Bogor: Orang Terakhir yang Masuk

Saka menggambar sebuah pintu.

Dua garis tegak. Satu garis mendatar di atasnya. Di depan pintu itu berdiri seorang anak kecil dengan tas sekolah.

Di belakang anak tersebut, Saka menggambar satu bayangan panjang.

Yabui mengamati gambar itu cukup lama.

“Bayangan siapa?”

Saka tidak langsung menjawab. Ia masih menekan ujung pensil pada kertas, mempergelap bagian kaki anak itu.

Mereka duduk di sebuah kedai roti tidak jauh dari Stasiun Bogor. Dari jendela, gerbang masuk stasiun terlihat dipenuhi payung. Hujan turun sejak sore, membuat jalanan berkilat oleh lampu kendaraan dan papan iklan.

“Bayangannya punya anak itu?” tanya Yabui lagi.

“Bukan.”

“Punya siapa?”

“Orang yang masuk setelah dia.”

Yabui melihat kembali gambar itu. Tidak ada orang lain selain anak kecil tersebut.

“Tapi orangnya belum kamu gambar.”

Saka menggeleng.

“Memang enggak kelihatan.”

Ayah Saka yang duduk di meja sebelah mengingatkan bahwa mereka harus segera pulang. Hujan mulai lebih deras. Mereka masih harus berganti angkot dua kali.

Saka merobek halaman itu dan menyerahkannya kepada Yabui.

“Ini buat Pak Yabui.”

“Ceritanya sudah selesai?”

“Belum.”

“Terus akhirnya bagaimana?”

Saka memasukkan pensil ke dalam kotak plastik.

“Kalau anaknya menoleh, orang itu berhenti.”

“Kalau enggak menoleh?”

Saka berdiri dan mengenakan tasnya.

“Dia ikut masuk.”

Yabui hendak bertanya lagi, tetapi Saka telah berlari menyusul ayahnya.

Sebelum keluar dari kedai, anak itu menoleh sekali.

“Jangan jadi orang terakhir,” katanya.

Lalu ia menghilang di balik deretan payung.

Yabui melipat gambar itu dan memasukkannya ke dalam saku kemeja.

Ia tidak segera kembali ke stasiun. Ia menunggu hujan mereda sambil membaca catatan singkat dari pertemuan mereka.

Saka mendapat gagasan ceritanya dari kebiasaan menunggu orang lain melewati pintu kelas. Menurutnya, pintu selalu membuat orang ingin mengetahui siapa yang masuk terakhir. Bila tidak sempat melihat, anak-anak akan saling bertanya. Setelah itu, seseorang biasanya menyebut sebuah nama meskipun tidak benar-benar yakin.

Bagi Saka, bagian yang tidak terlihat bukan ruang kosong. Bagian itu justru mengundang cerita.

Pukul tujuh kurang seperempat, Yabui meninggalkan kedai.

Hujan belum berhenti.

Di depan Stasiun Bogor, arus orang bergerak rapat. Penumpang berlarian dari tepi jalan menuju pintu masuk. Payung saling bertabrakan. Sepatu menginjak genangan. Bunyi gerbang elektronik terdengar berulang-ulang dari dalam bangunan.

Yabui menutup payung dan bergabung dengan antrean.

Di depannya berdiri seorang perempuan berjas hujan kuning. Perempuan itu beberapa kali menoleh ke belakang, lalu mengangkat telepon ke telinga.

“Reza?”

Tidak ada jawaban.

Perempuan itu bergerak maju. Di sisi kirinya, seorang laki-laki berjaket abu-abu berjalan lebih cepat dan menyelip di antara dua penumpang.

“Reza!” panggil perempuan tersebut.

Laki-laki berjaket abu-abu tidak menoleh.

Antrean terpecah di depan gerbang. Yabui menempelkan kartu. Palang terbuka. Ia melangkah masuk.

Di belakangnya terdengar bunyi lain.

Tit.

Palang gerbang kembali bergerak.

Yabui menoleh.

Tidak ada siapa pun.

Hanya payung hitam yang terbuka di luar pintu dan beberapa orang yang sedang mencari kartu di dalam tas.

Palang menutup.

Perempuan berjas hujan kuning berdiri beberapa langkah dari sana. Wajahnya tegang.

“Bapak lihat adik saya masuk?”

“Jaket abu-abu?”

“Iya.”

“Tadi ada orang berjaket abu-abu lewat.”

“Dia enggak menjawab waktu saya panggil.”

Perempuan itu melihat ke arah tangga peron.

“Pasti dia buru-buru.”

Ia berlari meninggalkan Yabui.

Di dalam stasiun, udara terasa lebih dingin daripada di luar. Bau logam, kain basah, dan air hujan bercampur menjadi satu. Pengumuman terdengar dari pengeras suara, sebagian tertelan gema bangunan.

Kereta menuju Jakarta mengalami keterlambatan.

Penumpang memenuhi peron. Sebagian berdiri dekat garis kuning. Sebagian duduk sambil memegang tas di pangkuan. Beberapa orang berjalan menuju ujung peron untuk mencari gerbong yang lebih sepi.

See also  Robot Kuning Pertama

Yabui berdiri di dekat tiang.

Ia mengeluarkan gambar Saka.

Anak kecil itu masih berdiri di depan pintu. Bayangan panjang di belakangnya tampak lebih gelap daripada yang Yabui ingat.

Mungkin karena kertasnya lembap.

“Pak!”

Perempuan berjas hujan kuning muncul di sampingnya.

“Bapak lihat dia ke mana?”

Yabui melipat kembali gambar itu.

“Belum ketemu?”

“Enggak ada.”

“Coba telepon lagi.”

“Teleponnya mati.”

Seorang petugas keamanan mendekat dan meminta perempuan itu menjelaskan situasinya.

“Namanya Reza,” katanya. “Dia jalan di depan saya. Saya lihat dia masuk.”

“Lewat gerbang mana?”

“Yang sebelah kanan.”

Petugas menghubungi pos pemantauan.

“Ciri-cirinya?”

“Jaket abu-abu, celana hitam, sepatu putih.”

Petugas mengulang ciri-ciri itu melalui radio.

Beberapa detik kemudian, suara dari radio menjawab bahwa seorang laki-laki dengan ciri serupa terlihat berjalan menuju peron paling depan.

Perempuan itu langsung berlari.

Petugas mengikutinya.

Yabui memandang ke arah ujung peron.

Di sana, seorang laki-laki berjaket abu-abu berdiri membelakangi mereka.

Tubuhnya kurus. Rambutnya tertutup tudung. Ia tampak sedang memperhatikan jalur yang gelap.

“Reza!”

Perempuan berjas hujan kuning berteriak.

Laki-laki itu menoleh sedikit.

Hanya sedikit.

Kemudian ia berjalan menjauh.

Perempuan tersebut mempercepat langkah.

“Reza, tunggu!”

Laki-laki berjaket abu-abu mulai berlari.

Petugas keamanan berteriak memintanya berhenti.

Kereta masuk pada saat yang sama.

Suara roda dan rel memenuhi stasiun. Angin dari rangkaian yang datang menyapu pakaian para penumpang. Beberapa orang mundur dari garis kuning.

Laki-laki berjaket abu-abu mencapai ujung peron. Ia mencoba membuka pintu kecil menuju area jalur penyimpanan.

Terkunci.

Ia melihat ke belakang.

Wajahnya pucat.

Perempuan berjas hujan kuning berhenti beberapa meter darinya.

“Kamu siapa?”

Laki-laki itu tidak menjawab.

Petugas mendekat.

Tiba-tiba laki-laki itu melompat turun ke jalur.

Teriakan pecah.

Kereta mengerem keras.

Orang-orang mundur. Seorang anak menangis. Beberapa telepon terangkat untuk merekam.

Laki-laki berjaket abu-abu berlari di samping rangkaian yang belum sepenuhnya berhenti. Ia menyelip di antara dua gerbong dan menghilang.

Petugas pertama melompat turun.

Petugas kedua meniup peluit sambil meminta penumpang menjauh.

Perempuan berjas hujan kuning hendak ikut turun, tetapi Yabui menahan lengannya.

“Itu bukan adik Ibu.”

Perempuan itu menatapnya.

Dari bawah sambungan gerbong terdengar bunyi logam dipukul.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu sunyi.

Senter petugas menyapu bagian bawah kereta.

“Keluar!” teriak petugas.

Tidak ada jawaban.

Petugas pertama berjalan mengitari rangkaian. Petugas lain datang dari sisi berlawanan.

Beberapa menit kemudian, laki-laki berjaket abu-abu muncul dari bawah gerbong. Ia merangkak, lalu mengangkat kedua tangannya.

Di saku jaketnya ditemukan dua telepon genggam, sebuah dompet, dan beberapa kartu perjalanan milik orang lain.

Ia bukan Reza.

Ia mengaku mengambil barang-barang milik penumpang di kawasan luar stasiun dan masuk untuk menghindari dua orang yang mengejarnya. Ketika melihat petugas keamanan, ia panik dan berlari menuju ujung peron.

“Kenapa turun ke jalur?” tanya petugas.

Laki-laki itu tidak menjawab.

Petugas mengulang pertanyaan.

Ia melihat ke arah gerbang masuk.

“Karena dia ikut.”

“Siapa?”

“Orang di belakang saya.”

Petugas menyuruhnya menjelaskan.

Laki-laki itu mengatakan bahwa setelah melewati gerbang, ia mendengar bunyi kartu ditempel dari belakang.

Tit.

Ia menoleh, tetapi tidak melihat siapa pun.

Ia kemudian berjalan lebih cepat. Di kaca toko dekat tangga, ia melihat seseorang berdiri tepat di belakangnya. Sosok itu mengenakan jaket basah dan menundukkan kepala.

Ketika ia menoleh, lorong kosong.

Sosok itu muncul lagi pada kaca pintu kereta.

Lalu di layar hitam papan informasi.

See also  Stasiun Karet: Kursi Kosong

Lalu di ujung peron.

“Dia selalu ada di belakang saya,” katanya. “Kalau saya berhenti, dia juga berhenti.”

Petugas menghela napas.

“Kamu lari karena mengambil barang orang.”

“Iya.”

“Orang yang mengejar kamu juga ada.”

“Yang ini bukan mereka.”

“Kamu lihat wajahnya?”

Laki-laki itu menggeleng.

“Enggak punya wajah?”

“Bukan.”

“Terus?”

Ia menelan ludah.

“Dia enggak pernah angkat kepala.”

Petugas membawanya ke pos.

Kereta ditahan sementara. Penumpang mulai mengeluh. Beberapa orang membicarakan pengakuannya. Cerita itu berpindah dari satu mulut ke mulut lain bahkan sebelum petugas selesai memeriksa barang-barang yang ditemukan.

Ada yang mengatakan laki-laki itu melihat bayangan.

Ada yang mengatakan ia dikejar orang tanpa wajah.

Ada pula yang mengatakan seseorang masuk sesudahnya, tetapi tidak tercatat oleh kamera.

Perempuan berjas hujan kuning masih berdiri di peron.

“Adik saya ke mana?” katanya pelan.

Yabui membantunya menuju pos keamanan.

Petugas memeriksa rekaman kamera.

Pada layar pertama, terlihat Reza berjalan menuju gerbang. Perempuan berjas hujan kuning berada beberapa langkah di belakangnya.

Sebelum masuk, Reza menerima telepon.

Ia berhenti.

Kerumunan menutupinya selama beberapa detik.

Ketika terlihat lagi, ia telah berjalan kembali ke arah jalan raya.

“Dia enggak masuk,” kata petugas.

Perempuan itu menatap layar.

“Tapi saya lihat jaketnya.”

Petugas memutar rekaman dari sudut lain.

Laki-laki yang tadi tertangkap muncul dari sisi kanan. Jaketnya hampir sama dengan milik Reza. Ia menyelip di antara penumpang dan melewati gerbang menggunakan kartu milik orang lain.

“Itu yang Ibu lihat,” kata petugas.

Reza ditemukan tidak lama kemudian di sebuah kios fotokopi. Teleponnya mati setelah ia menerima panggilan dari kantor. Ia tidak menyadari kakaknya telah masuk ke stasiun tanpa dirinya.

Perempuan berjas hujan kuning menangis ketika melihat adiknya datang.

Kasus itu tampak selesai.

Kesalahan penglihatan perempuan tersebut dijelaskan oleh jaket yang serupa.

Pelarian laki-laki berjaket abu-abu dijelaskan oleh barang-barang milik penumpang yang ditemukan di sakunya.

Bunyi gerbang setelah Yabui masuk mungkin berasal dari kartu penumpang lain.

Bayangan dalam kaca mungkin hanya pantulan orang di belakangnya.

Petugas mulai menyusun laporan.

Yabui hendak meninggalkan pos ketika operator kamera memanggil petugas lain.

“Coba lihat ini.”

Rekaman gerbang diputar kembali.

Laki-laki berjaket abu-abu terlihat masuk pada pukul 18.51.

Setelah ia lewat, palang menutup.

Dua detik kemudian, lampu indikator menyala hijau.

Tit.

Palang terbuka lagi.

Tidak terlihat kartu ditempelkan.

Tidak terlihat siapa pun berdiri di depan gerbang.

“Sensor,” kata petugas.

Operator memajukan rekaman perlahan.

Di lantai, muncul sebuah bayangan panjang.

Bayangan itu bergerak melewati garis gerbang.

Tidak ada tubuh yang menghasilkannya.

Petugas memperbesar gambar.

Bayangan itu menyerupai seseorang yang berjalan dengan kepala menunduk.

“Dari orang di luar kamera,” kata petugas.

“Cahayanya dari mana?”

Petugas tidak menjawab.

Rekaman dari kamera lain dibuka.

Dari sudut itu, gerbang tampak kosong.

Namun, tepat ketika palang terbuka, genangan air di lantai berubah bentuk. Seperti baru saja diinjak seseorang.

Satu jejak.

Lalu satu lagi.

Jejak itu bergerak menuju tangga.

Operator mengganti rekaman.

Di lorong menuju peron, tidak ada siapa pun.

Hanya jejak air yang muncul satu demi satu di lantai.

Berhenti.

Muncul lagi.

Berhenti.

Seolah seseorang berjalan mengikuti laki-laki berjaket abu-abu dengan jarak beberapa langkah.

“Matikan,” kata petugas.

Operator menutup rekaman.

Tidak ada seorang pun yang membahasnya lagi.

Yabui kembali ke peron.

Kereta pengganti telah menunggu. Penumpang naik dengan tergesa-gesa karena takut keberangkatan kembali tertunda.

Yabui memasuki gerbong hampir terakhir.

Sebelum pintu menutup, terdengar bunyi dari arah gerbang jauh di belakang.

See also  Ketukan yang Berpindah

Tit.

Yabui menoleh.

Dari tempatnya berdiri, gerbang hanya terlihat sebagai deretan cahaya hijau dan merah.

Pintu kereta mengeluarkan bunyi peringatan.

Seorang laki-laki berjaket basah berlari dari tangga.

Ia masuk tepat sebelum pintu menutup.

Tidak ada yang memprotes.

Laki-laki itu berdiri dekat sambungan antar-gerbong. Tubuhnya membelakangi Yabui. Air menetes dari ujung jaketnya.

Yabui memperhatikannya.

Lantai di bawah sepatu laki-laki itu tetap kering.

Kereta berangkat.

Di stasiun berikutnya, beberapa penumpang turun.

Laki-laki berjaket basah tidak bergerak.

Di stasiun setelahnya, gerbong mulai lengang. Ia masih berdiri di tempat yang sama.

Kepalanya menunduk.

Yabui melihat pantulan gerbong pada kaca pintu.

Kursi.

Tiang.

Penumpang yang tertidur.

Tubuh Yabui sendiri.

Namun tidak ada pantulan laki-laki berjaket basah.

Yabui mengalihkan pandangan.

Ia mengeluarkan gambar pemberian Saka.

Dua garis tegak. Satu pintu. Seorang anak kecil berdiri di depannya.

Bayangan panjang di belakang anak itu kini menyentuh kakinya.

Yabui yakin sebelumnya ada jarak di antara keduanya.

Ia membalik kertas.

Di sisi belakang terdapat tulisan pensil:

Kalau dia sudah ikut masuk, jangan biarkan dia tahu kita melihatnya.

Yabui mengangkat kepala.

Laki-laki berjaket basah masih berdiri membelakangi.

Kereta melaju melalui malam. Cahaya kota bergerak cepat di luar jendela.

Satu per satu penumpang turun.

Gerbong semakin kosong.

Yabui berpindah tempat duduk, menjauh dari sambungan antar-gerbong.

Laki-laki itu tidak bergerak.

Ketika kereta berhenti cukup lama di sebuah stasiun, Yabui melihat seorang petugas berjalan melewati pintu. Ia hampir memanggil, tetapi laki-laki berjaket basah sedikit mengangkat kepala.

Yabui berhenti.

Pintu menutup kembali.

Kereta melanjutkan perjalanan.

Di kaca, pantulan laki-laki itu masih tidak ada.

Namun, di belakang pantulan Yabui, muncul bayangan gelap yang semakin dekat.

Yabui tidak menoleh.

Ia memusatkan perhatian pada suara roda, getaran lantai, dan tarikan napasnya sendiri.

Stasiun demi stasiun terlewati.

Menjelang akhir perjalanan, gerbong kosong.

Hanya Yabui dan laki-laki berjaket basah.

Pintu terbuka.

Yabui berdiri dan berjalan keluar.

Laki-laki itu tidak ikut.

Yabui berhenti di peron, tetapi tidak menoleh.

Pintu mengeluarkan bunyi peringatan.

Tepat sebelum menutup, suara laki-laki itu terdengar dari dalam gerbong.

“Bogor sudah lewat?”

Yabui menahan napas.

Pintu menutup.

Kereta bergerak.

Baru setelah gerbong terakhir menghilang, Yabui menoleh ke arah rel.

Di lantai peron, terdapat jejak air.

Jejak itu bermula dari pintu tempat Yabui turun.

Berjalan beberapa langkah.

Lalu berhenti tepat di belakangnya.

Yabui tidak bergerak.

Dari pengeras suara, terdengar pengumuman yang terpotong oleh gema.

Kereta terakhir dari Bogor telah tiba.

Kereta terakhir dari Bogor telah berangkat.

Yabui menunduk dan membuka gambar Saka sekali lagi.

Anak kecil di depan pintu telah hilang.

Yang tersisa hanya bayangan panjang.

Di bagian bawah kertas muncul satu kalimat yang tidak pernah ditulis Saka di kedai:

Sekarang dia bukan orang terakhir lagi.

Keesokan harinya, beredar video pendek dari Stasiun Bogor.

Video itu hanya menampilkan gerbang yang terbuka sendiri setelah penumpang terakhir masuk. Tidak ada bayangan. Tidak ada jejak air. Tidak terdengar pengakuan laki-laki berjaket abu-abu.

Dalam beberapa hari, cerita tentang barang-barang yang diambilnya menghilang.

Nama Reza juga hilang.

Yang tersisa adalah kabar bahwa setelah penumpang terakhir melewati gerbang Stasiun Bogor, seseorang akan masuk di belakangnya.

Ia akan berdiri di dalam kereta dengan jaket basah.

Ia tidak memiliki pantulan.

Ia tidak pernah tahu bahwa Bogor telah dilewati.

Dan bila ia bertanya, jangan pernah menjawab.

Sebab orang yang menjawab akan turun lebih dahulu.

Namun bukan sebagai penumpang terakhir.