“Ayah bikin apa?”
Birka berdiri di depan pintu Taman Baca Berehan dengan kedua tangan memegang kusen. Separuh tubuhnya masih berada di luar. Separuh lagi sudah masuk, tetapi matanya lebih dulu menemukan sesuatu yang tergeletak di atas tikar.
Warnanya kuning.
Ada kepala besar dengan dua telinga pendek. Ada badan dengan lingkaran di bagian dada. Ada tangan dan kaki yang tampak terlalu kaku untuk dipakai berlari.

Dr. Yabui sedang berjongkok di sampingnya. Ia memegang gulungan benang dan sebuah gunting kecil.
“Ini Robot Kuning,” kata Ayah.
Birka mendekat.
“Robot siapa?”
“Robot IPOP.”
“IPOP siapa?”
Ayah belum menjawab. Ia masih mencoba memasang satu bagian kain di dekat bahu robot.
Di belakangnya, Avi sedang menulis sesuatu pada buku besar. Bizwa duduk sambil membolak-balik sarung tangan robot. Birri memegang helm kuning dan sesekali memakainya sendiri.
Helm itu terlalu besar untuk kepalanya.
“Lihat,” kata Birri. “Aku jadi robot.”
“Kamu jadi ember,” kata Bizwa.
Birri membuka helm. Rambutnya berantakan.
Birka tertawa.
Di luar pos, suara motor melintas pelan. Dari arah rumah, Na memanggil Birru yang entah sedang merangkak ke mana. Tidak jauh dari Berehan, makam keramat berdiri di bawah pohon. Di sampingnya ada batu besar yang permukaannya datar.
Birka mengenal batu itu.
Kadang kucing tidur di bawahnya. Kadang daun kering berkumpul di salah satu sisinya. Setelah hujan, air menggenang tipis di atas permukaannya.
Menurut Birri, dulu batu itu dipakai untuk meletakkan makanan para peziarah.
Menurut Bizwa, Birri terlalu banyak mendengar cerita orang.
Menurut Avi, keduanya sebaiknya diam karena ia sedang mencatat jumlah buku.
Birka tidak terlalu memikirkan semua itu.
Batu tetaplah batu.
“Ayah,” katanya lagi, “IPOP siapa?”
Dr. Yabui berhenti bekerja. Ia memandang Birka, lalu memandang kostum yang belum selesai.
“IPOP itu cara membuat cerita.”
Birka melihat tubuh robot yang masih tergeletak.
“Robotnya belum punya cerita?”
Ayah tersenyum kecil.
“Belum.”
Birka menunduk. Ia menyentuh lingkaran di dada robot dengan ujung jarinya.
Lingkaran itu dingin.
“Kasihan.”
Bizwa tertawa.
“Robot kok dikasihani.”
“Dia belum punya cerita,” kata Birka.
“Itu kostum,” jawab Bizwa.
“Kalau dipakai baru jadi robot,” kata Birri.
Birka menoleh cepat.
“Aku pakai.”
Avi berhenti menulis.
“Belum selesai.”
“Sudah,” kata Birka.
“Belum.”
“Sudah sedikit.”
Dr. Yabui tertawa pelan. “Coba saja.”
Bizwa membantu memasukkan kedua tangan Birka ke dalam bagian badan. Birri memasangkan helm. Avi akhirnya menutup buku besar dan ikut membetulkan bagian belakang kostum.
Kostum itu sedikit kebesaran.
Kaki Birka menghilang di dalam kain kuning. Kedua lengannya menjadi pendek. Helmnya turun sampai hampir menutupi mata.
Birka berdiri diam.
“Gimana?” tanya Ayah.
Birka mengangkat kedua tangan. Gerakannya kaku.
“Aku robot.”
“Robot apa?” tanya Birri.
Birka berpikir.
“Robot Kuning.”
“Memangnya bisa apa?” tanya Bizwa.
Birka berjalan dua langkah. Tubuhnya miring ke kiri. Lalu ke kanan. Ia hampir jatuh, tetapi Avi menahannya.
“Bisa jalan,” jawab Birka.
“Itu juga hampir tidak bisa,” kata Bizwa.
Birka menggeram seperti mesin.
“Ngung-ngung-ngung.”
Birri ikut menggeram.
“Ngung-ngung.”
Dari arah rumah, Na muncul sambil menggendong Birru.
“Ini kenapa dua-duanya jadi kulkas?”
Birka berbalik cepat.
“Aku robot, Na.”
Birru memandangnya cukup lama. Lalu bibirnya bergetar.
Ia mulai menangis.
Birka buru-buru membuka helm.
“Ini Birka.”
Birru berhenti menangis.
Semua orang tertawa.
Dr. Yabui kemudian memasang kembali helm itu. Kali ini posisinya lebih tinggi. Birka dapat melihat dengan jelas.
Ia berjalan keluar dari Berehan.
Sore sudah turun perlahan. Cahaya matahari masuk dari sela daun dan jatuh di tanah dalam potongan-potongan kecil. Di dekat makam, rumput bergerak tertiup angin.
Birka berjalan sambil mengangkat kedua tangan.
“Robot Kuning patroli.”
“Jangan jauh-jauh,” kata Na.
“Patroli dekat.”
Ia mengelilingi pos. Melewati rak buku luar. Berhenti di dekat pohon. Lalu berjalan ke arah batu besar.
Dr. Yabui masih memperbaiki bagian kostum yang tersisa. Avi kembali mencatat. Bizwa dan Birri mengikuti Birka beberapa langkah di belakang.
“Jangan naik batunya,” kata Avi dari dalam pos.
“Aku tidak naik.”
Birka berdiri di depannya.
Permukaan batu itu lebih tinggi dari lututnya. Di sana masih ada dua helai daun kering dan bekas lingkaran air.
Birka mengusap salah satunya.
“Ini meja,” katanya.
“Dulu,” jawab Birri.
“Sekarang batu,” kata Bizwa.
Birka memandangi batu itu lebih lama.
Lalu lingkaran di dada kostumnya menyala.
Kuning terang.
Birka mundur satu langkah.
Bizwa ikut berhenti.
“Eh.”
Birri mendekat.
“Ayah pasang lampu?”
Dr. Yabui mengangkat kepala dari dalam pos.
“Belum.”
Lampu itu berkedip sekali.
Kemudian padam.
Birka menatap dadanya.
“Ayah.”
Dr. Yabui keluar dari Berehan. Avi ikut berdiri. Na tetap di dekat pintu sambil menggendong Birru.
“Baterainya belum dipasang,” kata Ayah.
Bizwa memeriksa bagian belakang kostum.
“Memang kosong.”
Birka tidak mendengarkan mereka.
Ia sedang melihat batu.
Dari dalam batu terdengar suara.
Tok.
Semua orang diam.
Tok.
Birka mendekat.
Tok.
Tiga kali.
Pelan sekali.
Seperti seseorang mengetuk dari tempat yang sangat jauh.
“Ada suara,” kata Birka.
Bizwa menempelkan telinga ke batu.
“Tidak ada.”
Birri ikut mencoba.
“Dingin.”
Avi berdiri beberapa langkah dari mereka. “Mungkin ada sesuatu jatuh di bawahnya.”
Dr. Yabui memandang batu, lalu memandang kostum Robot Kuning.
“Birka dengar apa?”
Birka menempelkan sisi helmnya ke permukaan batu.
Ia menunggu.
Mula-mula tidak ada apa-apa.
Lalu terdengar gesekan kecil. Seperti kuku menyentuh piring. Seperti sendok digeser di atas meja. Seperti anak kecil sedang memindahkan mainan dengan sangat hati-hati.
Birka mengangkat kepala.
“Ada orang.”
“Di mana?” tanya Birri.
“Di dalam.”
Bizwa tertawa pendek, tetapi Dr. Yabui tidak.
“Apa katanya?” tanya Ayah.
Birka kembali menempelkan telinga.
Suara itu muncul lagi.
Kali ini lebih dekat.
Belum jelas seperti kata-kata. Hanya napas pendek, gesekan kecil, dan satu ketukan terakhir.
Tok.
Birka berdiri tegak.
Helmnya sedikit miring.
“Dia belum punya cerita,” katanya.
Angin bergerak dari arah makam. Daun-daun di atas batu bergetar, lalu jatuh satu per satu ke tanah.
Lampu di dada Robot Kuning menyala lagi.
Kali ini lebih lama.
Dr. Yabui memandangnya tanpa berkata apa-apa.
Padahal ia belum memasang baterai.