Citayam: Sepatu Putih di Jalur Pulang

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Nisa datang bersama ibunya dengan sepeda motor. Mereka berhenti di depan kedai kecil tidak jauh dari Stasiun Citayam. Ibunya memarkir motor di bawah pohon, lalu duduk di meja sebelah sambil memeriksa pesan di telepon. Nisa membawa buku gambar tipis berwarna biru. “Katanya kamu menulis cerita dari perjalanan pulang,” kata Yabui. Nisa mengangguk. Ia membuka halaman tengah. Gambar pertama memperlihatkan jalan sempit selepas hujan. Ada pagar rumah, saluran air, tiang listrik, dan sepasang sepatu putih di tepi jalan. Tidak ada orang di dekatnya. “Ini sepatu siapa?” “Enggak tahu.” “Pernah lihat langsung?” Nisa kembali mengangguk. “Di mana?” “Dekat jalan belakang stasiun.” “Ditinggal…

Bojong Gede: Payung yang Tidak Pernah Terbuka

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Payung itu diletakkan Rara di atas meja. Warnanya hitam. Ukurannya kecil, jenis payung lipat yang biasa dimasukkan ke dalam tas. Tali pengikatnya sudah kusam, sedangkan gagangnya memiliki retakan tipis di bagian tengah. “Punya kamu?” tanya Yabui. Rara menggeleng. Mereka duduk di warung dekat pintu masuk Stasiun Bojong Gede. Dari tempat itu, suara pengumuman kereta masih terdengar, bercampur dengan klakson angkot dan suara pedagang yang sedang membereskan dagangan. “Punya siapa?” “Enggak tahu.” “Terus kenapa kamu bawa?” “Tadi ada di kursi.” Rara menunjuk bangku plastik di sebelah warung. Ia menemukan payung itu ketika datang bersama ibunya. Karena khawatir tertinggal, ia membawanya ke…

Cilebut: Rumah yang Mengikuti Kereta

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Nara menunjukkan gambar rumah itu tanpa banyak penjelasan. Atapnya miring. Cat temboknya putih kusam. Ada dua jendela di depan dan satu pohon pisang di sisi kanan. Di antara kedua jendela itu, sebuah pintu digambar dengan pensil hitam sampai nyaris menembus kertas. “Rumah siapa?” tanya Yabui. Nara menggeleng. Mereka duduk di teras tempat les yang hanya berjarak beberapa gang dari Stasiun Cilebut. Sore baru selesai diguyur hujan. Air masih menetes dari talang, sedangkan dari kejauhan terdengar suara kereta melintas. “Aku lihat dari kereta,” kata Nara. “Di mana?” “Enggak tahu.” “Dekat Cilebut?” “Awalnya.” Yabui mengamati gambar itu lagi. “Awalnya?” Nara membuka buku…

Bogor: Orang Terakhir yang Masuk

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Saka menggambar sebuah pintu. Dua garis tegak. Satu garis mendatar di atasnya. Di depan pintu itu berdiri seorang anak kecil dengan tas sekolah. Di belakang anak tersebut, Saka menggambar satu bayangan panjang. Yabui mengamati gambar itu cukup lama. “Bayangan siapa?” Saka tidak langsung menjawab. Ia masih menekan ujung pensil pada kertas, mempergelap bagian kaki anak itu. Mereka duduk di sebuah kedai roti tidak jauh dari Stasiun Bogor. Dari jendela, gerbang masuk stasiun terlihat dipenuhi payung. Hujan turun sejak sore, membuat jalanan berkilat oleh lampu kendaraan dan papan iklan. “Bayangannya punya anak itu?” tanya Yabui lagi. “Bukan.” “Punya siapa?” “Orang yang…

Penumpang Misterius di Stasiun Cawang

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Malam setelah hujan selalu meninggalkan rasa yang aneh di stasiun. Lantainya basah, lampu-lampunya tampak lebih buram, dan suara langkah orang terdengar lebih jelas daripada biasanya. Di Stasiun Cawang, malam itu, suasana terasa lebih lengang. Tidak benar-benar kosong, tetapi juga tidak cukup ramai untuk membuat seseorang merasa aman. Beberapa penumpang duduk berjauhan di bangku peron. Ada yang menunduk menatap ponsel. Ada yang menyandarkan kepala ke tiang. Ada pula yang berdiri dekat garis kuning, menunggu kereta terakhir dengan wajah lelah. Semua tampak seperti orang-orang kota pada umumnya: ingin cepat pulang, ingin cepat sampai, ingin segera berhenti berpikir. Dimas termasuk salah satunya. Jaket…

Kereta Terakhir dari Stasiun Ancol

  • Post published:
  • Reading time:12 mins read

Malam itu, Stasiun Ancol tampak seperti tempat yang lupa ditinggalkan. Peron hampir kosong. Hanya satu lampu tua di ujung jalur yang terus berkedip, menyala sebentar, lalu padam sekejap, seolah-olah ada seseorang yang sedang memberi tanda dari kejauhan. Di luar pagar stasiun, angin dari arah laut berembus pelan, membawa bau asin yang bercampur dengan aroma besi basah dan lantai peron yang lembap. Budi duduk di bangku kayu dekat ruang petugas. Jaket birunya tertutup sedikit debu. Di tangan kanannya ada gelas kopi plastik yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Ia sudah hampir lima tahun menjaga stasiun itu, dan selama itu pula…

End of content

No more pages to load