Jenis Penelitian dalam Skripsi: Jangan Dipilih karena Terdengar Mudah

  • Post author:
  • Post category:Riset
  • Reading time:7 mins read

Banyak mahasiswa mulai menyusun skripsi dengan pertanyaan yang kelihatannya sederhana: “Saya mau pakai jenis penelitian apa?” Pertanyaan ini tampak teknis, tetapi sebenarnya menyimpan masalah yang lebih dalam. Tidak sedikit mahasiswa memilih jenis penelitian bukan karena sesuai dengan masalah yang diteliti, melainkan karena terdengar mudah, sering dipakai teman, atau dianggap paling aman untuk cepat selesai.

Di kelas metodologi penelitian, gejala ini sering muncul dalam berbagai bentuk. Mahasiswa PGSD, misalnya, kadang langsung ingin menggunakan penelitian tindakan kelas karena merasa dekat dengan praktik mengajar. Mahasiswa Pendidikan Tari cenderung memilih kualitatif deskriptif karena merasa objek seni lebih cocok “diceritakan”. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia sering tertarik pada analisis isi karena berhadapan dengan teks. Sementara itu, mahasiswa Sistem Informasi kerap menganggap penelitian pengembangan atau perancangan sistem sebagai pilihan paling wajar karena bidangnya berkaitan dengan aplikasi, sistem, atau teknologi.

Mahasiswa bingung memilih metode

Pilihan-pilihan itu tidak selalu salah. Yang menjadi masalah adalah ketika jenis penelitian dipilih sebelum mahasiswa benar-benar memahami masalah penelitiannya. Seolah-olah jenis penelitian adalah baju siap pakai: tinggal dipilih, dipakai, lalu skripsi bisa berjalan. Padahal, jenis penelitian bukan sekadar nama metode yang ditulis di proposal. Jenis penelitian menunjukkan cara mahasiswa melihat masalah, menentukan data, dan menyusun jawaban penelitian.

Mengapa Mahasiswa Sering Salah Memilih Jenis Penelitian?

Yang menarik bukan hanya bahwa mahasiswa sering bingung memilih jenis penelitian, tetapi juga mengapa kebingungan itu muncul. Biasanya, kebingungan terjadi karena mahasiswa belum membedakan antara “topik yang menarik” dan “masalah penelitian yang jelas”.

Misalnya, seorang mahasiswa PGSD ingin meneliti “minat baca siswa sekolah dasar”. Topik ini menarik, tetapi belum otomatis menentukan jenis penelitian. Jika tujuannya menggambarkan tingkat minat baca siswa, maka penelitian deskriptif kuantitatif bisa digunakan. Jika tujuannya memahami pengalaman siswa saat membaca cerita digital, maka penelitian kualitatif lebih sesuai. Jika tujuannya meningkatkan minat baca melalui strategi tertentu di kelas, maka penelitian tindakan kelas dapat dipertimbangkan.

Contoh lain dapat dilihat pada mahasiswa Pendidikan Tari. Seorang mahasiswa ingin meneliti tari tradisional di sekolah. Jika fokusnya adalah makna gerak dalam suatu pertunjukan, maka penelitian kualitatif dapat digunakan. Jika fokusnya adalah proses pembelajaran tari di kelas, maka studi kasus bisa dipilih. Jika fokusnya adalah membuat media pembelajaran tari berbasis video, maka penelitian pengembangan lebih cocok.

Dari contoh ini terlihat bahwa jenis penelitian tidak ditentukan hanya oleh program studi. Mahasiswa PGSD tidak harus selalu memakai PTK. Mahasiswa Pendidikan Tari tidak harus selalu memakai kualitatif. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia tidak harus selalu memakai analisis teks. Mahasiswa Sistem Informasi juga tidak harus selalu membuat aplikasi. Jenis penelitian harus mengikuti masalah yang ingin dijawab.

Jenis Penelitian Bukan Pilihan Pertama

Kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan jenis penelitian sebagai keputusan pertama. Mahasiswa berkata, “Saya mau pakai kualitatif,” lalu baru mencari masalah yang cocok. Ada juga yang berkata, “Saya mau pakai kuantitatif karena ada angkanya,” lalu memaksa topik yang sebenarnya membutuhkan penjelasan mendalam menjadi sekadar data angka.

Pertanyaan pentingnya adalah: apakah mahasiswa memilih jenis penelitian karena masalahnya memang membutuhkan jenis itu, atau karena jenis itu terdengar lebih mudah?

Dalam skripsi yang baik, masalah penelitian seharusnya menjadi titik awal. Dari masalah, mahasiswa menyusun tujuan penelitian. Dari tujuan, mahasiswa menentukan data yang dibutuhkan. Dari data, barulah mahasiswa dapat memilih jenis penelitian yang paling sesuai.

Jika masalahnya adalah “seberapa besar pengaruh penggunaan media interaktif terhadap hasil belajar siswa”, maka mahasiswa membutuhkan data berupa angka, nilai, pengukuran, dan perbandingan. Dalam kasus seperti ini, penelitian kuantitatif dapat dipertimbangkan.

Jika masalahnya adalah “bagaimana pengalaman siswa memahami puisi melalui media digital”, maka data yang dibutuhkan bukan hanya angka. Mahasiswa perlu melihat cerita, tanggapan, ekspresi, dan cara siswa memberi makna terhadap puisi. Dalam kasus seperti ini, penelitian kualitatif lebih relevan.

Jika masalahnya adalah “bagaimana merancang sistem informasi perpustakaan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan pengguna”, maka mahasiswa Sistem Informasi perlu memikirkan penelitian pengembangan, perancangan sistem, atau evaluasi sistem.

Dengan kata lain, jenis penelitian sebaiknya dipilih setelah mahasiswa memahami masalah, bukan sebelum masalahnya jelas.

Beberapa Jenis Penelitian yang Sering Dipilih Mahasiswa

Ada beberapa jenis penelitian yang sering digunakan dalam skripsi mahasiswa pendidikan dan sistem informasi. Setiap jenis penelitian memiliki fungsi yang berbeda.

Pertama, penelitian deskriptif. Penelitian ini digunakan ketika mahasiswa ingin menggambarkan suatu keadaan secara jelas dan teratur. Misalnya, mahasiswa PGSD ingin menggambarkan kemampuan literasi siswa kelas rendah. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia ingin menggambarkan kesalahan berbahasa dalam karangan siswa. Penelitian deskriptif cocok jika tujuan utamanya adalah memetakan keadaan, bukan menguji pengaruh atau memperbaiki pembelajaran melalui tindakan tertentu.

Kedua, penelitian kualitatif. Penelitian ini digunakan ketika mahasiswa ingin memahami pengalaman, makna, proses, atau praktik secara lebih mendalam. Mahasiswa Pendidikan Tari dapat menggunakannya untuk meneliti pengalaman siswa saat belajar gerak tari. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia dapat menggunakannya untuk memahami cara siswa menafsirkan cerita pendek. Dalam penelitian kualitatif, yang dicari bukan sekadar jumlah jawaban, tetapi pemahaman tentang bagaimana suatu pengalaman terbentuk.

Ketiga, penelitian kuantitatif. Penelitian ini digunakan ketika mahasiswa ingin mengukur hubungan, pengaruh, perbedaan, atau kecenderungan tertentu. Misalnya, apakah penggunaan aplikasi pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar? Apakah ada hubungan antara kebiasaan membaca dan kemampuan menulis? Penelitian kuantitatif membutuhkan data angka, instrumen yang jelas, dan analisis statistik yang sesuai.

Keempat, penelitian tindakan kelas. Penelitian ini sering dipilih mahasiswa pendidikan karena dekat dengan kegiatan mengajar. Namun, PTK tidak boleh dipilih hanya karena dianggap mudah. PTK cocok jika ada masalah nyata dalam proses pembelajaran dan mahasiswa ingin memperbaikinya melalui tindakan yang dirancang, dilakukan, diamati, lalu direfleksikan. Jadi, PTK bukan sekadar mengajar di kelas, tetapi memperbaiki pembelajaran melalui beberapa tahap tindakan.

Kelima, penelitian pengembangan. Penelitian ini banyak digunakan ketika mahasiswa ingin menghasilkan produk, seperti media pembelajaran, modul, aplikasi, sistem, atau perangkat evaluasi. Mahasiswa Sistem Informasi dapat mengembangkan sistem sederhana sesuai kebutuhan pengguna. Mahasiswa PGSD atau Pendidikan Tari dapat mengembangkan media ajar. Namun, penelitian pengembangan bukan hanya membuat produk. Produk harus dirancang berdasarkan kebutuhan, diuji, dinilai, dan diperbaiki.

Cara Menentukan Jenis Penelitian

Agar tidak salah memilih, mahasiswa dapat mulai dari beberapa pertanyaan dasar.

Pertama, apa masalah utama yang ingin dijawab? Jika masalahnya belum jelas, jenis penelitian apa pun akan terasa membingungkan.

Kedua, apa tujuan penelitian? Apakah penelitian ingin menggambarkan, memahami, menguji, memperbaiki, atau mengembangkan sesuatu?

Ketiga, data apa yang dibutuhkan? Apakah data berupa angka, hasil wawancara, observasi, dokumen, hasil tes, catatan pembelajaran, atau kebutuhan pengguna?

Keempat, siapa atau apa yang diteliti? Apakah siswa, guru, teks, kelas, pertunjukan tari, aplikasi, sistem, atau proses pembelajaran?

Kelima, cara apa yang paling masuk akal untuk menjawab pertanyaan penelitian? Dari jawaban atas pertanyaan ini, jenis penelitian biasanya mulai terlihat.

Misalnya, jika mahasiswa ingin mengetahui peningkatan hasil belajar setelah menerapkan model pembelajaran tertentu, maka PTK atau eksperimen bisa dipertimbangkan, tergantung rancangan penelitiannya. Jika mahasiswa ingin memahami pengalaman guru menggunakan media digital, maka kualitatif bisa lebih sesuai. Jika mahasiswa ingin membuat aplikasi administrasi sekolah, maka penelitian pengembangan atau perancangan sistem dapat dipilih.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Kesalahan pertama adalah memilih jenis penelitian karena ikut teman. Walaupun topiknya mirip, masalah penelitian bisa berbeda. Dua mahasiswa sama-sama meneliti literasi, tetapi yang satu ingin mengukur tingkat literasi, sedangkan yang lain ingin memahami pengalaman membaca siswa. Jenis penelitiannya bisa berbeda.

Kesalahan kedua adalah memilih jenis penelitian karena dianggap paling mudah. Tidak ada jenis penelitian yang benar-benar mudah jika dilakukan dengan benar. Kualitatif tidak otomatis mudah hanya karena tidak memakai statistik. Kuantitatif tidak selalu sulit hanya karena ada angka. PTK tidak sederhana hanya karena dilakukan di kelas. Penelitian pengembangan juga tidak cukup hanya menghasilkan produk.

Kesalahan ketiga adalah tidak memahami konsekuensi pilihan. Setiap jenis penelitian memiliki tuntutan. Kualitatif membutuhkan data yang mendalam. Kuantitatif membutuhkan instrumen dan analisis yang tepat. PTK membutuhkan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian pengembangan membutuhkan proses desain, validasi, uji coba, dan revisi.

Kesalahan keempat adalah mencocok-cocokkan metode setelah proposal hampir selesai. Ini sering membuat skripsi tampak tidak utuh. Judulnya berbicara tentang pengaruh, tetapi metodenya deskriptif. Rumusan masalahnya ingin memahami pengalaman, tetapi instrumennya hanya angket tertutup. Tujuannya mengembangkan media, tetapi tidak ada proses uji coba dan perbaikan produk.

Penutup

Memilih jenis penelitian dalam skripsi bukan soal mencari jalan yang terdengar paling mudah. Pilihan itu harus berangkat dari masalah yang ingin dijawab. Ketika masalahnya jelas, mahasiswa akan lebih mudah menentukan apakah penelitiannya perlu menggambarkan, memahami, menguji, memperbaiki, atau mengembangkan sesuatu.

Yang menarik bukan hanya mahasiswa perlu tahu nama-nama jenis penelitian. Mahasiswa juga perlu memahami fungsi dari setiap jenis penelitian. Penelitian deskriptif membantu menggambarkan keadaan. Penelitian kualitatif membantu memahami pengalaman dan makna. Penelitian kuantitatif membantu mengukur hubungan, pengaruh, atau perbedaan. PTK membantu memperbaiki proses pembelajaran. Penelitian pengembangan membantu menghasilkan dan menguji produk.

Dengan pemahaman seperti ini, metodologi penelitian tidak lagi terasa seperti kumpulan istilah yang harus dihafal. Metodologi menjadi alat bantu untuk berpikir lebih terarah. Bukan agar skripsi terlihat rumit, tetapi agar penelitian benar-benar sesuai dengan masalah yang ingin diselesaikan.