Bagaimana Mahasiswa Mengecek Apakah Jenis Penelitiannya Sudah Cocok dengan Rumusan Masalah?

  • Post author:
  • Post category:Riset
  • Reading time:10 mins read

Salah satu bagian paling membingungkan dalam menyusun proposal skripsi adalah memastikan apakah jenis penelitian yang dipilih sudah cocok dengan rumusan masalah. Pada tahap awal, mahasiswa sering merasa pilihannya sudah benar karena judulnya terdengar sesuai, metodenya sering digunakan, atau dosen pembimbing pernah menyebut jenis penelitian tertentu. Namun, ketika proposal mulai ditulis, masalahnya baru terlihat: rumusan masalah mengarah ke satu jenis penelitian, tetapi metode yang dipilih bergerak ke arah lain.

Gejala ini sering muncul dalam bentuk yang sederhana. Rumusan masalah ingin mengetahui “pengaruh”, tetapi jenis penelitiannya deskriptif. Rumusan masalah ingin memahami “pengalaman”, tetapi data yang disiapkan hanya angket tertutup. Rumusan masalah ingin mengembangkan media, tetapi rancangan penelitiannya hanya berhenti pada pembuatan produk. Rumusan masalah ingin memperbaiki pembelajaran, tetapi tidak ada siklus tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Yang menarik bukan hanya mahasiswa salah memilih jenis penelitian, tetapi bagaimana ketidaksesuaian itu sering tidak disadari sejak awal. Proposal tampak lengkap secara bagian, tetapi antarbagian belum saling terhubung. Judul ada, rumusan masalah ada, tujuan ada, metode ada, tetapi semuanya berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, mengecek kecocokan jenis penelitian bukan sekadar melihat nama metodenya. Mahasiswa perlu membaca kembali hubungan antara rumusan masalah, tujuan penelitian, data yang dibutuhkan, unit analisis, dan cara menjawab masalah. Dari hubungan itulah jenis penelitian dapat dinilai: sudah sesuai, masih kabur, atau perlu diganti.

Mulai dari Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah pintu pertama untuk mengecek kecocokan jenis penelitian. Dari rumusan masalah, mahasiswa dapat melihat arah kerja penelitiannya.

Coba perhatikan kalimat rumusan masalah yang sudah dibuat. Apakah rumusan itu ingin menggambarkan keadaan? Memahami pengalaman? Menguji pengaruh? Memperbaiki praktik pembelajaran? Atau mengembangkan produk?

Jika rumusan masalah berbunyi, “Bagaimana tingkat kemampuan membaca siswa kelas III?”, maka arah penelitiannya adalah menggambarkan kondisi. Jenis penelitian yang mungkin cocok adalah penelitian deskriptif.

Jika rumusan masalah berbunyi, “Bagaimana pengalaman siswa dalam membaca cerita digital?”, maka arah penelitiannya adalah memahami pengalaman. Jenis penelitian yang mungkin cocok adalah kualitatif.

Jika rumusan masalah berbunyi, “Apakah media cerita digital berpengaruh terhadap kemampuan membaca siswa?”, maka arah penelitiannya adalah menguji pengaruh. Jenis penelitian yang mungkin cocok adalah kuantitatif.

Jika rumusan masalah berbunyi, “Bagaimana penerapan media cerita digital dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa?”, maka arah penelitiannya adalah memperbaiki proses pembelajaran. Penelitian tindakan kelas dapat dipertimbangkan.

Jika rumusan masalah berbunyi, “Bagaimana mengembangkan media cerita digital yang layak digunakan dalam pembelajaran membaca?”, maka arah penelitiannya adalah menghasilkan dan menguji produk. Jenis penelitian yang mungkin cocok adalah penelitian pengembangan.

Dari contoh ini terlihat bahwa rumusan masalah tidak hanya berfungsi sebagai pertanyaan penelitian. Rumusan masalah juga memberi petunjuk tentang cara penelitian harus dijalankan.

Cek Kata Kerja dalam Rumusan Masalah

Cara sederhana untuk mengecek kecocokan jenis penelitian adalah melihat kata kerja utama dalam rumusan masalah. Kata kerja ini biasanya menunjukkan pekerjaan penelitian.

Jika rumusan masalah memakai kata “mendeskripsikan”, “menggambarkan”, atau “mengetahui kondisi”, maka penelitian bergerak ke arah deskriptif.

Jika rumusan masalah memakai kata “memahami”, “menafsirkan”, “menggali pengalaman”, atau “mengungkap makna”, maka penelitian bergerak ke arah kualitatif.

Jika rumusan masalah memakai kata “menguji”, “mengetahui pengaruh”, “mengetahui hubungan”, atau “membandingkan”, maka penelitian bergerak ke arah kuantitatif.

Jika rumusan masalah memakai kata “meningkatkan”, “memperbaiki”, atau “menerapkan tindakan”, maka penelitian dapat bergerak ke arah penelitian tindakan kelas, terutama jika konteksnya adalah pembelajaran di kelas.

Jika rumusan masalah memakai kata “mengembangkan”, “merancang”, “menghasilkan”, atau “menguji kelayakan produk”, maka penelitian bergerak ke arah penelitian pengembangan.

Namun, kata kerja saja belum cukup. Kata “mengetahui” misalnya, bisa muncul dalam banyak jenis penelitian. “Mengetahui tingkat kemampuan membaca” berbeda dengan “mengetahui pengalaman siswa membaca puisi”. Karena itu, mahasiswa perlu membaca makna kalimat secara utuh, bukan hanya satu kata.

Cocokkan dengan Tujuan Penelitian

Setelah rumusan masalah dibaca, langkah berikutnya adalah mencocokkannya dengan tujuan penelitian. Rumusan masalah dan tujuan penelitian seharusnya berjalan searah.

Jika rumusan masalah bertanya tentang tingkat kemampuan siswa, tujuan penelitian seharusnya menggambarkan atau mengetahui tingkat kemampuan tersebut. Jika rumusan masalah bertanya tentang pengalaman siswa, tujuan penelitian seharusnya memahami pengalaman itu. Jika rumusan masalah bertanya tentang pengaruh, tujuan penelitian seharusnya menguji pengaruh. Jika rumusan masalah bertanya tentang pengembangan media, tujuan penelitian seharusnya menghasilkan dan menilai kelayakan media.

Ketidaksesuaian sering terlihat ketika rumusan masalah dan tujuan penelitian memakai arah yang berbeda. Misalnya, rumusan masalah berbunyi, “Bagaimana pengalaman siswa dalam belajar tari tradisional?”, tetapi tujuan penelitiannya adalah “mengetahui pengaruh pembelajaran tari terhadap hasil belajar siswa.” Di sini terjadi perubahan arah. Rumusan masalah mengarah pada pengalaman, sedangkan tujuan penelitian mengarah pada pengaruh.

Contoh lain, rumusan masalah berbunyi, “Bagaimana mengembangkan sistem informasi perpustakaan sekolah?”, tetapi tujuan penelitiannya hanya “mengetahui pendapat pengguna terhadap sistem informasi.” Tujuan itu belum cukup jika penelitian memang ingin mengembangkan sistem. Pengembangan membutuhkan proses analisis kebutuhan, desain, pembuatan produk, uji coba, penilaian, dan revisi.

Jadi, sebelum mengecek jenis penelitian, mahasiswa perlu memastikan bahwa rumusan masalah dan tujuan penelitian sudah saling berhubungan.

Periksa Data yang Dibutuhkan

Jenis penelitian juga dapat dicek melalui data yang dibutuhkan. Pertanyaannya sederhana: data apa yang harus dikumpulkan agar rumusan masalah bisa dijawab?

Jika rumusan masalah menanyakan pengaruh, hubungan, atau perbedaan, mahasiswa membutuhkan data angka. Data dapat berupa nilai tes, skor angket, hasil pengukuran, atau data statistik lain. Jika tidak ada data angka yang dapat dianalisis, maka klaim tentang pengaruh atau hubungan akan sulit dipertanggungjawabkan.

Jika rumusan masalah menanyakan pengalaman, makna, proses, atau strategi, mahasiswa membutuhkan data yang lebih mendalam. Data dapat berupa wawancara, observasi, catatan lapangan, dokumen, rekaman proses pembelajaran, atau teks yang dianalisis. Dalam penelitian seperti ini, yang dicari bukan hanya jumlah jawaban, tetapi pemahaman tentang bagaimana pengalaman atau proses itu terbentuk.

Jika rumusan masalah menanyakan peningkatan pembelajaran melalui tindakan, mahasiswa membutuhkan data sebelum tindakan, selama tindakan, dan setelah tindakan. Data dapat berupa hasil belajar, observasi aktivitas siswa, catatan refleksi, dan dokumentasi proses. Yang penting bukan hanya hasil akhirnya meningkat, tetapi bagaimana tindakan itu dilakukan dan diperbaiki.

Jika rumusan masalah menanyakan pengembangan produk, mahasiswa membutuhkan data kebutuhan, rancangan produk, validasi ahli, uji coba pengguna, dan revisi. Produk tidak cukup hanya dibuat. Produk harus melalui proses penilaian agar kelayakannya dapat dijelaskan.

Data membantu memperlihatkan apakah jenis penelitian sudah cocok. Jika rumusan masalah menanyakan pengalaman, tetapi data yang disiapkan hanya skor angket, ada bagian yang perlu diperbaiki. Jika rumusan masalah menanyakan pengembangan produk, tetapi data hanya berupa wawancara awal tanpa validasi dan uji coba, rancangan penelitiannya belum lengkap.

Lihat Unit Analisisnya

Unit analisis adalah siapa atau apa yang sebenarnya diteliti. Bagian ini sering terlihat sederhana, tetapi sangat menentukan kecocokan jenis penelitian.

Dalam penelitian pembelajaran, unit analisis bisa berupa siswa, guru, proses belajar, hasil belajar, media ajar, interaksi kelas, atau strategi pembelajaran. Dalam penelitian bahasa, unit analisis bisa berupa teks, tuturan, kesalahan berbahasa, kemampuan menulis, atau respons pembaca. Dalam penelitian seni tari, unit analisis bisa berupa gerak, proses latihan, pengalaman tubuh, pertunjukan, atau pembelajaran tari. Dalam penelitian sistem informasi, unit analisis bisa berupa pengguna, kebutuhan sistem, proses bisnis, antarmuka, basis data, atau kelayakan aplikasi.

Jika unit analisisnya adalah pengalaman siswa, jenis penelitian kualitatif sering lebih sesuai. Jika unit analisisnya adalah skor hasil belajar, kuantitatif dapat dipertimbangkan. Jika unit analisisnya adalah perubahan pembelajaran dalam beberapa siklus, penelitian tindakan kelas lebih relevan. Jika unit analisisnya adalah produk dan proses pengembangannya, penelitian pengembangan lebih tepat.

Pertanyaan pentingnya adalah: apakah jenis penelitian yang dipilih benar-benar mampu membaca unit analisis tersebut?

Misalnya, jika mahasiswa ingin meneliti “makna gerak dalam tari tradisional”, maka angka saja tidak cukup untuk menjawabnya. Penelitian perlu memberi ruang pada observasi, interpretasi, dokumentasi, dan penjelasan makna. Sebaliknya, jika mahasiswa ingin menguji “pengaruh penggunaan aplikasi terhadap hasil belajar”, maka penelitian membutuhkan rancangan pengukuran yang jelas.

Gunakan Pertanyaan Cek Mandiri

Agar lebih mudah, mahasiswa dapat menggunakan beberapa pertanyaan cek mandiri berikut.

Pertama, rumusan masalah saya ingin menjawab apa: menggambarkan, memahami, menguji, memperbaiki, atau mengembangkan?

Kedua, tujuan penelitian saya sudah searah dengan rumusan masalah atau belum?

Ketiga, data yang saya kumpulkan bisa menjawab rumusan masalah atau hanya sekadar melengkapi proposal?

Keempat, unit analisis saya sudah jelas atau masih terlalu umum?

Kelima, jenis penelitian yang saya pilih memang sesuai dengan data dan tujuan penelitian atau hanya dipilih karena sering digunakan?

Keenam, teknik pengumpulan data saya sudah sesuai dengan jenis penelitian?

Ketujuh, analisis data saya mampu menjawab rumusan masalah?

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu mahasiswa melihat proposal sebagai satu kesatuan. Proposal yang baik bukan hanya lengkap bagiannya, tetapi antarbagian saling mendukung.

Contoh Cek Kecocokan

Agar lebih konkret, perhatikan contoh berikut.

Seorang mahasiswa menulis rumusan masalah: “Apakah penggunaan media video tari berpengaruh terhadap keterampilan gerak siswa?” Rumusan ini mengarah pada pengaruh. Data yang dibutuhkan kemungkinan berupa skor keterampilan gerak sebelum dan sesudah penggunaan media, atau perbandingan antara kelompok tertentu. Jenis penelitian yang lebih cocok adalah kuantitatif. Jika mahasiswa memilih kualitatif deskriptif, perlu dipertanyakan apakah jenis itu mampu menjawab kata “berpengaruh”.

Contoh kedua, rumusan masalah berbunyi: “Bagaimana pengalaman siswa dalam menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi?” Rumusan ini mengarah pada pengalaman. Data yang dibutuhkan dapat berupa wawancara, tulisan siswa, catatan proses menulis, dan observasi. Jenis penelitian yang lebih sesuai adalah kualitatif. Jika mahasiswa hanya menggunakan angket tertutup, data yang diperoleh mungkin terlalu tipis untuk memahami pengalaman menulis.

Contoh ketiga, rumusan masalah berbunyi: “Bagaimana meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui media kartu kata?” Rumusan ini mengarah pada perbaikan pembelajaran. Jika dilakukan di kelas melalui tindakan bertahap, penelitian tindakan kelas dapat digunakan. Data yang dibutuhkan mencakup kondisi awal, proses tindakan, hasil setiap siklus, dan refleksi perbaikan.

Contoh keempat, rumusan masalah berbunyi: “Bagaimana mengembangkan sistem informasi inventaris sekolah yang sesuai dengan kebutuhan pengguna?” Rumusan ini mengarah pada pengembangan sistem. Data yang dibutuhkan meliputi kebutuhan pengguna, rancangan sistem, proses pembuatan, uji coba, evaluasi, dan revisi. Jenis penelitian yang sesuai dapat berupa penelitian pengembangan atau perancangan sistem dengan model yang jelas.

Dari contoh-contoh ini, terlihat bahwa kecocokan jenis penelitian dapat dilacak dari hubungan antara rumusan masalah, data, dan cara menjawabnya.

Tanda-Tanda Jenis Penelitian Belum Cocok

Ada beberapa tanda yang dapat diperhatikan.

Pertama, rumusan masalah memakai kata “pengaruh”, tetapi tidak ada rencana pengukuran yang jelas.

Kedua, rumusan masalah memakai kata “pengalaman” atau “makna”, tetapi data yang disiapkan hanya angket pilihan ganda atau angket tertutup.

Ketiga, rumusan masalah ingin “mengembangkan” produk, tetapi rancangan penelitian tidak memuat validasi, uji coba, atau revisi.

Keempat, rumusan masalah ingin “meningkatkan” pembelajaran, tetapi tidak ada tindakan, siklus, observasi, dan refleksi.

Kelima, tujuan penelitian tidak searah dengan rumusan masalah.

Keenam, teknik analisis data tidak dapat menjawab pertanyaan penelitian.

Tanda-tanda ini bukan berarti proposal harus langsung dibuang. Justru tanda-tanda tersebut membantu mahasiswa menemukan bagian yang perlu dirapikan. Kadang yang perlu diperbaiki adalah rumusan masalah. Kadang yang perlu diganti adalah jenis penelitian. Kadang yang perlu diperjelas adalah data dan teknik analisisnya.

Tabel Sederhana untuk Mengecek Kecocokan

Mahasiswa dapat menggunakan pola berikut sebagai alat bantu awal.

Arah Rumusan MasalahData yang DibutuhkanJenis Penelitian yang Mungkin Sesuai
Menggambarkan kondisiSkor, persentase, dokumen, hasil observasiDeskriptif
Memahami pengalaman atau maknaWawancara, observasi, catatan lapangan, dokumenKualitatif
Menguji pengaruh, hubungan, atau perbedaanNilai, skor, hasil tes, data statistikKuantitatif
Memperbaiki pembelajaranData awal, tindakan, observasi, refleksi, hasil tiap siklusPenelitian tindakan kelas
Mengembangkan produkAnalisis kebutuhan, desain, validasi, uji coba, revisiPenelitian pengembangan

Tabel ini bukan rumus mutlak. Fungsinya adalah membantu membaca arah awal. Setelah itu, mahasiswa tetap perlu menyesuaikan dengan konteks penelitian, teori pendukung, instrumen, subjek penelitian, dan analisis data.

Penutup

Mengecek kecocokan jenis penelitian dengan rumusan masalah berarti membaca ulang arah berpikir skripsi. Yang diperiksa bukan hanya apakah proposal sudah menyebut kualitatif, kuantitatif, deskriptif, penelitian tindakan kelas, atau penelitian pengembangan. Yang lebih penting adalah apakah jenis penelitian itu benar-benar mampu menjawab pertanyaan yang diajukan.

Pertanyaan besarnya adalah: rumusan masalah ini meminta jawaban seperti apa? Jika meminta gambaran kondisi, penelitian perlu menggambarkan. Jika meminta pemahaman pengalaman, penelitian perlu menyediakan data yang mendalam. Jika meminta pengaruh, penelitian perlu mengukur dan menganalisis hubungan antarvariabel. Jika meminta perbaikan pembelajaran, penelitian perlu menunjukkan tindakan dan refleksi. Jika meminta pengembangan produk, penelitian perlu menunjukkan proses desain, validasi, uji coba, dan revisi.

Dengan mengecek hubungan ini, mahasiswa dapat melihat proposalnya secara lebih utuh. Rumusan masalah, tujuan, data, unit analisis, jenis penelitian, dan teknik analisis tidak lagi berdiri sendiri. Semuanya saling menguatkan.

Di titik itulah jenis penelitian tidak lagi menjadi label di bab metode. Jenis penelitian menjadi cara yang dipilih untuk menjawab masalah skripsi secara lebih tepat, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan.