Yabui tiba di Stasiun Depok menjelang petang, ketika langit menggantung rendah di atas atap peron dan udara menyimpan bau hujan yang belum jatuh.
Kereta dari arah Jakarta baru saja membuka pintu. Penumpang tumpah ke peron, berjalan cepat menuju tangga dan pintu keluar. Sebagian menunduk menatap layar ponsel. Sebagian lain saling mendahului sambil merapatkan tas ke dada.
Di tengah arus itu, seorang anak laki-laki tetap duduk di ujung bangku.

Usianya kira-kira sebelas tahun. Seragam sekolahnya sudah kusut. Sebuah buku tulis terbuka di atas paha, sementara tangan kanannya bergerak cepat menorehkan kalimat.
Anak itu tidak terlihat sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Ia beberapa kali mengangkat kepala, memperhatikan orang-orang yang turun dari kereta, lalu kembali menulis.
Yabui mengenal kebiasaan semacam itu.
Anak yang gemar menulis sering kali tidak memandang keramaian sebagai keramaian. Mereka memecahnya menjadi tokoh, gerak, suara, dan kemungkinan cerita. Seorang ibu yang berlari dapat berubah menjadi seseorang yang sedang membawa rahasia. Seorang lelaki yang terus memegang saku jaketnya dapat menjadi penjaga benda penting. Bahkan pengumuman kedatangan kereta bisa terdengar seperti pembuka sebuah petualangan.
Itulah alasan Yabui datang ke Stasiun Depok.
Beberapa hari sebelumnya, seorang penjaga kios di dekat Jalan Dewi Sartika bercerita tentang anak bernama Raka yang hampir setiap sore duduk di stasiun sambil menulis. Tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang ia tulis. Orang-orang hanya mengatakan bahwa anak itu sering mengetahui kejadian sebelum kejadian tersebut berlangsung.
Yabui awalnya menganggap cerita itu sebagai kebiasaan orang dewasa melebih-lebihkan perilaku anak.
Namun, sore itu, ketika ia baru melangkah mendekati bangku, Raka menutup bukunya.
“Om datang terlambat,” katanya.
Yabui berhenti.
“Kita pernah janjian?”
Raka menggeleng.
“Di cerita saya, Om datang sebelum hujan.”
Yabui melihat langit di balik rel. Awan kelabu telah menutup warna sore.
“Sekarang juga belum hujan.”
“Sebentar lagi.”
Raka memasukkan pensil ke sela halaman, lalu memandang papan informasi kedatangan kereta.
Satu menit kemudian, hujan turun.
Bukan gerimis pelan, melainkan air yang langsung memukul atap seng dan membuat penumpang di bagian terbuka berlarian mencari perlindungan.
Yabui duduk di samping Raka.
“Namamu Raka?”
Anak itu mengangguk.
“Katanya kamu suka menulis cerita.”
“Bukan cerita,” jawab Raka. “Saya menulis kedatangan.”
Yabui menoleh.
“Kedatangan kereta?”
“Kedatangan orang.”
Sebuah kereta melintas tanpa berhenti di jalur tengah. Anginnya menggoyangkan lembaran buku yang belum sempat ditutup sempurna. Yabui sempat melihat beberapa baris tulisan.
Perempuan berbaju merah akan turun sambil menangis. Lelaki bertopi akan mengikuti dari belakang. Tas hitam akan tertinggal di bawah bangku.
Raka buru-buru menutup halaman itu.
“Kamu menulis siapa saja yang datang ke stasiun?”
“Yang penting saja.”
“Bagaimana kamu tahu mereka penting?”
Raka menunjuk rel.
“Karena mereka datang lebih dari satu kali.”
Jawaban itu terdengar aneh, tetapi sebelum Yabui sempat bertanya, pengumuman kedatangan kereta terdengar dari pengeras suara.
Kereta dari arah Jakarta akan masuk ke peron dalam beberapa menit.
Penumpang mulai berdiri. Beberapa orang maju mendekati garis aman. Hujan masih turun, membuat lampu di seberang rel tampak seperti lingkaran pucat di balik air.
Kereta datang dengan suara roda yang panjang.
Pintu terbuka.
Seorang perempuan berbaju merah turun dari gerbong ketiga. Wajahnya basah oleh air mata. Ia berjalan cepat sambil menggenggam ponsel, nyaris menabrak seorang penumpang yang sedang naik.
Beberapa langkah di belakangnya, seorang lelaki bertopi hitam ikut turun.
Yabui memandang Raka.
Anak itu tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya membuka bukunya dan mencoret satu kalimat.
Perempuan berbaju merah terus berjalan menuju tangga. Lelaki bertopi mengikutinya dari jarak beberapa meter.
Di tengah kerumunan, sebuah tas hitam tergeletak di bawah bangku.
Persis seperti tulisan yang sempat dibaca Yabui.
Seorang petugas stasiun segera mendekati tas itu dan meminta penumpang menjauh. Suasana peron yang sebelumnya hanya ramai berubah menjadi tegang. Orang-orang mulai menoleh. Beberapa mengeluarkan ponsel. Ada yang menduga tas itu milik perempuan berbaju merah. Ada pula yang menunjuk lelaki bertopi.
Namun, Raka tetap menulis.
Yabui berdiri.
“Kamu sudah tahu ini akan terjadi?”
Raka tidak menjawab.
“Raka.”
Anak itu menekan ujung pensil terlalu keras hingga patah.
“Saya cuma menulis yang pernah terjadi.”
Yabui kembali duduk.
“Maksudmu?”
Raka menatap tas hitam di bawah bangku.
“Perempuan itu datang setiap Selasa dan Kamis. Kadang menangis, kadang marah. Lelaki bertopi selalu turun dari gerbong yang sama. Tas itu juga pernah tertinggal minggu lalu.”
“Jadi kamu tidak meramalkan apa pun.”
Raka menggeleng.
“Saya mengulangnya.”
Jawaban itu seharusnya membuat semuanya terasa lebih masuk akal. Raka rupanya hanya mengamati rutinitas. Ia mengingat kebiasaan penumpang, gerbong yang mereka gunakan, cara mereka berjalan, bahkan benda yang sering mereka bawa.
Namun, pertanyaan lain justru muncul.
Mengapa kejadian yang sama terus berulang?
Petugas membuka tas hitam setelah memastikan benda itu aman. Isinya hanya pakaian, beberapa bungkus makanan, dan sebuah dompet kosong. Tidak ada kartu identitas.
Perempuan berbaju merah telah menghilang di tangga. Lelaki bertopi juga tidak terlihat lagi.
Seorang petugas membawa tas itu ke ruang pelayanan.
Kerumunan perlahan bubar.
Raka menutup bukunya dan turun dari bangku.
“Saya harus pulang.”
Yabui ikut berdiri.
“Kamu tinggal di mana?”
“Dekat.”
“Orang tuamu tahu kamu sering menulis di sini?”
Raka tidak segera menjawab. Ia memasukkan buku ke dalam tas sekolah, lalu berjalan ke arah ujung peron, bukan menuju pintu keluar.
“Jalan pulangmu lewat sana?”
Raka mempercepat langkah.
Yabui mengikutinya.
Di ujung peron terdapat pintu besi kecil yang digunakan petugas. Raka tidak masuk melalui pintu itu. Ia turun ke area sempit di samping bangunan penyimpanan, lalu menghilang di balik dinding.
Yabui menyusul dan menemukan sebuah lorong kecil yang berakhir di bawah tangga.
Di sana terdapat kardus, botol air, beberapa bungkus nasi, dan tumpukan buku tulis.
Raka berdiri di depannya.
“Ini tempatmu?”
Anak itu merapatkan tas ke tubuh.
“Saya cuma menunggu.”
“Menunggu siapa?”
Raka menunduk.
Sebelum ia menjawab, terdengar langkah kaki dari arah lorong. Lelaki bertopi hitam muncul sambil membawa tas yang tadi diamankan petugas.
Yabui spontan berdiri di depan Raka.
Namun, lelaki itu tidak terlihat terkejut melihat mereka.
“Bukunya mana?” tanyanya.
Raka memeluk tas sekolahnya.
Lelaki bertopi maju satu langkah.
“Saya tanya, bukunya mana?”
Yabui memperhatikan tas hitam yang kini berada di tangan lelaki tersebut. Tas yang sama seharusnya masih berada di ruang pelayanan.
Lelaki itu menarik topinya lebih rendah.
“Bukan urusan Bapak,” katanya kepada Yabui.
“Anak ini urusan siapa?”
“Keponakan saya.”
Raka menggeleng kecil.
Gerakan itu hampir tidak terlihat, tetapi cukup bagi Yabui untuk memahami bahwa lelaki tersebut sedang berbohong.
Dari arah tangga terdengar suara petugas berbicara melalui radio. Lelaki bertopi segera mundur.
“Besok sore kamu harus sudah dapat tiga,” katanya kepada Raka. “Jangan cuma menulis.”
Ia berbalik dan menghilang ke lorong.
Yabui menunggu hingga suara langkahnya benar-benar lenyap.
“Tiga apa?”
Raka tidak menjawab.
Yabui menatap tumpukan buku di bawah tangga. Ia mengambil salah satunya.
Setiap halaman berisi catatan tentang penumpang.
Lelaki berkemeja biru menyimpan dompet di saku belakang.
Ibu dengan dua anak membawa uang di kantong depan tas.
Perempuan berbaju merah sering meletakkan ponsel di atas koper.
Petugas berganti jaga pukul tujuh lewat sepuluh.
Tulisan-tulisan itu bukan sekadar bahan cerita.
Catatan Raka merupakan peta kebiasaan orang-orang di stasiun.
Lelaki bertopi dan beberapa orang lain memanfaatkan pengamatan Raka untuk menentukan sasaran pencopetan. Tas yang sengaja ditinggalkan digunakan untuk memecah perhatian. Ketika penumpang sibuk melihat petugas memeriksa tas, seseorang bergerak di tengah kerumunan.
Perempuan berbaju merah bukan korban yang sedang dikejar. Ia bagian dari pengalihan.
Tangisnya merupakan pertunjukan yang sudah dilakukan berkali-kali.
Yang menarik bukan hanya kemampuan Raka mengingat detail, tetapi cara kemampuan itu dipindahkan dari dunia cerita ke dunia kejahatan. Imajinasi yang seharusnya membentuk tokoh dan peristiwa justru dipaksa menjadi daftar sasaran.
“Mereka menyuruhmu mengamati penumpang?” tanya Yabui.
Raka mengangguk.
“Sejak kapan?”
“Sejak Ibu tidak pulang.”
“Ke mana ibumu?”
“Katanya kerja.”
“Siapa yang bilang?”
Raka tidak menjawab.
Petugas semakin dekat. Yabui membawa Raka keluar dari lorong dan menyerahkan buku-buku itu kepada kepala keamanan stasiun. Malam itu, pemeriksaan dilakukan di beberapa sudut peron. Lelaki bertopi tidak ditemukan, tetapi dua orang yang kerap terlihat bersama perempuan berbaju merah diamankan di dekat pintu keluar.
Raka dibawa ke ruang pelayanan.
Di sana ia duduk dengan kedua kaki menggantung, memegang segelas teh hangat, sementara petugas mencoba menghubungi keluarganya.
Yabui duduk di kursi seberang.
“Sekarang kamu masih mau menulis?”
Raka membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan buku yang berbeda.
Sampulnya bergambar kereta berwarna biru.
“Yang ini bukan punya mereka,” katanya.
“Apa isinya?”
“Cerita.”
Raka menyerahkan buku itu.
Pada halaman pertama tertulis sebuah judul:
Anak yang Menunggu Ibunya Turun dari Kereta
Ceritanya belum selesai. Tokoh utamanya duduk setiap sore di stasiun karena percaya bahwa suatu hari ibunya akan muncul dari salah satu pintu kereta. Ia mengamati ribuan orang, menghafal cara mereka berjalan, dan menuliskan semuanya agar tidak melewatkan satu wajah pun.
Yabui membaca beberapa halaman tanpa berkata-kata.
Raka ternyata tidak datang ke stasiun untuk membantu pencopet. Ia datang untuk menunggu. Kemampuannya mengamati tumbuh dari kehilangan yang tidak pernah dijelaskan kepadanya. Orang-orang dewasa kemudian menemukan cara memanfaatkan kebiasaan itu.
“Bagaimana akhir ceritanya?” tanya Yabui.
Raka menatap pintu ruang pelayanan.
“Saya belum tahu apakah ibunya pulang.”
“Cerita tidak selalu harus menunggu kenyataan.”
“Tapi kalau saya salah menulis?”
Yabui mengembalikan buku itu.
“Cerita bukan daftar kedatangan. Kamu boleh membuat pintu sendiri.”
Raka memandang halaman kosong cukup lama.
Kemudian ia mulai menulis.
Malam semakin larut ketika seorang perempuan dari layanan perlindungan anak tiba. Petugas menjelaskan bahwa Raka akan dibawa ke tempat aman sambil menunggu keluarganya ditemukan.
Sebelum pergi, Raka menyobek satu halaman dan memberikannya kepada Yabui.
Di sana hanya ada dua kalimat.
Lelaki berkupluk putih akan meninggalkan Stasiun Depok setelah hujan berhenti. Ia membawa tas hitam pada satu bahu dan satu cerita yang belum selesai.
Yabui membaca tulisan itu, lalu memandang Raka.
“Kapan kamu menulis ini?”
“Tadi siang.”
“Kamu sudah melihat saya?”
Raka menunjuk jembatan penyeberangan.
“Om berdiri lama di sana sebelum masuk stasiun.”
Yabui teringat bahwa ia memang sempat berhenti di jembatan untuk melihat jalur kereta. Dari tempat Raka biasa duduk, sosoknya tentu dapat terlihat.
Tidak ada ramalan.
Hanya seorang anak yang memperhatikan lebih banyak daripada orang dewasa.
Namun, setelah kejadian itu, cerita tentang Raka berubah ketika berpindah dari satu penumpang ke penumpang lain. Ada yang mengatakan anak tersebut dapat mengetahui siapa yang akan turun dari kereta berikutnya. Ada yang mengaku pernah melihat namanya tertulis di sebuah buku sebelum ia tiba di peron. Beberapa pedagang bahkan menyebut bahwa Raka masih sesekali duduk di ujung bangku saat hujan turun, menulis kedatangan orang-orang yang belum muncul.
Sejak saat itu, penumpang Stasiun Depok mulai menghindari bangku paling ujung.
Mereka takut menemukan seorang anak berseragam sekolah sedang menulis ciri-ciri mereka.
Padahal, yang seharusnya mereka takutkan bukanlah tulisan di dalam buku.
Melainkan orang dewasa yang diam-diam membaca kebiasaan mereka.
Selesai