Pasar Minggu Baru: Tas ASI yang Pulang Lebih Dulu

  • Post published:
  • Reading time:13 mins read

Alya menggambar seorang perempuan berlari sambil membawa dua tas. Tas pertama berwarna hitam dan tergantung di bahu. Tas kedua berbentuk kotak, berwarna biru muda, dan dipeluk di depan dada. Di belakang perempuan itu, sebuah kereta telah membuka pintu. “Dia terlambat?” tanya Yabui. Alya mengangguk tanpa mengangkat wajah. Pensil birunya terus bergerak, menebalkan tali pada tas kotak. Pertemuan menulis sore itu diadakan di sebuah ruang belajar dekat Pasar Minggu. Anak-anak duduk mengelilingi meja panjang, menulis tentang perjalanan pulang. Ada yang memilih angkot, sepeda motor, bus kota, dan kereta. Alya satu-satunya yang tidak menggambar rumah sebagai tujuan. Di halaman berikutnya, perempuan yang…

Kampung Bandan: Jam yang Menghitung Penumpang

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Raka menggambar jam lebih besar daripada stasiunnya. Atap peron hanya berupa dua garis miring. Kereta digambar seperti kotak panjang dengan jendela-jendela hitam. Orang-orang di bawahnya kecil dan rapat, sedangkan jam bundar memenuhi hampir separuh halaman. “Jarumnya cuma satu?” tanya Yabui. Raka mengangguk. Pertemuan menulis sore itu hampir selesai. Anak-anak lain mulai memasukkan pensil dan kertas ke dalam tas. Dari halaman rumah belajar terdengar suara orang tua memanggil nama anak masing-masing, bersahutan dengan deru kendaraan dari jalan. Yabui menggeser gambar itu mendekat. Jarum tunggal pada jam mengarah ke bawah, tepat pada seorang anak yang berdiri sendirian di antara kerumunan. “Jam apa…

Stasiun Universitas Pancasila: Orang yang Mengetahui Namamu

  • Post published:
  • Reading time:12 mins read

Kereta meninggalkan Lenteng Agung ketika Maria memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kali. Nama pengemudi masih sama. Deni. Nomor kendaraan masih sama. B 4362 KTZ. Foto pengemudinya menampilkan lelaki berkumis tipis dengan jaket hijau. Titik penjemputan berada di sisi barat Stasiun Universitas Pancasila, dekat minimarket yang lampunya biasa terlihat dari pintu keluar. Maria memperbesar peta, lalu mengambil tangkapan layar. Baterai ponselnya tinggal sembilan persen. Di sebelahnya, Yabui berdiri sambil menahan tas hitam pada satu bahu. Gerbong tidak terlalu penuh. Sebagian besar penumpang sudah turun di Universitas Indonesia dan Lenteng Agung. Beberapa mahasiswa masih duduk dengan laptop terbuka, sedangkan dua pekerja tertidur…

Stasiun Universitas Indonesia: Nama yang Tidak Dipanggil

  • Post published:
  • Reading time:13 mins read

Kereta meninggalkan Pondok Cina ketika sebagian penumpang sudah berdiri dekat pintu. Yabui menyelipkan ponsel ke saku. Tas hitam tetap menggantung pada satu bahu. Di hadapannya, tujuh mahasiswa berdiri berdekatan sambil mengenakan tali identitas berwarna kuning. Mereka membawa map, botol minum, dan kantong-kantong kecil berisi perlengkapan kegiatan kampus. Seorang perempuan berkacamata menghitung mereka dengan telunjuk. “Rani.” “Hadir.” “Dito.” “Hadir.” “Nala.” “Hadir.” Nama-nama dipanggil di antara bunyi roda dan percakapan penumpang. Setiap orang menjawab sambil mengangkat tangan. Beberapa tertawa ketika salah satu dari mereka menjawab terlalu keras. Di luar lingkaran kecil itu, seorang mahasiswa berdiri sendirian. Ia mengenakan kemeja putih, celana hitam,…

Stasiun Pondok Cina: Nama-Nama yang Tidak Pulang

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Kereta melambat setelah melewati Universitas Indonesia. Yabui yang sejak tadi berdiri dekat pintu mengangkat wajah dari layar ponsel. Di luar jendela, deretan bangunan, atap rumah, dan lampu-lampu kos bergerak semakin pelan. Beberapa penumpang mulai merapat ke pintu. Tas disampirkan kembali, earphone dilepas sebelah, lalu tubuh-tubuh yang semula diam mendadak bersiap turun. Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara. “Stasiun berikutnya, Pondok Cina.” Seorang mahasiswa di depan Yabui langsung menyimpan laptop ke dalam tas. Dua perempuan di sebelah pintu masih membicarakan tugas kelompok, tetapi suara mereka terpotong ketika kereta mengerem lebih keras. Pintu terbuka. Udara peron masuk bersama suara langkah dan percakapan…

Stasiun Depok Baru: Pintu yang Selalu Terbuka

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Yabui tiba di Stasiun Depok Baru menjelang pukul delapan malam. Hujan sudah berhenti, tetapi air masih menetes dari ujung atap peron. Lantai licin memantulkan cahaya lampu, membuat langkah para penumpang tampak seperti bayangan yang bergerak di permukaan kaca. Kereta datang dan pergi dalam jeda pendek. Pintu terbuka, orang-orang turun, lalu arus tubuh berpindah menuju tangga dan pintu keluar. Di dekat tiang nomor tiga, seorang anak perempuan berdiri sambil memegang map plastik biru. Usianya sekitar dua belas tahun. Rambutnya dikuncir rendah, seragam sekolahnya tertutup jaket tipis, dan kedua sepatunya tampak basah. Setiap kali kereta berhenti, ia maju beberapa langkah, memperhatikan pintu-pintu…

Stasiun Depok: Anak yang Menulis Kedatangan

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Yabui tiba di Stasiun Depok menjelang petang, ketika langit menggantung rendah di atas atap peron dan udara menyimpan bau hujan yang belum jatuh. Kereta dari arah Jakarta baru saja membuka pintu. Penumpang tumpah ke peron, berjalan cepat menuju tangga dan pintu keluar. Sebagian menunduk menatap layar ponsel. Sebagian lain saling mendahului sambil merapatkan tas ke dada. Di tengah arus itu, seorang anak laki-laki tetap duduk di ujung bangku. Usianya kira-kira sebelas tahun. Seragam sekolahnya sudah kusut. Sebuah buku tulis terbuka di atas paha, sementara tangan kanannya bergerak cepat menorehkan kalimat. Anak itu tidak terlihat sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Ia beberapa…

Citayam: Sepatu Putih di Jalur Pulang

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Nisa datang bersama ibunya dengan sepeda motor. Mereka berhenti di depan kedai kecil tidak jauh dari Stasiun Citayam. Ibunya memarkir motor di bawah pohon, lalu duduk di meja sebelah sambil memeriksa pesan di telepon. Nisa membawa buku gambar tipis berwarna biru. “Katanya kamu menulis cerita dari perjalanan pulang,” kata Yabui. Nisa mengangguk. Ia membuka halaman tengah. Gambar pertama memperlihatkan jalan sempit selepas hujan. Ada pagar rumah, saluran air, tiang listrik, dan sepasang sepatu putih di tepi jalan. Tidak ada orang di dekatnya. “Ini sepatu siapa?” “Enggak tahu.” “Pernah lihat langsung?” Nisa kembali mengangguk. “Di mana?” “Dekat jalan belakang stasiun.” “Ditinggal…

Bojong Gede: Payung yang Tidak Pernah Terbuka

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Payung itu diletakkan Rara di atas meja. Warnanya hitam. Ukurannya kecil, jenis payung lipat yang biasa dimasukkan ke dalam tas. Tali pengikatnya sudah kusam, sedangkan gagangnya memiliki retakan tipis di bagian tengah. “Punya kamu?” tanya Yabui. Rara menggeleng. Mereka duduk di warung dekat pintu masuk Stasiun Bojong Gede. Dari tempat itu, suara pengumuman kereta masih terdengar, bercampur dengan klakson angkot dan suara pedagang yang sedang membereskan dagangan. “Punya siapa?” “Enggak tahu.” “Terus kenapa kamu bawa?” “Tadi ada di kursi.” Rara menunjuk bangku plastik di sebelah warung. Ia menemukan payung itu ketika datang bersama ibunya. Karena khawatir tertinggal, ia membawanya ke…

Cilebut: Rumah yang Mengikuti Kereta

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Nara menunjukkan gambar rumah itu tanpa banyak penjelasan. Atapnya miring. Cat temboknya putih kusam. Ada dua jendela di depan dan satu pohon pisang di sisi kanan. Di antara kedua jendela itu, sebuah pintu digambar dengan pensil hitam sampai nyaris menembus kertas. “Rumah siapa?” tanya Yabui. Nara menggeleng. Mereka duduk di teras tempat les yang hanya berjarak beberapa gang dari Stasiun Cilebut. Sore baru selesai diguyur hujan. Air masih menetes dari talang, sedangkan dari kejauhan terdengar suara kereta melintas. “Aku lihat dari kereta,” kata Nara. “Di mana?” “Enggak tahu.” “Dekat Cilebut?” “Awalnya.” Yabui mengamati gambar itu lagi. “Awalnya?” Nara membuka buku…

End of content

No more pages to load