Cilebut: Rumah yang Mengikuti Kereta

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Nara menunjukkan gambar rumah itu tanpa banyak penjelasan. Atapnya miring. Cat temboknya putih kusam. Ada dua jendela di depan dan satu pohon pisang di sisi kanan. Di antara kedua jendela itu, sebuah pintu digambar dengan pensil hitam sampai nyaris menembus kertas. “Rumah siapa?” tanya Yabui. Nara menggeleng. Mereka duduk di teras tempat les yang hanya berjarak beberapa gang dari Stasiun Cilebut. Sore baru selesai diguyur hujan. Air masih menetes dari talang, sedangkan dari kejauhan terdengar suara kereta melintas. “Aku lihat dari kereta,” kata Nara. “Di mana?” “Enggak tahu.” “Dekat Cilebut?” “Awalnya.” Yabui mengamati gambar itu lagi. “Awalnya?” Nara membuka buku…

End of content

No more pages to load