Seorang mahasiswa PGSD akhirnya menemukan calon topik skripsi setelah mengamati peta VOSviewer. Ia tertarik meneliti pemanfaatan pengalaman pribadi siswa dalam pembelajaran menulis kreatif di sekolah dasar.
Topiknya terdengar menarik. Anak-anak tentu mempunyai pengalaman sehari-hari. Mereka bermain, bertengkar, bepergian bersama keluarga, menghadapi kejadian lucu, bahkan mengalami peristiwa yang tidak mudah dilupakan.
Namun, ketika mahasiswa itu mulai menulis latar belakang, tangannya berhenti di atas papan ketik.

Apa sebenarnya masalah yang ingin diteliti?
Apakah siswa SD kesulitan menulis cerita? Apakah mereka kekurangan ide? Apakah pengalaman pribadi belum dimanfaatkan dalam pembelajaran? Atau justru guru sudah menggunakan pengalaman pribadi, tetapi siswa masih mengalami kesulitan mengembangkan cerita?
Keempat kemungkinan itu tidak sama. Kita tidak bisa memilih salah satunya hanya karena terdengar masuk akal.
Pada artikel sebelumnya, kita menggunakan Publish or Perish dan VOSviewer untuk menemukan beberapa calon topik penelitian. Sekarang pekerjaan kita berubah. Kita perlu mencari tahu apa yang benar-benar terjadi di sekitar topik tersebut.
Untuk itu, kita akan menggunakan Google News, ChatGPT, dan Lens.org. Ketiganya mempunyai fungsi berbeda: Google News membantu menemukan peristiwa, ChatGPT membantu menyusun dan menguji pertanyaan, sedangkan Lens.org membantu menelusuri penelitian ilmiah yang berkaitan dengan fakta yang ditemukan.
Tujuan kita bukan mengumpulkan kutipan sebanyak-banyaknya. Kita sedang membangun pemahaman yang cukup agar latar belakang skripsi tidak berdiri di atas dugaan.
1. Jangan langsung mencari masalah, pahami dahulu topiknya
Calon topik yang kita bawa dari artikel pertama adalah pemanfaatan pengalaman pribadi dalam pembelajaran menulis kreatif siswa SD.
Sekilas, topik itu terdiri atas beberapa istilah sederhana. Namun, coba perhatikan kata pengalaman pribadi.
Apakah yang dimaksud pengalaman hidup yang pernah dialami siswa? Pengalaman belajar di kelas? Atau pengalaman ketika siswa mencoba menulis cerita?
Begitu pula dengan menulis kreatif. Apakah kita sedang membicarakan kemampuan menghasilkan ide, menyusun alur cerita, mengembangkan tokoh, atau keseluruhan proses menghasilkan karya tulis?
Sebelum mencari fenomena, kita perlu mengetahui batas awal konsep yang dibicarakan.
ChatGPT dapat membantu membongkar istilah-istilah tersebut.
Gunakan prompt berikut:
Saya mahasiswa PGSD yang sedang mengembangkan calon topik penelitian tentang pemanfaatan pengalaman pribadi siswa sekolah dasar dalam pembelajaran menulis kreatif.
Bantu saya memahami topik ini melalui penjelasan sederhana mengenai:
- Makna pengalaman pribadi dalam konteks pembelajaran menulis.
- Perbedaan pengalaman pribadi sebagai sumber ide dengan pengalaman siswa selama belajar menulis.
- Bentuk kegiatan menulis kreatif yang relevan bagi siswa SD.
- Kemungkinan hubungan antara pengalaman pribadi, pengembangan ide, dan penyusunan cerita.
- Konsep-konsep yang masih perlu saya periksa melalui literatur ilmiah.
Jangan langsung menentukan masalah penelitian, menyimpulkan kondisi siswa SD, atau membuat data yang tidak tersedia.
Hasilnya dapat kita gunakan sebagai peta pemahaman awal.
Misalnya, pengalaman pribadi bisa dipertimbangkan sebagai sumber ide cerita, sedangkan keterampilan menulis kreatif berkaitan dengan kemampuan mengembangkan ide menjadi teks.
Namun, penjelasan ChatGPT belum merupakan landasan teori yang siap dikutip. Kita masih perlu memeriksa konsep tersebut melalui publikasi ilmiah.
Setidaknya, sekarang kita mengetahui istilah apa yang akan digunakan dalam penelusuran berikutnya.
2. Mulai menggali fakta sosial melalui Google News
Sekarang buka Google News.
Jangan langsung mengetik judul calon skripsi secara lengkap. Kita perlu mencari persoalan yang lebih luas dahulu.
Dalam contoh menulis kreatif, kita bisa mencoba kata kunci:
literasi anak sekolah dasaranak sekolah dasar menulis ceritakreativitas anak literasipengalaman anak menulis ceritagerakan literasi sekolah dasar
Lakukan pencarian satu per satu. Jangan menggabungkan seluruh kata kunci sekaligus karena kita masih ingin mengetahui jenis peristiwa apa yang muncul.
Mengapa kita memulai dari fakta sosial?
Karena pembelajaran menulis tidak terjadi dalam ruang kosong. Anak hidup di tengah keluarga, masyarakat, perkembangan teknologi, dan lingkungan budaya yang turut membentuk pengalaman serta kebiasaan literasinya.
Sebagai contoh, ANTARA menerbitkan artikel berjudul Membangun literasi anak dari pojok-pojok sekolah pada 18 Agustus 2025.
Berita tersebut mengangkat aktivitas literasi siswa di sekolah dasar di Dumai, termasuk kegiatan mengunjungi perpustakaan secara rutin.
Sumber: https://www.antaranews.com/berita/5046677/membangun-literasi-anak-dari-pojok-pojok-sekolah
Berita ini tidak membuktikan bahwa siswa kesulitan menulis kreatif. Bahkan fokus utamanya adalah aktivitas membaca.
Namun, berita tersebut memperlihatkan praktik literasi yang dapat kita telusuri lebih jauh. Kita bisa mulai bertanya bagaimana kegiatan membaca, pengalaman siswa, dan aktivitas menghasilkan tulisan saling berkaitan dalam lingkungan sekolah.
Perhatikan perubahan cara berpikirnya.
Kita tidak mencari berita yang dapat dipaksakan untuk membuktikan bahwa topik kita bermasalah. Kita mencari peristiwa yang membantu memahami lingkungan tempat topik tersebut berada.
Apabila hasil pencarian justru menunjukkan praktik literasi yang berkembang baik, catat juga. Fakta positif tidak harus disingkirkan hanya karena kita sedang menyusun latar belakang masalah.
3. Gunakan ChatGPT untuk membedah fakta sosial
Setelah menemukan berita yang relevan, jangan langsung menyalin isinya ke dalam latar belakang.
Salin judul berita, tanggal, tautan, dan bagian informasi yang ingin diperiksa. Jika memungkinkan, baca keseluruhan berita dari sumber aslinya.
Kemudian gunakan prompt berikut:
Saya sedang menggali fakta sosial untuk latar belakang penelitian PGSD tentang pemanfaatan pengalaman pribadi siswa dalam pembelajaran menulis kreatif.
Berikut informasi dari berita yang sudah saya baca:
[Tempelkan judul, tanggal, sumber, dan ringkasan faktual berita]
Bantu saya menganalisisnya dengan membedakan:
- Fakta yang secara eksplisit dilaporkan.
- Konteks sosial yang berkaitan dengan literasi anak.
- Kemungkinan hubungan dengan pembelajaran menulis kreatif.
- Pertanyaan yang masih belum terjawab.
- Kata kunci ilmiah untuk menelusuri penelitian yang relevan.
Jangan menganggap dugaan sebagai fakta, dan jangan menyimpulkan hubungan sebab-akibat tanpa bukti.
Mengapa prompt ini penting?
Karena ChatGPT sangat mudah membantu kita membuat hubungan yang tampaknya masuk akal. Misalnya, sebuah berita tentang perpustakaan sekolah dapat dikaitkan dengan minat baca, imajinasi, kreativitas, dan kemampuan menulis.
Hubungan tersebut mungkin layak ditelusuri. Namun, belum tentu seluruhnya terbukti oleh berita yang sedang kita baca.
Kita perlu mempertahankan batas antara apa yang diketahui dan apa yang baru diduga.
Sebaiknya catat hasil penggalian dalam tabel sederhana.
| Fakta sosial | Sumber | Pertanyaan lanjutan |
|---|---|---|
| Kegiatan membaca rutin dilaksanakan pada sekolah yang diberitakan | ANTARA, 18 Agustus 2025 | Apakah kegiatan literasi juga mencakup produksi cerita oleh siswa? |
| Pengalaman anak dapat dituangkan menjadi tulisan | Perlu ditelusuri melalui dokumentasi kegiatan literasi anak | Bagaimana pengalaman diolah menjadi cerita? |
| Hubungan kebiasaan literasi dengan keterampilan menulis | Belum dibuktikan melalui berita tersebut | Apa temuan penelitian ilmiah mengenai hubungan keduanya? |
Baris pertama merupakan informasi dari contoh berita. Dua baris berikutnya adalah arah penggalian yang masih memerlukan sumber tambahan.
Inilah cara menjaga agar catatan kita tidak bercampur antara fakta dan penafsiran.
4. Periksa fakta sosial melalui Lens.org
Sekarang kita mempunyai sejumlah pertanyaan dari hasil membaca berita.
Pekerjaan berikutnya adalah mencari penelitian ilmiah yang dapat membantu menjelaskannya.
Buka Lens.org dan gunakan fasilitas Scholarly Search.
Jangan langsung memasukkan semua kata kunci dari tabel. Kita akan menelusurinya berdasarkan kategori fakta.
Untuk kategori pertama, misalnya tentang lingkungan literasi anak, gunakan kata kunci:
elementary school literacy activities
Kemudian lanjutkan dengan:
primary school literacy practices
Jika ingin melihat kemungkinan hubungan membaca dan menulis, gunakan:
reading and creative writing elementary school
Periksa hasilnya. Kamu dapat menggunakan penyaring tahun publikasi, jenis dokumen, atau bidang pencarian yang tersedia pada Lens.org.
Jangan hanya mengambil artikel dengan sitasi paling banyak. Perhatikan juga kesesuaian judul, abstrak, subjek penelitian, dan konteksnya.
Ketika menemukan artikel yang relevan, baca setidaknya abstraknya sebelum memutuskan untuk menyimpan atau menggunakannya.
Selanjutnya, catat informasi berikut:
| Komponen | Catatan |
|---|---|
| Kategori fakta | Literasi anak dalam lingkungan sosial dan sekolah |
| Kata kunci | elementary school literacy activities |
| Artikel relevan | Judul, penulis, dan tahun |
| Temuan utama | Diisi setelah membaca sumber |
| Kaitan dengan topik | Hubungan yang benar-benar didukung artikel |
| Pertanyaan tersisa | Apa yang belum dapat dijelaskan |
Hal penting yang perlu diingat: Lens.org tidak berfungsi untuk mengesahkan sebuah berita.
Jika sebuah berita melaporkan kegiatan literasi pada sekolah tertentu, kebenaran peristiwa itu harus diperiksa melalui sumber beritanya, dokumen resmi, atau bukti langsung.
Sementara Lens.org membantu mencari penelitian tentang praktik literasi dan pembelajaran yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Jadi, kedua sumber bekerja saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
5. Sekarang beralih ke fakta pendidikan
Setelah menggali fakta sosial, kita mulai mempersempit perhatian pada kegiatan pembelajaran di sekolah dasar.
Kembali ke Google News.
Gunakan kata kunci seperti:
kesulitan menulis siswa SDpembelajaran menulis cerita sekolah dasarguru mengajarkan menulis kreatif SDanak SD kesulitan menulisstrategi pembelajaran menulis siswa SD
Penelusuran ini tidak harus menghasilkan berita yang semuanya menunjukkan kegagalan pembelajaran.
Justru kita perlu mencari variasi kondisi: sekolah yang menghadapi kesulitan, guru yang mencoba strategi baru, serta kegiatan pembelajaran yang menghasilkan karya siswa.
Sebagai contoh, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan siaran pers berjudul Pembelajaran Mendalam Bantu Guru Ubah Kesulitan Menulis Menjadi Pengalaman Belajar Menyenangkan pada Agustus 2026.
Siaran pers itu menceritakan praktik seorang guru kelas III SD di Depok dalam menangani kesulitan menulis murid, antara lain masalah jarak antarkata serta tekanan pensil.
Apa relevansinya dengan topik kita?
Berita tersebut memperlihatkan bahwa kesulitan menulis pada anak dapat mempunyai bentuk yang berbeda. Ada persoalan motorik, kebiasaan, proses belajar, dan kemungkinan kesulitan mengembangkan gagasan.
Tetapi jangan langsung menyamakan semuanya.
Kesulitan memberikan jarak antarkata tidak sama dengan kesulitan membangun alur cerita. Karena itu, berita tersebut berguna untuk memperjelas batas persoalan, bukan untuk membuktikan bahwa siswa mengalami kesulitan menulis kreatif.
Barangkali persoalan yang ingin kita teliti justru berada pada tahap setelah anak mampu menulis kalimat: bagaimana ia mengembangkan pengalaman menjadi cerita.
Sekarang fokus penggalian mulai terlihat lebih tajam.
6. Tanyakan fakta pendidikan kepada ChatGPT
Kita dapat menggunakan ChatGPT untuk mengembangkan pertanyaan berdasarkan jenis kesulitan menulis yang ditemukan.
Gunakan prompt berikut:
Saya sedang menggali fakta pendidikan untuk calon penelitian tentang pemanfaatan pengalaman pribadi siswa SD dalam pembelajaran menulis kreatif.
Saya ingin membedakan kesulitan teknis menulis dengan kesulitan mengembangkan isi cerita.
Bantu saya mengidentifikasi kemungkinan kategori kesulitan yang berkaitan dengan:
- Menemukan ide cerita.
- Mengingat dan memilih pengalaman pribadi.
- Menyusun urutan peristiwa.
- Mengembangkan tokoh, latar, dan konflik.
- Mengubah cerita lisan menjadi tulisan.
Untuk setiap kategori, jelaskan indikator yang mungkin diamati, kata kunci penelitian, dan bentuk bukti yang diperlukan.
Jangan menyatakan bahwa kesulitan tersebut pasti dialami siswa pada sekolah yang akan saya teliti.
Dari sini, mahasiswa dapat memperoleh daftar kemungkinan yang lebih operasional.
Misalnya, kesulitan menemukan ide berbeda dari kesulitan menyusun cerita. Seorang siswa bisa saja memiliki banyak ide tetapi belum mampu menuliskannya secara runtut.
Namun, daftar tersebut belum menjadi hasil penelitian. Kita masih membutuhkan bukti dari publikasi ilmiah atau pengamatan lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
ChatGPT membantu kita mengetahui apa yang harus dicari, bukan menentukan bahwa sesuatu sudah terjadi.
7. Periksa fakta pendidikan melalui Lens.org
Sekarang lakukan pencarian kedua di Lens.org. Kali ini jangan menggunakan kelompok kata kunci fakta sosial.
Fokuskan pencarian pada pembelajaran menulis kreatif siswa sekolah dasar.
Coba beberapa kata kunci berikut secara terpisah:
creative writing primary school students
narrative writing difficulties elementary school
personal experience narrative writing children
story writing skills primary education
Perhatikan bahwa setiap kata kunci mempunyai fokus berbeda.
Pencarian pertama berkaitan dengan keterampilan menulis kreatif secara umum. Pencarian kedua lebih khusus tentang kesulitan menulis narasi. Pencarian ketiga mencoba menelusuri hubungan pengalaman pribadi dengan penulisan cerita. Pencarian keempat membahas keterampilan menulis cerita dalam pendidikan dasar.
Pemisahan ini penting agar kita mengetahui kelompok literatur mana yang menjawab pertanyaan tertentu.
Sebagai contoh literatur, penelitian berjudul Analisis Diagnostik Disparitas Orisinalitas dan Elaborasi Menulis Cerpen Siswa SD melalui Stimulus Imajinatif diterbitkan pada 2024 dan melibatkan 50 siswa kelas V.
Penelitian tersebut membahas orisinalitas dan elaborasi dalam kegiatan menulis kreatif siswa sekolah dasar.
Sumber: https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/6568703
Temuan ini menarik karena mengarahkan perhatian kita pada dua aspek yang berbeda: kemampuan menghasilkan gagasan asli dan kemampuan mengembangkannya.
Namun, kita masih perlu membaca artikel lengkap untuk memahami instrumen, hasil pengukuran, dan batas kesimpulannya.
Contoh lain adalah penelitian Pengaruh Media Cerita Digital terhadap Kreativitas Penulisan Narasi Siswa Sekolah Dasar yang terbit pada 2026. Penelitian tersebut melibatkan siswa kelas IV dan menguji penggunaan media cerita digital dalam pembelajaran menulis narasi.
Sumber: https://doi.org/10.31004/basicedu.v10i4.12619
Kedua penelitian itu tidak secara otomatis membuktikan bahwa pengalaman pribadi merupakan solusi pembelajaran.
Sebaliknya, keduanya dapat membantu kita memahami aspek keterampilan menulis yang perlu diperhatikan dan pendekatan pembelajaran yang sudah diteliti.
Jika kita ingin meneliti pengalaman pribadi, kita masih harus mencari literatur yang secara langsung membahas pengalaman sebagai sumber ide atau bahan pengembangan cerita.
8. Jangan campurkan seluruh fakta menjadi satu kesimpulan
Sekarang bayangkan kamu telah memperoleh lima berita dan sepuluh artikel ilmiah.
Kamu mungkin tergoda untuk segera menulis:
“Keterampilan menulis kreatif siswa sekolah dasar masih rendah sehingga diperlukan pemanfaatan pengalaman pribadi untuk meningkatkan kemampuan menulis.”
Kalimat tersebut tampak seperti latar belakang skripsi. Namun, coba periksa.
Apakah kita sudah mempunyai bukti bahwa keterampilan siswa pada konteks penelitian memang rendah?
Apakah kita sudah mengetahui penyebabnya?
Apakah pengalaman pribadi telah terbukti sebagai pendekatan yang tepat?
Jika belum, kalimat tersebut melompati sejumlah pekerjaan investigasi.
Lebih baik kita membedakan hasil penelusuran menjadi tiga kategori.
| Kategori | Yang sudah dapat dicatat |
|---|---|
| Pemahaman umum | Menulis kreatif melibatkan proses mengembangkan gagasan menjadi karya tulis; aspek-aspek spesifiknya perlu dijelaskan melalui literatur |
| Fakta sosial | Ada praktik literasi anak yang terdokumentasi dalam pemberitaan, tetapi hubungannya dengan penulisan kreatif masih perlu ditelusuri |
| Fakta pendidikan | Penelitian telah membahas aspek orisinalitas, elaborasi, dan strategi pembelajaran menulis narasi siswa SD |
Dari ketiga kategori tersebut, kita mulai mempunyai bahan untuk menjelaskan mengapa topik menulis kreatif berkaitan dengan kehidupan dan pendidikan anak.
Tetapi belum ada keharusan menyatakan bahwa semuanya bermasalah.
Justru di sinilah ketelitian peneliti mulai diuji.
Tidak semua fakta yang relevan merupakan bukti masalah. Tidak semua temuan penelitian merupakan jawaban bagi topik kita.
Kita perlu mengetahui fungsi masing-masing sumber sebelum memasukkannya ke dalam latar belakang.
9. Kapan penggalian fenomena dianggap cukup?
Kita tidak harus menemukan seluruh fakta tentang menulis kreatif dalam satu hari. Namun, kita juga tidak perlu menelusuri berita tanpa batas.
Untuk tahap ini, ada empat hasil yang sebaiknya sudah dimiliki mahasiswa.
Pertama, pemahaman awal mengenai konsep utama topik penelitian.
Kedua, sejumlah fakta sosial yang relevan dan mempunyai sumber yang dapat diperiksa.
Ketiga, fakta pendidikan yang menunjukkan bagaimana topik berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di SD.
Keempat, artikel ilmiah yang membantu menjelaskan atau membatasi penafsiran terhadap fakta tersebut.
Gunakan satu tabel kerja sebagai tempat menyimpan hasil penggalian.
| Komponen latar belakang | Sumber dan hasil penggalian |
|---|---|
| Pemahaman umum topik | Konsep menulis kreatif, pengalaman pribadi, dan menulis narasi berdasarkan literatur |
| Fakta sosial | Berita tentang praktik literasi anak dan konteks sosial yang relevan |
| Fakta pendidikan | Berita, dokumen pendidikan, dan penelitian mengenai pembelajaran menulis siswa SD |
| Bukti yang belum tersedia | Kondisi siswa pada sekolah sasaran, praktik guru, serta kesulitan spesifik yang ingin diteliti |
Tabel itu tidak perlu langsung diubah menjadi paragraf panjang.
Simpan judul sumber, nama penulis, tanggal, tautan, serta catatan hasil pembacaan. Hindari menyimpan ringkasan tanpa informasi asalnya karena akan menyulitkan saat melakukan sitasi.
Bila suatu fakta tidak menemukan dukungan yang cukup, tandai sebagai pertanyaan terbuka. Jangan mengubahnya menjadi pernyataan pasti hanya supaya latar belakang tampak lengkap.
10. Dari fakta menuju pertanyaan penelitian yang lebih tajam
Mari kembali pada siswa yang diminta menulis cerita berdasarkan pengalaman pribadi.
Dari penggalian awal, kita mengetahui bahwa menulis kreatif mempunyai beberapa aspek yang dapat diperhatikan. Kita juga menemukan penelitian tentang pembelajaran menulis narasi dan praktik literasi di sekolah dasar.
Namun, kita belum mengetahui bagaimana siswa pada sekolah yang akan diteliti menggunakan pengalaman pribadinya untuk menulis.
Apakah mereka mampu memilih peristiwa yang menarik? Apakah mereka kesulitan mengembangkan rincian cerita? Apakah guru memberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman secara lisan sebelum menulis?
Pertanyaan tersebut dapat menjadi arah pengamatan awal atau wawancara pendahuluan, jika memungkinkan dan dilakukan dengan prosedur yang sesuai.
Kita juga belum perlu memastikan bahwa penelitian harus menggunakan pengalaman pribadi sebagai strategi pembelajaran. Bisa jadi setelah memeriksa kondisi lapangan, kita menemukan bahwa persoalannya bukan pada sumber ide, melainkan pada kemampuan mengorganisasi dan mengembangkan cerita.
Itulah sebabnya penelusuran fenomena dilakukan sebelum menetapkan rumusan masalah.
Pada tahap ini, kita tidak sedang mencari alasan untuk mempertahankan topik pilihan pertama. Kita sedang memeriksa apakah topik tersebut memang layak dilanjutkan.
11. Apa yang dilakukan setelah fenomena ditemukan?
Sekarang kita telah mempunyai tiga kelompok bahan awal: pemahaman umum, fakta sosial, dan fakta pendidikan.
Masih ada pertanyaan yang perlu dijawab.
Apakah persoalan menulis kreatif yang kita temukan merupakan gejala baru? Bagaimana kondisinya beberapa tahun sebelumnya? Apakah penelitian terdahulu menunjukkan perubahan pendekatan, jenis kesulitan, atau hasil pembelajaran?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada tahap berikutnya: menelusuri fenomena terdahulu.
Nanti kita akan kembali menggunakan berita dan artikel ilmiah, tetapi dengan perhatian pada perkembangan waktu. Setelah itu, kita dapat mulai menelusuri teori yang membantu menjelaskan kondisi yang seharusnya, lalu membandingkannya dengan kenyataan.
Untuk sekarang, jangan terburu-buru menulis bahwa siswa SD mengalami krisis keterampilan menulis kreatif.
Mungkin ada siswa yang kesulitan menemukan kata pertama. Mungkin ada yang mampu bercerita panjang secara lisan tetapi hanya menulis tiga kalimat. Mungkin pula ada siswa yang sudah menghasilkan cerita menarik tanpa bantuan metode khusus.
Kita belum mengetahui mana yang terjadi pada sekolah sasaran.
Di atas meja, catatan fenomena mulai bertambah. Ada berita, artikel penelitian, dan sejumlah pertanyaan yang belum terjawab.
Latar belakang skripsi mungkin belum menjadi satu paragraf utuh. Tetapi sekarang kita mulai tahu bagian mana yang sudah mempunyai bukti dan bagian mana yang masih harus digali.
Dan itu jauh lebih berguna daripada halaman pertama yang penuh kutipan, tetapi tidak memperlihatkan persoalan apa pun.
Tag: skripsi PGSD, latar belakang skripsi, fenomena penelitian, fakta sosial, fakta pendidikan, Google News, ChatGPT untuk penelitian, Lens.org, literasi siswa SD, menulis kreatif, penelitian pendidikan dasar, tutorial penelitian, metode penelitian, mahasiswa PGSD
Sumber bacaan dan penelusuran:
- Google News. https://news.google.com/
- Google News Help. Find what you want on Google News. https://support.google.com/googlenews/answer/9005601
- Lens.org. Scholarly Works Search. https://support.lens.org/knowledge-base/scholarly-works-search/
- ANTARA News. (2025, 18 Agustus). Membangun literasi anak dari pojok-pojok sekolah. https://www.antaranews.com/berita/5046677/membangun-literasi-anak-dari-pojok-pojok-sekolah
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026). Pembelajaran Mendalam Bantu Guru Ubah Kesulitan Menulis Menjadi Pengalaman Belajar Menyenangkan. https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/16061-pembelajaran-mendalam-bantu-guru-ubah-kesulitan-menulis-menjadi-pengalaman-belajar-menyenangkan
- Sutanto, T., Abidin, Y., & Putra, Y. P. (2024). Analisis Diagnostik Disparitas Orisinalitas dan Elaborasi Menulis Cerpen Siswa SD melalui Stimulus Imajinatif. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/6568703
- Arifin, Y., Faradilla, S., Absyari, A. R., & Rahmawati, I. D. (2026). Pengaruh Media Cerita Digital terhadap Kreativitas Penulisan Narasi Siswa Sekolah Dasar. https://doi.org/10.31004/basicedu.v10i4.12619