Ketukan yang Berpindah

Malam itu, kostum Robot Kuning dibawa masuk ke rumah.

Dr. Yabui menggantungnya di belakang pintu ruang kerja. Helm diletakkan di atas meja. Bagian badan digantung dengan kedua tangan menjuntai ke bawah.

Birka beberapa kali melewati ruangan itu.

Setiap kali lewat, ia berhenti.

Lingkaran di dada robot sudah tidak menyala.

Ayah telah membuka bagian belakangnya, memeriksa kabel, meraba lapisan kain, lalu menunjukkan tempat baterai yang masih kosong.

“Tidak ada apa-apa,” kata Ayah.

Birka berdiri di samping meja.

“Tadi ada.”

“Iya.”

“Kenapa sekarang tidak ada?”

Dr. Yabui belum menjawab.

Ia sedang memegang obeng kecil dan sepotong kabel berwarna merah. Kabel itu belum terhubung ke mana-mana.

“Besok Ayah periksa lagi,” katanya.

“Batunya juga?”

Ayah memandang Birka.

“Batunya memang kenapa?”

“Ada orang.”

“Orang yang belum punya cerita?”

Birka mengangguk.

Dari ruang tengah terdengar Birri berteriak karena Bizwa mengambil bantalnya. Avi meminta keduanya mengecilkan suara. Na sedang menidurkan Birru sambil menyanyikan lagu yang hanya terdengar sebagian.

Birka menatap kostum sekali lagi.

Kedua tangannya tergantung kaku.

Kepalanya terpisah di atas meja.

Ia tidak tampak seperti robot.

Ia tampak seperti pakaian yang sedang menunggu seseorang.

“Besok aku pakai lagi,” kata Birka.

“Kalau sudah diperbaiki.”

“Belum rusak.”

Dr. Yabui tersenyum kecil.

“Iya. Belum rusak.”

Malam semakin larut.

Birka tidur bersama Birri. Tempat tidur mereka berdekatan, hanya dipisahkan meja kecil yang penuh buku gambar dan pensil pendek.

Birri sudah tidur lebih dulu.

Satu kakinya keluar dari selimut. Tangannya masih memegang mobil-mobilan merah.

Birka berbaring menghadap dinding.

Ia mencoba memejamkan mata.

Namun suara dari batu masih berada di kepalanya.

Tok.

Tok.

Tok.

Ia membalikkan badan.

Di luar kamar, rumah sudah lebih sepi. Hanya terdengar suara kipas dan sesekali suara sendok dari dapur.

Birka menarik selimut sampai ke dagu.

Ia membayangkan batu besar di samping makam.

Permukaannya datar.

Dingin.

Ada bekas lingkaran air.

Ada daun kering.

Ada suara dari dalam.

Tok.

Birka membuka mata.

Suara itu bukan berasal dari kepalanya.

Tok.

Ia duduk.

Birri masih tidur.

Tok.

Birka menoleh ke meja kecil.

Tidak ada apa-apa.

Mobil merah masih berada di tangan Birri. Buku-buku tidak bergerak. Pensil-pensil tergeletak di dalam gelas plastik.

Tok.

Kali ini suaranya terdengar dari luar kamar.

Birka turun dari tempat tidur.

Kakinya menyentuh lantai yang dingin.

Ia membuka pintu perlahan.

Lorong rumah gelap, tetapi cahaya dari ruang kerja Ayah masih menyala tipis.

Birka berjalan ke sana.

Pintu ruang kerja sedikit terbuka.

Dari celahnya, ia melihat kostum Robot Kuning menggantung.

Diam.

Birka mendorong pintu.

“Ayah?”

Tidak ada jawaban.

Ayah tidak berada di ruangan itu.

Di atas meja terdapat obeng, gunting kecil, gulungan benang, dan helm kuning. Semua masih seperti tadi.

Birka mendekati kostum.

“Robot?”

Ia menunggu.

Tidak ada jawaban.

Ia menyentuh lingkaran di dada kostum.

Dingin.

Tok.

Birka menarik tangannya.

Suara itu berasal dari helm.

Ia berdiri diam.

Tok.

Pelan sekali.

Birka menatap dua telinga pendek di sisi helm.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ia mendekatkan wajah.

Di bagian depan helm terdapat dua lubang mata yang masih belum rapi. Dari sana hanya terlihat bagian dalam yang gelap.

Birka mengambil helm itu dengan kedua tangan.

Helm terasa lebih berat daripada sore tadi.

“Birka?”

Suara Ayah terdengar dari belakang.

Birka berbalik cepat.

Dr. Yabui berdiri di pintu sambil membawa segelas air.

“Kenapa belum tidur?”

“Robotnya mengetuk.”

Ayah masuk.

“Dari mana?”

Birka menunjuk helm.

Dr. Yabui meletakkan gelas di meja, lalu mengambil helm dari tangan Birka. Ia membaliknya, mengetuk bagian samping, dan memeriksa lapisan kain di dalam.

Tidak ada sesuatu yang jatuh.

Tidak ada kabel.

Tidak ada benda kecil yang bergerak.

“Coba dengar,” kata Birka.

Mereka menunggu.

Ruangan itu diam.

Dari luar terdengar suara jangkrik. Dari kamar, Birri mengigau pendek.

Dr. Yabui menempelkan telinga ke helm.

Tidak ada suara.

Birka ikut menempelkan telinga dari sisi lain.

Masih tidak ada.

“Mungkin Birka mengantuk,” kata Ayah.

“Birka tidak mengantuk.”

“Sekarang sudah malam.”

“Kalau malam, suara bisa pindah?”

Ayah menurunkan helm.

“Suara pindah ke mana?”

“Dari batu ke robot.”

Dr. Yabui memandang kostum yang tergantung.

Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa-apa.

Kemudian ia mengambil buku kecil dari meja.

“Ayah mau mencatat sesuatu.”

“Apa?”

“Batu berbunyi tiga kali. Lampu menyala dua kali. Malam ini helm berbunyi.”

Birka mendekat.

Ayah menulis perlahan.

Tulisan tangannya kecil dan rapat.

“Kenapa dicatat?”

“Supaya tidak lupa.”

“Kalau lupa bagaimana?”

“Kita bisa membuat cerita yang berbeda.”

Birka melihat halaman buku itu.

“Apa yang benar?”

Ayah berhenti menulis.

“Belum tahu.”

Birka menunggu jawaban lain.

Namun Ayah hanya menutup buku.

“Sekarang tidur.”

Birka kembali ke kamar.

Sebelum pintu ruang kerja ditutup, ia sempat menoleh.

Kostum Robot Kuning masih tergantung.

Lingkaran di dadanya tetap gelap.

Pagi harinya, Birka bangun karena Birru menangis.

Na sedang menggendongnya di ruang tengah. Birri masih mencari mobil merah yang ternyata terselip di bawah bantal. Bizwa sudah berada di halaman. Avi menyapu depan Berehan.

Birka langsung berlari ke ruang kerja.

Kostum Robot Kuning sudah tidak ada.

Helmnya juga hilang.

“Ayah!”

Dr. Yabui menjawab dari luar.

“Di sini.”

Birka berlari menuju Berehan.

Ayah sedang membentangkan kostum di atas tikar. Di sampingnya ada kabel, baterai, dan lampu kecil yang akan dipasang di bagian dada.

Birka berhenti di depan pintu.

“Ayah sudah pasang baterai?”

“Baru mau.”

“Jangan.”

Ayah mengangkat kepala.

“Kenapa?”

“Nanti kita tidak tahu.”

“Tidak tahu apa?”

“Lampunya menyala karena baterai atau karena batu.”

Bizwa yang sedang duduk di dekat rak tertawa.

“Batu mana bisa menyalakan lampu.”

Birka menatapnya.

“Kemarin bisa.”

“Itu pasti kabelnya kena sesuatu.”

“Tidak ada baterai.”

“Bisa saja Ayah lupa.”

Dr. Yabui tidak menjawab.

Ia meletakkan baterai di atas tikar.

“Baik,” katanya. “Kita coba tanpa baterai dulu.”

Birri datang sambil membawa helm kuning.

“Aku yang pakai.”

“Tidak,” kata Birka.

“Kemarin kamu.”

“Robotnya pilih aku.”

“Memangnya bilang?”

Birka mengambil helm dari tangan Birri.

“Dia mengetuk.”

Birri berhenti menarik helm.

“Di mana?”

“Di kamar Ayah.”

Bizwa kembali tertawa.

Namun kali ini Birri tidak ikut.

Avi berdiri di depan pintu sambil memegang sapu.

“Kalian jangan mulai cerita aneh pagi-pagi.”

“Ini bukan cerita,” kata Birka.

“Terus apa?”

Birka berpikir.

Ia belum tahu harus menyebutnya apa.

Dr. Yabui memasangkan kostum ke tubuh Birka. Bagian bahunya sudah lebih rapi. Helmnya juga tidak lagi menutupi mata.

Kostum itu masih sedikit kebesaran.

Namun Birka dapat berjalan lebih mudah.

“Coba bergerak,” kata Ayah.

Birka mengangkat tangan.

Ia memutar badan.

Ia melangkah ke kiri, lalu ke kanan.

“Robot Kuning siap.”

“Siap apa?” tanya Birri.

Birka memandang batu besar di dekat makam.

“Cari cerita.”

Mereka berjalan keluar dari Berehan.

Dr. Yabui membawa buku kecil. Avi mengikuti dari belakang. Bizwa berjalan sambil memasukkan tangan ke saku. Birri membawa sebatang kayu pendek yang katanya akan dipakai sebagai alat pemeriksa.

Na berdiri di depan rumah sambil menggendong Birru.

“Jangan ganggu makam,” katanya.

“Kami cuma lihat batu,” jawab Avi.

“Batunya juga jangan diganggu.”

Birka berjalan paling depan.

Udara pagi masih sejuk. Rumput di sekitar makam basah. Daun-daun yang jatuh semalam menempel di tanah.

Batu besar itu tampak sama.

Datar.

Diam.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Birka berdiri di depannya.

“Robot Kuning datang.”

Bizwa menutup wajah dengan kedua tangan.

“Kamu ngomong sama batu?”

“Bukan sama batu.”

“Terus?”

“Sama yang di dalam.”

Birri mengetuk batu dengan kayunya.

Tok.

Semua menoleh.

Birri mengetuk lagi.

Tok.

“Begitu suaranya?” tanyanya.

Birka menggeleng.

“Bukan.”

“Bedanya apa?”

“Yang kemarin dari dalam.”

Birri menempelkan telinga ke batu.

Bizwa ikut berjongkok.

Avi berdiri sedikit menjauh.

Dr. Yabui membuka buku kecil.

“Coba semua diam,” katanya.

Mereka diam.

Angin bergerak pelan. Dari kejauhan terdengar penjual sayur memanggil pembeli. Seekor burung hinggap di dahan dekat makam, lalu terbang lagi.

Tidak ada ketukan.

Birka menyentuh permukaan batu.

Lingkaran di dada Robot Kuning tidak menyala.

“Tidak ada,” kata Bizwa.

Birka tetap menempelkan telapak tangan.

Batu itu dingin.

Ia memejamkan mata.

Mula-mula hanya ada suara angin.

Kemudian muncul sesuatu yang sangat kecil.

Bukan ketukan.

Seperti suara pensil menggores kertas.

Kres.

Berhenti.

Kres.

Birka membuka mata.

“Ada yang menulis.”

Bizwa mendengus.

“Sekarang batunya punya pensil?”

“Bukan batunya.”

“Orang di dalam?”

Birka mengangguk.

“Apa yang ditulis?” tanya Ayah.

Birka menutup mata lagi.

Kres.

Kres.

Suara itu bergerak perlahan, seperti membentuk garis yang panjang. Setelah itu terdengar bunyi kecil seperti kertas dibalik.

Kemudian satu suara muncul.

Sangat pendek.

Sangat pelan.

“Ku—”

Birka membuka mata.

“Ada yang bilang sesuatu.”

“Apa?” tanya Birri.

“Ku.”

“Ku apa?”

“Tidak tahu.”

Bizwa mendekatkan telinganya ke batu.

Tidak ada suara.

Avi akhirnya berjongkok di sisi lain.

Ia menunggu cukup lama.

Lalu wajahnya berubah.

“Aku dengar.”

Bizwa menoleh cepat.

“Apa?”

“Seperti kertas.”

Birri ikut menempelkan telinga.

“Aku juga.”

Dr. Yabui tidak langsung mendekat.

Ia mencatat sesuatu di buku kecil.

“Ayah tidak mau dengar?” tanya Birka.

Ayah menutup bukunya.

“Mau.”

Ia berjongkok, lalu menempelkan telinga ke permukaan batu.

Semua menunggu.

Beberapa detik berlalu.

Dr. Yabui mengangkat kepala.

“Ada suara gesekan.”

“Tulisan,” kata Birka.

“Mungkin.”

“Dia menulis cerita.”

“Mungkin.”

“Ayah selalu bilang mungkin.”

Dr. Yabui tersenyum tipis.

“Karena Ayah belum melihat.”

Birka memandang batu.

“Kalau tidak bisa melihat, bagaimana tahu?”

Ayah belum sempat menjawab.

Lingkaran di dada Robot Kuning tiba-tiba menyala.

Cahayanya tidak seterang kemarin.

Kuning pucat.

Namun kali ini cahaya itu tidak diam.

Ia berkedip membentuk irama.

Panjang.

Pendek.

Pendek.

Panjang.

Birka menunduk.

“Ayah.”

Dr. Yabui segera memeriksa bagian belakang kostum.

Tempat baterai masih kosong.

Cahaya berkedip lagi.

Panjang.

Pendek.

Pendek.

Panjang.

Avi berdiri.

“Itu seperti tanda.”

“Tanda apa?” tanya Bizwa.

Tidak ada yang menjawab.

Dari dalam batu, suara goresan berhenti.

Lalu terdengar ketukan.

Tok.

Cahaya di dada Birka menyala panjang.

Tok.

Cahaya menyala pendek.

Tok.

Cahaya menyala pendek.

Tok.

Cahaya menyala panjang.

Birka menahan napas.

Ketukan itu bukan lagi suara yang datang dari tempat jauh.

Suara itu sekarang terdengar tepat di bawah telapak tangannya.

Birri mundur satu langkah.

Bizwa tidak tertawa.

Avi memegang lengan Birri.

Dr. Yabui memandang batu dan cahaya di dada robot secara bergantian.

“Ada empat,” kata Birka.

“Iya,” jawab Ayah.

“Kemarin tiga.”

“Iya.”

“Berarti dia belajar mengetuk.”

Dr. Yabui tidak segera menjawab.

Birka mendekatkan wajah ke batu.

“Ku apa?”

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu.

Angin kembali bergerak.

Rumput di sekitar makam bergoyang pelan.

Kemudian, dari dalam batu, muncul satu suara lagi.

Lebih jelas daripada sebelumnya.

“Kuning.”

Birka berdiri tegak.

Lampu di dadanya langsung padam.

Semua orang diam.

Bizwa menelan ludah.

Birri memandang kostum Birka.

Avi memandang Ayah.

Dr. Yabui membuka buku kecilnya, tetapi tidak segera menulis.

“Dia tahu warnaku,” kata Birka.

Dari arah rumah, Birru tertawa dalam gendongan Na.

Pada saat yang sama, sesuatu jatuh dari bawah batu.

Bukan daun.

Bukan tanah.

Sepotong kertas kecil meluncur keluar dari celah yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat.

Kertas itu berwarna kuning.

Di tengahnya terdapat satu garis hitam.

Garis itu belum membentuk gambar.

Belum membentuk huruf.

Namun ketika Birka mengambilnya, garis itu bergerak sedikit.

Seperti baru saja ditulis.