ditemukan ruang kecil yang hampir tidak pantas disebut tempat hidup.
Ada tikar lembap.
Botol air bekas.
Kain perban kotor.
Mangkok plastik berisi ampas tahu.
Dan bekas seretan panjang di lantai semen.
Jabar tidak ditemukan.
Haji Ripit juga menghilang.
Sejak hari itu, Gang Mayong berubah lebih sunyi. Orang-orang tidak lagi menyebut cerita itu dengan nada bercanda. Anak-anak dilarang bermain dekat pabrik. Warung Bu Lilis tutup lebih awal. Pak Narto lebih sering duduk lama di musala setelah isya.
Dani pindah seminggu kemudian.
Tetapi sebelum pergi, ia sempat bertanya kepada Bu Lilis.
“Bu, selama ini warga tahu?”
Bu Lilis tidak langsung menjawab. Tangannya mengaduk kopi terlalu lama, sampai gulanya larut tanpa suara.
“Kami dengar,” katanya akhirnya. “Tapi di sini, Nak, orang miskin sering belajar pura-pura tidak dengar. Takut urusan jadi panjang. Takut kerja hilang. Takut hidup makin susah.”
Dani terdiam.
Di luar, bekas pabrik tahu berdiri gelap. Cerobongnya tidak lagi berasap. Tapi bau kedelai basi masih kadang muncul setelah hujan.
Malam-malam berikutnya, warga tidak lagi mendengar suara seretan dari balik tembok.
Namun beberapa orang bersumpah, jika melewati Gang Mayong lewat tengah malam, mereka merasa ada sesuatu berjalan sejajar dengan mereka.
Tidak di depan.
Tidak di belakang.
Di sebelah.
Dan kalau mereka menoleh terlalu cepat, hanya ada tembok lembap, got hitam, dan bayangan tubuh yang seolah tidak pernah utuh.
Sejak itu, orang-orang Gang Mayong tidak lagi berkata, “Hati-hati ada Orang Sebelah,” sebagai lelucon.
Mereka mengatakannya pelan-pelan.
Seperti doa.
Seperti rasa bersalah.
Seperti pengakuan bahwa kadang hantu paling menakutkan bukanlah orang mati, melainkan orang hidup yang sengaja dibiarkan menjadi cerita.
Selesai