Depok Baru: Tiga Menit yang Tak Tercatat

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Kereta meninggalkan Stasiun Depok pukul 21.47. Yabui mengetahui waktunya karena baru saja melihat jam di atas pintu gerbong. Angkanya merah dan terlalu terang untuk suasana malam yang mulai sepi. 21.47. Ia menyandarkan punggung, lalu memeriksa ponsel. 21.47 juga. Perjalanan ke Depok Baru seharusnya singkat. Bahkan sebelum orang sempat merasa nyaman di kursi, kereta biasanya sudah melambat lagi. Gerbong malam itu tidak penuh. Seorang perempuan tertidur sambil memeluk tas kerja. Dua mahasiswa berbagi earphone di ujung kursi. Di dekat pintu, seorang anak laki-laki berseragam sekolah berdiri bersama ayahnya. Anak itu masih mengenakan seragam putih abu-abu, meski hari sudah larut. Dasi abu-abunya…

Depok: Penumpang yang Menolak Sampai

  • Post published:
  • Reading time:7 mins read

Kereta dari Citayam baru saja melaju ketika laki-laki itu berdiri. Sejak tadi ia duduk di dekat pintu sambil memangku tas kertas cokelat. Bagian atasnya dilipat dua kali, lalu direkatkan dengan pita kuning yang mulai kusut. Sesekali ia merapikan lipatan itu, memeriksa jam tangan, kemudian menoleh ke layar informasi di atas pintu. Stasiun berikutnya: Depok. Yabui sempat mengira laki-laki itu takut kelewatan. Ia sudah berdiri bahkan sebelum kereta mulai melambat. Namun, begitu papan nama Depok terlihat dari balik kaca, laki-laki itu malah mundur. Pintu terbuka. Penumpang di belakangnya mulai bergerak keluar. “Turun, Pak?” tanya seorang pemuda. Laki-laki itu tidak menjawab. Tatapannya…

Citayam: Sepatu Putih di Jalur Pulang

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Nisa datang bersama ibunya dengan sepeda motor. Mereka berhenti di depan kedai kecil tidak jauh dari Stasiun Citayam. Ibunya memarkir motor di bawah pohon, lalu duduk di meja sebelah sambil memeriksa pesan di telepon. Nisa membawa buku gambar tipis berwarna biru. “Katanya kamu menulis cerita dari perjalanan pulang,” kata Yabui. Nisa mengangguk. Ia membuka halaman tengah. Gambar pertama memperlihatkan jalan sempit selepas hujan. Ada pagar rumah, saluran air, tiang listrik, dan sepasang sepatu putih di tepi jalan. Tidak ada orang di dekatnya. “Ini sepatu siapa?” “Enggak tahu.” “Pernah lihat langsung?” Nisa kembali mengangguk. “Di mana?” “Dekat jalan belakang stasiun.” “Ditinggal…

Bojong Gede: Payung yang Tidak Pernah Terbuka

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Payung itu diletakkan Rara di atas meja. Warnanya hitam. Ukurannya kecil, jenis payung lipat yang biasa dimasukkan ke dalam tas. Tali pengikatnya sudah kusam, sedangkan gagangnya memiliki retakan tipis di bagian tengah. “Punya kamu?” tanya Yabui. Rara menggeleng. Mereka duduk di warung dekat pintu masuk Stasiun Bojong Gede. Dari tempat itu, suara pengumuman kereta masih terdengar, bercampur dengan klakson angkot dan suara pedagang yang sedang membereskan dagangan. “Punya siapa?” “Enggak tahu.” “Terus kenapa kamu bawa?” “Tadi ada di kursi.” Rara menunjuk bangku plastik di sebelah warung. Ia menemukan payung itu ketika datang bersama ibunya. Karena khawatir tertinggal, ia membawanya ke…

Cilebut: Rumah yang Mengikuti Kereta

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Nara menunjukkan gambar rumah itu tanpa banyak penjelasan. Atapnya miring. Cat temboknya putih kusam. Ada dua jendela di depan dan satu pohon pisang di sisi kanan. Di antara kedua jendela itu, sebuah pintu digambar dengan pensil hitam sampai nyaris menembus kertas. “Rumah siapa?” tanya Yabui. Nara menggeleng. Mereka duduk di teras tempat les yang hanya berjarak beberapa gang dari Stasiun Cilebut. Sore baru selesai diguyur hujan. Air masih menetes dari talang, sedangkan dari kejauhan terdengar suara kereta melintas. “Aku lihat dari kereta,” kata Nara. “Di mana?” “Enggak tahu.” “Dekat Cilebut?” “Awalnya.” Yabui mengamati gambar itu lagi. “Awalnya?” Nara membuka buku…

Bogor: Orang Terakhir yang Masuk

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Saka menggambar sebuah pintu. Dua garis tegak. Satu garis mendatar di atasnya. Di depan pintu itu berdiri seorang anak kecil dengan tas sekolah. Di belakang anak tersebut, Saka menggambar satu bayangan panjang. Yabui mengamati gambar itu cukup lama. “Bayangan siapa?” Saka tidak langsung menjawab. Ia masih menekan ujung pensil pada kertas, mempergelap bagian kaki anak itu. Mereka duduk di sebuah kedai roti tidak jauh dari Stasiun Bogor. Dari jendela, gerbang masuk stasiun terlihat dipenuhi payung. Hujan turun sejak sore, membuat jalanan berkilat oleh lampu kendaraan dan papan iklan. “Bayangannya punya anak itu?” tanya Yabui lagi. “Bukan.” “Punya siapa?” “Orang yang…

Orang Sebelah Gang Mayong

  • Post published:
  • Reading time:12 mins read

Di belakang Pasar Enjo, masuk ke arah Prumpung, ada satu gang sempit yang tidak pernah benar-benar kering. Orang-orang menyebutnya Gang Mayong. Nama itu tertulis kecil di papan kusam dekat mulut jalan, setengah tertutup kabel listrik dan spanduk tambal ban yang sudah pudar. Dari luar, gang itu tampak seperti celah di antara bangunan tua: sempit, lembap, dan selalu menyimpan bau yang tidak sepenuhnya bisa ditebak. Sejak subuh, udara di sana dipenuhi bau kedelai rebus, ampas basah, asap tungku, dan got mampat. Dari arah Pasar Enjo, suara pedagang sayur, tukang ayam, motor pengangkut barang, dan klakson angkot kadang terbawa masuk sampai ke…

End of content

No more pages to load