Malam setelah hujan selalu meninggalkan rasa yang aneh di stasiun.
Lantainya basah, lampu-lampunya tampak lebih buram, dan suara langkah orang terdengar lebih jelas daripada biasanya. Di Stasiun Cawang, malam itu, suasana terasa lebih lengang. Tidak benar-benar kosong, tetapi juga tidak cukup ramai untuk membuat seseorang merasa aman.

Beberapa penumpang duduk berjauhan di bangku peron. Ada yang menunduk menatap ponsel. Ada yang menyandarkan kepala ke tiang. Ada pula yang berdiri dekat garis kuning, menunggu kereta terakhir dengan wajah lelah. Semua tampak seperti orang-orang kota pada umumnya: ingin cepat pulang, ingin cepat sampai, ingin segera berhenti berpikir.
Dimas termasuk salah satunya.
Jaket denimnya masih lembap terkena gerimis. Rambutnya sedikit basah. Sepatunya meninggalkan jejak kecil di lantai peron setiap kali ia bergeser. Hari itu terlalu panjang. Pekerjaan di kantornya di Sudirman seperti tidak habis-habis. Rapat, revisi, pesan dari atasan, dan jalanan yang macet membuat kepalanya terasa penuh.
Ia hanya ingin pulang.
Kereta terakhir menuju arah Manggarai dijadwalkan tiba sebentar lagi. Dimas berdiri di sudut peron, tidak jauh dari papan rute. Sesekali ia melihat jam di ponselnya. Sesekali ia menghela napas. Di sekelilingnya, orang-orang lain melakukan hal yang sama: menunggu tanpa benar-benar hadir di tempat itu.
Lalu Dimas melihat pria itu.
Di ujung peron, agak jauh dari lampu, seorang pria berdiri sendirian menghadap rel. Tubuhnya kurus dan tegap. Ia memakai kemeja gelap dengan jaket tua yang warnanya sulit ditebak. Kepalanya sedikit tertunduk, seolah sedang memperhatikan sesuatu di bawah jalur kereta.
Awalnya Dimas mengira pria itu hanya penumpang biasa.
Tapi ada sesuatu yang terasa tidak wajar.
Lampu di atas pria itu berkedip lebih pelan dibanding lampu lain. Cahaya yang jatuh ke tubuhnya tampak tidak utuh, seperti enggan menyentuhnya. Dimas memperhatikan lantai di sekitar kaki pria itu. Di sana tidak ada bayangan. Padahal bayangan tiang, bangku, dan tubuh penumpang lain terlihat jelas di lantai yang basah.
Dimas menelan ludah.
“Capek doang kali,” gumamnya pelan.
Ia mengalihkan pandangan ke ponsel. Mencoba membaca pesan yang belum sempat ia balas. Namun matanya tidak benar-benar menangkap kata-kata di layar. Pikirannya terus kembali ke ujung peron.
Beberapa detik kemudian, ia melirik lagi.
Pria itu masih ada.
Tetap berdiri.
Tetap menatap rel.
Yang membuat Dimas semakin tidak nyaman adalah tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Penumpang lain tetap sibuk dengan ponsel masing-masing. Seorang perempuan bahkan berjalan melewati pria itu dari jarak dekat, tetapi tidak menoleh sedikit pun.
Seolah pria itu tidak ada.
Dimas merasakan tengkuknya dingin.
Ia mencoba membuktikan sesuatu. Pelan-pelan, ia mengangkat ponsel dan mengarahkan kamera ke ujung peron. Dalam layar, terlihat tiang, lampu, lantai basah, dan jalur kereta.
Tapi pria itu tidak terlihat.
Dimas menurunkan ponselnya.
Dengan mata langsung, pria itu masih berdiri di sana.
Jantung Dimas mulai berdegup lebih cepat.
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, terdengar pengumuman dari pengeras suara.
“Perhatian, kereta tujuan Manggarai akan segera tiba. Penumpang dimohon berdiri di belakang garis aman.”
Suara pengumuman itu terdengar normal. Tetapi setelah kalimat terakhir selesai, ada desis pendek dari pengeras suara.
Kresek.
Lalu, sangat pelan, seperti suara yang bocor dari rekaman lain, terdengar kalimat tambahan.
“Jangan salah turun.”
Dimas menoleh cepat ke pengeras suara.
Tidak ada reaksi dari penumpang lain.
Mungkin mereka tidak mendengarnya. Mungkin memang hanya Dimas yang mendengar.
Dari kejauhan, lampu kepala kereta mulai tampak. Suara roda besi yang menggesek rel perlahan mendekat, memecah sunyi malam. Para penumpang berdiri. Dimas ikut melangkah maju, masih berusaha meyakinkan diri bahwa semua hanya akibat kelelahan.
Kereta berhenti.
Pintu gerbong terbuka.
Orang-orang bersiap masuk.
Namun Dimas membeku.
Pria dari ujung peron itu kini berdiri tepat di depan pintu gerbong yang akan dinaiki Dimas.
Padahal Dimas tidak melihatnya berjalan.
Wajah pria itu masih tertutup bayangan, meski ia berdiri di bawah lampu gerbong. Kepalanya sedikit miring. Matanya mengarah ke Dimas. Tatapannya kosong, tetapi terasa sangat sengaja.
Dimas menahan napas.
Orang-orang masuk melewati pria itu. Tidak ada yang menyenggolnya. Tidak ada yang menghindarinya. Tidak ada yang tampak sadar bahwa di sana ada seseorang berdiri.
Dimas hampir mundur. Namun pintu gerbong mengeluarkan bunyi peringatan. Ia tidak mau tertinggal kereta terakhir. Dengan langkah ragu, ia masuk.
Ia memilih duduk dekat pintu.
Gerbong tidak terlalu penuh. Beberapa penumpang duduk terpencar. Seorang lelaki berkemeja putih tertidur dengan kepala menunduk. Seorang ibu menggenggam tas belanja. Dua anak muda berdiri dekat sambungan gerbong, berbicara pelan sambil tertawa kecil.
Dimas mencoba bernapas normal.
Kereta bergerak meninggalkan Stasiun Cawang.
Untuk beberapa saat, semuanya tampak biasa. Lampu gerbong menyala terang. Suara rel terdengar stabil. Pemandangan malam di luar jendela bergerak cepat dalam garis-garis gelap dan cahaya.
Lalu Dimas melihat pantulan kaca.
Di pantulan itu, pria misterius tadi duduk di sudut gerbong paling belakang.
Dimas menoleh langsung.
Pria itu memang ada di sana.
Duduk diam.
Kepalanya tertunduk.
Kedua tangannya terlipat di atas pangkuan.
Tidak ada seorang pun duduk di dekatnya. Bahkan kursi-kursi di sekeliling pria itu kosong, seperti ada batas tak terlihat yang membuat orang lain memilih menjauh tanpa sadar.
Dimas meremas ujung jaketnya.
Ia mencoba kembali melihat ponsel. Tapi layar ponselnya tiba-tiba redup. Angka jam di pojok layar berhenti pada 23.45.
Dimas menekan tombol kunci.
Tidak berubah.
Ia menekan lagi.
Tetap 23.45.
Kereta melaju.
Pengumuman stasiun berikutnya terdengar.
“Stasiun berikutnya…”
Suara itu terputus sejenak.
Kresek.
“Tebet.”
Beberapa penumpang bersiap turun. Saat kereta berhenti, pintu terbuka. Orang-orang keluar satu per satu. Dimas memperhatikan pria misterius itu dari jauh. Ia berharap pria itu ikut turun.
Pria itu tidak bergerak.
Pintu kembali tertutup.
Kereta berjalan lagi.
Gerbong menjadi lebih sepi.
Dimas memandang sekeliling. Lelaki berkemeja putih sudah tidak ada. Ibu dengan tas belanja juga sudah turun. Dua anak muda di dekat sambungan gerbong menghilang entah sejak kapan. Kini hanya tersisa Dimas dan beberapa penumpang lain yang duduk berjauhan.
Lalu lampu gerbong berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Pada kedipan ketiga, Dimas melihat sesuatu di kaca jendela.
Pantulan kursi di sebelah pria misterius itu tidak kosong. Ada bayangan orang-orang duduk berderet. Wajah mereka pucat. Tubuh mereka diam. Mata mereka menghadap lurus ke depan.
Dimas menoleh langsung.
Kursi itu kosong.
Ia melihat kaca lagi.
Bayangan orang-orang itu masih ada.
Salah satunya menoleh ke arah Dimas.
Dimas langsung berdiri.
Napasnya mulai pendek. Ia tidak ingin berada di gerbong itu lebih lama. Tapi kereta masih melaju. Ia hanya perlu menunggu sampai Manggarai. Hanya beberapa menit lagi, pikirnya. Hanya beberapa menit.
Namun pikirannya terus terganggu oleh kalimat dari pengeras suara tadi.
Jangan salah turun.
Dimas menatap pria misterius di sudut gerbong. Pria itu masih duduk diam, seolah menunggu. Ada dorongan aneh dalam diri Dimas untuk mendekat. Bukan karena berani, melainkan karena ia merasa kalau ia tidak bertanya sekarang, ia akan membawa rasa takut itu pulang selamanya.
Pelan-pelan, Dimas berjalan ke arah pria itu.
Setiap langkah terasa berat.
Udara di sekitar kursi belakang semakin dingin. Bau hujan yang semula melekat di jaketnya kini berganti menjadi bau lembap seperti ruang tertutup yang lama tidak dibuka.
Dimas berhenti dua langkah dari pria itu.
“Mas,” panggilnya pelan.
Pria itu tidak bergerak.
Dimas menelan ludah.
“Mas mau turun di stasiun mana?”
Tidak ada jawaban.
Kereta berguncang kecil. Lampu berkedip lagi.
Dimas hampir mundur, tetapi pria itu perlahan mengangkat kepala.
Wajahnya terlihat.
Pucat.
Terlalu pucat untuk orang yang masih hidup.
Matanya kosong, tetapi menatap Dimas dengan tepat. Tidak marah. Tidak sedih. Tidak juga terkejut. Tatapan itu seperti milik seseorang yang sudah sangat lama menunggu giliran.
Lalu pria itu tersenyum tipis.
“Bukan aku yang turun,” katanya.
Suaranya rendah. Berat. Seperti datang dari ruang yang jauh di bawah lantai gerbong.
Dimas membeku.
Pria itu melanjutkan.
“Kau yang akan turun.”
Tubuh Dimas terasa kehilangan tenaga.
Pada saat yang sama, kereta mengerem mendadak. Lampu gerbong padam sekejap. Suara pengeras berbunyi dengan desis panjang.
“Stasiun berikutnya…”
Kresek.
“Manggarai.”
Pintu terbuka.
Dimas tidak berpikir lagi. Ia berlari keluar dari gerbong, melewati pintu, dan menginjak peron dengan napas terputus-putus. Udara malam menerpa wajahnya. Ia hampir tersandung, lalu berpegangan pada tiang terdekat.
Ia selamat.
Setidaknya itulah yang ia pikirkan.
Peron Manggarai malam itu tampak sepi. Terlalu sepi. Tidak ada arus penumpang, tidak ada petugas yang lewat, tidak ada suara langkah dari jalur lain. Hanya ada angin dingin dan lampu-lampu yang menyala pucat.
Dimas menoleh ke kereta.
Pria misterius itu masih duduk di sudut gerbong. Dari balik jendela, ia menatap Dimas. Senyumnya tidak berubah.
Kereta mulai bergerak.
Dimas mundur satu langkah.
Lalu ia melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya kaku.
Di kaca gerbong yang bergerak pelan, Dimas melihat pantulan dirinya.
Bukan pantulan dirinya yang berdiri di peron.
Melainkan dirinya yang duduk di sudut gerbong, tepat di tempat pria misterius tadi.
Wajahnya pucat.
Matanya kosong.
Kedua tangannya terlipat di pangkuan.
Dimas menoleh ke bawah, ke tubuhnya sendiri.
Ia masih merasa berdiri. Ia masih merasa bernapas. Ia masih merasa menggenggam tiang peron.
Tapi di lantai basah, tubuhnya tidak punya bayangan.
Kereta semakin jauh.
Di pintu gerbong terakhir, pria misterius itu kini berdiri. Bukan lagi duduk. Ia menatap keluar dengan wajah lega, seperti seseorang yang akhirnya diperbolehkan pulang setelah menunggu terlalu lama.
Dimas ingin berteriak.
Tidak ada suara keluar dari mulutnya.
Papan digital di atas peron berkedip.
Nama stasiun yang tertulis di sana bukan Manggarai.
Dimas membaca pelan-pelan, dengan dada yang semakin sesak.
STASIUN CAWANG.
Ia berbalik.
Peron yang tadi ia yakini sebagai Manggarai kini berubah menjadi peron tempat ia menunggu sebelumnya. Bangku yang sama. Tiang yang sama. Lampu yang sama. Genangan air yang sama. Bahkan di kejauhan, papan rute yang sama masih menempel di dinding.
Dimas melangkah mundur.
Di sekelilingnya, beberapa penumpang mulai muncul. Mereka duduk berjauhan di bangku peron, sibuk dengan ponsel masing-masing. Seolah baru saja menunggu kereta terakhir. Seolah tidak ada yang berubah.
Dimas mencoba mendekati seorang perempuan yang berdiri dekat garis kuning.
“Mbak,” katanya panik. “Tolong, ini stasiun apa?”
Perempuan itu tidak menoleh.
Dimas mencoba menyentuh bahunya.
Tangannya menembus udara dingin.
Ia menarik tangannya cepat-cepat.
Napasnya tercekat.
Dari pengeras suara, terdengar pengumuman.
“Perhatian, kereta tujuan Manggarai akan segera tiba. Penumpang dimohon berdiri di belakang garis aman.”
Dimas memandangi rel.
Di ujung peron, cahaya kepala kereta mulai muncul lagi dari kegelapan.
Ia ingin lari, tetapi kakinya terasa berat. Ia ingin berteriak, tetapi suaranya hilang. Ia ingin menutup mata, tetapi tatapannya seperti dipaksa melihat kereta yang datang semakin dekat.
Lalu ia menyadari posisinya.
Ia berdiri di ujung peron.
Menghadap rel.
Di bawah lampu yang paling redup.
Beberapa meter darinya, seorang penumpang laki-laki berjaket hitam memperhatikannya dengan wajah tidak nyaman. Penumpang itu tampak lelah, basah terkena gerimis, dan terus melirik ke arahnya seolah bertanya-tanya mengapa tidak ada orang lain yang melihat.
Dimas ingin memperingatkannya.
Jangan naik.
Jangan duduk dekat pintu.
Jangan tanya aku turun di mana.
Tapi mulut Dimas tidak bergerak.
Kereta berhenti.
Pintu gerbong terbuka.
Penumpang laki-laki itu melangkah masuk dengan ragu.
Dan tanpa bisa menahan tubuhnya sendiri, Dimas ikut masuk ke gerbong yang sama.
Ia berjalan pelan menuju sudut belakang, lalu duduk.
Kursi di sekelilingnya kosong.
Lampu gerbong berkedip.
Dimas menunduk, merasakan sesuatu yang dingin dan asing mengisi tubuhnya. Ingatannya tentang kantor, Sudirman, hujan, dan rumah perlahan menjauh. Yang tersisa hanya satu kalimat, berulang-ulang di kepalanya.
Bukan aku yang turun.
Kau yang akan turun.
Sejak malam itu, beberapa penumpang Stasiun Cawang mengaku pernah melihat seorang pria berjaket denim berdiri sendirian di ujung peron menjelang kereta terakhir. Wajahnya selalu tertutup bayangan. Ia tidak berbicara. Ia hanya menatap rel, seperti sedang menunggu seseorang yang akan menggantikannya.
Anehnya, tidak semua orang bisa melihatnya.
Biasanya hanya satu orang.
Orang yang terlalu lelah untuk curiga.
Orang yang terlalu ingin pulang untuk memperhatikan tanda-tanda kecil.
Orang yang akhirnya naik ke gerbong yang sama.
Selesai.