Bojong Gede: Payung yang Tidak Pernah Terbuka

Payung itu diletakkan Rara di atas meja.

Warnanya hitam. Ukurannya kecil, jenis payung lipat yang biasa dimasukkan ke dalam tas. Tali pengikatnya sudah kusam, sedangkan gagangnya memiliki retakan tipis di bagian tengah.

“Punya kamu?” tanya Yabui.

Rara menggeleng.

Mereka duduk di warung dekat pintu masuk Stasiun Bojong Gede. Dari tempat itu, suara pengumuman kereta masih terdengar, bercampur dengan klakson angkot dan suara pedagang yang sedang membereskan dagangan.

“Punya siapa?”

“Enggak tahu.”

“Terus kenapa kamu bawa?”

“Tadi ada di kursi.”

Rara menunjuk bangku plastik di sebelah warung.

Ia menemukan payung itu ketika datang bersama ibunya. Karena khawatir tertinggal, ia membawanya ke meja. Namun tidak lama kemudian, seorang perempuan menghampiri dan mengatakan payung itu bukan miliknya. Setelah itu seorang pengemudi ojek ikut melihat, lalu pergi sambil berkata bahwa payung tersebut sudah berada di kursi sejak pagi.

“Sudah kamu buka?” tanya Yabui.

Rara cepat-cepat menggeleng.

“Kenapa?”

“Enggak boleh.”

“Siapa yang bilang?”

“Orang-orang.”

Jawaban itu membuat Yabui tersenyum.

“Orang-orang yang mana?”

Rara melihat ke arah pintu stasiun.

“Semua yang pernah pegang.”

Yabui menyentuh gagang payung tersebut. Dingin, meskipun udara sore terasa pengap.

Rara membuka buku tulisnya. Di salah satu halaman terdapat cerita pendek tentang sebuah payung yang berpindah dari satu orang ke orang lain ketika hujan. Tidak ada yang mau membukanya. Tidak ada pula yang mau membawanya pulang.

“Kenapa mereka terus menyerahkannya?” tanya Yabui.

“Karena kalau dipegang terlalu lama, payungnya jadi berat.”

“Berat bagaimana?”

Rara mengangkat kedua tangannya, seolah sedang menimbang sesuatu.

“Seperti ada orang bergantung di bawahnya.”

Ibunya memanggil dari tepi jalan. Sebuah angkot sudah menunggu.

Rara segera menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas.

Payung hitam masih berada di atas meja.

“Payungnya,” kata Yabui.

Rara berhenti.

Ia memandang payung itu, lalu memandang Yabui.

“Bapak bawa saja.”

“Kenapa saya?”

“Karena Bapak mau naik kereta.”

“Apa hubungannya?”

Rara mundur satu langkah.

“Payung itu sukanya ikut orang pulang.”

Sebelum Yabui sempat bertanya lagi, ibunya memanggil lebih keras. Rara berlari menuju angkot.

Yabui mengangkat payung hitam tersebut.

“Rara!”

Anak itu menoleh dari dalam kendaraan.

“Kalau hujan bagaimana?”

Rara menjawab dari balik jendela yang terbuka.

“Jangan dibuka.”

Angkot bergerak.

Langit gelap tepat ketika Yabui memasuki stasiun.

Hujan turun tanpa didahului gerimis. Air menghantam atap seng, lantai, tangga, dan badan kereta yang sedang berhenti di jalur seberang. Penumpang berlarian dari pintu masuk menuju peron.

Yabui membawa payung hitam di tangan kanan.

Ia tidak membukanya.

Di peron, kereta menuju Jakarta terlambat. Orang-orang berkumpul di bawah atap. Mereka berdiri rapat, berusaha menghindari tampias hujan yang masuk dari sisi rel.

See also  Orang Sebelah Gang Mayong

Seorang perempuan tua berdiri di samping Yabui. Ia membawa dua kantong belanja dan kesulitan memegang keduanya.

“Pak, titip sebentar,” katanya.

Perempuan itu menyerahkan salah satu kantong kepada Yabui, lalu membenahi selendangnya.

Agar tangannya lebih leluasa, Yabui menyelipkan payung hitam di sela bangku.

Beberapa detik kemudian, seorang pemuda yang duduk di sana mengambil payung itu.

“Punya Ibu?” tanyanya kepada perempuan tua.

“Bukan.”

Pemuda tersebut melihat kepada Yabui.

“Punya Bapak?”

“Iya.”

Ia menyerahkannya kembali.

Saat tangan Yabui menyentuh gagang, pemuda itu segera menarik tangannya.

“Dingin banget.”

Yabui memegang payung tersebut lebih erat.

Payung itu memang lebih dingin daripada sebelumnya.

Kereta belum juga datang.

Air hujan mulai menggenang di dekat garis kuning. Seorang petugas meminta penumpang mundur karena permukaan peron menjadi licin.

Lalu terdengar bunyi dari dalam payung.

Tok.

Yabui menunduk.

Tok.

Bunyinya kecil, seperti ujung jari mengetuk batang logam.

Perempuan tua di sebelahnya ikut mendengar.

“Isinya apa?”

“Payung.”

“Coba dibuka.”

Yabui teringat pesan Rara.

“Tidak perlu.”

Tok.

Tok.

Kali ini bunyinya lebih jelas.

Beberapa orang menoleh.

Seorang laki-laki berkemeja biru mendekat.

“Rusak, Pak?”

“Sepertinya ada bagian yang longgar.”

“Buka saja, lihat rangkanya.”

Yabui menggeleng.

Laki-laki itu tertawa.

“Payung kok takut dibuka?”

Pengumuman kereta terdengar. Rangkaian menuju Jakarta akan segera masuk.

Penumpang bergerak mendekati tepi peron.

Kerumunan mendorong Yabui dari belakang. Payung terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

Laki-laki berkemeja biru memungutnya.

“Sini saya pegang.”

“Berikan kepada saya.”

Namun kereta sudah memasuki stasiun. Suara roda menenggelamkan percakapan mereka.

Pintu terbuka.

Penumpang turun. Orang-orang di peron berusaha masuk. Dalam beberapa detik, Yabui kehilangan pandangan terhadap laki-laki berkemeja biru.

Ia tidak berhasil naik.

Pintu menutup.

Kereta bergerak meninggalkan peron.

Yabui melihat ke dalam gerbong yang lewat.

Laki-laki berkemeja biru tidak berada di sana.

Payung itu juga tidak terlihat.

Ia menoleh ke belakang.

Di ujung peron, laki-laki tersebut sedang berjalan cepat menuju tangga turun.

Payung hitam berada di tangannya.

“Pak!”

Laki-laki itu tidak berhenti.

Yabui mengejarnya.

Tangga menuju lorong bawah stasiun licin oleh air. Orang-orang naik dan turun dari dua arah. Laki-laki berkemeja biru menyelip di antara mereka sambil membawa payung seperti sedang membawa barang yang ingin segera dibuang.

“Pak, tunggu!”

Laki-laki itu menoleh.

Wajahnya pucat.

“Saya enggak mau pegang ini!”

“Berikan kepada saya!”

Ia melempar payung itu ke anak tangga.

Payung jatuh, berguling dua kali, lalu berhenti.

Namun bukan itu yang membuat orang-orang di tangga terdiam.

Dari ujung payung keluar air.

See also  Bogor: Orang Terakhir yang Masuk

Mula-mula hanya beberapa tetes. Kemudian air mengalir lebih banyak, membasahi setiap anak tangga yang dilaluinya.

Padahal payung tersebut belum dibuka.

Laki-laki berkemeja biru mundur.

“Tadi ada yang narik.”

“Apa?”

“Payungnya.”

Ia menunjukkan telapak tangannya. Ada bekas kemerahan pada pergelangan, seperti baru dicengkeram.

“Dari bawah,” katanya.

Yabui turun satu anak tangga.

Payung itu bergetar.

Tok.

Tok.

Tok.

Bunyi tersebut kini terdengar lebih keras karena lorong sempit memperbesar gema.

Orang-orang mulai menghindar. Sebagian naik kembali ke peron. Sebagian berdiri di ujung lorong sambil merekam dengan telepon.

Yabui mengambil payung itu.

Saat tangannya menyentuh gagang, sesuatu menarik dari arah bawah.

Tubuhnya terdorong satu langkah ke depan.

Ia menahan diri pada pagar tangga.

Tarikan berhenti.

Payung menjadi ringan lagi.

Yabui mengangkatnya.

Air masih menetes dari ujung kain yang terikat.

“Buang saja!” teriak seseorang.

Yabui berjalan menuju lorong bawah.

Lorong itu memanjang lurus. Di sebelah kanan terdapat deretan kios kecil yang sudah tutup. Di sebelah kiri terdapat tembok dengan bekas rembesan air.

Lampu neon berkedip di bagian tengah.

Payung kembali menarik tangannya.

Kali ini arahnya jelas.

Menuju ujung lorong.

Yabui berjalan mengikutinya.

Setiap beberapa langkah, payung terasa semakin berat. Bukan berat seperti benda berisi air. Lebih seperti seseorang sedang menggantung pada gagangnya.

Di ujung lorong terdapat pintu besi menuju ruang penyimpanan. Pintu itu seharusnya terkunci, tetapi terbuka sedikit.

Dari celah bawahnya mengalir air keruh.

Yabui berhenti.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan datang dari balik pintu.

“Siapa di dalam?” tanya Yabui.

Tidak ada jawaban.

Ia mendorong pintu.

Ruangan itu kecil. Hanya berisi sapu, ember, kardus, dan beberapa benda tertinggal milik penumpang.

Di salah satu sudut terdapat rak payung.

Isinya penuh.

Payung merah, biru, kuning, dan bermotif bunga tersusun rapat. Semuanya masih terikat. Tidak satu pun terbuka.

Yabui menaruh payung hitam di atas rak.

Getarannya berhenti.

Air yang menetes juga berhenti.

Ia mundur satu langkah.

Dari belakang rak terdengar suara anak perempuan.

“Bukan di situ.”

Yabui diam.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ia mendekati rak.

Dinding di belakangnya tertutup noda lembap. Pada bagian bawah terdapat lubang kecil, cukup besar untuk dilalui aliran air.

Suara anak itu terdengar lagi.

“Belum pulang.”

Yabui mengenali suaranya.

Rara.

“Rara?”

Lampu ruangan mati.

Dalam gelap terdengar suara batang logam bergerak.

Klik.

Seperti payung sedang dibuka.

Yabui menyalakan lampu telepon.

Payung hitam di atas rak telah terbuka.

Kainnya memenuhi hampir seluruh ruangan.

Dari bawah payung, sepasang kaki kecil terlihat berdiri di lantai.

Tidak bergerak.

Hanya kaki.

Bagian tubuh lainnya tertutup kain hitam.

“Rara?”

See also  Stasiun Karet: Kursi Kosong

Kaki itu melangkah maju.

Yabui mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Payung bergerak mengikuti.

Di dalam ruang sempit itu, payung terbuka terlalu lebar. Ujung rangkanya menggores dinding, menjatuhkan ember dan sapu.

Yabui membalikkan tubuh dan berlari keluar.

Payung itu ikut bergerak di belakangnya.

Bukan digenggam seseorang.

Ia meluncur rendah di atas lantai, sementara kaki kecil di bawahnya terus melangkah.

Yabui berlari menyusuri lorong.

Orang-orang di ujung lorong menjerit ketika melihat payung terbuka bergerak sendiri.

Namun ketika Yabui menoleh, payung tersebut sudah tergeletak di lantai.

Tertutup.

Terikat rapi.

Tidak ada kaki di bawahnya.

Petugas keamanan datang.

Mereka memeriksa ruang penyimpanan. Tidak menemukan anak, tidak menemukan air, dan tidak menemukan apa pun selain barang-barang tertinggal.

“Payungnya siapa?” tanya petugas.

Yabui menunjuk payung hitam di lantai.

Seorang petugas memungutnya.

“Masukkan ke bagian barang hilang saja.”

Petugas membawanya ke ruang penjagaan.

Yabui tidak mencegah.

Malam itu, ia gagal menghubungi Rara. Nomor yang diberikan ibunya tidak aktif.

Keesokan harinya, Yabui kembali ke warung tempat mereka bertemu.

Ia menunjukkan foto Rara kepada pemilik warung.

“Anak ini kemarin duduk di sini.”

Pemilik warung menggeleng.

“Bapak sendirian.”

“Ada anak dan ibunya.”

“Enggak ada.”

Yabui melihat meja tempat mereka berbicara.

Di bawah meja terdapat buku tulis.

Sampulnya basah.

Ia membukanya.

Pada halaman terakhir terdapat gambar Stasiun Bojong Gede saat hujan. Banyak orang berdiri di peron. Di tengah mereka, sebuah payung hitam berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

Di bawah gambar itu tertulis:

Payung itu tidak mencari orang yang mau memakainya.

Payung itu mencari orang yang mau membawanya pulang.

Yabui pergi menuju ruang barang hilang.

Petugas mengatakan payung tersebut sudah diambil pagi-pagi.

“Oleh siapa?”

“Seorang perempuan.”

“Namanya?”

Petugas memeriksa catatan.

Tidak ada nama.

“Katanya payung itu milik anaknya.”

Saat Yabui keluar dari stasiun, hujan mulai turun.

Di seberang jalan, seorang perempuan berjalan sambil menggandeng anak kecil. Perempuan itu membawa payung hitam dalam keadaan tertutup.

Anak di sampingnya menoleh kepada Yabui.

Wajahnya mirip Rara.

Yabui hendak menyeberang.

Sebuah angkot melintas di antara mereka.

Ketika jalan kembali terlihat, perempuan dan anak tersebut sudah tidak ada.

Yang tersisa hanya payung hitam di tepi trotoar.

Masih tertutup.

Sejak saat itu, penumpang di Stasiun Bojong Gede mengenal sebuah aturan kecil.

Bila menemukan payung hitam ketika hujan, jangan membawanya terlalu lama.

Serahkan kepada orang lain.

Jangan membukanya.

Sebab orang-orang percaya, selama payung itu masih tertutup, ia hanya mencari jalan pulang.

Namun ketika terbuka, seseorang telah sampai untuk menjemputnya.