Stasiun Universitas Indonesia: Nama yang Tidak Dipanggil

Kereta meninggalkan Pondok Cina ketika sebagian penumpang sudah berdiri dekat pintu.

Yabui menyelipkan ponsel ke saku. Tas hitam tetap menggantung pada satu bahu. Di hadapannya, tujuh mahasiswa berdiri berdekatan sambil mengenakan tali identitas berwarna kuning. Mereka membawa map, botol minum, dan kantong-kantong kecil berisi perlengkapan kegiatan kampus.

Seorang perempuan berkacamata menghitung mereka dengan telunjuk.

“Rani.”

“Hadir.”

“Dito.”

“Hadir.”

“Nala.”

“Hadir.”

Nama-nama dipanggil di antara bunyi roda dan percakapan penumpang. Setiap orang menjawab sambil mengangkat tangan. Beberapa tertawa ketika salah satu dari mereka menjawab terlalu keras.

Di luar lingkaran kecil itu, seorang mahasiswa berdiri sendirian.

Ia mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan tanda pengenal dengan tali kuning yang sama. Namun, bagian nama pada kartunya kosong. Hanya ada logo kegiatan dan tulisan Kelompok Delapan.

Mahasiswa itu beberapa kali membuka mulut ketika sebuah nama disebut, lalu mengurungkan niatnya.

Perempuan berkacamata selesai menghitung.

“Lengkap, tujuh orang.”

Mahasiswa yang berdiri sendirian menoleh.

“Bukannya delapan?”

Perempuan itu melihat kertas di tangannya.

“Di daftar cuma tujuh.”

“Saya kelompok delapan juga.”

“Nama kamu siapa?”

“Bayu.”

Perempuan itu mencari dari baris paling atas sampai bawah.

“Belum masuk daftar, kali.”

“Dari kemarin juga belum.”

“Nanti di lokasi bilang ke panitia.”

Bayu mengangguk. Tidak ada yang menambahkan namanya. Tidak ada pula yang menggeser tubuh untuk memberinya tempat di dalam lingkaran.

Suara pengumuman terdengar.

“Stasiun berikutnya, Universitas Indonesia.”

Rombongan itu segera bersiap. Map dimasukkan ke tas. Botol minum dirapatkan. Seorang mahasiswa mengingatkan yang lain agar tidak tertinggal karena mereka harus berkumpul di gerbang kampus sebelum pukul tujuh.

Bayu merogoh saku celana.

“Ponsel saya dititip siapa tadi?”

Seorang mahasiswa bernama Dito menepuk tasnya.

“Ada di saya. Nanti pas turun.”

“Dompet juga?”

“Kayaknya sama Nala.”

Nala sudah bergerak mendekati pintu.

Kereta mulai mengurangi kecepatan.

Dari jendela, lampu peron Stasiun Universitas Indonesia muncul di antara tiang dan pepohonan gelap. Penumpang yang hendak turun merapat. Penumpang di peron berdiri menunggu di kedua sisi pintu.

Bayu mencoba bergerak mendekati kelompoknya, tetapi seorang lelaki dengan koper besar masuk di depannya. Tubuh-tubuh saling bergeser ketika pintu terbuka.

Rani turun lebih dahulu.

Dito menyusul.

Nala ikut keluar bersama yang lain.

Bayu tertahan di belakang koper.

“Sebentar,” katanya.

Tidak ada yang menoleh.

Ia mengangkat tangan, mencoba mencari ruang. Seorang penumpang dari peron justru masuk dan berdiri tepat di depannya.

Bel pintu berbunyi.

Bayu melihat kelompoknya sudah berada beberapa langkah dari kereta.

“Dito!”

Dito terus berjalan sambil berbicara dengan Rani.

“Ponsel saya!”

Pintu menutup.

Bayu memukul kaca satu kali. Tidak keras, tetapi cukup membuat Rani menoleh.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Rani menunjuk ke arah depan, mungkin menyuruhnya turun di stasiun berikutnya lalu kembali.

Kereta bergerak.

Bayu masih berdiri di depan pintu ketika peron Universitas Indonesia perlahan meninggalkannya.

Yabui bergeser mendekat.

“Nanti turun di Lenteng Agung, pindah ke arah Bogor.”

Bayu tidak menjawab.

Ia menatap kaca yang kini hanya memantulkan wajahnya sendiri.

“Mas dengar?”

“Saya dengar.”

“Tidak jauh. Tinggal kembali satu stasiun.”

Bayu mengangguk, tetapi tidak bergerak dari pintu.

Gerbong mulai lengang. Sebagian besar mahasiswa telah turun di Universitas Indonesia. Bangku yang sebelumnya penuh kini menyisakan beberapa tempat kosong.

Yabui duduk. Bayu tetap berdiri.

“Kamu baru masuk kuliah?” tanya Yabui.

“Semester tiga.”

“Kegiatan apa?”

“Pelatihan pendamping mahasiswa baru.”

“Kamu panitianya?”

“Harusnya.”

Bayu meraba bagian kosong pada tanda pengenalnya.

“Harusnya bagaimana?”

“Nama saya belum dicetak.”

“Karena baru bergabung?”

“Dari awal saya ikut.”

“Sudah berapa hari?”

“Tiga minggu.”

Yabui memperhatikan tali kuning yang dikenakan Bayu. Warnanya sama dengan milik teman-temannya. Bajunya juga sama. Hanya namanya yang tidak ada.

“Sudah bilang ke koordinator?”

“Sudah.”

“Apa jawabannya?”

“Besok dibuat.”

“Besok terus?”

Bayu tersenyum kecil.

“Iya.”

Kereta melaju melewati sisi kampus yang gelap. Cahaya dalam gerbong memantul di jendela, membuat pemandangan luar tampak samar.

Bayu akhirnya duduk di seberang Yabui.

Ia memeriksa seluruh sakunya.

See also  Orang Sebelah Gang Mayong

“Tidak bawa uang?”

“Dompet di Nala.”

“Ponsel di Dito?”

Bayu mengangguk.

“Biasa menitip?”

“Tadi disuruh kumpulkan. Katanya biar fokus selama kegiatan.”

“Jadi sekarang kamu tidak bisa menghubungi mereka.”

Bayu kembali melihat jendela.

“Mereka juga tidak akan menghubungi.”

“Kenapa?”

“Ponsel saya di mereka.”

Jawabannya sederhana, tetapi nadanya terasa seperti kalimat yang sudah terlalu sering dipikirkan.

Kereta mulai melambat menjelang Lenteng Agung.

Beberapa penumpang berdiri. Bayu ikut bangkit, lalu berhenti ketika pengeras suara berbunyi.

Suara yang keluar berbeda dari pengumuman biasa.

“Penumpang bernama Bayu belum terdaftar.”

Bayu membeku.

Yabui menoleh ke atas.

Penumpang lain tidak menunjukkan reaksi. Seorang ibu tetap merapikan tas belanja. Seorang lelaki masih menatap layar ponsel. Dua siswa sekolah bercakap di dekat pintu.

“Mas dengar?” tanya Bayu.

“Dengar apa?”

“Nama saya.”

Yabui menggeleng.

Pintu terbuka.

Papan stasiun di luar bertuliskan Lenteng Agung.

“Ayo turun,” kata Yabui.

Bayu berdiri di depan pintu, tetapi kakinya tidak bergerak.

“Kenapa?”

“Nama saya belum dipanggil.”

“Tadi katanya dipanggil.”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Bayu menatap orang-orang yang turun.

“Kalau nama saya dipanggil dari luar, berarti ada yang mencari.”

Bel pintu berbunyi.

Yabui menahan daun pintu dengan satu tangan.

“Kita bisa turun sekarang, lalu kembali ke UI.”

Bayu mundur.

“Mas saja.”

Pintu menutup.

Yabui melepaskan tangannya sebelum terjepit.

Kereta bergerak menuju Tanjung Barat.

“Kamu sengaja tidak turun?”

Bayu duduk kembali.

Ia menatap lantai.

“Waktu di UI tadi, saya bisa mendorong sedikit. Bisa keluar.”

“Lalu?”

“Saya mau lihat mereka sadar atau tidak.”

“Teman-temanmu?”

Bayu mengangguk.

“Saya pikir ada yang berhenti. Ada yang balik ke pintu. Ada yang cari petugas.”

“Rani sempat menoleh.”

“Karena saya pukul kaca.”

“Dia juga memberi isyarat supaya kamu kembali.”

“Karena lebih mudah menyuruh saya kembali.”

Nada suaranya tetap datar, tetapi kedua tangannya mulai gemetar.

Yabui duduk di sampingnya.

“Kamu sering merasa ditinggalkan kelompok?”

Bayu mengangkat bahu.

“Saya selalu ada.”

“Justru itu.”

Bayu memandangnya.

“Saya datang paling pagi. Saya pegang gudang. Saya bawa perlengkapan. Kalau ada yang sakit, saya ganti. Kalau grup butuh desain, saya kerjakan.”

“Namamu tetap tidak ada?”

“Di daftar tidak ada. Di susunan panitia tidak ada. Di foto juga kadang dipotong.”

Ia membuka kartu identitas kosong dari lehernya.

“Ini dibuat karena saya minta sendiri.”

“Siapa yang mencetak?”

“Tempat fotokopi.”

“Panitia tidak tahu?”

“Mereka pikir dari panitia lain.”

Kereta masuk Tanjung Barat.

Bayu kembali mendengar pengumuman.

“Penumpang tanpa nama tidak diperkenankan turun.”

Kali ini ia menutup kedua telinga.

Pintu terbuka.

Yabui berdiri.

“Kita turun di sini.”

Bayu tidak bangkit.

“Dengar, kamu lapar?”

Bayu mengangguk pelan.

“Punya obat atau kebutuhan lain?”

“Tidak.”

“Kamu lelah?”

Bayu mengangguk lagi.

“Berarti yang kita lakukan sekarang sederhana. Turun, beli minum, cari petugas, lalu kembali.”

Bayu menatap pintu yang terbuka.

Di peron, seorang perempuan berjaket almamater berdiri membelakangi mereka.

Rambutnya seperti Rani.

“Rani,” panggil Bayu.

Perempuan itu berbalik.

Bukan Rani.

Bayu kembali duduk.

Pintu menutup.

Kereta bergerak.

“Kenapa tidak turun?” tanya Yabui.

“Bukan mereka.”

“Memang bukan. Kita tidak perlu menunggu mereka.”

Bayu menatap tanda pengenalnya.

“Kalau saya kembali sendiri, mereka tinggal bilang saya salah.”

“Salah apa?”

“Tidak ikut rombongan. Tidak mendengar arahan. Tidak koordinasi.”

“Padahal ponsel dan dompetmu mereka bawa.”

“Mereka bisa lupa.”

“Kamu?”

Bayu meremas kartu kosong itu.

“Saya tidak boleh lupa.”

Kereta kini lebih sepi. Beberapa bangku kosong. Di bagian ujung, seorang petugas kebersihan memeriksa lantai.

Yabui mendekati petugas.

“Pak, boleh pinjam telepon untuk menghubungi stasiun UI?”

Petugas itu meminta mereka menunggu sampai Pasar Minggu. Di sana ada petugas keamanan yang dapat membantu.

Bayu tampak semakin gelisah.

“Kenapa sampai Pasar Minggu?”

“Karena petugasnya ada di peron depan.”

“Kita makin jauh.”

“Makanya kita harus turun.”

Bayu melihat peta rute di atas pintu. Universitas Indonesia semakin jauh di belakang.

Ia mulai bernapas pendek-pendek.

“Bayu.”

Tidak ada jawaban.

“Lihat saya.”

Bayu menatap Yabui.

See also  Penumpang Misterius di Stasiun Cawang

“Tarik napas pelan.”

“Saya harus kembali.”

“Iya.”

“Mereka bisa selesai sebelum saya sampai.”

“Kegiatan itu bukan hal paling penting sekarang.”

“Mereka akan foto kelompok.”

“Nanti kamu menyusul.”

“Kalau saya tidak ada, jumlahnya tetap lengkap.”

Yabui terdiam.

Kalimat itu tidak terdengar sebagai keluhan sesaat. Ia seperti simpulan yang sudah lama tumbuh.

“Kenapa jumlahnya tetap lengkap?”

“Karena dari awal mereka menghitung tujuh.”

Kereta memasuki Pasar Minggu.

Yabui berdiri di depan pintu bersama Bayu.

Kali ini ia memegang lengan pemuda itu.

“Turun.”

Pintu terbuka.

Di luar, suara seseorang memanggil.

“Bayu!”

Bayu mengangkat kepala.

Di ujung peron berdiri Rani, Dito, Nala, dan anggota kelompok lainnya. Mereka mengenakan tali kuning. Dito memegang ponsel Bayu. Nala membawa dompetnya.

“Kami cari dari tadi!” teriak Rani.

Wajah Bayu berubah.

Ia melangkah keluar.

Yabui menahannya.

Bayu menoleh tajam.

“Mereka datang.”

Yabui menunjuk papan nama stasiun.

Tulisan yang terpasang di dinding bukan Pasar Minggu.

Universitas Indonesia.

Yabui berkedip.

Papan itu tetap sama.

Peron di luar terlihat seperti Stasiun Universitas Indonesia. Tiang, atap, papan arah, bahkan kelompok mahasiswa di ujung peron berada dalam posisi yang sama seperti ketika mereka pertama kali tiba.

“Bayu,” panggil Rani lagi.

Bayu mencoba melepaskan tangan Yabui.

“Mereka cari saya.”

Yabui melihat wajah-wajah di peron.

Rani tersenyum.

Dito mengangkat ponsel.

Nala membuka dompet Bayu.

Namun, tidak ada penumpang lain yang turun. Orang-orang di dalam kereta hanya duduk diam. Seolah pintu tidak pernah terbuka.

“Coba tanya sesuatu,” kata Yabui.

“Apa?”

“Tanya nama lengkapmu.”

Bayu menatap Rani.

“Nama lengkap saya siapa?”

Rani berhenti tersenyum.

Suasana peron seketika sunyi.

Dito menurunkan ponsel.

Nala menutup dompet.

“Bayu,” kata Rani.

“Bayu siapa?”

Tidak ada jawaban.

“Nama lengkap saya siapa?”

Wajah mereka perlahan kehilangan bentuk. Bukan berubah menjadi sosok menyeramkan, melainkan menjadi kabur seperti foto yang gagal memusatkan objek.

Bayu mundur.

Pintu menutup.

Ketika kereta bergerak, papan stasiun kembali terbaca jelas.

Pasar Minggu.

Bayu jatuh duduk.

Yabui ikut duduk di sampingnya.

“Apa tadi?”

“Saya tidak tahu.”

“Mereka bukan teman saya.”

“Mungkin bukan.”

“Tapi mereka memanggil nama saya.”

“Mereka hanya memanggil nama yang paling ingin kamu dengar.”

Bayu menutup wajah.

Untuk pertama kalinya ia menangis.

Tangisnya tidak keras. Bahunya hanya bergerak kecil, seolah ia masih takut mengganggu penumpang lain.

Yabui menunggu.

Setelah napas Bayu lebih teratur, mereka berjalan menuju ujung gerbong. Namun, petugas kebersihan yang tadi terlihat sudah tidak ada. Penumpang lain juga berkurang tanpa Yabui menyadari kapan mereka turun.

Kereta terus bergerak.

Papan informasi di atas pintu padam.

Tidak ada pengumuman stasiun berikutnya.

Yabui melihat jam tangannya.

Pukul 19.12.

Beberapa menit kemudian, ia melihat lagi.

Masih 19.12.

“Jam Mas berhenti?” tanya Bayu.

Yabui mengetuk permukaan jam.

Jarum detiknya bergerak, tetapi kembali ke posisi semula setelah satu putaran.

Bayu mengeluarkan kartu identitas kosongnya.

Permukaan kartu itu kini menampilkan satu baris tulisan yang sebelumnya tidak ada.

BAYU — STATUS: TIDAK HADIR

Bayu menjatuhkannya.

Yabui mengambil kartu tersebut.

Tulisan itu perlahan memudar.

“Siapa nama lengkapmu?” tanya Yabui.

“Bayu Pradana.”

“Fakultas?”

“Ilmu Komputer.”

“Angkatan?”

“Dua ribu dua puluh lima.”

“Nama ibu?”

Bayu menyebutnya.

“Nama ayah?”

Bayu menjawab.

“Alamat?”

Bayu mulai menyebutkan nama jalan, nomor rumah, dan warna pagar.

“Kenapa Mas tanya begitu?”

“Supaya kamu ingat bahwa namamu tidak dimulai dari daftar panitia.”

Bayu terdiam.

“Kelompok itu hanya satu bagian hidupmu. Mereka tidak menentukan apakah kamu ada.”

“Tapi saya butuh mereka.”

“Untuk apa?”

Bayu hendak menjawab cepat, lalu berhenti.

“Teman.”

“Kamu merasa punya teman di sana?”

“Saya ingin punya.”

Jawaban itu lebih jujur daripada semua kalimat sebelumnya.

Yabui mengembalikan kartu kosong.

“Yang kamu butuhkan bukan sekadar namamu dicetak. Kamu ingin mereka sadar saat kamu tidak ada.”

Bayu memandang kursi kosong di depannya.

“Apakah itu salah?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa rasanya memalukan?”

“Karena kamu terlalu lama berpura-pura bahwa membantu mereka sudah cukup.”

Bayu memegang kartu identitas itu dengan kedua tangan.

See also  Cilebut: Rumah yang Mengikuti Kereta

Dari pengeras suara terdengar suara baru.

Kali ini bukan pengumuman stasiun.

Suara Rani.

“Bayu, kamu di mana?”

Bayu berdiri.

Suara itu berlanjut.

“Kami cari kamu. Jawab, Yu.”

Ia melihat Yabui.

“Ini asli?”

Yabui tidak menjawab.

Suara Dito terdengar.

“Ponsel sama dompetmu ada di kami. Maaf, tadi kami kira kamu sudah turun.”

Kemudian suara Nala.

“Bayu Pradana, jawab.”

Bayu menahan napas.

Nama lengkapnya dipanggil.

Pintu kereta terbuka.

Di luar bukan peron.

Sebuah ruang sempit terlihat di balik pintu. Dindingnya putih. Lampu neon menyala terang. Dua petugas berdiri di sana bersama seorang perempuan berjaket almamater.

Rani.

Kali ini wajahnya jelas.

Ia menangis.

“Bayu?”

Bayu tidak segera turun.

“Nama lengkap saya siapa?”

Rani mengusap wajah.

“Bayu Pradana.”

“Kelompok?”

“Delapan.”

“Jumlah anggota?”

Rani terdiam sebentar.

“Delapan.”

Bayu melihat Yabui.

Yabui melepaskan pegangannya.

Bayu melangkah keluar.

Begitu kedua kakinya menyentuh lantai, cahaya di dalam gerbong padam.

Yabui mengikuti.

Ia baru menyadari bahwa mereka tidak berada di peron.

Mereka berada di dalam kereta yang sudah masuk jalur penyimpanan dekat Universitas Indonesia. Kereta itu kosong. Lampu beberapa gerbong dimatikan. Pintu tempat mereka keluar dibuka secara manual oleh petugas.

“Bapak siapa?” tanya salah satu petugas kepada Yabui.

“Tadi ikut dari Pondok Cina.”

Petugas menatapnya heran.

“Kereta ini tidak bergerak ke mana-mana.”

“Apa?”

“Setelah sampai UI, rangkaian ditarik ke jalur penyimpanan karena ada gangguan pintu. Penumpang sudah diturunkan.”

Yabui menoleh ke arah Bayu.

Pemuda itu duduk di lantai sambil diperiksa petugas medis.

“Berapa lama kami di dalam?”

“Hampir empat puluh menit.”

Yabui melihat jam.

Pukul 19.13.

Hanya satu menit berlalu sejak terakhir kali ia memeriksanya.

Rani duduk di depan Bayu.

“Kenapa tidak turun?”

Bayu menatapnya lama.

“Saya mau tahu kalian sadar atau tidak.”

Rani menunduk.

“Kami baru sadar setelah menghitung lagi.”

“Jumlahnya tetap tujuh?”

Rani mengangguk.

“Kami pikir lengkap.”

Bayu tersenyum tipis. Bukan karena lucu.

Dito menyerahkan ponsel dan dompetnya.

“Maaf.”

Nala mengeluarkan selembar tanda pengenal baru dari dalam map.

Nama Bayu sudah tercetak.

BAYU PRADANA — KELOMPOK DELAPAN

“Kami sempat cetak di kampus,” katanya. “Mau dikasih tadi.”

Bayu menerima kartu itu, tetapi tidak langsung memasangnya.

Yang menarik bukan hanya bahwa namanya akhirnya tercetak. Selama hampir satu bulan, ia mengira kartu tersebut akan menyelesaikan semuanya. Kini, ketika benda itu berada di tangannya, Bayu justru melihat bahwa pengakuan tidak lahir dari tinta dan plastik.

Ia lahir ketika seseorang menyadari ada satu kursi kosong.

Beberapa hari kemudian, Yabui kembali melewati Stasiun Universitas Indonesia.

Di dalam kereta, sekelompok mahasiswa berdiri dekat pintu. Sebelum turun, salah satu dari mereka memanggil nama teman-temannya satu per satu.

Tujuh orang menjawab.

Pemanggil nama itu menghitung lagi.

“Kok tujuh?”

Seorang mahasiswa di belakangnya mengangkat tangan.

“Gue belum dipanggil.”

“Oh iya. Bayu.”

“Hadir.”

Mereka tertawa, lalu turun bersama.

Yabui melihat Bayu berdiri paling belakang. Kartu namanya kini terpasang di dada. Namun, sebelum keluar, ia menoleh ke seluruh gerbong.

Ada seorang mahasiswi duduk sendirian di sudut, memegang tanda pengenal kosong.

Bayu tidak langsung turun.

Ia berjalan mendekati mahasiswi tersebut.

“Kamu kelompok berapa?”

Pintu hampir menutup.

Bayu menahannya, memanggil teman-temannya, lalu membawa mahasiswi itu keluar bersama mereka.

Cerita tentang Bayu kemudian beredar di kalangan mahasiswa.

Katanya, siapa pun yang turun di Stasiun Universitas Indonesia tanpa dipanggil namanya akan tertinggal di dalam kereta, meskipun tubuhnya sudah berada di peron.

Ada yang menganggapnya candaan anak organisasi.

Ada pula yang mulai memanggil satu sama lain sebelum pintu terbuka.

Bukan karena mereka takut keretanya berpindah ke jalur yang salah.

Mereka takut suatu hari jumlah kelompok tetap terasa lengkap, padahal seseorang sudah lama tidak dianggap ada.

Sejak itu, Yabui memahami bahwa orang tidak selalu tersesat karena kehilangan tujuan.

Sebagian tersesat karena terlalu lama hadir tanpa pernah dicari.

Selesai