Seorang mahasiswa PGSD akhirnya merasa yakin dengan calon topik skripsinya. Ia ingin meneliti pemanfaatan pengalaman pribadi siswa sekolah dasar dalam pembelajaran menulis kreatif.
Ia sudah membaca berita mengenai kegiatan literasi, menemukan beberapa penelitian tentang keterampilan menulis siswa, dan mempelajari teori yang dapat digunakan untuk menganalisis proses menulis.
Namun, ketika kembali mencari artikel ilmiah, ia menemukan penelitian yang membahas pengalaman pribadi anak dalam menulis narasi.

Ia mulai ragu.
“Kalau sudah ada yang meneliti, berarti topik saya tidak bisa digunakan lagi?”
Pertanyaan tersebut sering muncul menjelang penyusunan proposal. Mahasiswa merasa harus menemukan sesuatu yang sama sekali belum pernah diteliti. Akibatnya, semakin banyak artikel yang ditemukan, semakin kecil pula kepercayaan dirinya terhadap topik yang dipilih.
Padahal, menemukan penelitian yang mirip tidak selalu berarti kehilangan kesempatan meneliti. Justru dari penelitian yang sudah ada, kita dapat mengetahui bagian mana yang telah dijelaskan dan bagian mana yang masih perlu dipahami.
Pada tiga artikel sebelumnya, kita sudah memilih calon topik menggunakan Publish or Perish dan VOSviewer, menggali fenomena melalui Google News dan Lens.org, serta memeriksa kesenjangan antara kondisi empiris dengan keadaan yang diharapkan menurut teori.
Sekarang kita akan mengerjakan bagian lain dalam kerangka latar belakang, yaitu posisi penelitian, research gap, dan novelty.
Alat utama yang digunakan adalah Lens.org. ChatGPT dapat membantu mengorganisasi dan membandingkan hasil pembacaan, tetapi keputusan tentang kebaruan penelitian tetap harus bertumpu pada literatur.
1. Apa sebenarnya posisi penelitian?
Bayangkan dua mahasiswa sama-sama meneliti menulis kreatif.
Mahasiswa pertama meneliti pengaruh media cerita digital terhadap kemampuan menulis narasi siswa kelas IV.
Mahasiswa kedua meneliti bagaimana siswa kelas V mengubah pengalaman pribadinya menjadi cerita tertulis.
Keduanya berada dalam bidang penelitian yang berdekatan. Namun, pekerjaan ilmiah yang dilakukan tidak sama.
Penelitian pertama berfokus pada penggunaan media dan kemampuan menulis. Penelitian kedua lebih memperhatikan bagaimana siswa mengolah pengalaman menjadi tulisan.
Perbedaannya tidak cukup dijelaskan hanya dengan menyebut bahwa satu penelitian dilakukan di kelas IV dan penelitian lain di kelas V.
Kita perlu memahami objek yang diperhatikan, konteks penelitian, dan pertanyaan yang ingin dijawab.
Dalam panduan ini, kita menggunakan tiga penanda untuk membantu menentukan posisi penelitian.
Objek material adalah hal atau fenomena yang menjadi sasaran penelitian. Pada contoh kita, objek materialnya dapat berupa proses menulis kreatif siswa SD, khususnya kegiatan mengolah pengalaman pribadi menjadi cerita.
Konteks penelitian menjelaskan lingkungan tempat fenomena tersebut dipelajari, misalnya pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V sekolah dasar.
Sementara itu, sudut analisis menunjukkan bagian objek yang ingin kita pahami. Apakah kita memperhatikan proses menemukan ide, pengorganisasian cerita, pengalaman belajar, atau kualitas hasil tulisan?
Pembedaan ini penting karena kata kunci creative writing saja belum cukup menjelaskan posisi penelitian.
Kita perlu membaca penelitian yang paling dekat untuk mengetahui bagian mana yang sudah dipelajari.
2. Mulai dari objek material, bukan judul skripsi lengkap
Buka Lens.org dan masuk ke bagian Scholarly Search.
Untuk tahap pertama, jangan mengetik seluruh calon judul skripsi dalam bahasa Indonesia.
Mulailah dari objek material yang cukup luas.
Contohnya:
creative writing primary school students
Kemudian lakukan pencarian kedua:
narrative writing elementary school
Dan pencarian ketiga:
children personal experience writing
Mengapa dilakukan secara terpisah?
Karena ketiga pencarian tersebut mengarah pada kelompok literatur yang belum tentu sama.
Pencarian pertama berkaitan dengan menulis kreatif pada siswa sekolah dasar. Pencarian kedua mempersempit perhatian pada penulisan narasi. Pencarian ketiga mencoba menemukan hubungan pengalaman pribadi dengan aktivitas menulis anak.
Jika kita menggabungkan seluruh konsep sejak awal, ada kemungkinan hasil pencarian menjadi terlalu sempit.
Pada Lens.org, kita dapat menggunakan fasilitas Structured Search untuk memilih bidang pencarian tertentu, misalnya judul atau abstrak. Kita juga dapat memanfaatkan filter tahun terbit dan jenis publikasi untuk mempersempit hasil.
Untuk memulai, lakukan pencarian luas terlebih dahulu. Setelah itu, perhatikan penelitian yang paling dekat dengan calon fokus.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa penelitian tidak ada hanya karena satu kombinasi kata kunci menghasilkan sedikit publikasi.
Peneliti lain mungkin menggunakan istilah berbeda untuk membicarakan fenomena yang sama.
Sebagai contoh, konsep menulis kreatif dapat muncul melalui istilah creative writing, narrative composition, story writing, atau writing process.
Kita perlu mengenali variasi bahasa tersebut sebelum menilai ruang penelitian.
3. Apa yang harus dibaca dari hasil Lens.org?
Ketika hasil pencarian muncul, kita mungkin tergoda mengurutkan artikel berdasarkan jumlah sitasi.
Artikel yang banyak dikutip memang dapat menjadi titik awal yang berguna. Namun, jumlah sitasi bukan ukuran tunggal kedekatan dengan topik kita.
Sebuah artikel yang sangat populer mungkin membahas mahasiswa universitas, bukan anak SD. Artikel lain yang jumlah sitasinya lebih sedikit justru dapat meneliti proses menulis cerita pada siswa kelas V.
Untuk menentukan posisi penelitian, kedekatan persoalan lebih penting daripada sekadar popularitas publikasi.
Mulailah dengan membaca judul dan abstrak, kemudian periksa lima hal:
- Siapa yang diteliti?
- Apa objek yang diperhatikan?
- Dalam konteks apa penelitian dilakukan?
- Bagaimana penelitian dilaksanakan?
- Apa yang ditemukan?
Jika artikel tersebut benar-benar relevan, lanjutkan membaca metode, hasil, dan pembahasannya.
Simpan informasi yang diperoleh dalam tabel.
| Artikel | Objek material | Konteks | Fokus analisis |
|---|---|---|---|
| Penelitian A | Keterampilan menulis narasi | Siswa SD | Hasil tulisan |
| Penelitian B | Pengalaman siswa dalam menulis | Pembelajaran kelas V | Pengalaman belajar |
| Penelitian C | Pemanfaatan pengalaman pribadi | Pembelajaran menulis | Pengembangan ide |
Tabel ini merupakan contoh struktur pencatatan. Isinya harus diganti dengan hasil pembacaan artikel yang benar-benar ditemukan.
Tujuannya bukan membuat daftar penelitian sebanyak mungkin, melainkan melihat kedekatan setiap penelitian dengan persoalan yang ingin kita kaji.
4. Ketika menemukan penelitian yang sangat mirip
Sekarang perhatikan tiga penelitian nyata berikut.
Penelitian pertama berjudul Teaching Creative Writing in Primary Schools: A Systematic Review of the Literature through the Lens of Reflexivity oleh Barton dan rekan-rekannya.
Penelitian tinjauan sistematis ini membahas pengajaran menulis kreatif di sekolah dasar. Para peneliti menelaah literatur yang terbit antara 2011 dan 2020. Dari 172 artikel yang ditemukan, 25 memenuhi kriteria untuk dianalisis.
Kajian tersebut menunjukkan bahwa aspek struktur teks, tujuan penulisan, dan konvensi bahasa mendapat perhatian dalam pembelajaran menulis. Sementara aspek yang lebih bernuansa, seperti suara kepengarangan dan kreativitas, menjadi perhatian penting yang perlu dipahami lebih jauh.
Sumber: https://doi.org/10.1007/s13384-023-00641-9
Penelitian kedua berjudul Enhancing Writing Skills and Language Creativity through the Plus-Minus-Interesting Technique: A Case Study at the Primary School Level oleh Cahyani, Nurhadi, dan Mentari, diterbitkan pada 2023.
Penelitian ini melibatkan 67 siswa sekolah dasar. Salah satu hal yang menarik adalah penggunaan pengalaman pribadi siswa dalam kegiatan pembelajaran menulis narasi melalui teknik Plus-Minus-Interesting.
Para peneliti menggunakan observasi, wawancara, dan analisis beberapa draf tulisan siswa untuk mempelajari proses serta hasil pembelajaran.
Sumber: https://doi.org/10.17509/ijal.v13i1.58257
Penelitian ketiga berjudul Comparing the Structures of Indonesian Children’s Writings in the Narrative of Happy vs. Sad Experiences oleh Kushartanti dan rekan-rekannya.
Penelitian ini mempelajari tulisan naratif dari 131 anak usia 8–11 tahun. Fokusnya adalah perbandingan struktur narasi yang ditulis berdasarkan pengalaman menyenangkan dan menyedihkan.
Sumber: https://doi.org/10.26499/li.v42i2.614
Sekarang coba perhatikan.
Ketiga penelitian tersebut sudah cukup untuk menggugurkan satu klaim yang mungkin semula ingin kita buat:
“Pengalaman pribadi belum pernah digunakan atau diteliti dalam pembelajaran menulis anak.”
Klaim itu tidak dapat dipertahankan.
Pengalaman pribadi ternyata sudah muncul dalam penelitian tentang pembelajaran menulis maupun struktur narasi anak.
Tetapi apakah berarti calon topik kita harus dibuang?
Belum tentu.
Justru sekarang kita bisa mengajukan pertanyaan yang lebih khusus.
5. Membaca apa yang sudah diketahui
Ketika menemukan penelitian yang mirip, jangan langsung mencari kelemahannya.
Pahami terlebih dahulu kontribusi penelitian tersebut.
Misalnya, penelitian Cahyani dan rekan-rekannya membantu menjelaskan penggunaan teknik pembelajaran tertentu untuk mendukung keterampilan menulis dan kreativitas bahasa siswa.
Sementara penelitian Kushartanti dan rekan-rekannya memperhatikan struktur tulisan naratif anak berdasarkan pengalaman dengan muatan emosi berbeda.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan pengalaman dan tulisan anak, tetapi menempatkan perhatian pada bagian yang berbeda.
Satu penelitian memeriksa teknik pembelajaran, sedangkan penelitian lain menganalisis struktur narasi.
Sekarang bayangkan kita tertarik pada proses ketika siswa memilih pengalaman pribadi, menentukan peristiwa yang akan diceritakan, lalu mengubahnya menjadi draf cerita.
Apakah proses tersebut sudah dijelaskan secara rinci oleh kedua penelitian tadi?
Kita belum boleh langsung mengatakan belum.
Untuk menjawabnya, kita perlu membaca artikel lengkap, memperhatikan pertanyaan penelitian, jenis data, serta bagian hasil dan pembahasan.
Jika ternyata proses tersebut sudah dibahas, kita harus mengakuinya.
Jika belum dibahas atau hanya disinggung secara terbatas, kita memperoleh pertanyaan lanjutan yang layak diperiksa melalui literatur tambahan.
Research gap tidak ditemukan dengan mengabaikan penelitian yang mirip, melainkan dengan membaca penelitian tersebut secara lebih teliti.
6. Telusuri objek material dan konteks secara terpisah
Sekarang kita mulai mempersempit pencarian.
Untuk objek material, gunakan kata kunci:
personal experience narrative writing
children story writing process
autobiographical experience creative writing
Untuk konteks pendidikan dasar, gunakan:
elementary school narrative writing
primary school students writing process
Indonesian elementary school creative writing
Perhatikan bahwa kedua kelompok kata kunci mempunyai fungsi berbeda.
Kelompok pertama membantu menemukan penelitian tentang konsep dan aktivitas menulis yang ingin kita pahami.
Kelompok kedua membantu menemukan penelitian dalam lingkungan pendidikan yang lebih dekat dengan calon subjek kita.
Setelah memeriksa hasil masing-masing, cobalah menggabungkan konsep yang relevan.
Misalnya:
"personal experience" AND "narrative writing" AND "primary school"
Atau:
"story writing" AND "elementary students" AND "writing process"
Jika menggunakan pencarian lanjutan, perhatikan pilihan bidang pencarian serta cara Lens.org menafsirkan operator dan tanda kutip.
Tidak semua istilah perlu digabung dalam satu pencarian. Penggunaan terlalu banyak pembatas dapat menghilangkan artikel yang sebenarnya relevan.
Catat pula tanggal pencarian, kata kunci, dan filter yang digunakan.
Mengapa pencatatan ini penting?
Karena pernyataan tentang terbatasnya penelitian harus dapat ditelusuri kembali. Kita perlu mengetahui bagaimana penelusuran dilakukan sebelum menyimpulkan bahwa suatu bagian pengetahuan belum banyak dijelaskan.
7. Buat matriks posisi penelitian
Setelah menemukan beberapa artikel yang dekat, susun matriks perbandingan.
Kita dapat menggunakan penelitian yang sudah diketahui sebagai contoh awal.
| Penelitian | Objek dan konteks | Fokus utama |
|---|---|---|
| Barton dkk. (2024) | Pengajaran menulis kreatif di sekolah dasar | Tinjauan sistematis dan refleksivitas dalam praktik menulis kreatif |
| Cahyani dkk. (2023) | Pembelajaran menulis narasi siswa SD | Penggunaan teknik Plus-Minus-Interesting |
| Kushartanti dkk. (2024) | Narasi pengalaman anak Indonesia usia sekolah | Perbandingan struktur cerita pengalaman senang dan sedih |
| Calon penelitian kita | Proses siswa SD mengolah pengalaman pribadi menjadi cerita | Pengembangan gagasan dan proses penyusunan tulisan |
Perhatikan baris terakhir.
Itulah posisi yang sedang kita pertimbangkan, bukan kontribusi yang sudah terbukti baru.
Sekarang kita dapat melihat bahwa calon penelitian mungkin mempunyai kedekatan objek dengan penelitian sebelumnya, tetapi berusaha memberi perhatian khusus pada proses transformasi pengalaman menjadi teks.
Namun, untuk menyebutnya sebagai ruang penelitian yang belum cukup dijelaskan, kita masih perlu memeriksa penelitian lain yang juga menggunakan pendekatan proses menulis.
Dengan kata lain, matriks membantu kita menemukan dugaan tentang posisi penelitian. Pembacaan literatur yang lebih luas diperlukan untuk menguji dugaan tersebut.
8. Minta ChatGPT menguji posisi penelitian
ChatGPT dapat digunakan setelah kita mempunyai ringkasan hasil pembacaan yang jelas.
Jangan meminta AI mencari research gap tanpa memberikan bahan.
Gunakan prompt berikut:
Saya mahasiswa PGSD yang sedang menentukan posisi penelitian tentang proses siswa SD mengubah pengalaman pribadi menjadi cerita tertulis.
Berikut matriks penelitian terdahulu yang sudah saya baca:
[Tempelkan matriks berisi judul, penulis, tahun, objek material, konteks, metode, fokus, dan temuan penelitian]
Bantu saya menganalisis:
- Apa yang sudah diketahui dari penelitian tersebut.
- Bagian persoalan yang mendapat perhatian serupa.
- Perbedaan objek, konteks, pendekatan, dan fokus analisis.
- Pertanyaan yang masih perlu ditelusuri melalui artikel tambahan.
- Kemungkinan posisi penelitian saya.
Jangan menyatakan bahwa suatu hal belum pernah diteliti hanya karena tidak muncul dalam matriks. Bedakan temuan yang didukung artikel dari dugaan atau interpretasi yang masih perlu diperiksa.
Prompt ini sengaja meminta ChatGPT menunjukkan ketidakpastian.
Jika suatu kemungkinan hanya muncul karena kita belum membaca cukup banyak artikel, AI seharusnya tidak langsung menyebutnya research gap.
Kita juga bisa meminta ChatGPT menyusun kata kunci tambahan untuk menguji kemungkinan tersebut.
Misalnya, kalau fokusnya proses mengolah pengalaman menjadi cerita, pencarian lanjutan mungkin perlu menjangkau prewriting, idea generation, narrative organization, dan children’s writing processes.
Dari sini kita kembali lagi ke Lens.org.
Jadi, penelusuran dan analisis dilakukan secara berulang sampai posisi penelitian semakin jelas.
9. Bedakan research gap dengan kesenjangan kondisi
Pada artikel ketiga, kita sudah membahas kesenjangan antara kondisi nyata dan keadaan yang diharapkan menurut teori.
Sekarang kita membahas sesuatu yang berbeda.
Misalnya, pengamatan awal di sebuah sekolah menunjukkan bahwa siswa kesulitan mengorganisasi pengalaman menjadi cerita yang runtut.
Jika kondisi tersebut benar-benar didukung data, kita mungkin memiliki persoalan empiris yang perlu dipahami.
Tetapi persoalan tersebut belum otomatis menjadi research gap.
Bisa saja peneliti sebelumnya sudah menjelaskan kesulitan yang sama secara mendalam.
Sebaliknya, kita mungkin menemukan pertanyaan ilmiah yang belum cukup dijelaskan, meskipun belum mempunyai bukti bahwa pertanyaan tersebut merupakan persoalan nyata pada sekolah sasaran.
Perhatikan perbedaannya.
| Jenis kesenjangan | Pertanyaan utama |
|---|---|
| Kesenjangan kondisi dan teori | Apa yang tidak sesuai antara kondisi empiris dan keadaan yang diharapkan? |
| Research gap | Apa yang belum cukup diketahui, dijelaskan, atau dipahami oleh penelitian terdahulu? |
Kedua kesenjangan dapat saling berhubungan, tetapi tidak boleh dianggap sama.
Untuk calon topik kita, kesulitan siswa mengembangkan cerita merupakan kemungkinan persoalan empiris.
Sementara keterbatasan penjelasan ilmiah mengenai proses siswa mengubah pengalaman menjadi teks merupakan kemungkinan research gap.
Keduanya harus diperiksa dengan jenis bukti yang sesuai.
10. Apakah novelty berarti belum pernah diteliti?
Mahasiswa sering menganggap penelitian baru harus mempunyai objek yang belum pernah disentuh siapa pun.
Akibatnya, mereka sibuk mengganti istilah, lokasi, atau jenis media supaya judul tampak berbeda.
Padahal, berbeda belum tentu memberi kontribusi.
Misalnya, suatu penelitian sebelumnya dilakukan di kelas IV, lalu kita mengulang penelitian yang hampir sama di kelas V.
Perbedaan kelas itu mungkin penting jika berkaitan dengan perkembangan kemampuan menulis atau konteks pembelajaran yang berbeda. Namun, mengganti kelas saja belum cukup untuk membuktikan adanya kebaruan ilmiah.
Demikian pula dengan lokasi sekolah.
Melakukan penelitian di sekolah yang berbeda dapat memberi kontribusi kontekstual apabila lingkungan, karakteristik siswa, atau praktik pembelajarannya menghasilkan pertanyaan yang bermakna.
Namun, jika perbedaannya hanya nama sekolah, kita masih perlu menjelaskan apa yang dapat dipelajari dari penelitian tersebut.
Untuk menilai novelty, coba tanyakan:
Apa yang akan kita pahami setelah penelitian ini selesai, yang belum cukup kita pahami dari penelitian sebelumnya?
Misalnya, penelitian kita mungkin ingin menjelaskan tahapan ketika siswa memilih pengalaman pribadi, mengembangkan peristiwa, dan merevisi ceritanya.
Jika penelitian terdahulu lebih banyak menilai hasil tulisan, sedangkan proses tersebut memang belum cukup dijelaskan dalam literatur yang relevan, penelitian kita berpotensi memberi kontribusi pada pemahaman proses menulis anak.
Tetapi kata jika sangat penting di sini.
Kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa penelitian proses menulis anak yang relevan telah ditelusuri dan dibandingkan.
Novelty bukan penghargaan yang diberikan kepada sebuah judul sebelum penelitian dimulai. Ia merupakan kontribusi yang diajukan berdasarkan pemahaman terhadap pengetahuan yang sudah tersedia.
11. Bagaimana dengan rencana pendekatan solusi?
Pada kerangka latar belakang yang kita gunakan, ada pula komponen rencana pendekatan solusi.
Untuk mahasiswa PGSD, bagian ini perlu disesuaikan dengan tujuan penelitian.
Jika penelitian bertujuan memahami bagaimana siswa menggunakan pengalaman pribadi dalam menulis, pendekatannya dapat diarahkan pada pengamatan proses pembelajaran, analisis tulisan siswa, serta wawancara yang sesuai dengan karakteristik anak.
Penelitian semacam ini tidak harus menjanjikan peningkatan kemampuan.
Sebaliknya, jika mahasiswa ingin menguji apakah kegiatan tertentu dapat membantu keterampilan menulis, ia perlu merancang perlakuan, indikator hasil, serta cara mengevaluasinya.
Keduanya mempunyai tuntutan yang berbeda.
Karena itu, jangan langsung menyebut metode pembelajaran tertentu sebagai solusi hanya karena terlihat menarik.
Rencana pendekatan harus muncul dari hubungan antara persoalan yang ditemukan, teori yang digunakan, dan pengetahuan yang masih perlu dikembangkan.
Kita bisa menggunakan ChatGPT untuk memeriksa konsistensinya, tetapi pilihan akhir tetap memerlukan pertimbangan metodologis.
12. Kapan posisi penelitian dianggap cukup jelas?
Kita tidak harus membaca seluruh artikel yang pernah diterbitkan di dunia.
Namun, penelusuran tidak boleh berhenti hanya karena kita menemukan satu kalimat yang cocok untuk mendukung klaim kebaruan.
Untuk tahap ini, setidaknya mahasiswa perlu mempunyai:
- Definisi kerja objek material dan konteks penelitiannya.
- Sejumlah penelitian yang benar-benar dekat dengan calon fokus.
- Matriks perbandingan penelitian terdahulu.
- Pernyataan tentang pengetahuan yang sudah tersedia.
- Dugaan research gap yang didukung pembacaan literatur.
- Calon kontribusi penelitian yang masih dapat diperiksa.
Setelah itu, coba tuliskan posisi penelitian dalam beberapa kalimat sederhana.
Misalnya:
Penelitian terdahulu telah membahas pembelajaran menulis kreatif siswa SD, penggunaan pengalaman pribadi dalam kegiatan menulis narasi, serta struktur tulisan berdasarkan jenis pengalaman anak. Penelitian yang direncanakan ini akan memusatkan perhatian pada proses siswa mengubah pengalaman pribadi menjadi teks cerita. Untuk menegaskan kontribusinya, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap penelitian yang secara khusus membahas proses perencanaan, pengembangan, dan revisi tulisan berdasarkan pengalaman siswa.
Perhatikan bahwa paragraf tersebut belum mengklaim kebaruan secara mutlak.
Ia menunjukkan apa yang sudah diketahui, ke mana calon penelitian diarahkan, dan bagian mana yang masih harus diuji.
Setelah pemeriksaan literatur tambahan dilakukan, pernyataan posisi dapat diperkuat dan disesuaikan.
13. Dari posisi penelitian menuju latar belakang yang utuh
Sekarang bayangkan mahasiswa yang pada awalnya hanya mempunyai kata creative writing.
Ia mengumpulkan publikasi melalui Publish or Perish, membaca node melalui VOSviewer, lalu memilih experience sebagai salah satu arah pengembangan topik PGSD.
Ia kemudian menelusuri fakta sosial dan pendidikan, membaca perkembangan fenomena, serta mempelajari teori yang relevan.
Setelah itu, ia menemukan beberapa penelitian yang ternyata sudah menggunakan pengalaman pribadi dalam kegiatan menulis anak.
Penemuan tersebut mungkin sempat membuatnya ragu. Namun, kini ia mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang apa yang ingin diketahui.
Ia tidak lagi sekadar mengatakan ingin meneliti pengalaman pribadi untuk meningkatkan keterampilan menulis kreatif.
Ia mulai mempertimbangkan bagaimana siswa mengolah pengalaman menjadi cerita, bagian proses apa yang dapat diperiksa, serta penjelasan apa yang mungkin dapat diberikan penelitiannya.
Itulah hasil yang kita harapkan dari penelusuran posisi penelitian.
Bukan judul yang tampak berbeda dari semua judul lain, melainkan persoalan yang semakin jelas setelah dibandingkan dengan pengetahuan yang sudah tersedia.
Pada artikel berikutnya, kita akan menggunakan seluruh hasil penggalian untuk menyusun latar belakang skripsi: mulai dari pemahaman umum, fenomena, teori, kesenjangan, urgensi, hingga posisi dan kebaruan penelitian.
Untuk saat ini, mungkin mahasiswa tersebut masih menatap beberapa artikel yang judulnya mirip dengan calon skripsinya.
Dahulu, artikel-artikel itu terasa seperti pesaing.
Sekarang, justru dari artikel yang paling dekat itulah ia dapat mengetahui bagian mana yang masih layak ditanyakan.
Referensi dan sumber penelusuran:
- The Lens. Scholarly Works Search. https://support.lens.org/knowledge-base/scholarly-works-search/
- Barton, G., Khosronejad, M., Ryan, M., Kervin, L., & Myhill, D. (2024). Teaching creative writing in primary schools: A systematic review of the literature through the lens of reflexivity. The Australian Educational Researcher, 51, 1311–1330. https://doi.org/10.1007/s13384-023-00641-9
- Cahyani, I., Nurhadi, J., & Mentari, M. (2023). Enhancing writing skills and language creativity through the plus-minus-interesting technique: A case study at the primary school level. Indonesian Journal of Applied Linguistics, 13(1). https://doi.org/10.17509/ijal.v13i1.58257
- Kushartanti, B., Johanna, R. D., & Dewi, F. R. (2024). Comparing the structures of Indonesian children’s writings in the narrative of happy vs. sad experiences. Linguistik Indonesia. https://doi.org/10.26499/li.v42i2.614
- Zumbrunn, S., Ekholm, E., Stringer, J. K., McKnight, K., & DeBusk-Lane, M. (2017). Student experiences with writing: Taking the temperature of the classroom. The Reading Teacher, 70(6), 667–677. https://doi.org/10.1002/trtr.1574
Catatan penggunaan: Kata kunci dan matriks dalam tutorial merupakan contoh langkah penelusuran yang dapat direplikasi. Jumlah hasil pencarian Lens.org tidak dicantumkan karena dapat berubah sesuai tanggal, pilihan bidang pencarian, dan filter yang digunakan. Klaim research gap serta novelty harus ditentukan setelah membaca sumber yang relevan, bukan hanya berdasarkan jumlah hasil pencarian.