Wawancara sore itu selesai ketika anak yang ditemui Yabui sedang menyusun cerita tentang jembatan. Dalam ceritanya, seseorang harus menyeberang untuk pulang, tetapi setiap kali sampai di ujung, tokohnya selalu lupa alasan pergi dari tempat semula. Anak itu menggambar garis panjang, dua kotak di ujung, lalu memberi satu titik kecil hampir di bagian terakhir.
“Ini apa?” tanya Yabui.
“Tempat berhenti.”
“Kenapa berhenti?”

Anak itu mengangkat bahu. “Karena habis itu sudah sampai.”
Jawaban itu dibawa Yabui sampai Stasiun Cisauk.
Sore sudah mulai turun ketika ia keluar dari peron dan bergerak menuju skybridge. Koridor panjang itu menghubungkan stasiun dengan kawasan Intermoda di seberang. Beberapa orang berjalan cepat sambil membawa tas belanja, pekerja kantor bergerak berkelompok, dan sesekali seseorang menepi untuk mengecek ponsel sebelum meneruskan perjalanan.
Yabui berjalan tanpa terburu-buru.
Di beberapa bagian, cahaya dari luar masih masuk melalui sisi koridor. Lampu di langit-langit sudah menyala meskipun langit belum benar-benar gelap. Suara langkah bertumpuk sepanjang lantai dan memantul ke atap lengkung.
Di depan Yabui, seorang perempuan mendadak berhenti.
Bukan menepi.
Benar-benar berhenti di tengah jalur.
Orang di belakangnya hampir menabrak.
“Maaf, Bu.”
Perempuan itu seperti baru sadar ada orang lain. Ia melangkah lagi dan perjalanan kembali normal.
Beberapa meter kemudian seorang laki-laki membawa ransel melakukan hal yang sama.
Berhenti.
Satu kaki sudah berada di depan, kaki lainnya masih di belakang.
Orang di belakangnya bergeser melewati sisi kanan.
“Mas?”
Laki-laki itu melihat sekeliling, kemudian melangkah lagi.
Yabui memperlambat jalan.
Kedua orang tadi berhenti di titik yang hampir sama.
Di lantai terdapat bulatan kecil berwarna kuning.
Ukurannya tidak sampai sebesar tutup botol.
Bisa jadi bekas cat.
Bisa juga penanda pekerjaan yang tertinggal.
Yabui melewatinya.
Tidak terjadi apa-apa.
Ia terus berjalan.
Beberapa langkah kemudian terdengar suara dari belakang.
“Pak.”
Yabui menoleh.
Seorang lelaki muda menunjuk lantai.
“Bapak tadi lewat sini?”
“Iya.”
“Enggak berhenti?”
Yabui melihat titik kuning tadi.
“Kenapa harus berhenti?”
Lelaki itu mengangkat bahu.
“Enggak tahu.”
“Terus?”
“Tadi kaki saya kayak lupa lanjut.”
Yabui tertawa.
“Capek kali.”
“Bisa jadi.”
Mereka melanjutkan perjalanan bersama.
Lelaki itu kemudian menunjuk orang di depan.
Seorang perempuan tua sedang membawa kantong plastik.
Saat mencapai titik kuning, langkahnya berhenti.
Ia berdiri beberapa detik.
Kemudian berjalan lagi.
Lelaki muda di samping Yabui menatapnya.
“Nah.”
Yabui mulai memperhatikan.
Seorang pekerja lewat.
Berhenti.
Seorang anak kuliah lewat.
Berhenti.
Dua orang berjalan berdampingan.
Keduanya berhenti hampir bersamaan.
Hanya sebentar.
Tidak sampai lima detik.
Lalu berjalan lagi seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Yabui kembali mendekati titik tersebut.
Bulatan kuning itu memang sangat kecil. Catnya bahkan sudah mengelupas pada bagian pinggir. Tidak ada tulisan, tidak ada simbol, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk memperhatikannya.
Lelaki muda tadi jongkok.
“Bekas apa ya?”
“Bisa bekas pekerjaan.”
“Kenapa orang berhenti?”
“Mungkin karena lihat kita berhenti.”
Lelaki itu melihat ke belakang.
“Yang tadi sebelum kita?”
Yabui tidak menjawab.
Mereka bergeser ke sisi koridor dan menunggu.
Satu orang lewat.
Berhenti.
Dua orang berikutnya tidak.
Kemudian seorang perempuan berhenti.
Lalu seorang bapak.
Tidak semua.
Tapi cukup banyak untuk membuat keduanya terus memperhatikan.
“Coba tutup,” kata lelaki itu.
“Pakai apa?”
Ia mengambil selembar struk dari saku dan meletakkannya di atas titik kuning.
Mereka kembali menepi.
Seorang penumpang berjalan mendekat.
Langkahnya normal.
Satu meter.
Setengah meter.
Lalu berhenti tepat sebelum struk.
Ia melihat ke bawah, seperti baru sadar ada kertas di lantai.
Kertas itu dipungut.
“Punya siapa?”
Yabui mengangkat tangan.
“Maaf, jatuh.”
Struk dikembalikan.
Orang itu melanjutkan jalan.
Lelaki muda tadi tersenyum.
“Berarti ketahuan.”
“Ketahuan apanya?”
“Orang berhenti karena ada sesuatu.”
“Ya tadi karena ada struk.”
“Kalau sebelumnya?”
Yabui kembali jongkok.
Titik kuning tidak terlihat seperti sesuatu yang bisa membuat orang mengubah langkah.
Ia mencoba menggosoknya dengan ujung sepatu.
Cat tidak hilang.
“Coba Bapak lewat lagi,” kata lelaki itu.
Yabui mundur beberapa meter.
Lalu berjalan biasa.
Tiga langkah.
Dua langkah.
Satu langkah.
Kaki kanannya berhenti tepat sebelum bulatan kuning.
Bukan karena ada sesuatu di depannya.
Bukan karena kakinya terasa berat.
Ia hanya berhenti.
Tubuhnya seperti menunggu keputusan yang tidak pernah dibuat.
Lelaki muda itu tertawa dari sisi koridor.
“Nah.”
Yabui menoleh.
“Kenapa saya berhenti?”
“Itu yang dari tadi saya bilang.”
Yabui menggerakkan kaki lagi.
Mudah.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada sakit.
Tidak ada rasa takut.
Hanya satu jeda kecil yang muncul tanpa alasan.
Ia kembali berjalan.
“Sekarang kamu.”
Lelaki itu mundur.
Ia mendekat.
Saat hampir sampai, langkahnya berhenti.
Keduanya tertawa.
“Bodoh banget.”
“Yang bodoh siapa?”
“Enggak tahu.”
Orang-orang terus lewat.
Mereka mulai membuat permainan kecil.
Menghitung siapa yang berhenti dan siapa yang tidak.
Dari sepuluh orang, enam berhenti.
Dari lima berikutnya, tiga.
Seorang anak kecil bahkan melangkah melewati titik itu tanpa memperlambat langkah sama sekali.
Ibunya yang berjalan satu langkah di belakang justru berhenti.
Anak itu menarik tangannya.
“Ayo, Bu.”
Perempuan tersebut seperti tersadar.
“Iya.”
Mereka pergi.
Lelaki muda tadi memandang Yabui.
“Anaknya enggak berhenti.”
“Mungkin belum punya urusan.”
“Urusan apa?”
“Jangan tanya saya.”
Mereka tertawa lagi.
Langit semakin gelap.
Arus orang mulai berkurang.
Yabui seharusnya melanjutkan perjalanan, tetapi titik kecil di lantai itu sudah telanjur menjadi sesuatu yang sulit ditinggalkan.
Seorang petugas lewat.
Yabui memanggilnya.
“Pak, ini penanda apa?”
Petugas melihat lantai.
“Yang mana?”
Yabui menunjuk bulatan kuning.
Petugas mendekat.
“Oh.”
“Bekas pekerjaan?”
Petugas menggeleng.
“Enggak tahu.”
“Dari kapan?”
Petugas menatapnya lebih lama.
“Kayaknya bukan dari sini.”
Lelaki muda itu tertawa.
“Cat bisa pindah tempat, Pak?”
Petugas tidak ikut tertawa.
Ia membungkuk.
Kemudian berdiri lagi.
“Dulu ada penanda jarak di ujung sana.”
“Yang kuning?”
“Mirip.”
“Sekarang?”
Petugas menunjuk ke arah lain.
“Sudah dicat ulang.”
Yabui melihat ujung koridor.
“Jauh?”
“Enggak terlalu.”
Petugas berjalan pergi.
Lelaki muda tadi masih berdiri di samping Yabui.
“Kalau ini bekas penanda lama, terus pindah ke sini gimana?”
“Cat enggak jalan.”
“Yang berhenti juga enggak jalan.”
Yabui tersenyum.
“Sebentar doang.”
“Ya tetap berhenti.”
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan.
Saat melewati titik kuning, keduanya sengaja tidak melihat ke bawah.
Yabui melangkah lebih cepat.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Tubuhnya berhenti.
Lelaki muda di sampingnya juga berhenti.
Keduanya berdiri diam.
Tidak ada yang tertawa.
Di depan mereka hanya tersisa beberapa meter menuju ujung skybridge.
Orang-orang yang sudah sampai di sana turun menuju kawasan Intermoda.
Lelaki muda itu berbicara pelan.
“Pak.”
“Ya?”
“Kalau habis titik ini kita sudah sampai, kenapa rasanya kayak belum boleh lanjut?”
Yabui menoleh.
Kalimat itu terasa familiar.
Tempat berhenti.
Karena habis itu sudah sampai.
Ia teringat gambar anak sore tadi.
Garis panjang.
Dua kotak.
Satu titik kecil hampir di ujung.
Yabui membuka tas.
Lembar gambar itu masih ada.
Titik yang digambar anak berada di posisi yang hampir sama.
Dekat ujung.
Yabui menunjukkannya.
Lelaki muda itu melihat beberapa detik.
“Pak.”
“Hmm?”
“Anaknya pernah ke sini?”
“Enggak tahu.”
“Bapak tanya?”
“Belum.”
Mereka berjalan lagi.
Kali ini tidak berhenti.
Sesampainya di ujung skybridge, lelaki muda itu berpamitan.
Yabui meneruskan perjalanan tanpa memikirkan titik kuning itu lagi.
Beberapa hari kemudian ia mengirim foto gambar tersebut kepada ibu informan.
Balasan datang sore hari.
Pak, gambar yang mana?
Yabui mengirim ulang.
Beberapa menit kemudian ibu itu membalas.
Anak saya bilang itu bukan gambarnya.
Yabui membuka map.
Nama informan tertulis di bagian belakang kertas.
Tulisan tangannya sama.
Yabui mengambil foto sisi belakang dan mengirimkannya.
Balasan berikutnya lebih lama.
Pak, katanya memang dia yang gambar.
Tapi titik kuningnya bukan dia yang bikin.
Yabui memperbesar foto.
Titik kecil dekat ujung jembatan terlihat lebih pekat daripada garis pensil lain.
Seperti cat.
Beberapa minggu kemudian Yabui kembali melewati Cisauk.
Ia berjalan melalui skybridge yang sama.
Titik kuning sudah tidak ada.
Lantainya bersih.
Orang-orang berjalan normal.
Yabui hampir merasa lega.
Sampai di ujung koridor, seorang laki-laki di depannya mendadak berhenti.
Orang di belakangnya ikut berhenti.
Kemudian seorang perempuan.
Lalu Yabui sendiri.
Ia melihat ke bawah.
Di lantai, beberapa meter dari tempat titik lama berada, muncul bulatan kecil berwarna kuning.
Sedikit lebih dekat ke ujung.
Yabui tidak mencoba menggosoknya.
Ia hanya melangkah lagi.
Kadang sebuah tanda memang dibuat untuk menunjukkan jalan.
Kadang tanda itu hanya ingin memastikan seseorang belum benar-benar sampai.