Masalah Skripsimu Sudah Terlihat? Coba Telusuri Masa Lalu dan Uji dengan Teori

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Riset
  • Reading time:15 mins read

Seorang mahasiswa PGSD menemukan berita tentang kegiatan literasi di sekolah dasar. Ia juga membaca beberapa penelitian mengenai kesulitan siswa dalam menulis cerita. Setelah menelusuri lebih jauh, ia tertarik pada satu kemungkinan: pengalaman pribadi siswa dapat digunakan sebagai sumber ide untuk menulis kreatif.

Bahan latar belakangnya mulai terkumpul.

Namun, ketika menemui dosen pembimbing, muncul pertanyaan yang membuatnya berpikir lagi.

“Kesulitan menulis cerita itu baru terjadi sekarang, atau memang sudah lama?”

Mahasiswa tersebut belum mempunyai jawabannya.

Pertanyaan berikutnya bahkan lebih sulit.

“Kalau menurut teori, bagaimana seharusnya anak belajar menulis cerita?”

Ia kembali membuka laptop. Kali ini bukan untuk mencari judul skripsi, melainkan mencari hubungan antara sesuatu yang terjadi, sesuatu yang pernah terjadi, dan sesuatu yang secara teoretis diharapkan terjadi.

Pada dua artikel sebelumnya, kita sudah menggunakan Publish or Perish dan VOSviewer untuk menemukan calon topik. Kita juga menggunakan Google News, ChatGPT, dan Lens.org untuk menggali pemahaman umum, fakta sosial, serta fakta pendidikan.

Sekarang kita akan melanjutkan pekerjaan tersebut melalui tiga langkah: menelusuri fenomena terdahulu, mencari teori yang dapat diterapkan untuk membaca persoalan, dan membandingkan kondisi nyata dengan kondisi yang diharapkan menurut teori.

Jangan langsung membuat paragraf latar belakang. Kita masih mempunyai beberapa hal yang harus diperiksa.

1. Mengapa fenomena terdahulu perlu ditelusuri?

Bayangkan seorang siswa kelas V mengalami kesulitan mengembangkan cerita dari pengalaman pribadinya.

Ia mampu menceritakan perjalanan bersama keluarganya secara lisan. Namun, ketika diminta menulis, hasilnya hanya tiga kalimat.

Kondisi tersebut mungkin menarik untuk diteliti. Tetapi apakah kesulitan seperti itu merupakan persoalan yang baru muncul?

Bisa jadi penelitian sepuluh tahun lalu sudah membahas kesulitan mengembangkan ide, menyusun urutan peristiwa, dan mengorganisasi cerita pada siswa SD.

Kalau begitu, apakah penelitian kita masih diperlukan?

Belum tentu jawabannya tidak.

Masalah yang sudah lama dikenal dapat tetap penting diteliti apabila konteksnya berubah, muncul pendekatan baru, atau masih terdapat bagian persoalan yang belum dapat dijelaskan.

Namun, kita perlu mengetahui sejarah pembahasannya sebelum menyatakan bahwa masalah tersebut baru atau semakin parah.

Itulah fungsi fenomena terdahulu: membantu kita memahami jejak dan perubahan suatu persoalan dari waktu ke waktu.

Perlu dibedakan pula bahwa fenomena terdahulu tidak sama dengan penelitian terdahulu. Fenomena adalah keadaan atau peristiwa yang sedang kita telusuri. Penelitian terdahulu merupakan salah satu sumber yang dapat membantu menjelaskan keadaan tersebut.

Untuk melihat keduanya, kita akan menggunakan berita dan artikel ilmiah secara berpasangan.

2. Menelusuri jejak fenomena melalui Google News

Buka Google News, lalu gunakan kembali kelompok kata kunci dari artikel sebelumnya.

Misalnya:

  • kesulitan menulis cerita siswa SD
  • pembelajaran menulis kreatif sekolah dasar
  • literasi menulis anak Indonesia
  • guru mengajarkan menulis cerita SD

Bedanya, sekarang kita tidak hanya ingin mengetahui apa yang sedang dibicarakan, tetapi juga kapan persoalan tersebut muncul.

Mulailah dengan memilih satu kata kunci, kemudian cari berita dari periode yang lebih lama.

Sebagai contoh, kita dapat membagi penggalian menjadi tiga periode kerja.

PeriodePertanyaan penggalian
2015–2019Persoalan dan praktik pembelajaran menulis apa yang diberitakan?
2020–2022Apakah muncul perubahan konteks pembelajaran yang relevan?
2023–2026Bagaimana persoalan atau praktik tersebut dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir?

Pembagian ini hanya alat bantu, bukan klasifikasi resmi perkembangan pendidikan.

Google News tidak selalu menyediakan arsip lengkap untuk setiap periode. Jika berita lama sulit ditemukan, gunakan Google Search dengan kata kunci, rentang tanggal, dan penelusuran situs berita atau lembaga pendidikan tertentu.

Periksa tanggal terbit, sumber, serta apakah artikel tersebut membicarakan pendidikan dasar.

Jangan menyamakan berita tentang rendahnya kebiasaan membaca dengan bukti rendahnya keterampilan menulis kreatif. Keduanya dapat berhubungan, tetapi tidak identik.

Setelah menemukan beberapa berita, buat catatan kronologis.

TahunPeristiwa atau kondisi yang diberitakanSumberKaitannya dengan topik
2017Diisi setelah menemukan beritaNama media dan tautanApa yang dapat dipelajari?
2021Diisi setelah menemukan beritaNama media dan tautanApakah ada perubahan?
2025Diisi setelah menemukan beritaNama media dan tautanApa yang masih terlihat?

Mengapa tidak langsung meminta ChatGPT membuat kronologi?

Karena kita tidak ingin memperoleh rangkaian peristiwa yang tampaknya masuk akal tetapi tidak mempunyai sumber yang bisa diperiksa.

Kumpulkan dulu berita yang benar-benar ditemukan.

Setelah itu, barulah ChatGPT digunakan untuk membantu membaca polanya.

3. Gunakan ChatGPT untuk membandingkan fenomena lintas waktu

Misalnya, kamu sudah memperoleh enam berita dari periode berbeda. Setiap berita mempunyai tanggal, judul, sumber, dan ringkasan.

Masukkan informasi tersebut ke ChatGPT.

Gunakan prompt berikut:

Saya mahasiswa PGSD yang sedang menelusuri fenomena terdahulu untuk penelitian tentang pemanfaatan pengalaman pribadi siswa dalam pembelajaran menulis kreatif.

Saya sudah mengumpulkan berita dari beberapa tahun berbeda.

Berikut data yang saya miliki:

[Tempelkan tabel berita beserta tahun, sumber, dan ringkasan faktual]

Bantu saya:

  1. Mengelompokkan fenomena yang serupa.
  2. Mengidentifikasi kemungkinan perubahan dari waktu ke waktu.
  3. Membedakan persoalan yang berulang dengan persoalan yang tampak baru.
  4. Menunjukkan informasi yang belum cukup untuk menyimpulkan adanya perubahan.
  5. Merumuskan pertanyaan lanjutan untuk diperiksa melalui penelitian ilmiah.

Gunakan hanya informasi yang saya berikan. Jangan menambahkan peristiwa atau membuat kesimpulan tentang tren nasional jika datanya tidak mencukupi.

Hasilnya mungkin menunjukkan bahwa berbagai berita membicarakan kesulitan menulis dengan penekanan berbeda. Ada yang berkaitan dengan keterampilan dasar, ada yang menyoroti kegiatan literasi, dan ada yang mengangkat pendekatan pembelajaran.

See also  Bingung Pilih Jenis Penelitian? Mulai dari Masalah Skripsimu

Tetapi perbedaan pemberitaan belum tentu menunjukkan perubahan nyata di lapangan.

Misalnya, berita tahun 2017 dari satu sekolah dan berita tahun 2025 dari sekolah lain tidak cukup untuk membuktikan bahwa keterampilan menulis siswa Indonesia mengalami penurunan selama delapan tahun.

Kita hanya mengetahui bahwa dua peristiwa dilaporkan pada waktu dan tempat berbeda.

Di sinilah peneliti harus berhati-hati.

Kronologi berita membantu menemukan kemungkinan pola. Namun, kronologi itu belum otomatis menjadi bukti tren.

Jika ingin menyatakan terjadi peningkatan atau penurunan kemampuan, kita membutuhkan data yang memiliki ukuran dan cakupan yang dapat dibandingkan.

4. Periksa jejak fenomena melalui artikel ilmiah

Sekarang buka Lens.org, lalu masuk ke pencarian karya ilmiah.

Gunakan kata kunci yang sesuai dengan aspek persoalan.

Untuk contoh kita, mulailah dengan:

narrative writing difficulties primary school

Kemudian coba:

creative writing elementary school students

Dan:

personal experience story writing children

Lakukan pencarian secara terpisah agar hasil setiap kelompok konsep tidak bercampur.

Setelah itu, perhatikan tahun publikasi.

Cobalah menelusuri penelitian yang lebih lama terlebih dahulu, lalu bandingkan dengan penelitian yang lebih baru.

Misalnya, kita ingin mengetahui apakah kesulitan siswa dalam mengembangkan cerita sudah dibahas sebelum penggunaan AI generatif menjadi perhatian luas.

Kita dapat membaca artikel lama untuk menemukan bentuk kesulitan dan pendekatan pembelajaran yang telah digunakan. Kemudian membaca artikel yang lebih baru untuk melihat apakah muncul konsep, teknologi, atau persoalan tambahan.

Namun, jangan hanya membandingkan tahun terbit. Baca juga subjek, konteks, metode, dan hasil penelitiannya.

Dua artikel yang sama-sama membahas creative writing mungkin mempunyai fokus berbeda. Satu meneliti kualitas produk tulisan, sedangkan yang lain meneliti pengalaman siswa selama menulis.

Untuk memudahkan pembacaan, gunakan tabel berikut.

ArtikelTahunSubjek dan konteksTemuan yang relevanPertanyaan yang tersisa
Artikel ADiisi dari sumberKelas dan lokasiHasil penelitianApa yang belum dijelaskan?
Artikel BDiisi dari sumberKelas dan lokasiHasil penelitianApakah temuan sejalan?
Artikel CDiisi dari sumberKelas dan lokasiHasil penelitianApa yang berubah?

Tabel ini akan membantu kita membedakan perkembangan pembahasan ilmiah dengan perkembangan fenomena di lapangan.

Jika penelitian lama dan baru sama-sama menunjukkan persoalan tertentu, kita dapat mencatat bahwa persoalan tersebut telah dibahas pada periode berbeda. Namun, kita belum boleh menyebutnya semakin berat atau semakin meluas tanpa data yang memungkinkan perbandingan.

5. Setelah mengetahui fenomenanya, tanyakan keadaan seharusnya

Sampai di sini, kita mungkin sudah mengetahui beberapa jenis kesulitan yang pernah diteliti dalam pembelajaran menulis kreatif.

Tetapi ada satu pertanyaan yang belum dijawab.

Bagaimana sebenarnya proses belajar menulis kreatif yang diharapkan?

Apakah siswa seharusnya langsung mampu menyusun cerita lengkap? Apakah mereka memerlukan kegiatan menemukan ide, menyusun kerangka, menulis draf, dan merevisi? Bagaimana pengalaman pribadi dapat digunakan dalam proses tersebut?

Pertanyaan ini membawa kita pada keadaan seharusnya menurut teori.

Dalam konteks penelitian, keadaan seharusnya tidak cukup dijelaskan melalui harapan pribadi, misalnya, “Semua siswa seharusnya kreatif dalam menulis.”

Kalimat itu terdengar baik, tetapi belum menunjukkan dasar ilmiah atau cara memeriksa kondisi yang diharapkan.

Kita membutuhkan teori atau kerangka konseptual yang dapat menjelaskan proses pembelajaran sekaligus membantu menentukan aspek apa yang akan diamati.

Di sinilah ChatGPT dapat membantu kita melakukan eksplorasi awal.

Namun, ada satu perbedaan penting: kita tidak sekadar meminta definisi teori. Kita ingin mencari teori yang dapat digunakan untuk menganalisis persoalan penelitian.

6. Mencari applied theory menggunakan ChatGPT

Istilah applied theory di sini kita gunakan secara praktis untuk menyebut teori yang konsep dan prinsipnya dapat diterapkan dalam membaca fenomena penelitian.

Bukan berarti selalu ada satu teori resmi bernama demikian.

Sebagai contoh, kita tertarik pada bagaimana pengalaman pribadi dapat membantu siswa mengembangkan cerita.

Ada beberapa pendekatan teoretis yang mungkin relevan untuk diperiksa, misalnya teori pembelajaran berdasarkan pengalaman, pendekatan proses menulis, atau teori tentang perkembangan keterampilan menulis.

Namun, jangan langsung memilih teori berdasarkan nama tokohnya.

Gunakan ChatGPT untuk menguji kesesuaian teori dengan fokus penelitian.

Coba prompt berikut:

Saya mahasiswa PGSD yang sedang mengembangkan penelitian tentang pemanfaatan pengalaman pribadi siswa kelas V dalam pembelajaran menulis kreatif.

Fokus awal saya adalah bagaimana siswa mengubah pengalaman yang pernah dialami menjadi cerita tertulis.

Bantu saya mengidentifikasi beberapa teori atau model teoretis yang dapat diterapkan untuk menganalisis proses tersebut.

Untuk setiap teori, jelaskan:

  1. Nama teori dan tokoh yang mengembangkannya.
  2. Konsep utama yang relevan.
  3. Bagaimana konsep itu dapat diterapkan pada pembelajaran menulis kreatif siswa SD.
  4. Aspek kegiatan siswa yang dapat diamati.
  5. Batas teori tersebut dalam menjelaskan fenomena.
  6. Publikasi asli yang perlu saya cari untuk memverifikasi penjelasannya.

Bedakan teori yang secara langsung menjelaskan proses menulis dengan teori yang hanya memberi perspektif tentang pengalaman belajar. Jangan menggabungkan keduanya seolah-olah mempunyai konsep yang sama.

Dari eksplorasi semacam ini, mungkin muncul beberapa pilihan.

See also  Bingung Menentukan Topik Skripsi PGSD? Coba Baca Peta Penelitian dengan VOSviewer

Salah satunya adalah teori pembelajaran eksperiensial yang dikenal melalui karya David Kolb.

Teori ini membahas pembelajaran melalui pengalaman dan proses pengolahan pengalaman menjadi pengetahuan.

Tetapi kita perlu berhati-hati. Pengalaman dalam teori pembelajaran eksperiensial tidak otomatis sama dengan pengalaman hidup yang dijadikan bahan cerita.

Teori Kolb berhubungan dengan proses belajar dari pengalaman. Jika penelitian kita ingin menjelaskan bagaimana siswa mengingat peristiwa lalu mengubahnya menjadi teks naratif, mungkin kita juga memerlukan pendekatan yang lebih khusus tentang proses menulis.

Misalnya, model proses menulis dapat membantu memeriksa kegiatan merencanakan tulisan, mengembangkan gagasan, dan melakukan revisi.

Artinya, satu teori belum tentu menjelaskan seluruh persoalan.

Kita perlu memilih berdasarkan apa yang hendak dianalisis, bukan berdasarkan seberapa terkenal teorinya.

7. Ubah teori menjadi alat untuk membaca kenyataan

Sekarang bayangkan kita telah memilih pendekatan proses menulis sebagai salah satu kerangka yang relevan.

Pertanyaan berikutnya bukan lagi “Apa pengertian proses menulis?”

Pertanyaannya berubah menjadi, “Aspek apa yang dapat kita periksa pada kegiatan siswa?”

Misalnya, kita dapat memperhatikan bagaimana siswa menemukan ide, mengorganisasi gagasan, mengembangkan draf, dan memperbaiki tulisannya.

Tetapi kita harus memastikan dahulu bahwa aspek-aspek tersebut memang sesuai dengan model proses menulis yang dipilih dan sumber teoretis yang dibaca.

Untuk membantu mengembangkan kerangka awal, gunakan prompt berikut:

Saya sedang memeriksa penerapan teori proses menulis dalam penelitian tentang pengalaman pribadi siswa sebagai sumber ide cerita.

Berikut ringkasan teori dari sumber yang sudah saya baca:

[Tempelkan ringkasan beserta nama penulis, tahun, dan halaman]

Bantu saya menerjemahkan konsep teori tersebut menjadi kerangka analisis pembelajaran menulis kreatif siswa SD.

Buat tabel yang memuat konsep teori, makna konsep, kemungkinan aktivitas siswa yang relevan, indikator pengamatan, serta jenis data yang diperlukan.

Jangan menambahkan konsep yang tidak terdapat dalam sumber. Jika ada indikator yang merupakan pengembangan atau dugaan saya, tandai sebagai usulan yang masih perlu diuji.

Kita mungkin memperoleh tabel kerja seperti berikut.

Konsep yang hendak diperiksaKemungkinan aktivitas siswaBukti yang diperlukan
Perencanaan tulisanMemilih pengalaman dan menentukan ide ceritaCatatan perencanaan, wawancara, observasi
Pengembangan drafMengubah pengalaman menjadi rangkaian peristiwaDraf cerita siswa
RevisiMemperbaiki susunan dan isi ceritaPerbandingan draf awal dan revisi

Tabel ini adalah ilustrasi penerapan, bukan kutipan langsung dari satu teori tertentu.

Seluruh konsep dan indikator perlu diperiksa kembali dengan sumber teori yang digunakan sebelum dijadikan instrumen penelitian.

Di sinilah teori mulai mempunyai fungsi yang nyata.

Teori bukan sekadar nama tokoh yang ditempelkan dalam latar belakang. Teori membantu kita menentukan apa yang perlu diperhatikan ketika membaca kondisi pembelajaran.

8. Jangan berhenti pada jawaban ChatGPT

Ada kemungkinan ChatGPT menjelaskan sebuah teori dengan sangat lancar, lengkap dengan nama tokoh, tahun, dan istilah akademik.

Itu belum menjamin penjelasannya benar.

Untuk memeriksanya, kembali gunakan Lens.org.

Misalnya, jika ChatGPT menyarankan pembelajaran eksperiensial, cari:

Kolb experiential learning theory

Jika muncul pendekatan proses menulis, coba:

writing process model planning translating reviewing

Lanjutkan dengan istilah yang lebih dekat dengan sekolah dasar:

writing process primary school narrative writing

Periksa sumber asli dan penelitian yang benar-benar menerapkan teori tersebut.

Yang kita cari bukan sekadar artikel yang menyebut nama teori, melainkan penjelasan bagaimana konsepnya digunakan.

Apakah konsep itu dipakai untuk merancang pembelajaran? Menyusun instrumen? Mengamati proses siswa? Atau menafsirkan hasil penelitian?

Perbedaan penggunaan tersebut penting.

Sebuah teori dapat relevan untuk merancang aktivitas pembelajaran, tetapi belum tentu paling tepat untuk mengukur kualitas cerita siswa.

Sebaliknya, kerangka penilaian tulisan dapat membantu menilai produk cerita, tetapi mungkin tidak cukup menjelaskan pengalaman siswa selama proses menulis.

Karena itu, luaran dari langkah ini sebaiknya bukan daftar lima teori yang tampak canggih. Cukup satu atau dua kerangka yang benar-benar relevan, disertai alasan pemilihannya.

9. Sekarang bandingkan kenyataan dengan teori

Kita sudah mempunyai tiga kelompok bahan.

See also  Sudah Punya Topik Skripsi PGSD, tetapi Apa yang Sebenarnya Terjadi? Begini Cara Menggali Fenomena Penelitian

Pertama, fenomena terkini dan terdahulu yang ditelusuri melalui berita serta penelitian.

Kedua, pemahaman teoretis mengenai pembelajaran menulis.

Ketiga, kemungkinan aspek yang dapat diperiksa untuk mengetahui bagaimana siswa menjalani proses menulis kreatif.

Sekarang kita dapat mulai menanyakan apakah terdapat kesenjangan antara kenyataan dan keadaan yang diharapkan.

Namun, jangan langsung meminta ChatGPT membuat kesenjangan.

Periksa lebih dahulu apakah kita benar-benar mempunyai dua sisi yang dapat dibandingkan.

Misalnya, suatu teori atau model pembelajaran menekankan pentingnya perencanaan gagasan dalam proses menulis.

Sementara itu, dari pengamatan awal pada sekolah sasaran, seandainya ditemukan bahwa siswa langsung diminta menulis tanpa kegiatan mengembangkan atau mengorganisasi ide.

Kedua keadaan itu mungkin menunjukkan kesenjangan praktik pembelajaran.

Tetapi contoh tersebut baru bersifat hipotetis. Kita belum mempunyai data sekolah yang menunjukkan keadaan itu benar-benar terjadi.

Agar lebih jelas, gunakan tabel pembanding.

AspekKeadaan yang diharapkan menurut teoriKondisi empirisStatus
Menemukan ideDiisi dari teori yang telah diverifikasiDiisi dari pengamatan atau temuan sumberBelum atau sudah terbukti
Mengembangkan ceritaDiisi dari teori yang telah diverifikasiDiisi berdasarkan buktiBelum atau sudah terbukti
Merevisi tulisanDiisi dari teori yang telah diverifikasiDiisi berdasarkan buktiBelum atau sudah terbukti

Jangan mengisi kolom kondisi empiris dengan dugaan hanya supaya tabel terlihat lengkap.

Jika data sekolah belum tersedia, tulis “belum diperiksa”.

Tindakan kecil ini bisa menyelamatkan kita dari kesalahan besar: membuat masalah penelitian berdasarkan sesuatu yang belum diketahui terjadi.

10. Gunakan ChatGPT untuk menguji kesenjangan, bukan menciptakannya

Setelah tabel pembanding mulai terisi, kita dapat meminta ChatGPT membantu membaca perbedaannya.

Gunakan prompt berikut:

Saya mahasiswa PGSD yang sedang mengidentifikasi kesenjangan antara kondisi pembelajaran dan keadaan yang diharapkan menurut teori.

Berikut tabel hasil penggalian saya:

[Tempelkan tabel kondisi ideal, kondisi empiris, dan sumber pendukung]

Bantu saya menganalisis:

  1. Aspek yang benar-benar menunjukkan ketidaksesuaian.
  2. Aspek yang belum dapat dibandingkan karena bukti kurang.
  3. Apakah perbedaan tersebut merupakan persoalan pembelajaran atau hanya perbedaan konteks.
  4. Kemungkinan pertanyaan penelitian yang muncul.
  5. Data tambahan yang perlu diperoleh sebelum menyimpulkan adanya masalah.

Jangan menciptakan fakta, mengasumsikan kesulitan siswa, atau memaksakan semua perbedaan menjadi kesenjangan. Gunakan hanya sumber dan informasi yang saya berikan.

Perhatikan bahwa kita tidak meminta ChatGPT menulis “gap penelitian” secara otomatis.

Kita sedang memeriksa kesenjangan empiris atau kesenjangan antara kondisi dan harapan teoretis.

Ini berbeda dari research gap yang akan kita bahas pada artikel berikutnya.

Kesenjangan empiris dapat muncul ketika praktik pembelajaran tidak sesuai dengan keadaan yang diharapkan berdasarkan dasar teoretis atau standar tertentu.

Sementara research gap berkaitan dengan apa yang belum cukup diketahui atau dijelaskan oleh penelitian sebelumnya.

Sebuah sekolah bisa mempunyai persoalan pembelajaran yang nyata, tetapi persoalan tersebut mungkin sudah banyak diteliti.

Sebaliknya, suatu pertanyaan ilmiah bisa belum banyak diteliti meskipun kita belum menemukan masalah praktik yang jelas pada sekolah sasaran.

Keduanya tidak perlu dipaksakan menjadi satu.

11. Bagaimana jika kenyataan justru sesuai teori?

Misalnya, setelah melakukan pengamatan awal, kita menemukan bahwa guru sudah memberi kesempatan kepada siswa untuk menceritakan pengalaman sebelum menulis.

Guru juga membantu siswa menyusun kerangka dan memperbaiki tulisan.

Apakah penelitian harus dihentikan?

Tidak selalu.

Bisa jadi kita perlu mengubah pertanyaan.

Semula kita menduga bahwa siswa tidak memperoleh kesempatan memanfaatkan pengalaman pribadi. Setelah diperiksa, ternyata kesempatan itu sudah tersedia.

Sekarang muncul pertanyaan berbeda: bagaimana siswa memanfaatkan kesempatan tersebut? Apakah semua siswa dapat mengembangkan cerita dengan cara yang sama? Bagian proses mana yang masih sulit bagi sebagian siswa?

Bisa pula tidak ditemukan masalah yang cukup kuat untuk dilanjutkan. Dalam keadaan demikian, kita perlu meninjau kembali calon topik, bukan menciptakan kesenjangan agar penelitian tetap berjalan.

Inilah salah satu manfaat menggali fenomena sebelum memutuskan rumusan masalah.

Penelitian tidak harus membenarkan dugaan pertama penelitinya.

Kadang-kadang, hasil penggalian justru memperlihatkan bahwa kita sedang mengajukan pertanyaan yang keliru.

12. Apa yang sudah kita peroleh?

Setelah menyelesaikan artikel ketiga ini, mahasiswa diharapkan mempunyai tiga hasil kerja.

Pertama, catatan fenomena terdahulu yang disusun berdasarkan waktu dan sumber yang jelas.

Kedua, satu atau dua teori atau model konseptual yang telah diperiksa sumbernya, lengkap dengan kemungkinan penerapannya untuk membaca pembelajaran menulis kreatif siswa SD.

Ketiga, tabel kesenjangan yang memisahkan kondisi teoretis, bukti empiris, dan bagian yang masih membutuhkan pemeriksaan.

Ketiganya dapat mulai disusun menjadi bahan latar belakang, tetapi belum perlu dipaksakan menjadi narasi final.

Kita masih harus menjawab pertanyaan berikutnya: di antara penelitian yang sudah ada, sebenarnya di mana posisi penelitian kita?

Apakah pemanfaatan pengalaman pribadi siswa sudah banyak diteliti? Dalam konteks apa? Menggunakan pendekatan apa? Apakah penelitian sebelumnya memeriksa proses penulisan, hasil karya, atau pengalaman siswa?

Pertanyaan tersebut membutuhkan penelusuran yang lebih khusus terhadap objek material dan konteks penelitian.

Pada artikel berikutnya, kita akan kembali menggunakan Lens.org untuk membaca posisi penelitian dan mulai menilai kemungkinan research gap serta kebaruan.

Untuk sekarang, mahasiswa yang tadi duduk di depan laptop mungkin sudah mempunyai lebih banyak catatan daripada ketika pertama kali menemukan node experience di VOSviewer.

Ia juga mungkin menemukan bahwa kesulitan siswa tidak sesederhana dugaan awalnya.

Seorang anak yang mampu menceritakan pengalamannya secara lisan belum tentu dapat mengubahnya menjadi cerita tertulis. Tetapi apakah itu akibat kurangnya ide, proses pembelajaran, atau keterampilan mengorganisasi tulisan?

Teori dapat membantu kita menentukan apa yang perlu diperiksa.

Jawabannya tetap harus dicari pada anak, tulisannya, dan proses belajar yang benar-benar berlangsung.


Referensi dan sumber penelusuran:

  1. Google News. https://news.google.com/
  2. The Lens. Scholarly Works Search. https://support.lens.org/knowledge-base/scholarly-works-search/
  3. Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. Prentice Hall.
  4. Flower, L., & Hayes, J. R. (1981). A cognitive process theory of writing. College Composition and Communication, 32(4), 365–387. https://doi.org/10.2307/356600
  5. OpenAI. Apakah ChatGPT mengatakan kebenaran? https://help.openai.com/id-id/articles/8313428-does-chatgpt-tell-the-truth

Catatan penggunaan: Contoh kondisi siswa dan sekolah yang diperkenalkan sebagai ilustrasi dalam artikel ini bukan hasil observasi nyata. Temuan fenomena terdahulu dan tabel kesenjangan harus diisi berdasarkan berita, penelitian, serta data lapangan yang benar-benar diperiksa.