Pilihan Redaksi

Orang Sebelah Gang Mayong

Di belakang Pasar Enjo, masuk ke arah Prumpung, ada satu gang sempit yang tidak pernah benar-benar kering. Orang-orang menyebutnya Gang Mayong. Nama itu tertulis kecil di papan kusam dekat mulut…

Baca Tulisan

Penumpang Misterius di Stasiun Cawang

Malam setelah hujan selalu meninggalkan rasa yang aneh di stasiun. Lantainya basah, lampu-lampunya tampak lebih buram, dan suara langkah orang terdengar lebih jelas daripada biasanya. Di Stasiun Cawang, malam itu,…

Baca Tulisan

Ketukan yang Berpindah

Malam itu, kostum Robot Kuning dibawa masuk ke rumah. Dr. Yabui menggantungnya di belakang pintu ruang kerja. Helm diletakkan di atas meja. Bagian badan digantung dengan kedua tangan menjuntai ke…

Baca Tulisan

Robot Kuning Pertama

“Ayah bikin apa?” Birka berdiri di depan pintu Taman Baca Berehan dengan kedua tangan memegang kusen. Separuh tubuhnya masih berada di luar. Separuh lagi sudah masuk, tetapi matanya lebih dulu…

Baca Tulisan

Baru Terbit

Si Tanggang: Pisang Salai yang Dibuang ke Laut

Di sebuah kampung yang terletak tidak jauh dari muara sungai, hiduplah sepasang suami istri bernama Si Talang dan Si Deruma. Mereka mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Tanggang. Keluarga itu hidup dalam kemiskinan. Si Talang dan Si Deruma bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rumah mereka sederhana, sementara makanan yang…

Malin Kundang: Bekas Luka yang Membongkar Kebohongan

Di sebuah perkampungan nelayan di Air Manis, Sumatra Barat, hiduplah seorang perempuan bernama Mande Rubayah bersama anak laki-lakinya, Malin Kundang. Suami Mande telah pergi merantau untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Setelah kepergiannya, Mande menunggu kabar dari seberang lautan. Tahun demi tahun berlalu, sementara suaminya tak kunjung pulang. Mande pun…

Mobil Listrik di Jalan Sempit

Mobil listrik itu berhenti beberapa meter sebelum tikungan. Di sebelah kiri ada tembok rumah, di sebelah kanan deretan motor yang diparkir terlalu dekat dengan badan jalan. Ruang tersisa cukup untuk satu mobil, tetapi cukup selalu menjadi kata yang berbahaya ketika spion hanya berjarak beberapa sentimeter dari tembok. Pedal diinjak perlahan….

Secangkir Teh Panas

Secangkir teh panas selalu punya umur yang pendek. Uap naik perlahan dari permukaan, menipis sedikit demi sedikit, lalu hilang ke udara. Tangan biasanya datang sebelum panas turun terlalu jauh, meraih gagang, mengangkat cangkir, dan berhenti sejenak di dekat wajah. Aroma tiba lebih dulu daripada rasa, seperti teh sedang memperkenalkan diri…

Gesekan Korek Api Kayu

Sebatang korek api kayu tampak sederhana. Batangnya ringan, lurus, dan tersimpan bersama puluhan batang lain di dalam kotak kecil. Kepala korek berwarna lebih gelap daripada kayunya. Dalam keadaan diam, seluruh batang terlihat tenang. Potensi api baru muncul ketika kepala korek bertemu permukaan penggesek. Gerakannya pendek. Batang dikeluarkan, ditempelkan ke sisi…

Pulpen yang Ada Bekas Gigitan

Pulpen itu tergeletak di dekat laptop, sedikit miring di atas meja. Warnanya hitam, klipnya masih utuh, dan tintanya masih lancar ketika dicoba di selembar kertas. Dari jauh, tampilannya biasa saja. Baru ketika diambil, terlihat bagian belakang batangnya penuh dengan lekukan kecil yang segera mudah dikenali sebagai bekas gigi. Sebagian lekukannya…

Jelajahi Bacaan

Ikuti Ceritanya

Manggarai: Karcis Menjelang Magrib

Menjelang magrib, orang di Stasiun Manggarai biasanya berjalan sedikit lebih cepat. Ada yang baru turun dari kereta Bogor, ada yang memotong arus menuju tangga, ada pula yang berdiri dekat layar sambil memastikan jalur berikutnya. Yabui baru keluar dari rangkaian ketika ujung sepatunya menyentuh selembar karton kecil di lantai. Benda itu…

Lanjutkan Membaca

Duren Kalibata: Langkah di Bawah Peron

Kereta dari arah Bogor belum terlihat ketika seorang laki-laki menjatuhkan sandal jepitnya ke bawah peron Stasiun Duren Kalibata. Bukan kedua-duanya. Hanya sandal sebelah kiri yang terlepas ketika ia mundur memberi jalan kepada penumpang lain, lalu tersenggol tumit seseorang dan jatuh melewati garis kuning. “Waduh.” Laki-laki itu membungkuk. Beberapa orang ikut…

Lanjutkan Membaca

Nambo: Ujung Jalur yang Bergeser

Kereta yang membawa Yabui ke Nambo tinggal menyisakan sedikit penumpang ketika melewati Cibinong. Seorang ibu sudah mengumpulkan kantong belanjaannya ke pangkuan, dua anak sekolah berdiri dekat pintu meskipun kereta belum sampai, sementara lelaki di ujung bangku tertidur dengan tas ransel dipeluk seperti bantal. Dari jendela, bangunan semakin jarang dan bidang-bidang…

Lanjutkan Membaca

Pasar Minggu Baru: Tas ASI yang Pulang Lebih Dulu

Alya menggambar seorang perempuan berlari sambil membawa dua tas. Tas pertama berwarna hitam dan tergantung di bahu. Tas kedua berbentuk kotak, berwarna biru muda, dan dipeluk di depan dada. Di belakang perempuan itu, sebuah kereta telah membuka pintu. “Dia terlambat?” tanya Yabui. Alya mengangguk tanpa mengangkat wajah. Pensil birunya terus…

Lanjutkan Membaca

Kampung Bandan: Jam yang Menghitung Penumpang

Raka menggambar jam lebih besar daripada stasiunnya. Atap peron hanya berupa dua garis miring. Kereta digambar seperti kotak panjang dengan jendela-jendela hitam. Orang-orang di bawahnya kecil dan rapat, sedangkan jam bundar memenuhi hampir separuh halaman. “Jarumnya cuma satu?” tanya Yabui. Raka mengangguk. Pertemuan menulis sore itu hampir selesai. Anak-anak lain…

Lanjutkan Membaca

Depok Baru: Tiga Menit yang Tak Tercatat

Kereta meninggalkan Stasiun Depok pukul 21.47. Yabui mengetahui waktunya karena baru saja melihat jam di atas pintu gerbong. Angkanya merah dan terlalu terang untuk suasana malam yang mulai sepi. 21.47. Ia menyandarkan punggung, lalu memeriksa ponsel. 21.47 juga. Perjalanan ke Depok Baru seharusnya singkat. Bahkan sebelum orang sempat merasa nyaman…

Lanjutkan Membaca

Arsip

Stasiun Pondok Cina: Nama-Nama yang Tidak Pulang

Kereta melambat setelah melewati Universitas Indonesia. Yabui yang sejak tadi berdiri dekat pintu mengangkat wajah dari layar ponsel. Di luar jendela, deretan bangunan, atap rumah, dan lampu-lampu kos bergerak semakin pelan. Beberapa penumpang mulai merapat ke pintu. Tas disampirkan kembali, earphone dilepas sebelah, lalu tubuh-tubuh yang semula diam mendadak bersiap…

Malin Kundang: Bekas Luka yang Membongkar Kebohongan

Di sebuah perkampungan nelayan di Air Manis, Sumatra Barat, hiduplah seorang perempuan bernama Mande Rubayah bersama anak laki-lakinya, Malin Kundang. Suami Mande telah pergi merantau untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Setelah kepergiannya, Mande menunggu kabar dari seberang lautan. Tahun demi tahun berlalu, sementara suaminya tak kunjung pulang. Mande pun…

Kampung Bandan: Jam yang Menghitung Penumpang

Raka menggambar jam lebih besar daripada stasiunnya. Atap peron hanya berupa dua garis miring. Kereta digambar seperti kotak panjang dengan jendela-jendela hitam. Orang-orang di bawahnya kecil dan rapat, sedangkan jam bundar memenuhi hampir separuh halaman. “Jarumnya cuma satu?” tanya Yabui. Raka mengangguk. Pertemuan menulis sore itu hampir selesai. Anak-anak lain…

Dibalik Tulisan

Bahasa, Imajinasi dan Penelitian

Bagaimana pengalaman menjadi cerita? Bagaimana bahasa membantu manusia memahami dunianya? Pertanyaan ini juga menjadi bagian dari riset dan pengembangan IPOP

Ada bacaan yang layak ditunggu.

Tidak semua hal menarik selesai dalam satu kunjungan. Terima pilihan tulisan baru tentang cerita, bahasa, riset, dan kehidupan sehari-hari langsung melalui email.