Stasiun Depok Baru: Pintu yang Selalu Terbuka

Yabui tiba di Stasiun Depok Baru menjelang pukul delapan malam.

Hujan sudah berhenti, tetapi air masih menetes dari ujung atap peron. Lantai licin memantulkan cahaya lampu, membuat langkah para penumpang tampak seperti bayangan yang bergerak di permukaan kaca. Kereta datang dan pergi dalam jeda pendek. Pintu terbuka, orang-orang turun, lalu arus tubuh berpindah menuju tangga dan pintu keluar.

Di dekat tiang nomor tiga, seorang anak perempuan berdiri sambil memegang map plastik biru.

Usianya sekitar dua belas tahun. Rambutnya dikuncir rendah, seragam sekolahnya tertutup jaket tipis, dan kedua sepatunya tampak basah. Setiap kali kereta berhenti, ia maju beberapa langkah, memperhatikan pintu-pintu yang terbuka, lalu kembali ke tempat semula.

Yabui mengamatinya sejak turun dari kereta.

Anak itu tidak menunggu dengan gelisah. Ia justru tampak sedang memastikan sesuatu. Matanya bergerak dari satu pintu ke pintu lain, seolah sudah hafal urutan gerbong dan posisi orang-orang yang turun.

Kereta berikutnya tiba.

Pintu gerbong kedua terbuka. Seorang pegawai minimarket turun sambil membawa helm. Gerbong ketiga mengeluarkan beberapa mahasiswa. Dari gerbong keempat, seorang perempuan menarik tangan anak kecil yang terus menguap.

Anak perempuan itu melihat semuanya, lalu membuat tanda kecil pada kertas di dalam map.

Yabui mendekat.

“Menunggu siapa?”

Anak itu mengangkat wajah.

“Bapak.”

“Kereta yang mana?”

“Yang pintunya lama.”

Yabui menoleh ke arah rel.

“Pintu kereta?”

Anak itu mengangguk.

Jawabannya terdengar sederhana, tetapi menyisakan sesuatu yang tidak tepat. Semua pintu kereta berhenti dalam durasi hampir sama. Ada yang tertahan beberapa detik karena penumpang masih naik, tetapi tidak cukup berbeda untuk dijadikan penanda.

“Bapakmu kerja di Jakarta?”

“Dulu.”

“Kapan terakhir pulang?”

Anak itu tidak menjawab. Ia kembali melihat layar informasi keberangkatan.

Nama anak itu Nisa. Informasi itu Yabui ketahui dari tulisan di sudut map: Nisa Rahmawati, Kelas VI.

Di bawah nama tersebut terdapat sebuah daftar.

Senin: pintu ketiga, gerbong empat.
Selasa: pintu kedua, gerbong lima.
Rabu: pintu pertama, gerbong tiga.
Kamis: pintu ketiga, gerbong empat.

Hari itu Jumat. Kolomnya masih kosong.

“Kamu mencatat pintu kereta?”

“Supaya tidak salah.”

“Salah melihat bapak?”

Nisa merapatkan map ke dada.

“Bapak bilang, kalau pintunya terbuka paling lama, saya harus masuk.”

Yabui menatap anak itu lebih lama.

“Masuk ke kereta?”

“Bukan.”

Nisa menunjuk ke arah pintu keluar stasiun.

“Masuk ke pintu yang itu.”

Di ujung peron, dekat tangga, terdapat sebuah pintu besi sempit dengan tulisan Khusus Petugas. Catnya telah mengelupas di beberapa bagian. Di sisi atas, sebuah lampu kecil menyala redup.

Pintu itu tertutup.

“Bapakmu petugas stasiun?”

Nisa menggeleng.

“Dia pernah kerja dekat sini.”

“Dekat mana?”

“Pasar.”

Yabui tidak langsung bertanya lagi. Ia melihat jam dinding, lalu penumpang yang terus bergerak meninggalkan peron. Beberapa pedagang kaki lima di luar stasiun mulai merapikan barang. Bau gorengan dan aspal basah terbawa angin sampai ke dalam.

See also  Kereta Terakhir dari Stasiun Ancol

Kereta berikutnya datang dari arah Jakarta.

Nisa kembali maju.

Kali ini ia berdiri tepat di depan gerbong kelima. Pintu terbuka. Penumpang turun tergesa-gesa. Seorang lelaki tua sempat tersandung karena tali sandalnya lepas. Seorang petugas membantu menahannya.

Pintu gerbong kelima tetap terbuka lebih lama daripada yang lain.

Nisa menahan napas.

Ketika pintu menutup, ia berbalik dan berlari menuju pintu besi.

Yabui menyusul.

“Kenapa sekarang?”

“Ini harinya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Pintunya lama.”

Nisa sampai di depan pintu besi dan menekan gagangnya. Terkunci.

Ia mengetuk tiga kali.

Tidak ada jawaban.

Nisa mengetuk lagi, kali ini lebih keras.

Dari balik pintu terdengar suara benda jatuh.

Yabui mendekat.

“Ada orang di dalam?”

Nisa mengangguk cepat.

“Bapak selalu bilang tunggu sampai Jumat.”

“Bapakmu ada di balik pintu ini?”

Anak itu tidak menjawab. Ia terus memegang gagang, seolah pintu itu akan terbuka apabila tangannya tidak dilepaskan.

Suara langkah terdengar dari tangga. Seorang petugas keamanan datang sambil membawa senter.

“Kalian sedang apa?”

Yabui menunjuk pintu besi.

“Ada suara dari dalam.”

Petugas itu memandang Nisa, lalu wajahnya berubah.

“Kamu datang lagi?”

Nisa menunduk.

Petugas menghela napas.

“Sudah berapa kali saya bilang jangan tunggu di sini?”

“Bapak saya masuk lewat pintu ini.”

“Tidak ada siapa-siapa di dalam.”

“Tadi ada suara.”

Petugas membuka pintu menggunakan kunci.

Di baliknya terdapat lorong sempit menuju ruang penyimpanan. Kardus, alat kebersihan, dan beberapa papan penunjuk lama ditumpuk di sepanjang dinding. Lampu berkedip ketika dinyalakan.

Tidak ada orang.

Di lantai tergeletak sebuah sapu yang mungkin jatuh karena getaran kereta.

Nisa masuk dua langkah.

“Bapak?”

Suaranya terdengar kecil di dalam lorong.

Petugas segera menahannya.

“Sudah. Pulang.”

Nisa memberontak.

“Bapak ada di sini!”

“Bapakmu tidak pernah kerja di stasiun.”

“Dia janji.”

Petugas menutup pintu, lalu membawa Nisa menjauh.

Yabui mengikuti mereka menuju ruang pelayanan. Di sana, Nisa duduk di kursi dengan map tetap berada di pangkuannya. Seorang petugas perempuan memberinya air minum.

Petugas keamanan yang tadi membuka pintu berdiri di dekat Yabui.

“Anak itu sering datang?”

“Sudah hampir sebulan.”

“Sendirian?”

“Kadang diantar tetangga sampai depan stasiun. Kadang datang sendiri.”

“Bapaknya ke mana?”

Petugas itu memandang Nisa sebelum menjawab.

“Tidak ada yang tahu.”

Ia kemudian menceritakan bahwa ayah Nisa bernama Rahmat. Lelaki itu bekerja sebagai pengantar barang di sekitar Pasar Depok. Setiap malam ia biasa menjemput Nisa setelah pulang mengaji. Mereka bertemu di dekat pintu samping stasiun agar tidak perlu memutar ke jalan besar.

Tiga bulan sebelumnya, Rahmat tidak pernah pulang.

Sepeda motornya ditemukan di sebuah gang. Tas pengantarnya kosong. Ponselnya tidak aktif. Tidak ada saksi yang benar-benar melihat ke mana ia pergi.

Nisa terus percaya ayahnya masih datang ke stasiun.

“Kenapa dia mencatat pintu kereta?”

See also  Bogor: Orang Terakhir yang Masuk

Petugas itu mengangkat bahu.

“Katanya bapaknya pernah memberi petunjuk.”

“Petunjuk apa?”

“Kalau suatu malam pintu kereta terbuka lebih lama, pintu samping akan ikut terbuka.”

Yabui menatap map di tangan Nisa.

Yang menarik bukan hanya keyakinan anak itu, tetapi cara keyakinan tersebut tersusun. Ada hari, gerbong, pintu, dan durasi. Kehilangan yang tidak memiliki jawaban telah berubah menjadi sistem. Nisa tidak sekadar menunggu. Ia sedang membangun urutan agar ketidakpastian memiliki bentuk.

“Siapa yang pertama kali bilang begitu?” tanya Yabui.

Petugas itu menggeleng.

“Mungkin bapaknya. Mungkin juga dia membuatnya sendiri.”

Nisa membuka map.

Di dalamnya tidak hanya terdapat daftar pintu kereta. Ada denah kasar stasiun, jadwal kedatangan, dan beberapa tanda silang merah. Pada halaman terakhir, terdapat gambar sebuah lorong dengan pintu di ujungnya.

Di bawah gambar itu tertulis:

Bapak menunggu di tempat yang tidak terlihat dari peron.

Yabui duduk di samping Nisa.

“Kamu pernah masuk ke lorong itu sebelumnya?”

“Belum.”

“Tapi kamu tahu bentuknya.”

Nisa menunjuk gambar.

“Bapak yang gambar.”

Yabui mengambil kertas tersebut.

Garisnya tidak rapi, tetapi lorong di dalam gambar sangat mirip dengan lorong penyimpanan yang baru saja mereka masuki. Bahkan posisi kardus dan papan penunjuk tergambar hampir sama.

Petugas keamanan ikut melihat.

“Ini dibuat kapan?”

Nisa membalik kertas.

Di belakangnya tertulis tanggal dua minggu sebelum Rahmat menghilang.

Petugas itu terdiam.

“Rahmat pernah masuk ke ruang itu?” tanya Yabui.

“Bisa jadi. Dulu banyak kurir menitipkan barang ke kios-kios sekitar stasiun. Tapi ruang itu bukan jalur umum.”

“Siapa yang punya akses?”

“Petugas. Teknisi. Kadang pekerja proyek.”

Nisa menarik ujung baju Yabui.

“Ada pintu lain.”

Yabui menoleh.

“Di mana?”

“Di belakang tumpukan papan.”

Mereka kembali ke lorong.

Petugas keamanan memindahkan dua papan petunjuk lama. Di baliknya terdapat dinding yang tampak biasa. Namun, setelah kardus di bagian bawah digeser, terlihat sebuah gagang besi kecil hampir tertutup cat.

Petugas menariknya.

Sebuah panel sempit terbuka.

Udara lembap keluar dari dalam.

Di balik panel terdapat jalan servis tua yang menuju bagian belakang bangunan stasiun. Lorongnya cukup untuk dilewati satu orang. Kabel-kabel lama menggantung di langit-langit, dan lantainya dipenuhi debu.

“Ini jalur lama,” kata petugas. “Sudah tidak digunakan.”

Nisa berdiri di ambang pintu.

“Bapak masuk ke sini.”

Petugas menyalakan senter.

Mereka berjalan perlahan.

Lorong berakhir di sebuah ruangan kecil tanpa jendela. Di dalamnya terdapat kursi plastik, botol air kosong, bungkus makanan, dan beberapa kardus bekas pengiriman.

Di sudut ruangan, sebuah jaket hijau tergantung pada paku.

Nisa langsung mengenalinya.

“Itu punya Bapak.”

Ia berlari dan memeluk jaket tersebut.

Di saku jaket ditemukan buku catatan kecil. Sebagian halamannya berisi alamat pengiriman. Pada halaman terakhir terdapat beberapa nama, nomor kendaraan, dan jumlah uang.

Petugas keamanan membaca daftar itu dengan dahi berkerut.

“Ini bukan catatan kiriman.”

See also  Bojong Gede: Payung yang Tidak Pernah Terbuka

Di bawah daftar terdapat satu kalimat pendek:

Mereka pakai ruang belakang untuk menyimpan barang sebelum dipindahkan.

Yabui melihat kardus-kardus di lantai. Sebagian memiliki label pengiriman yang telah disobek. Di balik salah satu kardus ditemukan puluhan dompet, kartu identitas, dan ponsel lama.

Ruang itu pernah digunakan untuk menyimpan barang curian.

Rahmat mungkin menemukannya secara tidak sengaja. Ia mencatat nomor kendaraan dan nama orang-orang yang terlibat. Sebelum sempat melapor atau pulang, ia menghilang.

Namun, satu pertanyaan belum terjawab.

Mengapa ia menggambar lorong untuk Nisa?

Petugas membuka bagian belakang buku catatan. Di sana terdapat selembar kertas terlipat.

Tulisan Rahmat hanya beberapa baris.

Nisa, kalau Bapak terlambat, jangan cari sendiri. Berikan gambar ini kepada orang yang mau mendengarkan. Tunggu di stasiun pada hari Jumat. Saat kereta paling ramai, mereka membuka pintu belakang untuk memindahkan barang.

Nisa tidak pernah memahami seluruh pesan itu. Ia hanya mengingat bagian tentang Jumat, pintu yang terbuka lama, dan seseorang yang mau mendengarkan.

Selama berminggu-minggu, ia berdiri di peron, mengubah pesan ayahnya menjadi pola kedatangan kereta.

Petugas segera menghubungi kepolisian.

Malam itu, ruang belakang diperiksa. Beberapa nama dalam buku Rahmat terhubung dengan kelompok pencurian barang dan pencopetan yang beroperasi di sekitar pasar dan stasiun. Salah satu di antaranya adalah pemilik gudang tempat sepeda motor Rahmat ditemukan.

Rahmat sendiri belum ditemukan.

Tidak ada akhir yang segera mengembalikan seorang ayah kepada anaknya. Penemuan lorong hanya membuka arah baru. Namun, bagi Nisa, arah itu mengubah cara ia menunggu.

Ia tidak lagi berdiri di depan pintu kereta sambil menghitung detik. Ia mulai menulis semua yang diingatnya tentang Rahmat: rute yang biasa dilalui, nama orang yang pernah datang ke rumah, nomor kendaraan yang sempat disebut, dan percakapan kecil yang dahulu dianggap tidak penting.

Penantian berubah menjadi kesaksian.

Beberapa minggu kemudian, orang-orang mulai membicarakan pintu besi di Stasiun Depok Baru. Ada yang mengatakan pintu itu hanya terbuka pada Jumat malam. Ada pula yang mengaku mendengar ketukan tiga kali dari balik dinding, tepat ketika kereta berhenti lebih lama.

Cerita itu terus tumbuh.

Penumpang yang mengetahui kisahnya mulai mempercepat langkah ketika melewati pintu khusus petugas. Sebagian percaya ada orang hilang yang masih mencari jalan keluar. Sebagian lain yakin lorong tersebut menyimpan barang-barang milik penumpang yang tidak pernah kembali.

Padahal, yang sedang bekerja di balik mitos itu bukan sekadar ketakutan terhadap lorong gelap.

Ada seorang anak yang terlalu lama menunggu jawaban, lalu menyusun kehilangan menjadi jadwal, pintu, dan hitungan waktu.

Dan sejak malam itu, setiap kali sebuah pintu kereta di Stasiun Depok Baru terbuka lebih lama, beberapa orang akan menoleh ke arah pintu besi di ujung peron.

Mereka menunggu apakah pintu itu ikut terbuka.

Selesai