Dari Cerita Anak Menuju Imajinasi Populer

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Pada 3 Agustus 2026, saya mempertahankan disertasi berjudul “Imajinasi Populer: Proses Imajinasi Penulis Anak” dalam ujian terbuka Program Doktor Linguistik Terapan di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Di ruang sidang itu, perjalanan akademik selama beberapa tahun dipertemukan dengan pertanyaan para penguji. Seluruh data, konsep, model, dan batas teori harus kembali dijelaskan dari dasar empirisnya. Ujian terbuka menjadi ruang pertanggungjawaban atas gagasan yang saya rumuskan sebagai Imajinasi Populer atau IPOP. Dari Cerita Anak Menuju Imajinasi Populer Kegelisahan dari Cerita Anak Penelitian ini berawal dari pembacaan terhadap cerita-cerita yang ditulis anak. Ceritanya beragam, tetapi sejumlah pola terus muncul. Tokoh bergerak melalui peran…

Pasar Minggu Baru: Tas ASI yang Pulang Lebih Dulu

  • Post published:
  • Reading time:13 mins read

Alya menggambar seorang perempuan berlari sambil membawa dua tas. Tas pertama berwarna hitam dan tergantung di bahu. Tas kedua berbentuk kotak, berwarna biru muda, dan dipeluk di depan dada. Di belakang perempuan itu, sebuah kereta telah membuka pintu. “Dia terlambat?” tanya Yabui. Alya mengangguk tanpa mengangkat wajah. Pensil birunya terus bergerak, menebalkan tali pada tas kotak. Pertemuan menulis sore itu diadakan di sebuah ruang belajar dekat Pasar Minggu. Anak-anak duduk mengelilingi meja panjang, menulis tentang perjalanan pulang. Ada yang memilih angkot, sepeda motor, bus kota, dan kereta. Alya satu-satunya yang tidak menggambar rumah sebagai tujuan. Di halaman berikutnya, perempuan yang…

Kampung Bandan: Jam yang Menghitung Penumpang

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Raka menggambar jam lebih besar daripada stasiunnya. Atap peron hanya berupa dua garis miring. Kereta digambar seperti kotak panjang dengan jendela-jendela hitam. Orang-orang di bawahnya kecil dan rapat, sedangkan jam bundar memenuhi hampir separuh halaman. “Jarumnya cuma satu?” tanya Yabui. Raka mengangguk. Pertemuan menulis sore itu hampir selesai. Anak-anak lain mulai memasukkan pensil dan kertas ke dalam tas. Dari halaman rumah belajar terdengar suara orang tua memanggil nama anak masing-masing, bersahutan dengan deru kendaraan dari jalan. Yabui menggeser gambar itu mendekat. Jarum tunggal pada jam mengarah ke bawah, tepat pada seorang anak yang berdiri sendirian di antara kerumunan. “Jam apa…

Bogor: Orang Terakhir yang Masuk

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Saka menggambar sebuah pintu. Dua garis tegak. Satu garis mendatar di atasnya. Di depan pintu itu berdiri seorang anak kecil dengan tas sekolah. Di belakang anak tersebut, Saka menggambar satu bayangan panjang. Yabui mengamati gambar itu cukup lama. “Bayangan siapa?” Saka tidak langsung menjawab. Ia masih menekan ujung pensil pada kertas, mempergelap bagian kaki anak itu. Mereka duduk di sebuah kedai roti tidak jauh dari Stasiun Bogor. Dari jendela, gerbang masuk stasiun terlihat dipenuhi payung. Hujan turun sejak sore, membuat jalanan berkilat oleh lampu kendaraan dan papan iklan. “Bayangannya punya anak itu?” tanya Yabui lagi. “Bukan.” “Punya siapa?” “Orang yang…

End of content

No more pages to load