Stasiun Universitas Pancasila: Orang yang Mengetahui Namamu

  • Post published:
  • Reading time:12 mins read

Kereta meninggalkan Lenteng Agung ketika Maria memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kali. Nama pengemudi masih sama. Deni. Nomor kendaraan masih sama. B 4362 KTZ. Foto pengemudinya menampilkan lelaki berkumis tipis dengan jaket hijau. Titik penjemputan berada di sisi barat Stasiun Universitas Pancasila, dekat minimarket yang lampunya biasa terlihat dari pintu keluar. Maria memperbesar peta, lalu mengambil tangkapan layar. Baterai ponselnya tinggal sembilan persen. Di sebelahnya, Yabui berdiri sambil menahan tas hitam pada satu bahu. Gerbong tidak terlalu penuh. Sebagian besar penumpang sudah turun di Universitas Indonesia dan Lenteng Agung. Beberapa mahasiswa masih duduk dengan laptop terbuka, sedangkan dua pekerja tertidur…

Stasiun Universitas Indonesia: Nama yang Tidak Dipanggil

  • Post published:
  • Reading time:13 mins read

Kereta meninggalkan Pondok Cina ketika sebagian penumpang sudah berdiri dekat pintu. Yabui menyelipkan ponsel ke saku. Tas hitam tetap menggantung pada satu bahu. Di hadapannya, tujuh mahasiswa berdiri berdekatan sambil mengenakan tali identitas berwarna kuning. Mereka membawa map, botol minum, dan kantong-kantong kecil berisi perlengkapan kegiatan kampus. Seorang perempuan berkacamata menghitung mereka dengan telunjuk. “Rani.” “Hadir.” “Dito.” “Hadir.” “Nala.” “Hadir.” Nama-nama dipanggil di antara bunyi roda dan percakapan penumpang. Setiap orang menjawab sambil mengangkat tangan. Beberapa tertawa ketika salah satu dari mereka menjawab terlalu keras. Di luar lingkaran kecil itu, seorang mahasiswa berdiri sendirian. Ia mengenakan kemeja putih, celana hitam,…

Stasiun Pondok Cina: Nama-Nama yang Tidak Pulang

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Kereta melambat setelah melewati Universitas Indonesia. Yabui yang sejak tadi berdiri dekat pintu mengangkat wajah dari layar ponsel. Di luar jendela, deretan bangunan, atap rumah, dan lampu-lampu kos bergerak semakin pelan. Beberapa penumpang mulai merapat ke pintu. Tas disampirkan kembali, earphone dilepas sebelah, lalu tubuh-tubuh yang semula diam mendadak bersiap turun. Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara. “Stasiun berikutnya, Pondok Cina.” Seorang mahasiswa di depan Yabui langsung menyimpan laptop ke dalam tas. Dua perempuan di sebelah pintu masih membicarakan tugas kelompok, tetapi suara mereka terpotong ketika kereta mengerem lebih keras. Pintu terbuka. Udara peron masuk bersama suara langkah dan percakapan…

Stasiun Depok Baru: Pintu yang Selalu Terbuka

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Yabui tiba di Stasiun Depok Baru menjelang pukul delapan malam. Hujan sudah berhenti, tetapi air masih menetes dari ujung atap peron. Lantai licin memantulkan cahaya lampu, membuat langkah para penumpang tampak seperti bayangan yang bergerak di permukaan kaca. Kereta datang dan pergi dalam jeda pendek. Pintu terbuka, orang-orang turun, lalu arus tubuh berpindah menuju tangga dan pintu keluar. Di dekat tiang nomor tiga, seorang anak perempuan berdiri sambil memegang map plastik biru. Usianya sekitar dua belas tahun. Rambutnya dikuncir rendah, seragam sekolahnya tertutup jaket tipis, dan kedua sepatunya tampak basah. Setiap kali kereta berhenti, ia maju beberapa langkah, memperhatikan pintu-pintu…

Stasiun Depok: Anak yang Menulis Kedatangan

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Yabui tiba di Stasiun Depok menjelang petang, ketika langit menggantung rendah di atas atap peron dan udara menyimpan bau hujan yang belum jatuh. Kereta dari arah Jakarta baru saja membuka pintu. Penumpang tumpah ke peron, berjalan cepat menuju tangga dan pintu keluar. Sebagian menunduk menatap layar ponsel. Sebagian lain saling mendahului sambil merapatkan tas ke dada. Di tengah arus itu, seorang anak laki-laki tetap duduk di ujung bangku. Usianya kira-kira sebelas tahun. Seragam sekolahnya sudah kusut. Sebuah buku tulis terbuka di atas paha, sementara tangan kanannya bergerak cepat menorehkan kalimat. Anak itu tidak terlihat sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Ia beberapa…

Penumpang Misterius di Stasiun Cawang

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Malam setelah hujan selalu meninggalkan rasa yang aneh di stasiun. Lantainya basah, lampu-lampunya tampak lebih buram, dan suara langkah orang terdengar lebih jelas daripada biasanya. Di Stasiun Cawang, malam itu, suasana terasa lebih lengang. Tidak benar-benar kosong, tetapi juga tidak cukup ramai untuk membuat seseorang merasa aman. Beberapa penumpang duduk berjauhan di bangku peron. Ada yang menunduk menatap ponsel. Ada yang menyandarkan kepala ke tiang. Ada pula yang berdiri dekat garis kuning, menunggu kereta terakhir dengan wajah lelah. Semua tampak seperti orang-orang kota pada umumnya: ingin cepat pulang, ingin cepat sampai, ingin segera berhenti berpikir. Dimas termasuk salah satunya. Jaket…

Kereta Terakhir dari Stasiun Ancol

  • Post published:
  • Reading time:12 mins read

Malam itu, Stasiun Ancol tampak seperti tempat yang lupa ditinggalkan. Peron hampir kosong. Hanya satu lampu tua di ujung jalur yang terus berkedip, menyala sebentar, lalu padam sekejap, seolah-olah ada seseorang yang sedang memberi tanda dari kejauhan. Di luar pagar stasiun, angin dari arah laut berembus pelan, membawa bau asin yang bercampur dengan aroma besi basah dan lantai peron yang lembap. Budi duduk di bangku kayu dekat ruang petugas. Jaket birunya tertutup sedikit debu. Di tangan kanannya ada gelas kopi plastik yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Ia sudah hampir lima tahun menjaga stasiun itu, dan selama itu pula…

End of content

No more pages to load