Stasiun Karet: Kursi Kosong

Hujan deras baru saja reda ketika Nina tiba di Stasiun Karet. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15, dan suasana stasiun terasa sunyi. Hanya ada beberapa penumpang yang menunggu kereta terakhir di peron.

Nina duduk di salah satu kursi panjang di peron. Punggungnya terasa pegal setelah seharian bekerja di kantor, dan ia berharap kereta datang tepat waktu. Matanya menatap kosong ke rel basah, memantulkan cahaya lampu stasiun yang redup.

Namun, ada yang aneh dengan kursi di sebelahnya. Kursi itu kosong, tapi terasa seperti “berisi”. Udara di sekitar kursi itu terasa dingin, dan Nina merasa bulu kuduknya meremang tanpa alasan.

“Cuma capek, mungkin,” gumamnya sambil mencoba mengabaikan perasaan aneh itu.

Namun, seiring waktu, rasa dingin di sebelahnya semakin terasa.

Di peron yang sunyi, kursi kosong itu tak pernah benar-benar kosong

Nina mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat ponselnya. Namun, dari sudut matanya, ia merasa ada yang bergerak di kursi sebelah. Ia melirik sekilas, dan jantungnya berdegup kencang.

Kursi itu masih kosong. Tapi ada bekas air di permukaan kursi, seperti seseorang baru saja duduk di sana dengan pakaian basah.

“Serius?” Nina bergumam sambil menelan ludah. Ia menoleh ke sekitar, mencari siapa pun yang bisa dijadikan teman bicara. Tapi peron sudah lebih sepi dari sebelumnya. Hanya ada seorang pria tua duduk di ujung peron, sibuk dengan tasnya.

Nina mencoba berdiri, namun tubuhnya terasa berat, seperti ada yang menahan.


Tiba-tiba, ada suara kecil, seperti tawa pelan, datang dari arah kursi kosong itu.

Nina mematung. Telinganya menangkap suara itu dengan jelas, meskipun terdengar samar. Ia berusaha menenangkan diri dengan berpikir logis. “Mungkin cuma suara angin… atau aku yang berhalusinasi.”

Namun, suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

“Hehehe…”

Nina menoleh cepat ke kursi sebelah. Tidak ada siapa-siapa. Tapi, entah kenapa, ia merasa seperti sedang diawasi.

Ia mencoba menenangkan diri dengan mengubah posisi duduk. Tapi saat ia menunduk, matanya tertuju pada bayangan di lantai. Bayangan dirinya sendiri tampak jelas. Tapi… ada satu bayangan lain di sebelahnya.

Bayangan seseorang yang duduk di kursi kosong itu.


Nina langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang. Namun, saat ia melangkah mundur, ia mendengar suara pelan dari arah kursi itu.

“Kau mau pergi?”

Nina hampir menjerit, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Ia mencoba berlari ke ujung peron, mendekati pria tua yang masih sibuk dengan tasnya.

“Pak, maaf… saya merasa ada yang aneh di sana,” katanya terbata-bata sambil menunjuk ke arah kursi kosong.

Pria tua itu menoleh perlahan, ekspresinya datar. “Kursi kosong? Oh, itu kursi favoritnya.”

“Favorit siapa?” tanya Nina bingung.

Pria itu tersenyum tipis. “Yang suka duduk di situ… walaupun kita nggak bisa lihat dia.”


Nina tidak sempat bertanya lebih lanjut. Tiba-tiba, suara kereta datang dari kejauhan, menandakan kereta terakhir akan tiba. Ia memutuskan untuk segera naik tanpa berpikir panjang.

Saat kereta berhenti, Nina melangkah masuk ke dalam gerbong yang sepi. Tapi sebelum pintu kereta tertutup, ia menoleh sekali lagi ke kursi panjang di peron.

Di sana, kursi kosong itu tampak berisi. Ada lekukan di kursinya, seperti seseorang tengah duduk dengan nyaman, meskipun tidak ada siapa-siapa di sana.

Pintu kereta menutup, dan kereta pun melaju.

Nina duduk di kursi gerbong, mencoba menenangkan diri. Tapi saat ia melihat pantulan kaca jendela, ia kembali merinding.

Bayangan itu… masih di sebelahnya.

Selesai.