Perumusan Judul Penelitian Pendidikan Berbantuan Penelusuran Literatur

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Riset
  • Reading time:23 mins read

Seorang mahasiswa datang membawa rancangan judul penelitian yang menurutnya sudah cukup matang. Ia ingin meneliti aplikasi Quizizz karena pernah menggunakannya ketika praktik mengajar. Menurut pengalamannya, siswa terlihat senang mengikuti kuis, lebih cepat menjawab pertanyaan, dan tertarik melihat skor yang muncul pada layar. Dari pengalaman itu, ia menyusun sebuah judul: “Pemanfaatan Aplikasi Quizizz sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”. Ia merasa sudah menemukan masalah penelitian sekaligus cara menyelesaikannya. Apalagi, ketika dicari melalui Google Scholar, banyak artikel membahas aplikasi serupa dalam pembelajaran.

Namun, ketika dosen bertanya teori apa yang akan menjadi landasan penelitiannya, mahasiswa itu mulai kesulitan menjawab. Ia dapat menjelaskan fitur Quizizz, cara membuat kuis, dan kelebihan aplikasi tersebut dibandingkan lembar soal biasa. Ia juga menyebut beberapa artikel yang menunjukkan hasil positif penggunaan kuis digital. Akan tetapi, ketika pertanyaannya diubah menjadi “Apa sebenarnya persoalan pendidikan yang ingin kamu teliti?”, penjelasannya kembali berputar pada kelebihan aplikasi. Seolah-olah penelitian pendidikan cukup dilakukan dengan menemukan teknologi yang menarik, lalu membuktikan bahwa teknologi itu bermanfaat.

Keadaan seperti ini tidak hanya terjadi pada mahasiswa yang tertarik pada aplikasi digital. Mahasiswa pendidikan seni tari mungkin sudah menemukan video demonstrasi gerak yang ingin digunakan dalam pembelajaran. Mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia sudah membayangkan cerita digital yang menarik bagi siswa. Mahasiswa PGSD bahkan mungkin telah merancang permainan edukatif lengkap dengan warna, gambar, dan aturan permainannya. Semuanya merupakan minat yang wajar. Masalah baru muncul ketika benda atau kegiatan yang menarik tersebut langsung dianggap sebagai pusat penelitian, sementara persoalan pendidikannya belum ditemukan.

Di sinilah perumusan judul sebenarnya dimulai. Judul tidak cukup dibangun dengan memasangkan nama aplikasi, mata pelajaran, dan hasil belajar. Kita perlu memahami bidang keilmuan yang digunakan untuk melihat persoalan, menentukan sesuatu yang menjadi bahan kajian, dan menjelaskan konteks tempat persoalan tersebut berlangsung. Dalam bahasa metodologi, ketiganya dapat dibicarakan melalui objek formal, objek material, dan konteks penelitian. Akan tetapi, sebelum menghafalkan ketiga istilah tersebut, ada pekerjaan yang lebih mendasar: menentukan dari sudut pandang ilmu apa sebuah persoalan akan diteliti.

Mengapa Judul Penelitian Perlu Menunjukkan Arah Keilmuan?

Bayangkan sebuah video yang memperlihatkan seorang penari sedang mendemonstrasikan rangkaian gerak tradisional. Video tersebut dapat menarik perhatian banyak orang dari bidang keilmuan berbeda. Mahasiswa teknologi informasi mungkin memperhatikan sistem penyimpanan dan penyajian videonya. Mahasiswa komunikasi dapat mengkaji cara pesan disampaikan melalui gambar bergerak. Mahasiswa seni pertunjukan mungkin memusatkan perhatian pada struktur koreografi, kualitas gerak, dan nilai artistiknya. Sementara mahasiswa pendidikan seni tari dapat mempertanyakan bagaimana video tersebut ditempatkan dalam proses pembelajaran gerak.

Tidak ada yang salah dengan perbedaan perhatian tersebut. Justru dari sana kita dapat melihat bahwa satu benda tidak selalu menjadi milik satu bidang ilmu. Video, aplikasi, buku cerita, permainan, bahkan kegiatan sehari-hari dapat menjadi bahan penelitian dari berbagai sudut pandang. Yang membedakannya bukan semata-mata benda yang digunakan, melainkan pertanyaan yang diajukan serta landasan keilmuan yang digunakan untuk menjawabnya.

Karena itu, mahasiswa pendidikan perlu berhati-hati ketika mengawali judul dengan nama aplikasi atau teknologi. Misalnya, judul “Pemanfaatan Quizizz dalam Pembelajaran” memang menyebut kegiatan pendidikan, tetapi belum menjelaskan apakah penelitian akan berurusan dengan desain pembelajaran, asesmen, pengalaman belajar, atau pengembangan media. Jika penelitiannya hanya membahas fitur aplikasi, karakter pendidikan yang diharapkan belum tentu muncul. Sebaliknya, judul yang diawali dengan “Asesmen Formatif” akan segera membawa pembaca pada persoalan bagaimana informasi belajar siswa diperoleh, ditafsirkan, dan digunakan dalam pembelajaran.

Pilihan kata awal seperti ini bukan sekadar persoalan tata urutan bahasa. Dalam penelitian, istilah yang ditempatkan di depan dapat menjadi petunjuk awal mengenai bangunan pengetahuan yang harus dipelajari. Kata perancangan membawa kita kepada kajian desain. Kata pembelajaran membawa kita kepada teori belajar dan pembelajaran. Kata evaluasi membawa kita kepada dasar penilaian dan evaluasi pendidikan. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak bekerja secara otomatis. Seseorang tidak langsung memahami teori pembelajaran hanya karena menempatkan kata pembelajaran di awal judulnya. Kata itu baru memberi arah; penelitinya masih harus menempuh jalan keilmuan yang ditunjukkan.

Objek Formal Bukan Sekadar Sesuatu yang Menarik Diamati

Dalam pembahasan tentang objek ilmu pengetahuan, objek material biasanya dipahami sebagai sesuatu yang menjadi bahan kajian, sedangkan objek formal merupakan sudut pandang atau aspek tertentu yang digunakan untuk memahaminya. Pembedaan ini membantu kita menjelaskan mengapa kegiatan yang sama dapat diteliti oleh bidang ilmu berbeda. Namun, dalam penelitian pendidikan, objek formal sebaiknya tidak berhenti sebagai sesuatu yang sekadar menarik diperhatikan. Objek formal perlu mengarahkan mahasiswa kepada landasan konseptual dan teoretis yang berhubungan dengan pendidikan.

Arah tersebut berakar pada pertanyaan yang lebih mendasar dalam filsafat pendidikan. Apa yang dimaksud dengan belajar? Bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan? Bagaimana pengalaman membentuk pemahaman? Apa peran guru, peserta didik, lingkungan, dan bahan ajar dalam proses pendidikan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu harus dijawab secara panjang lebar dalam setiap penelitian, tetapi pemahaman terhadapnya membantu mahasiswa menyadari bahwa keputusan pembelajaran tidak pernah sepenuhnya terlepas dari asumsi tentang manusia dan pengetahuan.

Misalnya, mahasiswa yang tertarik pada pembelajaran tari melalui video perlu memikirkan bagaimana seseorang mempelajari gerak. Apakah pengamatan terhadap demonstrasi sudah cukup? Bagaimana latihan, umpan balik, pengulangan, dan pengalaman tubuh berperan dalam pembelajaran? Pertanyaan semacam ini dapat membawanya kepada teori belajar melalui pengamatan, pembelajaran keterampilan motorik, atau kajian pendidikan tari yang lebih khusus. Ia tidak perlu menggunakan seluruh teori tersebut sekaligus. Justru penelitian memerlukan pemilihan landasan yang paling sesuai dengan persoalan.

Dengan demikian, filsafat pendidikan, teori pendidikan, dan model pembelajaran perlu dibedakan. Filsafat membantu menjelaskan asumsi dasar tentang tujuan, nilai, pengetahuan, dan manusia dalam pendidikan. Teori membantu menjelaskan fenomena atau proses tertentu. Sementara model dapat menyediakan kerangka atau prosedur yang lebih operasional dalam merancang, melaksanakan, maupun mengevaluasi kegiatan pendidikan. Ketiganya dapat berhubungan, tetapi tidak dapat dipertukarkan begitu saja. Model ADDIE, misalnya, tidak otomatis menjadi teori belajar hanya karena sering digunakan dalam penelitian pengembangan media.

Untuk membantu mahasiswa mengenali arah keilmuan, kita dapat mulai dari beberapa kata yang relatif dekat dengan tradisi penelitian pendidikan. Kata-kata seperti perancangan, pengembangan, pembelajaran, asesmen, evaluasi, dan kurikulum dapat menjadi pintu masuk. Daftar ini tentu bukan daftar seluruh objek formal pendidikan, apalagi rumus wajib yang berlaku pada setiap penelitian. Fungsinya lebih sederhana: membantu mahasiswa melihat bahwa memilih kata awal berarti mulai memilih keluarga teori, konsep, dan persoalan yang harus dipelajari.

Perancangan Pembelajaran dan Tanggung Jawab terhadap Teori Desain

Kita kembali kepada mahasiswa yang tertarik pada Quizizz. Katakanlah ia sebenarnya ingin menyusun kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dengan bantuan kuis digital. Ia belum berencana menguji pengaruh aplikasi terhadap hasil belajar. Perhatian utamanya adalah bagaimana tujuan, materi, kegiatan, dan asesmen disusun menjadi satu rancangan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Jika demikian, kata perancangan mungkin lebih tepat menjadi pintu masuk daripada kata pemanfaatan.

Salah satu kemungkinan judulnya ialah “Perancangan Pembelajaran Teks Narasi Berbantuan Quizizz pada Siswa Kelas V SD”. Judul tersebut mengubah pusat perhatian. Quizizz masih disebut, tetapi kini menjadi bagian dari keputusan desain pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup lagi menjelaskan bahwa aplikasi memiliki fitur kuis yang menarik. Ia perlu mempelajari bagaimana kebutuhan belajar dikenali, tujuan pembelajaran dirumuskan, aktivitas disusun, materi dipilih, serta asesmen ditempatkan dalam keseluruhan rancangan.

Dalam bidang desain pembelajaran, mahasiswa dapat menelusuri literatur tentang instructional design, termasuk karya yang membahas model Dick dan Carey, ADDIE, maupun kerangka desain lainnya. Buku The Instructional Design Knowledge Base: Theory, Research, and Practice karya Rita C. Richey, James D. Klein, dan Monica W. Tracey dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami bahwa desain pembelajaran mempunyai bangunan pengetahuan yang lebih luas daripada urutan membuat media. Mahasiswa tetap harus menilai model mana yang sesuai dengan kebutuhan penelitiannya, bukan memilih model hanya karena paling sering muncul dalam artikel jurnal.

See also  Topik Skripsimu Sudah Pernah Diteliti? Begini Cara Menemukan Research Gap dan Novelty

Pembedaan ini penting karena dalam banyak proposal, perancangan dan pengembangan sering dianggap sama. Padahal, menyusun rancangan pembelajaran belum tentu sama dengan menghasilkan serta menguji sebuah produk. Jika penelitian hanya berfokus pada keputusan desain, luaran dan cara memeriksanya perlu disesuaikan. Sebaliknya, apabila mahasiswa benar-benar membuat produk, melakukan penilaian, merevisi, dan mengujinya sesuai prosedur tertentu, ia mungkin sedang bergerak menuju penelitian pengembangan. Perbedaan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti kata pada judul. Rencana penelitiannya juga harus berubah.

Pengembangan Media Pembelajaran dan Persoalan Produk Pendidikan

Sekarang bayangkan mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia yang ingin membuat media cerita digital. Ia memperhatikan bahwa beberapa siswa kesulitan menyusun alur ketika menulis narasi. Dari pengamatan awal, ia mulai membayangkan media yang menyediakan tokoh, latar, urutan peristiwa, dan kemungkinan pengembangan cerita. Minatnya tidak lagi berhenti pada keinginan membuat media yang menarik. Ia mulai mempunyai alasan pendidikan mengapa produk tersebut perlu dikembangkan.

Dalam keadaan ini, calon judul “Pengembangan Media Cerita Digital pada Pembelajaran Menulis Narasi Kelas VII SMP” dapat dipertimbangkan. Kata pengembangan menunjukkan bahwa penelitian akan berurusan dengan suatu produk pendidikan, bukan sekadar mendeskripsikan penggunaan media yang sudah tersedia. Mahasiswa perlu mempelajari penelitian desain dan pengembangan, memahami prosedur yang dipilih, lalu menentukan bagaimana kualitas produk akan diperiksa.

Namun, peneliti juga harus berhati-hati ketika menjelaskan hasil yang diharapkan. Sebuah media yang dinilai layak oleh ahli belum otomatis terbukti meningkatkan kemampuan menulis siswa. Demikian pula media yang disukai siswa belum tentu mempunyai efektivitas pembelajaran yang telah teruji. Penilaian kelayakan, kepraktisan, pengalaman pengguna, dan efektivitas merupakan persoalan yang dapat membutuhkan bukti berbeda. Kesimpulan penelitian harus mengikuti bukti yang benar-benar dikumpulkan.

Mahasiswa yang memilih kata pengembangan karena terlihat lebih akademik daripada pembuatan mungkin belum menyadari konsekuensi tersebut. Ia akan membutuhkan bukan hanya artikel tentang media serupa, tetapi juga literatur dasar mengenai penelitian pengembangan dan teori pembelajaran menulis. Di sini kata awal judul mempunyai fungsi yang penting: ia mengingatkan mahasiswa tentang pekerjaan ilmiah yang harus dipertanggungjawabkan.

Pembelajaran Tidak Sama dengan Sekadar Menggunakan Media

Untuk mahasiswa pendidikan seni tari, kata pembelajaran mungkin terasa sangat akrab. Namun, justru karena sering digunakan, maknanya perlu diperjelas. Pembelajaran dapat mencakup kegiatan guru, aktivitas siswa, interaksi, latihan, bahan ajar, dan lingkungan tempat belajar berlangsung. Jika semua dimasukkan sekaligus, penelitian dapat menjadi terlalu luas. Karena itu, istilah pembelajaran harus dilanjutkan dengan penentuan materi dan persoalan yang lebih khusus.

Misalnya, seorang mahasiswa tertarik pada pembelajaran gerak tari tradisional melalui video demonstrasi. Calon judulnya dapat berbunyi “Pembelajaran Gerak Tari Tradisional Berbantuan Video Demonstrasi pada Siswa SMP”. Judul ini belum sepenuhnya final, tetapi sudah memberi arah bahwa pusat kajiannya adalah pembelajaran gerak tari, sedangkan video merupakan bagian dari situasi belajar. Peneliti selanjutnya perlu memperjelas aspek pembelajaran yang menjadi perhatian, misalnya pengamatan gerak, proses latihan, penggunaan umpan balik, atau hubungan antara demonstrasi dan praktik siswa.

Di sinilah teori belajar dan pengetahuan bidang studi saling bertemu. Teori pembelajaran membantu menjelaskan bagaimana pengalaman belajar berlangsung, sementara pengetahuan pendidikan tari membantu memahami karakteristik gerak, latihan, demonstrasi, dan keterampilan yang dipelajari. Mahasiswa tidak cukup hanya mengutip artikel yang menyatakan bahwa video pembelajaran memiliki manfaat. Ia perlu memahami mengapa, dalam keadaan tertentu, demonstrasi visual dapat membantu pembelajaran gerak dan apa keterbatasannya.

Hal yang sama berlaku pada pembelajaran membaca puisi atau menulis cerpen. Mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia tidak cukup hanya mempelajari teori pembelajaran secara umum. Ia juga perlu membaca teori tentang keterampilan berbahasa atau kesastraan yang menjadi fokus penelitian. Dengan demikian, kata pembelajaran pada judul bukan sekadar penanda bahwa penelitian dilakukan di sekolah. Kata itu membawa kita kepada proses pendidikan yang harus dipahami melalui landasan ilmu yang tepat.

Asesmen dan Evaluasi Memiliki Pertanyaan yang Berbeda

Pada pertemuan berikutnya, mahasiswa yang semula ingin meneliti Quizizz mungkin mulai menyadari bahwa ketertarikannya sebenarnya terletak pada cara guru mengetahui pemahaman siswa. Ia memperhatikan bahwa setelah kuis selesai, guru dapat melihat jawaban yang benar dan salah. Namun, ia mulai bertanya apakah informasi tersebut digunakan untuk memberi umpan balik atau memperbaiki pembelajaran. Pertanyaan ini membawa minat awalnya menuju kajian asesmen, khususnya asesmen formatif.

Calon judul “Asesmen Formatif Berbantuan Quizizz pada Pembelajaran Matematika Kelas V SD” kemudian menjadi lebih masuk akal. Mahasiswa perlu menelusuri konsep asesmen formatif, hubungan antara bukti belajar dan umpan balik, serta cara informasi asesmen digunakan dalam keputusan pembelajaran. Ia dapat mempelajari karya-karya dasar tentang asesmen formatif dan penelitian terbaru mengenai asesmen digital. Sekali lagi, nama Quizizz tetap ada, tetapi bukan aplikasinya yang menentukan seluruh arah teori.

Bagaimana jika mahasiswa memilih kata evaluasi? Di sini persoalannya berbeda. Evaluasi biasanya berkaitan dengan penilaian terhadap suatu program, kebijakan, kegiatan, atau objek tertentu berdasarkan kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, “Evaluasi Program Literasi Membaca di Sekolah Dasar”. Penelitian semacam ini perlu menjelaskan apa yang dievaluasi, kriteria keberhasilannya, bukti yang diperlukan, dan model evaluasi yang sesuai. Mahasiswa dapat mempelajari model CIPP atau pendekatan evaluasi lain, tetapi tidak cukup hanya menyebut nama model dalam proposal.

Maka, meskipun asesmen dan evaluasi sama-sama berhubungan dengan penilaian, keduanya tidak boleh otomatis dipertukarkan. Asesmen formatif dalam pembelajaran dapat berfokus pada pengumpulan serta penggunaan bukti belajar siswa. Evaluasi program dapat berfokus pada penilaian pelaksanaan dan hasil suatu kegiatan pendidikan berdasarkan kriteria tertentu. Pemilihan kata awal membantu memperlihatkan perbedaan tersebut, asalkan teori dan pertanyaan penelitiannya juga disusun secara konsisten.

Objek Material dan Konteks Membantu Membatasi Penelitian

Setelah memilih arah keilmuan, mahasiswa perlu memastikan bahwa penelitiannya mempunyai bahan kajian yang jelas. Di sinilah objek material membantu. Jika objek formal merupakan sudut pandang keilmuan, objek material berhubungan dengan hal atau fenomena yang diperiksa melalui sudut pandang tersebut. Dalam contoh asesmen formatif, bahan yang dikaji dapat berupa praktik kuis digital, pemberian umpan balik oleh guru, atau penggunaan informasi hasil asesmen selama pembelajaran.

Namun, objek formal dan objek material tidak selalu dapat dipisahkan hanya dengan memotong kalimat judul menjadi tiga bagian. Dalam praktik penelitian, keduanya perlu dijelaskan melalui masalah, konsep, dan batas kajian. Misalnya, “asesmen formatif” merupakan fokus konseptual, sedangkan praktik asesmen melalui kuis digital dapat menjadi bahan kajian yang konkret. Jika penelitian ternyata lebih menekankan pengalaman siswa, batas objek kajiannya perlu diperiksa kembali.

Konteks kemudian membantu menjelaskan di mana persoalan tersebut berlangsung. Konteks dapat berupa jenjang sekolah, mata pelajaran, peserta didik, lingkungan pembelajaran, atau keadaan tertentu yang relevan. Sebuah penelitian tentang asesmen formatif pada pembelajaran matematika kelas V SD tentu tidak otomatis dapat disamakan dengan asesmen dalam latihan tari di sanggar. Keduanya mungkin memiliki prinsip umum yang sama, tetapi kegiatan, tujuan, dan bukti belajar yang digunakan dapat berbeda.

Perlu juga dibedakan antara konteks dan urgensi. Konteks membantu membatasi penelitian, sedangkan urgensi menjelaskan mengapa penelitian penting dilakukan. Kesulitan siswa memahami materi, perubahan praktik pembelajaran, atau keterbatasan media dapat menjadi alasan pentingnya penelitian. Namun, alasan tersebut tidak harus dimasukkan seluruhnya ke dalam judul. Jika semuanya dipaksakan, judul dapat berubah menjadi latar belakang masalah yang dipadatkan dalam satu kalimat.

See also  Dari Cerita Anak Menuju Imajinasi Populer

Karena itu, pola objek formal, objek material, dan konteks sebaiknya digunakan sebagai alat pemeriksaan, bukan cetakan yang harus diikuti secara kaku. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk menguji apakah judul sudah menunjukkan sudut pandang pendidikan, bahan kajian, dan batas penelitian. Setelah itu, susunan katanya masih dapat disunting agar lebih ringkas dan alami.

Mengapa Buku Perlu Kembali Menjadi Bagian dari Pencarian Teori?

Ada satu kebiasaan yang perlu diperhatikan ketika mahasiswa mulai mencari teori. Setelah menentukan kata pengembangan, misalnya, mereka membuka Google Scholar dan menemukan artikel tentang pengembangan media pembelajaran. Dari artikel tersebut, mereka mengambil definisi model pengembangan yang digunakan, lalu mencantumkan artikel itu sebagai rujukan teori. Ketika menemukan artikel lain dengan penjelasan serupa, mereka menambahkannya ke daftar pustaka. Lama-kelamaan, jumlah referensinya bertambah, tetapi pemahaman tentang model pengembangan belum tentu menjadi lebih dalam.

Persoalannya bukan karena jurnal ilmiah tidak penting. Artikel penelitian sangat diperlukan untuk melihat bagaimana suatu teori atau model diterapkan, diuji, diperdebatkan, atau dikembangkan dalam penelitian terbaru. Namun, jika mahasiswa hanya mengenal teori melalui ringkasan yang ditulis peneliti lain, ia berisiko kehilangan penjelasan yang lebih utuh tentang asal-usul, asumsi, dan batas teori tersebut. Itulah sebabnya penelusuran teori sebaiknya juga mengarah pada karya dasar yang secara langsung menjelaskan bangunan keilmuannya.

Karya dasar itu sering berbentuk buku akademik, tetapi tidak selalu. Teori tertentu pertama kali diperkenalkan dalam artikel jurnal, laporan penelitian, atau karya ilmiah lain. Karena itu, kita perlu berhati-hati menyebut semua buku sebagai sumber primer dan semua jurnal sebagai sumber sekunder. Status sumber bergantung pada hubungan karya tersebut dengan pengetahuan yang sedang dikaji. Buku asli yang memperkenalkan suatu teori dapat menjadi sumber primer bagi teori itu. Artikel yang pertama kali melaporkan penelitian empiris juga merupakan sumber primer bagi penelitian tersebut.

Bagi mahasiswa pemula, pembedaannya dapat dibuat lebih sederhana. Jika ingin memahami suatu teori, carilah karya yang menjelaskan teori itu secara langsung. Jika ingin mengetahui bagaimana teori digunakan dan bagaimana temuannya berkembang, bacalah penelitian terbaru yang relevan. Kedua pekerjaan tersebut saling melengkapi.

Misalnya, mahasiswa yang meneliti perancangan pembelajaran perlu mempelajari karya dasar tentang desain instruksional, bukan hanya artikel pengembangan media yang kebetulan menggunakan model ADDIE. Mahasiswa yang meneliti pembelajaran gerak dapat mempelajari teori belajar yang relevan dan kajian pendidikan tari, bukan sekadar mengumpulkan artikel tentang manfaat video. Sementara mahasiswa yang memilih asesmen formatif perlu memahami konsep asesmen dan umpan balik melalui karya yang memang membahasnya secara mendalam.

Dengan demikian, pemilihan kata awal dalam judul mempunyai konsekuensi terhadap bacaan. Kata perancangan mengarahkan pencarian pada literatur desain. Kata pengembangan mengarahkan pencarian pada penelitian pengembangan dan teori produk pendidikan. Kata pembelajaran mengarahkan pencarian pada teori belajar, pembelajaran, dan pengetahuan bidang studi. Mahasiswa mulai mempunyai alasan yang lebih jelas ketika memilih buku dan artikel, bukan hanya mengambil referensi karena judulnya terlihat mirip.

Menggunakan Lens.org untuk Memeriksa Arah Penelitian

Setelah mempunyai gambaran tentang objek formal, mahasiswa dapat kembali pada penelusuran literatur yang telah dilakukan melalui Lens.org. Layanan ini menyediakan pencarian publikasi ilmiah melalui fitur Scholarly Works, termasuk penyaringan berdasarkan tahun publikasi dan informasi bibliografi lainnya. Dalam latihan ini, kita menggunakan rentang 2022–2026 untuk membantu mahasiswa mengenali penelitian yang relatif baru dalam lima tahun kalender. Karena 2026 belum selesai, hasil tahun tersebut tidak boleh langsung dianggap mewakili satu tahun penuh.

Ada hal yang perlu diubah dari kebiasaan mencari artikel. Mahasiswa sebaiknya tidak hanya memasukkan nama aplikasi atau media. Jika yang diminati adalah Quizizz, pencarian Quizizz saja mungkin menghasilkan beragam penelitian yang tidak seluruhnya berkaitan dengan persoalan pendidikan yang hendak diteliti. Pencarian dapat dipertajam dengan menggabungkan istilah keilmuan dan objek yang diminati, misalnya formative assessment Quizizz elementary school, instructional design Quizizz, atau kombinasi lain yang sesuai.

Mahasiswa pendidikan seni tari dapat melakukan hal serupa. Kata dance video mungkin menghasilkan beragam konten yang belum tentu berkaitan dengan pendidikan. Ketika istilah dance learning, movement learning, atau instructional video digabungkan secara lebih terarah, hasilnya dapat menjadi lebih dekat dengan persoalan pembelajaran. Mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia yang berminat pada media cerita digital juga dapat memadukan istilah digital storytelling, writing instruction, dan narrative writing sesuai fokus penelitian yang ingin dipahami.

Namun, hasil pencarian harus dibaca secara kritis. Banyaknya dokumen tidak otomatis menunjukkan bahwa suatu topik lebih penting. Sedikitnya hasil juga tidak otomatis membuktikan adanya kesenjangan penelitian. Bisa saja istilah pencarian terlalu sempit, menggunakan padanan bahasa yang kurang tepat, atau belum mencakup literatur dari sumber lain. Oleh karena itu, jumlah hasil sebaiknya dicatat sebagai informasi mengenai pencarian yang dilakukan, bukan langsung digunakan sebagai bukti kebaruan penelitian.

Untuk latihan pertama, mahasiswa dapat memilih lima publikasi yang paling dekat dengan minatnya. Lima artikel tentu belum cukup untuk menyusun tinjauan pustaka yang lengkap, tetapi jumlah tersebut membantu mereka memulai kegiatan membaca secara lebih serius. Dari setiap publikasi, mahasiswa perlu mencatat persoalan penelitian, teori atau model yang digunakan, jenis data yang dikumpulkan, metode yang dipilih, dan konteks penelitian. Setelah itu, periksa apakah teori yang disebutkan memiliki karya dasar yang dapat ditelusuri lebih lanjut.

Pekerjaan ini berbeda dari mencari lima judul penelitian untuk kemudian meniru susunan katanya. Kita justru ingin mengetahui bagaimana peneliti lain menghubungkan persoalan, teori, dan metode. Jika sebuah artikel membahas pengembangan media cerita digital, misalnya, mahasiswa perlu melihat model pengembangan yang digunakan serta konsep pembelajaran menulis yang mendasarinya. Jika sebuah artikel membahas asesmen formatif, mahasiswa perlu memeriksa bagaimana asesmen dipahami dan bukti apa yang digunakan untuk menarik kesimpulan.

Dari Penelusuran Literatur Menuju Tiga Calon Judul

Sekarang kita kembali kepada mahasiswa yang tertarik pada Quizizz. Setelah membaca beberapa publikasi, ia menemukan bahwa aplikasi tersebut dapat digunakan dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Namun, ia juga mulai menyadari bahwa minatnya lebih dekat dengan asesmen formatif daripada pengembangan media. Ia tidak berencana membuat aplikasi baru, juga tidak ingin menyusun ulang seluruh desain pembelajaran. Ia ingin memahami bagaimana guru menggunakan kuis digital untuk memperoleh informasi tentang pemahaman siswa dan memberikan umpan balik.

Dari sini ia mencoba menyusun tiga calon judul. Judul pertama berbunyi “Asesmen Formatif Berbantuan Quizizz pada Pembelajaran Matematika Kelas V SD”. Judul kedua berbunyi “Praktik Umpan Balik dalam Asesmen Formatif Berbantuan Quizizz pada Pembelajaran Matematika Kelas V SD”. Judul ketiga berbunyi “Penggunaan Informasi Hasil Asesmen Formatif Berbasis Quizizz dalam Pembelajaran Matematika Kelas V SD”.

Ketiganya tampak mirip karena berasal dari minat yang sama. Namun, sebenarnya membawa perhatian yang berbeda. Judul pertama masih cukup luas dan dapat mencakup berbagai aspek asesmen formatif. Judul kedua lebih khusus pada praktik umpan balik, sedangkan judul ketiga menempatkan penggunaan informasi hasil asesmen sebagai pusat persoalan. Mahasiswa perlu menentukan mana yang paling sesuai dengan keadaan yang dapat diamati dan data yang mungkin diperoleh.

Misalnya, jika ia hanya mempunyai akses kepada hasil kuis yang tersimpan dalam aplikasi, data tersebut belum tentu cukup untuk memahami seluruh praktik umpan balik guru. Ia mungkin perlu mengamati kegiatan pembelajaran, mewawancarai guru, atau memeriksa dokumen pendukung. Sebaliknya, jika yang ingin diketahui adalah penggunaan informasi hasil asesmen dalam keputusan pembelajaran, peneliti perlu melihat bagaimana guru menafsirkan hasil kuis dan tindakan apa yang dilakukan sesudahnya.

See also  Penelitian Studi Kasus: Cocok Dipakai Kalau Kamu Ingin Membaca Satu Kasus secara Mendalam

Di titik ini, judul tidak lagi menjadi susunan kata yang dipilih karena terdengar akademik. Setiap perubahan kata membawa konsekuensi terhadap pertanyaan dan data penelitian. Mahasiswa mulai dapat membedakan judul yang menarik untuk dibaca dengan judul yang memang sanggup ia kerjakan.

Mengapa Beberapa Kata Perlu Dibatasi dalam Latihan?

Pada tahap awal perumusan judul, mahasiswa dapat diberi pembatasan untuk menghindari kata analisis, sebagai, dan untuk, serta konstruksi yang terlalu cepat menjanjikan hasil seperti meningkatkan. Pembatasan ini bukan aturan universal dalam penulisan ilmiah. Ada penelitian yang memang memerlukan istilah analisis, misalnya analisis wacana atau analisis kesalahan berbahasa. Penelitian eksperimen dan tindakan juga dapat secara sah membahas peningkatan kemampuan tertentu. Namun, untuk latihan awal, pembatasan tersebut membantu mahasiswa keluar dari pola judul yang sudah terlalu akrab.

Coba perhatikan judul “Analisis Pemanfaatan Aplikasi Quizizz sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”. Kata analisis belum menjelaskan objek yang dianalisis. Kata sebagai baru menjelaskan kedudukan aplikasi, sedangkan frasa untuk meningkatkan sudah mengarahkan pembaca kepada hasil yang diharapkan. Padahal, belum jelas apakah mahasiswa hendak mengembangkan media, mengevaluasi program, melakukan eksperimen, atau mengkaji praktik asesmen. Ketika kata-kata tersebut sementara tidak digunakan, mahasiswa terpaksa memikirkan kembali inti persoalannya.

Kita juga tidak perlu menolak semua bentuk kata kerja secara mekanis. Dalam frasa pembelajaran membaca puisi, misalnya, kegiatan membaca puisi menjadi bagian dari objek pembelajaran yang dikaji. Kata membaca tetap merupakan verba dalam tata bahasa Indonesia, tetapi keseluruhan kegiatan tersebut dapat diperlakukan sebagai pokok pembicaraan dalam penelitian. Hal ini berbeda dari konstruksi yang menjanjikan perubahan hasil tanpa terlebih dahulu memperjelas rancangan penelitiannya.

Dengan demikian, tujuan pembatasan kata bukan untuk membuat daftar kata terlarang yang berlaku selamanya. Tujuannya adalah melatih mahasiswa agar judul lebih dahulu menampilkan objek kajian dan arah keilmuan. Setelah memahami masalah serta desain penelitian, pilihan bahasanya dapat diperiksa kembali secara lebih terbuka.

Memeriksa Judul Sebelum Dibawa kepada Dosen

Sebelum menyatakan sebuah judul siap diajukan, mahasiswa perlu memastikan hubungan antara kata awal, landasan teori, objek kajian, konteks, dan metode. Jika memilih kata perancangan, ia harus mampu menjelaskan kegiatan desain yang akan dilakukan serta landasan yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Jika memilih pengembangan, ia perlu menunjukkan produk atau model yang dikembangkan beserta prosedur yang sesuai. Jika memilih pembelajaran, ia harus memperjelas proses atau aspek pembelajaran yang dikaji. Sementara itu, judul tentang evaluasi membutuhkan objek evaluasi dan kriteria penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pertanyaan berikutnya menyangkut data. Apakah data yang dapat dikumpulkan benar-benar sesuai dengan persoalan dalam judul? Penelitian tentang pembelajaran gerak tari mungkin memerlukan pengamatan terhadap kegiatan latihan dan data tentang praktik gerak, bergantung pada fokusnya. Penelitian tentang struktur alur tulisan siswa perlu memeriksa karya tulis yang dihasilkan. Sementara penelitian tentang asesmen formatif tidak cukup hanya menyatakan bahwa siswa menyukai aplikasi kuis; peneliti perlu menghubungkan data dengan konsep asesmen yang digunakan.

Mahasiswa juga perlu memeriksa apakah judulnya terlalu luas. Frasa “Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar”, misalnya, mencakup begitu banyak kemungkinan sehingga sulit menunjukkan fokus penelitian. Sebaliknya, judul yang terlalu panjang dapat memuat informasi yang sebetulnya lebih tepat ditempatkan pada bagian metode atau latar belakang. Nama sekolah yang sangat lengkap tidak selalu harus dicantumkan jika tidak mempunyai fungsi penting bagi pemahaman fokus penelitian.

Pada akhirnya, judul yang baik bukan judul yang paling panjang atau paling banyak memakai istilah akademik. Judul yang baik memberi arah yang dapat dipertanggungjawabkan. Pembaca mengenali persoalan yang diteliti, sementara peneliti memahami teori apa yang perlu dipelajari dan data apa yang harus diperoleh.

Latihan Merumuskan Judul Penelitian Pendidikan

Untuk mencoba langkah-langkah tersebut, mulailah dengan menuliskan minat penelitian tanpa terlebih dahulu memaksanya menjadi judul. Kamu boleh menulis Quizizz, video pembelajaran tari, cerita digital, permainan edukatif, pembelajaran membaca puisi, atau kegiatan pendidikan lain yang menarik perhatian. Setelah itu, tanyakan apa yang sebenarnya ingin dipahami melalui minat tersebut. Jika jawabannya masih berkisar pada keunggulan aplikasi atau kesenangan menggunakan media, mungkin persoalan pendidikannya perlu dipikirkan kembali.

Selanjutnya, pilih kemungkinan arah keilmuan. Apakah minat tersebut lebih dekat dengan perancangan, pengembangan, pembelajaran, asesmen, evaluasi, atau kajian pendidikan lain? Tuliskan alasan pemilihannya. Kemudian tentukan objek material serta konteks penelitian yang paling sesuai. Jangan langsung menyatukannya menjadi judul sebelum memahami hubungan antara ketiga unsur tersebut.

Gunakan Lens.org untuk mencari lima publikasi awal dalam rentang 2022–2026. Catat istilah pencarian yang digunakan, jumlah hasil yang muncul, dan tanggal pencarian. Periksa judul serta abstrak setiap publikasi pilihan. Jika memungkinkan, bacalah naskah lengkapnya untuk mengetahui teori, metode, dan temuan yang sebenarnya. Dari nama teori yang ditemukan, telusuri buku akademik atau karya asli yang menjelaskan landasannya. Langkah ini akan membantu membedakan penelitian yang menggunakan suatu teori dengan karya yang membangun teori tersebut.

Setelah memiliki bahan awal, susun tiga calon judul yang menunjukkan kemungkinan fokus berbeda. Jangan hanya mengganti urutan kata. Setiap judul perlu diikuti dengan satu pertanyaan penelitian sementara, kemungkinan landasan teori, dan jenis data yang diperlukan. Jika salah satu calon judul tidak dapat dihubungkan dengan pertanyaan atau data yang jelas, periksa kembali apakah persoalannya memang sudah terbentuk.

Hasil latihan dapat dirangkum dalam lembar kerja berikut.

KomponenHasil pekerjaan
Minat awalHal atau kegiatan yang menarik perhatian
Arah keilmuanPerancangan, pengembangan, pembelajaran, asesmen, evaluasi, atau lainnya
Objek formalSudut pandang konseptual yang digunakan
Landasan teoriTeori dan model yang relevan untuk dipelajari
Karya dasarBuku atau publikasi asli yang menjelaskan teori
Objek materialBahan atau fenomena konkret yang dikaji
KonteksPeserta didik, materi, jenjang, atau lingkungan penelitian
Literatur terbaruLima publikasi awal dari hasil penelusuran
Pertanyaan penelitianPersoalan yang hendak dijawab
Calon judulTiga alternatif yang dapat diperiksa kembali

Lembar kerja tersebut tidak dimaksudkan untuk memastikan bahwa judul langsung diterima dosen pembimbing. Justru mahasiswa dapat menggunakannya sebagai bahan percakapan ketika berkonsultasi. Daripada hanya membawa satu kalimat dan bertanya “Judul saya sudah benar atau belum?”, mahasiswa dapat menjelaskan alasan memilih fokus, karya teori yang mulai dipelajari, penelitian sebelumnya yang sudah dibaca, dan kemungkinan data yang dapat diperoleh.

Dengan cara itu, pembicaraan tentang judul tidak lagi berhenti pada penggantian kata. Dosen dan mahasiswa dapat membicarakan persoalan penelitian yang sebenarnya.

Ketika Judul Mulai Menunjukkan Jalan

Mahasiswa pada awal tulisan ini akhirnya kembali membuka rancangan judul yang pernah dibuatnya. Nama Quizizz masih ada di dalam catatan, tetapi kini ia tidak lagi menjadi pusat seluruh pembicaraan. Setelah memeriksa pengalaman di kelas dan membaca beberapa penelitian, mahasiswa itu mulai memahami bahwa perhatian utamanya berada pada praktik asesmen formatif. Ia ingin mengetahui bagaimana informasi dari kuis digunakan guru dalam pembelajaran, bukan sekadar membuktikan bahwa aplikasi tersebut menarik.

Dari sana, ia menyusun calon judul yang lebih terarah. Ia juga mulai mengumpulkan karya tentang asesmen formatif dan umpan balik pembelajaran. Beberapa artikel terbaru tetap dibacanya, tetapi sekarang ia mempunyai alasan mengapa artikel tersebut diperlukan. Ia tidak lagi mencari teori setelah judul selesai ditulis. Justru dari pembacaan teori, ia mulai menyadari bagian mana dari judul yang masih perlu diperbaiki.

Di layar laptop, Quizizz tetap menampilkan fitur yang sama seperti beberapa hari sebelumnya. Tidak ada tombol baru, tidak ada perubahan warna, dan tidak ada kelebihan aplikasi yang tiba-tiba bertambah. Yang berubah adalah pertanyaan mahasiswa itu.

Di halaman pertama buku catatannya tertulis Asesmen Formatif. Di bawahnya, ada beberapa judul buku yang perlu dibaca dan satu pertanyaan yang belum selesai dijawab.

Kali ini, ia sudah tahu harus mulai dari mana.