Kereta yang membawa Yabui ke Nambo tinggal menyisakan sedikit penumpang ketika melewati Cibinong. Seorang ibu sudah mengumpulkan kantong belanjaannya ke pangkuan, dua anak sekolah berdiri dekat pintu meskipun kereta belum sampai, sementara lelaki di ujung bangku tertidur dengan tas ransel dipeluk seperti bantal. Dari jendela, bangunan semakin jarang dan bidang-bidang hijau muncul lebih lama di antara rumah, gudang, serta jalan yang sesekali berlari sejajar dengan rel.
Yabui sebenarnya tidak punya urusan di Nambo. Pagi itu ia hanya ingin melihat ujung salah satu cabang KRL yang selama ini selalu lewat sebagai nama di peta. Bogor masih memberinya gambaran tentang kota, Jakarta Kota tentang bangunan tua dan keramaian, tetapi Nambo terdengar seperti sebuah kata yang diletakkan begitu saja di ujung garis.
Ketika pintu kereta terbuka, dua anak sekolah tadi langsung berlari. Ibu dengan kantong belanja turun pelan-pelan. Lelaki yang tidur baru bangun setelah petugas mengetuk kaca dari luar.

“Mas, habis.”
Lelaki itu mengangkat kepala. “Habis apa?”
“Jalurnya.”
Beberapa orang tertawa. Lelaki tersebut ikut tertawa setelah melihat peron dan menyadari kereta memang sudah sampai di stasiun terakhir.
Yabui turun paling belakang.
Nambo lebih kecil daripada bayangan yang ia bangun selama perjalanan. Tidak ada kesan dramatis tentang ujung jalur. Orang keluar melalui gerbang, beberapa pengemudi ojek menunggu, seorang petugas berjalan membawa radio, dan di kejauhan tampak rangkaian barang pada jalur lain. Sebagai terminus cabang Nambo, stasiun itu justru membuat kata terakhir terdengar terlalu besar untuk sesuatu yang sehari-hari. Kereta datang, penumpang turun, kemudian kereta yang sama kelak kembali membawa orang ke arah tempat mereka berasal.
Yabui berjalan sampai bagian peron yang paling jauh. Dari sana rel masih terlihat menerus.
Ia berhenti.
Selama ini Yabui membayangkan ujung jalur sebagai dua batang besi yang berhenti mendadak. Ternyata rel tidak mempunyai tata krama seperti kalimat. Rel dapat terus terhampar meskipun perjalanan penumpang sudah selesai.
“Cari apa, Mas?”
Suara itu datang dari belakang. Seorang lelaki tua membawa sapu lidi dan kantong plastik hitam. Seragamnya tidak sama dengan petugas stasiun, tetapi cara berjalan lelaki itu menunjukkan bahwa setiap sudut di sana sudah dikenalnya.
“Enggak cari apa-apa, Pak. Lihat-lihat saja.”
“Lihat rel?”
Yabui mengangguk.
Lelaki itu tertawa. “Rel tiap hari juga begitu.”
Yabui ikut tertawa. Jawabannya memang terdengar bodoh setelah dikembalikan dalam bentuk pertanyaan.
Lelaki itu meneruskan menyapu. Daun kering, bungkus permen, dan sepotong tiket parkir berkumpul menjadi satu tumpukan kecil. Yabui hendak kembali ke bangunan stasiun ketika melihat sebuah patok beton di sisi jalur. Tingginya tidak sampai lutut, cat putihnya kotor, dan bagian atasnya memiliki bekas warna yang sudah sulit dikenali.
“Pak, itu patok apa?”
Lelaki yang menyapu tidak menoleh. “Patok.”
“Iya, patok apa?”
Kali ini lelaki tersebut berhenti. Ia memandang benda yang ditunjuk Yabui, lalu mengangkat bahu. “Kalau patok dikasih pekerjaan terlalu banyak, nanti minta gaji.”
Yabui tertawa lagi.
Lelaki itu ternyata bernama Dana. Ia bekerja membantu kebersihan di sekitar stasiun dan, menurut pengakuannya sendiri, mengetahui hampir semua hal di Nambo kecuali jadwal kereta.
“Jadwal ada di aplikasi,” katanya. “Ngapain saya hafalin?”
Mereka akhirnya duduk di bangku dekat ujung peron. Kereta yang tadi membawa Yabui sudah dipersiapkan untuk perjalanan berikutnya. Suara kompresor sesekali terdengar dari rangkaian, kemudian hilang bersama angin yang membawa bau tanah dan debu.
Pak Dana bercerita bahwa patok tadi sudah lama berada di sana. Tidak ada yang istimewa. Benda itu bahkan jarang diperhatikan karena orang yang datang ke stasiun biasanya sedang mengejar kereta, bukan mencari benda beton setinggi betis.
“Cuma si Ujang yang ribut.”
“Ujang siapa?”
“Yang jaga malam kadang-kadang.”
Yabui menunggu kelanjutannya. Pak Dana malah bangkit dan mengambil sapunya.
“Ribut kenapa?”
“Katanya pindah.”
“Apanya?”
Pak Dana menunjuk patok tadi menggunakan dagu.
Yabui kembali melihat ke arah jalur. Patok itu masih berada di tempat yang sama.
“Siapa yang mindahin?”
“Nah, kalau tahu siapa, bukan cerita namanya.”
Pak Dana pergi sambil membawa tumpukan sampahnya.
Kalimat itu cukup membuat Yabui bertahan sampai siang.
Ia membeli air mineral, duduk dekat gerbang, berjalan keluar sebentar, kemudian masuk lagi ketika kereta berikutnya tiba. Beberapa penumpang memandangnya karena orang biasanya tidak datang ke Nambo untuk menghabiskan waktu dengan mengamati patok beton.
Ujang muncul menjelang tengah hari.
Usianya jauh lebih muda dari bayangan Yabui. Badannya kurus, rambutnya dipotong pendek, dan ia membawa kotak makan berwarna merah. Pak Dana memanggilnya dari seberang jalur.
“Jang! Ada yang nyari patok!”
Ujang menghentikan langkah.
“Siapa?”
Pak Dana menunjuk Yabui.
Ekspresi Ujang langsung berubah seperti seseorang yang baru diberi tahu bahwa utangnya sedang dibicarakan di depan orang asing.
“Saya enggak nyari patok,” kata Yabui ketika Ujang mendekat.
“Terus?”
“Pak Dana bilang patoknya suka pindah.”
Ujang menoleh kepada Pak Dana. “Mulut orang tua.”
Dari jauh Pak Dana menjawab, “Kalau bohong bilang bohong!”
“Bohong!”
“Nah, selesai.”
Pak Dana kembali menyapu.
Yabui mulai menyukai Nambo.
Ujang duduk dan membuka kotak makannya. Nasi, telur balado, dan potongan mentimun tersusun di dalamnya. Ia makan beberapa suap sebelum akhirnya bicara.
“Bukan pindah sebenarnya.”
“Terus?”
“Geser.”
Yabui menatapnya.
Ujang tertawa karena menyadari kalimatnya tidak memperbaiki keadaan.
Menurut Ujang, beberapa bulan sebelumnya ia pernah menemukan patok itu lebih dekat ke stasiun. Tidak jauh, mungkin dua meter. Ia mengira ada pekerjaan di sekitar jalur. Besok paginya patok berada sedikit lebih jauh. Hari berikutnya kembali berubah.
“Diukur?”
“Enggak.”
“Berarti perasaan saja.”
“Itu juga kata saya.”
“Terus kenapa masih diperhatikan?”
Ujang berhenti mengunyah.
“Karena besoknya saya ukur.”
Ia menggunakan ubin peron sebagai patokan. Dari titik tertentu dekat tiang, Ujang menghitung langkah menuju patok setiap selesai bertugas. Kadang dua puluh satu. Besoknya dua puluh dua. Pernah dua puluh empat. Setelah itu kembali menjadi dua puluh satu.
Yabui melihat sepatu Ujang.
“Langkah orang kan enggak selalu sama.”
“Nah.”
Ujang menunjuk Yabui dengan sendok. Ia tampak senang karena mendapatkan sekutu dalam perdebatan yang barangkali sudah berlangsung lama.
“Itu yang saya bilang ke Pak Dana.”
Pak Dana berteriak dari kejauhan, “Makanya pakai meteran!”
Ujang menutup kotak makannya sedikit keras.
“Dia dengar terus, ya?”
“Kalau ngomongin saya, pendengaran bagus,” jawab Pak Dana.
Menjelang sore cerita tentang patok itu sudah menjadi hiburan kecil bagi empat orang. Pak Dana, Ujang, Yabui, dan seorang petugas bernama Arman berdiri di ujung peron membawa meteran gulung berwarna kuning.
Arman adalah satu-satunya yang tampak menyesal terlibat.
“Ini kerjaan kalian kurang banyak apa?”
“Biar selesai, Pak,” kata Ujang.
“Yang mau diselesaikan apa?”
Ujang menunjuk patok.
Arman memandang patok, kemudian memandang Ujang. “Saya enggak melihat masalah.”
“Itu masalahnya.”
Pak Dana tertawa paling keras.
Mereka menentukan satu titik yang tidak mungkin berubah: pangkal tiang besi di sisi peron. Meteran ditarik lurus menuju patok. Yabui mencatat angkanya di ponsel.
Dua puluh tiga meter empat puluh sentimeter.
“Foto,” kata Ujang.
Yabui memotret angka pada meteran, patok, tiang, bahkan sepatu Arman yang kebetulan masuk ke gambar.
“Nanti kalau patoknya pindah, sepatu saya jangan ikut dituduh,” kata Arman.
Sebelum pulang, Yabui memasukkan botol minumnya ke tempat sampah. Ia sempat menoleh sekali lagi ke ujung jalur. Patok putih itu hampir tidak terlihat ketika cahaya mulai turun. Kalau tidak diberi cerita, benda tersebut mungkin tidak akan menarik perhatian siapa pun.
Keesokan paginya Yabui kembali.
Pak Dana sudah ada di sana.
Lelaki tua itu tidak menyapa. Ia hanya menunjuk ujung peron menggunakan sapunya.
Ujang berdiri dekat tiang sambil memegang meteran.
Yabui berjalan mendekat.
“Berapa?”
Ujang menunjukkan angka pada meteran.
Dua puluh empat meter sepuluh sentimeter.
Yabui membuka foto kemarin. Dua puluh tiga meter empat puluh sentimeter. Selisih tujuh puluh sentimeter.
Pak Dana terlihat puas.
“Nah.”
“Bisa saja patoknya memang dipindahkan petugas,” kata Yabui.
Ujang mengangguk cepat. “Bisa.”
“Ada pekerjaan malam?”
“Bisa.”
“Tanahnya dibongkar?”
“Bisa.”
Mereka berjalan mendekati patok.
Tanah di sekelilingnya keras. Rumput kecil tumbuh rapat sampai menyentuh bagian bawah beton. Tidak ada bekas galian baru, tidak ada tanah yang terangkat, dan patok itu berdiri seperti sudah lama berada di sana.
Pak Dana berjongkok.
“Kalau orang mindahin, rapi juga.”
Tidak seorang pun menjawab.
Arman datang beberapa menit kemudian dan memeriksa hasil pengukuran. Ia memandang foto kemarin, angka pagi itu, lalu lokasi patok. Wajahnya tidak menunjukkan takut. Ia justru terlihat kesal.
“Ukur lagi.”
Mereka mengukur ulang.
Hasilnya sama.
Arman mengambil meteran dari tangan Ujang dan melakukan pengukuran sendiri. Dua puluh empat meter sepuluh sentimeter.
Pak Dana bersandar pada sapu. “Kalau besok geser lagi, lumayan. Lama-lama sampai Jakarta.”
Arman menatapnya. “Pak Dana, kalau enggak membantu, jangan membantu.”
Yabui tertawa. Ujang juga. Bahkan Arman akhirnya tersenyum sebentar.
Kereta datang tidak lama kemudian dan suara roda menutup percakapan mereka. Penumpang turun, orang-orang bergegas menuju gerbang, beberapa langsung memesan ojek dari ponsel. Dalam waktu kurang dari lima menit peron kembali lengang.
Patok itu masih di sana.
Hari ketiga mereka mengukur lagi.
Dua puluh empat meter delapan puluh sentimeter.
Tepat tujuh puluh sentimeter.
Kali ini Arman tidak membuat komentar.
Hari keempat, dua puluh lima meter lima puluh sentimeter.
Hari kelima, dua puluh enam meter dua puluh sentimeter.
Selalu tujuh puluh sentimeter.
Pak Dana mulai membuat garis kecil di gagang sapunya setiap pagi. Ujang mencatat angka pada bagian belakang kotak rokok. Arman beberapa kali mengatakan bahwa mereka seharusnya berhenti melakukan hal bodoh tersebut, tetapi selalu menjadi orang pertama yang membawa meteran.
Keanehan itu justru berubah menjadi rutinitas.
Pada pagi keenam Pak Dana datang membawa kopi empat gelas.
“Kalau hantu biasanya minta kopi enggak?” tanya Ujang.
“Kalau hantunya kerja malam, harusnya iya.”
Arman mengambil satu gelas. “Kalian kalau lihat sesuatu jangan panggil saya.”
“Kenapa?”
“Saya mau mutasi.”
Mereka tertawa.
Yabui hampir ikut tertawa ketika matanya jatuh pada patok.
Ada sesuatu yang berbeda.
Ia membuka foto hari pertama, lalu foto kemarin. Patok memang semakin jauh dari tiang. Tidak ada keraguan lagi. Tetapi selama beberapa hari mereka sibuk mengukur jarak dari stasiun, tak seorang pun memperhatikan apa yang berada di sisi lainnya.
Yabui berjalan melewati patok.
“Ngapain?” tanya Ujang.
Yabui tidak menjawab. Ia terus berjalan beberapa meter sampai Pak Dana memanggilnya.
“Jangan jauh-jauh.”
Yabui berhenti.
Di depan sana terdapat tanda lain pada sisi jalur. Bentuknya berbeda, lebih kecil dan mudah terlewatkan. Ia memotret posisi benda tersebut, lalu kembali menemui tiga orang yang sedang menunggu.
“Besok kita jangan ukur dari tiang.”
Ujang mengernyit. “Terus dari mana?”
“Dari sana.”
Yabui menunjuk ke arah setelah patok.
Arman tidak mengatakan apa-apa cukup lama.
Pagi berikutnya mereka datang hampir bersamaan.
Tidak ada kopi. Tidak ada lelucon tentang hantu. Ujang langsung menarik meteran dari tanda di sisi jalur menuju patok.
Pak Dana berdiri di belakangnya.
Arman membaca angka.
Lalu membaca lagi.
Yabui membuka catatan kemarin.
Jaraknya sama.
Patok itu ternyata tidak sedang bergerak menjauhi sesuatu di depan.
Jarak antara patok dan benda-benda setelahnya tidak berubah sama sekali.
Pak Dana perlahan menoleh ke arah stasiun. Bangunan kecil itu berdiri seperti biasa. Papan nama masih di tempatnya, peron masih memanjang dengan ubin yang sama, dan orang-orang mulai berdatangan untuk menunggu kereta pagi.
Ujang menggulung meteran tanpa diminta.
“Pak,” katanya pelan.
Arman masih memandang angka di ponsel Yabui.
“Hmm?”
Ujang menunjuk stasiun.
“Kalau patoknya enggak geser…”
Pak Dana menyela sebelum kalimat itu selesai.
“Jangan diterusin.”
Kereta dari arah Jakarta masuk beberapa menit kemudian. Suaranya terdengar lebih dulu, lalu rangkaian muncul di tikungan dan perlahan merapat ke peron.
Orang-orang berdiri.
Pintu terbuka.
Penumpang turun.
Seorang ibu memegang tangan anaknya, dua pekerja membawa tas besar, seorang lelaki menguap sambil mencari ponsel di saku. Tidak ada yang melihat empat orang yang berdiri di ujung peron dengan meteran gulung di tangan.
Mereka semua hanya sedang sampai di Nambo.
Yabui memandang patok, kemudian bangunan stasiun.
Untuk pertama kalinya ia merasa pertanyaan tentang ujung jalur mungkin memang sejak awal keliru.
Yang belum jelas justru bagian mana yang disebut ujung.