Kereta dari arah Bogor belum terlihat ketika seorang laki-laki menjatuhkan sandal jepitnya ke bawah peron Stasiun Duren Kalibata. Bukan kedua-duanya. Hanya sandal sebelah kiri yang terlepas ketika ia mundur memberi jalan kepada penumpang lain, lalu tersenggol tumit seseorang dan jatuh melewati garis kuning.
“Waduh.”
Laki-laki itu membungkuk. Beberapa orang ikut melihat ke bawah meskipun tidak ada satu pun yang berniat mengambil sandal tersebut. Rel berada beberapa langkah dari mereka, kerikil memenuhi sela bantalan, sementara bagian bawah bibir peron membentuk ruang gelap yang sulit terlihat dari atas.
Yabui berdiri tidak jauh dari sana. Ia baru saja turun dari kereta menuju Jakarta Kota dan sengaja berhenti di Duren Kalibata sebelum melanjutkan perjalanan. Pagi sudah lewat, tetapi orang terus bergerak dari gerbang menuju peron. Ada yang berlari kecil sambil melihat layar ponsel, ada yang membawa tas belanja, dan ada yang baru keluar dari stasiun menuju kendaraan yang menunggu di luar.
Laki-laki pemilik sandal melepas sandal kanan.
“Biar adil,” katanya.
Orang di sebelahnya tertawa.
“Terus pulangnya nyeker?”
“Sandal dua puluh ribu. Nyawa jangan ikut dua puluh ribu.”

Petugas yang mendengar percakapan itu mendekat dan meminta laki-laki tersebut menjauh dari garis aman. Sandal tidak bisa diambil saat itu. Kereta segera melintas, dan bagian bawah peron bukan tempat yang bisa dimasuki begitu saja.
Laki-laki itu mengangguk. Sandal kanan dimasukkan ke dalam tas plastik. Ia kemudian memakai sepatu cadangan yang ternyata sejak awal berada di dalam ransel.
Yabui tertawa.
“Bawa sepatu, tapi pakai sandal?”
“Sepatunya buat kantor.”
“Terus sandal buat apa?”
“Buat hidup.”
Jawaban itu membuat orang di dekat mereka kembali tertawa.
Kereta datang beberapa menit kemudian. Angin lebih dulu menyapu peron, lalu suara roda memenuhi ruang. Orang-orang bergeser, berdiri di belakang garis kuning, dan mengarahkan tubuh ke pintu yang mereka perkirakan akan berhenti di depan mereka.
Yabui ikut mundur.
Saat itulah terdengar sesuatu dari bawah.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara itu berjalan sejajar dengan peron.
Yabui menoleh ke bawah. Ia tidak melihat apa-apa selain beton dan bayangan rangkaian yang semakin dekat.
Kereta berhenti.
Pintu terbuka.
Orang keluar, orang masuk, dan beberapa detik kemudian suara tadi tenggelam dalam percakapan, bunyi pintu, serta pengumuman perjalanan berikutnya.
Laki-laki yang kehilangan sandal masuk ke dalam kereta.
Sebelum pintu tertutup, ia sempat menunjuk ke bawah peron.
“Kalau sandalnya pulang duluan, kabarin.”
Yabui mengangkat tangan.
Kereta berangkat.
Peron kembali longgar.
Yabui berjalan ke ujung naungan untuk mencari bangku yang kosong. Baru beberapa langkah, suara itu muncul lagi.
Tap.
Tap.
Tap.
Kali ini kecepatannya sama dengan langkah Yabui.
Yabui berhenti.
Suara di bawah ikut berhenti.
Ia berjalan lagi.
Tap.
Tap.
Tap.
Yabui memperlambat langkah.
Suara itu ikut melambat.
Seorang perempuan yang duduk di bangku mengangkat kepala karena melihat Yabui berjalan seperti orang sedang menguji lantai.
“Kenapa, Pak?”
Yabui menunjuk ke bawah.
“Ada orang kerja di bawah?”
Perempuan itu melihat ke arah rel.
“Di bawah mana?”
“Peron.”
Perempuan itu memiringkan badan, lalu ikut melihat ke celah antara lantai dan jalur.
“Mana muat orang?”
Yabui ikut melihat.
Perempuan itu benar.
Dari posisi tersebut, bagian bawah bibir peron tampak terlalu rendah untuk dilewati orang dengan tubuh berdiri. Beberapa bagian bahkan tertutup konstruksi beton.
Yabui melangkah dua kali.
Tap.
Tap.
Perempuan itu langsung berdiri.
“Tadi apa?”
Yabui tidak menjawab. Ia berjalan tiga langkah lagi.
Tap.
Tap.
Tap.
Perempuan itu ikut berjalan di samping Yabui.
Suara dari bawah mengikuti mereka.
Keduanya berhenti bersamaan.
Suara pun berhenti.
Perempuan itu tertawa lebih dahulu.
“Kayak bocah.”
“Bocah di mana?”
“Nah.”
Mereka kembali berjalan.
Tap.
Tap.
Tap.
Seorang mahasiswa yang sejak tadi berdiri dekat tiang akhirnya ikut memperhatikan. Ia melepas earphone dari telinga kanan.
“Pak, jalan lagi.”
Yabui berjalan.
Tap.
Tap.
Tap.
Mahasiswa itu mendekat.
“Ulang.”
Yabui kembali ke posisi sebelumnya.
Mahasiswa tersebut menunjuk perempuan tadi.
“Sekarang Ibu.”
Perempuan itu maju.
Tidak ada suara.
Ia mundur dan berjalan sekali lagi.
Tetap tidak ada.
Mahasiswa tersebut menatap Yabui.
“Bapak lagi.”
Yabui berjalan.
Tap.
Tap.
Tap.
Perempuan itu langsung menutup mulut sambil tertawa.
“Dia sukanya Bapak.”
“Jangan dijodoh-jodohkan.”
Mahasiswa itu jongkok dekat garis kuning. Ia memasukkan ponsel ke sela pagar pengaman kecil dan mengarahkan kamera ke bawah.
“Jangan terlalu dekat,” kata Yabui.
Mahasiswa itu mengangguk, lalu menggeser ponselnya perlahan.
Tidak ada orang.
Tidak ada sepatu.
Tidak ada ruang yang cukup untuk seseorang berjalan.
Yang terlihat hanya beton, batu, beberapa kabel, dan sandal jepit hitam yang tadi jatuh.
Mahasiswa itu berdiri.
“Nah, ketemu.”
“Apa?”
“Sandalnya.”
Perempuan tadi menunjuk.
“Coba Bapak jalan lagi.”
Yabui berjalan.
Tap.
Tap.
Tap.
Mereka bertiga melihat sandal hitam di layar ponsel.
Sandal itu tidak bergerak.
Kereta berikutnya datang dari arah Jakarta Kota. Percobaan berhenti karena penumpang mulai memenuhi peron. Mahasiswa tersebut naik. Perempuan tadi juga pergi setelah menerima telepon.
Yabui masih tinggal.
Ia membeli air minum dari kios, lalu kembali ke tempat sandal jatuh. Petugas yang tadi membantu pemilik sandal sedang berjalan melewati peron.
“Mas.”
Petugas berhenti.
“Sandal tadi masih di bawah?”
Petugas melihat ke arah yang ditunjuk.
“Yang hitam?”
“Iya.”
“Nanti kalau kondisi memungkinkan diambil.”
“Memang ada ruang di bawah peron?”
“Ruang bagaimana?”
“Orang bisa jalan di bawah?”
Petugas itu tertawa kecil.
“Buat apa jalan di bawah?”
“Enggak tahu.”
“Kalau enggak tahu, jangan diajak jalan.”
Petugas melanjutkan langkah.
Yabui ikut berjalan ke arah berlawanan.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara itu muncul kembali.
Yabui mempercepat langkah.
Suara di bawah ikut cepat.
Ia berbalik.
Suara itu ikut berbalik.
Untuk pertama kalinya Yabui tidak berhenti. Ia terus berjalan sampai ujung bagian peron yang beratap, lalu kembali lagi menuju titik tempat sandal berada.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara itu tidak pernah mendahului.
Tidak pernah tertinggal.
Selalu satu langkah tepat di bawah langkah Yabui.
Ketika sebuah kereta kembali datang, Yabui berdiri di belakang garis kuning. Orang-orang mulai berkumpul di kanan dan kirinya.
Suara dari bawah hilang.
Pintu kereta terbuka.
Yabui tidak masuk.
Ia menunggu sampai kereta pergi dan peron kembali renggang.
Tap.
Satu suara muncul dari bawah.
Yabui belum bergerak.
Ia menoleh.
Tap.
Suara kedua.
Yabui masih berdiri.
Tap.
Suara ketiga bergerak menjauh.
Yabui mengikuti arah suara itu sampai beberapa meter, lalu berhenti di depan tempat mahasiswa tadi memasukkan kameranya.
Sandal hitam sudah tidak berada di sana.
Yabui mencari di sepanjang sisi peron. Tidak ada.
Petugas datang membawa tongkat penjepit panjang.
“Mana sandalnya?”
“Tadi di sini.”
Petugas melihat ke bawah.
“Enggak ada.”
“Bisa hanyut?”
Petugas mengangkat kepala.
“Hanyut ke mana?”
Keduanya diam sebentar.
Kemudian terdengar suara langkah dari ujung peron.
Tap.
Tap.
Tap.
Petugas menoleh.
Yabui ikut menoleh.
Seorang laki-laki baru saja turun dari kereta. Ia berjalan pelan sambil membawa tas kerja. Sandal jepit hitam terpasang di kedua kakinya.
Petugas menunjuk.
“Ya itu sandalnya.”
Yabui melihat laki-laki tersebut mendekat.
Bukan laki-laki yang tadi kehilangan sandal.
Laki-laki itu berhenti ketika melihat mereka memandang kakinya.
“Kenapa, Pak?”
Petugas menggeleng.
“Enggak apa-apa.”
Laki-laki itu berjalan menuju gerbang.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara sandal menyentuh lantai peron, biasa saja.
Yabui mengikuti beberapa meter di belakangnya.
Ketika laki-laki itu melewati garis akhir naungan, salah satu sandalnya terlepas.
Sandal sebelah kiri.
Sandal itu terseret sedikit, lalu jatuh melewati sisi peron.
Laki-laki tersebut berhenti.
“Waduh.”
Yabui tidak bergerak.
Petugas di belakangnya juga tidak bergerak.
Laki-laki itu membungkuk melihat ke bawah.
Kemudian melepas sandal kanan.
“Biar adil,” katanya.
Tidak ada yang tertawa.