Manggarai: Karcis Menjelang Magrib

  • Post published:
  • Reading time:6 mins read

Menjelang magrib, orang di Stasiun Manggarai biasanya berjalan sedikit lebih cepat. Ada yang baru turun dari kereta Bogor, ada yang memotong arus menuju tangga, ada pula yang berdiri dekat layar sambil memastikan jalur berikutnya. Yabui baru keluar dari rangkaian ketika ujung sepatunya menyentuh selembar karton kecil di lantai. Benda itu hampir ikut terseret langkah orang lain kalau Yabui tidak lebih dulu membungkuk mengambilnya. Karton itu sebesar dua ruas jari, berwarna cokelat kusam, dengan satu sisi yang sudah lembek seperti pernah terkena air. Bentuknya menyerupai karcis kereta lama yang biasa muncul dalam foto-foto stasiun. Nama Manggarai masih terbaca di tengah, sementara…

Duren Kalibata: Langkah di Bawah Peron

  • Post published:
  • Reading time:6 mins read

Kereta dari arah Bogor belum terlihat ketika seorang laki-laki menjatuhkan sandal jepitnya ke bawah peron Stasiun Duren Kalibata. Bukan kedua-duanya. Hanya sandal sebelah kiri yang terlepas ketika ia mundur memberi jalan kepada penumpang lain, lalu tersenggol tumit seseorang dan jatuh melewati garis kuning. “Waduh.” Laki-laki itu membungkuk. Beberapa orang ikut melihat ke bawah meskipun tidak ada satu pun yang berniat mengambil sandal tersebut. Rel berada beberapa langkah dari mereka, kerikil memenuhi sela bantalan, sementara bagian bawah bibir peron membentuk ruang gelap yang sulit terlihat dari atas. Yabui berdiri tidak jauh dari sana. Ia baru saja turun dari kereta menuju Jakarta…

Nambo: Ujung Jalur yang Bergeser

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Kereta yang membawa Yabui ke Nambo tinggal menyisakan sedikit penumpang ketika melewati Cibinong. Seorang ibu sudah mengumpulkan kantong belanjaannya ke pangkuan, dua anak sekolah berdiri dekat pintu meskipun kereta belum sampai, sementara lelaki di ujung bangku tertidur dengan tas ransel dipeluk seperti bantal. Dari jendela, bangunan semakin jarang dan bidang-bidang hijau muncul lebih lama di antara rumah, gudang, serta jalan yang sesekali berlari sejajar dengan rel. Yabui sebenarnya tidak punya urusan di Nambo. Pagi itu ia hanya ingin melihat ujung salah satu cabang KRL yang selama ini selalu lewat sebagai nama di peta. Bogor masih memberinya gambaran tentang kota, Jakarta…

Depok Baru: Tiga Menit yang Tak Tercatat

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Kereta meninggalkan Stasiun Depok pukul 21.47. Yabui mengetahui waktunya karena baru saja melihat jam di atas pintu gerbong. Angkanya merah dan terlalu terang untuk suasana malam yang mulai sepi. 21.47. Ia menyandarkan punggung, lalu memeriksa ponsel. 21.47 juga. Perjalanan ke Depok Baru seharusnya singkat. Bahkan sebelum orang sempat merasa nyaman di kursi, kereta biasanya sudah melambat lagi. Gerbong malam itu tidak penuh. Seorang perempuan tertidur sambil memeluk tas kerja. Dua mahasiswa berbagi earphone di ujung kursi. Di dekat pintu, seorang anak laki-laki berseragam sekolah berdiri bersama ayahnya. Anak itu masih mengenakan seragam putih abu-abu, meski hari sudah larut. Dasi abu-abunya…

Depok: Penumpang yang Menolak Sampai

  • Post published:
  • Reading time:7 mins read

Kereta dari Citayam baru saja melaju ketika laki-laki itu berdiri. Sejak tadi ia duduk di dekat pintu sambil memangku tas kertas cokelat. Bagian atasnya dilipat dua kali, lalu direkatkan dengan pita kuning yang mulai kusut. Sesekali ia merapikan lipatan itu, memeriksa jam tangan, kemudian menoleh ke layar informasi di atas pintu. Stasiun berikutnya: Depok. Yabui sempat mengira laki-laki itu takut kelewatan. Ia sudah berdiri bahkan sebelum kereta mulai melambat. Namun, begitu papan nama Depok terlihat dari balik kaca, laki-laki itu malah mundur. Pintu terbuka. Penumpang di belakangnya mulai bergerak keluar. “Turun, Pak?” tanya seorang pemuda. Laki-laki itu tidak menjawab. Tatapannya…

Stasiun Universitas Pancasila: Orang yang Mengetahui Namamu

  • Post published:
  • Reading time:12 mins read

Kereta meninggalkan Lenteng Agung ketika Maria memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kali. Nama pengemudi masih sama. Deni. Nomor kendaraan masih sama. B 4362 KTZ. Foto pengemudinya menampilkan lelaki berkumis tipis dengan jaket hijau. Titik penjemputan berada di sisi barat Stasiun Universitas Pancasila, dekat minimarket yang lampunya biasa terlihat dari pintu keluar. Maria memperbesar peta, lalu mengambil tangkapan layar. Baterai ponselnya tinggal sembilan persen. Di sebelahnya, Yabui berdiri sambil menahan tas hitam pada satu bahu. Gerbong tidak terlalu penuh. Sebagian besar penumpang sudah turun di Universitas Indonesia dan Lenteng Agung. Beberapa mahasiswa masih duduk dengan laptop terbuka, sedangkan dua pekerja tertidur…

Stasiun Universitas Indonesia: Nama yang Tidak Dipanggil

  • Post published:
  • Reading time:13 mins read

Kereta meninggalkan Pondok Cina ketika sebagian penumpang sudah berdiri dekat pintu. Yabui menyelipkan ponsel ke saku. Tas hitam tetap menggantung pada satu bahu. Di hadapannya, tujuh mahasiswa berdiri berdekatan sambil mengenakan tali identitas berwarna kuning. Mereka membawa map, botol minum, dan kantong-kantong kecil berisi perlengkapan kegiatan kampus. Seorang perempuan berkacamata menghitung mereka dengan telunjuk. “Rani.” “Hadir.” “Dito.” “Hadir.” “Nala.” “Hadir.” Nama-nama dipanggil di antara bunyi roda dan percakapan penumpang. Setiap orang menjawab sambil mengangkat tangan. Beberapa tertawa ketika salah satu dari mereka menjawab terlalu keras. Di luar lingkaran kecil itu, seorang mahasiswa berdiri sendirian. Ia mengenakan kemeja putih, celana hitam,…

Stasiun Pondok Cina: Nama-Nama yang Tidak Pulang

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Kereta melambat setelah melewati Universitas Indonesia. Yabui yang sejak tadi berdiri dekat pintu mengangkat wajah dari layar ponsel. Di luar jendela, deretan bangunan, atap rumah, dan lampu-lampu kos bergerak semakin pelan. Beberapa penumpang mulai merapat ke pintu. Tas disampirkan kembali, earphone dilepas sebelah, lalu tubuh-tubuh yang semula diam mendadak bersiap turun. Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara. “Stasiun berikutnya, Pondok Cina.” Seorang mahasiswa di depan Yabui langsung menyimpan laptop ke dalam tas. Dua perempuan di sebelah pintu masih membicarakan tugas kelompok, tetapi suara mereka terpotong ketika kereta mengerem lebih keras. Pintu terbuka. Udara peron masuk bersama suara langkah dan percakapan…

Stasiun Depok Baru: Pintu yang Selalu Terbuka

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Yabui tiba di Stasiun Depok Baru menjelang pukul delapan malam. Hujan sudah berhenti, tetapi air masih menetes dari ujung atap peron. Lantai licin memantulkan cahaya lampu, membuat langkah para penumpang tampak seperti bayangan yang bergerak di permukaan kaca. Kereta datang dan pergi dalam jeda pendek. Pintu terbuka, orang-orang turun, lalu arus tubuh berpindah menuju tangga dan pintu keluar. Di dekat tiang nomor tiga, seorang anak perempuan berdiri sambil memegang map plastik biru. Usianya sekitar dua belas tahun. Rambutnya dikuncir rendah, seragam sekolahnya tertutup jaket tipis, dan kedua sepatunya tampak basah. Setiap kali kereta berhenti, ia maju beberapa langkah, memperhatikan pintu-pintu…

Stasiun Depok: Anak yang Menulis Kedatangan

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Yabui tiba di Stasiun Depok menjelang petang, ketika langit menggantung rendah di atas atap peron dan udara menyimpan bau hujan yang belum jatuh. Kereta dari arah Jakarta baru saja membuka pintu. Penumpang tumpah ke peron, berjalan cepat menuju tangga dan pintu keluar. Sebagian menunduk menatap layar ponsel. Sebagian lain saling mendahului sambil merapatkan tas ke dada. Di tengah arus itu, seorang anak laki-laki tetap duduk di ujung bangku. Usianya kira-kira sebelas tahun. Seragam sekolahnya sudah kusut. Sebuah buku tulis terbuka di atas paha, sementara tangan kanannya bergerak cepat menorehkan kalimat. Anak itu tidak terlihat sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Ia beberapa…

End of content

No more pages to load