Kartu yang Baru Membuka Gerbang Setelah Namanya Dipanggil di Juanda

Anak yang ditemui Yabui sore itu beberapa kali menghapus nama tokoh dari cerita yang sedang ditulisnya. Mula-mula tokohnya bernama Dimas, lalu berubah menjadi Raka, kemudian seluruh nama dicoret dan diganti dengan kata “anak itu”. Ketika Yabui bertanya kenapa, pensil anak tersebut berhenti tepat di atas kertas. “Kalau namanya disebut, nanti dia tahu.” Yabui bertanya lagi, “Tahu apa?” Anak itu menjawab pelan, “Kalau ceritanya tentang dia.”

Wawancara selesai menjelang sore. Buku catatan masuk ke tas hitam, kertas-kertas informan dirapikan, lalu perjalanan pulang membawa Yabui ke Stasiun Juanda. Bagian bawah stasiun cukup ramai. Orang masuk dari arah jalan, beberapa keluarga bergerak berkelompok, dan suara dari luar bercampur dengan pengumuman perjalanan dari dalam. Yabui sudah cukup sering melewati gerbang elektronik sehingga tangannya bergerak hampir tanpa melihat.

Kartu ditempelkan ke sensor. Bip. Lampu merah. Yabui mengangkat kartu dan menempelkannya lagi. Bip. Merah lagi. Seorang laki-laki di belakangnya bergeser ke gerbang sebelah dan sempat bertanya, “Saldo, Pak?” Yabui melihat layar kecil pada gate. Tidak ada pesan saldo kurang. “Masih banyak,” jawabnya.

Petugas yang berdiri beberapa meter dari sana mendekat dan meminta kartunya. Kartu ditempelkan pada alat pemeriksa. Bip. Saldo muncul normal. Petugas lalu mencoba kartu itu pada gerbang yang sama. Bip. Merah. Gerbang sebelah dicoba. Bip. Merah lagi. Petugas mengernyit, sementara Yabui tersenyum kecil. “Kartunya pilih-pilih pintu.” Petugas tertawa dan meminta Yabui menunggu sebentar.

Orang-orang di belakang terus bergerak melalui gate lain. Bunyi kartu bersahutan dalam pola yang sama: bip, klik, bip, klik. Setiap orang masuk atau keluar dengan satu gerakan sederhana. Hanya kartu Yabui yang terus menghasilkan bunyi pendek dan lampu merah. Seorang perempuan yang sedang menunggu temannya ikut memperhatikan. “Pak, kartunya keblokir?” Yabui menggeleng. “Enggak.” Perempuan itu bertanya lagi, “Sudah kadaluarsa?” Yabui menjawab, “Kalau kartu bisa umur panjang, harusnya ini masih muda.”

Petugas datang membawa alat lain. Kartu diperiksa lagi dan hasilnya tetap normal. Yabui mencoba menempelkan kartu sendiri, kali ini tepat di tengah sensor, seolah-olah ingin membuktikan bahwa masalahnya bukan pada cara ia menggunakan kartu. Bip. Merah. Ia membersihkan permukaan kartu dengan ujung kaos, lalu mencoba lagi. Bip. Merah. Rasa kesal mulai muncul, bukan karena ia takut, tetapi karena sebuah benda sederhana terasa seperti sedang menolak prosedur yang seharusnya ia pahami.

See also  JIS: Gelang untuk Acara yang Belum Ada

Perempuan tadi masih berdiri tidak jauh dari sana. “Pak, kayaknya kartunya memang enggak suka pulang.” Yabui tertawa pendek. “Ini kartu, Bu. Enggak punya perasaan.” Kalimat itu baru selesai ketika pengeras suara di atas mereka berbunyi. Krek. Suara statis kecil terdengar, lalu sebuah pengumuman perjalanan menyebut tujuan dan jalur seperti biasa. Orang-orang tetap bergerak. Tidak ada yang menoleh.

Yabui kembali menempelkan kartu. Bip. Merah. Pengeras suara berhenti sesaat, lalu berbunyi lagi. Krek. Kali ini tidak ada pengumuman perjalanan. Hanya satu nama yang terdengar singkat dan jelas.

“Fachri.”

Yabui mengangkat kepala. Petugas ikut melihat ke arah pengeras suara. Perempuan tadi berhenti tersenyum. “Pak, itu nama Bapak?” Yabui tidak menjawab. Ia melihat gate di depannya. Lampunya berubah hijau.

Klik.

Pintu terbuka.

Tidak ada kartu yang sedang menempel pada sensor.

Yabui berdiri beberapa detik sampai petugas berkata, “Lewat dulu, Pak. Nanti nutup lagi.” Ia melangkah melewati gerbang. Klik. Pintu menutup tepat setelah tubuhnya lewat. Perempuan tadi masih berada di dalam area stasiun dan langsung memanggil. “Pak, coba balik lagi.” Yabui menoleh. “Buat apa?” Perempuan itu menjawab, “Penasaran.”

Yabui seharusnya melanjutkan perjalanan. Hari sudah semakin gelap dan kendaraan pulang bisa dipesan dari luar stasiun. Namun sesuatu pada cara gerbang tadi terbuka membuatnya kembali mendekat. “Saya masuk sebentar,” katanya kepada petugas. Petugas mengangkat alis. “Buat apa?” Yabui menjawab, “Tes.”

Kartu ditempelkan lagi. Bip. Merah. Yabui mencoba sekali lagi. Bip. Merah. Perempuan tadi tertawa dari seberang. “Tuh.” Yabui menempelkan kartu untuk ketiga kalinya. Bip. Merah. Lalu perempuan itu memanggil, “Fachri!”

Bip.

Hijau.

Klik.

Gerbang terbuka.

Tawa perempuan itu langsung berhenti. Petugas menatap kartu di tangan Yabui, lalu gerbang yang terbuka di depannya. Mereka mencoba lagi. Yabui menempelkan kartu. Bip. Merah. Petugas menyebut nama lain. Tidak terjadi apa-apa. Ia menyebut nama lain lagi. Tetap merah. Baru ketika petugas berkata, “Fachri,” lampu berubah hijau dan gerbang kembali terbuka.

See also  Stasiun Karet: Kursi Kosong

Kali ini tidak ada yang tertawa.

Orang-orang di gate lain terus lewat. Bip. Klik. Bip. Klik. Polanya tetap normal dan justru membuat gerbang Yabui terasa semakin salah. Petugas mengambil kartunya sekali lagi dan memeriksa permukaannya. Tidak ada nama, tidak ada foto, tidak ada sesuatu yang bisa menunjukkan pemiliknya. “Nama Bapak ada di aplikasi?” tanya petugas. Yabui mengangguk. “Bisa.” Petugas menjawab, “Tapi gate baca kartu, bukan baca orang.”

Yabui mengeluarkan kartu kedua dari dompet. Bip. Merah. Kartu bank dicoba. Bip. Merah juga. Mereka saling melihat. Dari pengeras suara terdengar pengumuman kereta berikutnya. Tujuan disebut, jalur disebut, lalu suara itu berhenti. Yabui menunggu. Tidak ada nama.

“Ya sudah,” kata Yabui akhirnya. “Panggil.”

Petugas menahan senyum. “Fachri.”

Bip.

Hijau.

Klik.

Yabui melewati gerbang dan kali ini tidak mencoba kembali. Di luar stasiun, suara kendaraan lebih kuat daripada pengumuman dari dalam. Ia berjalan beberapa meter, berhenti dekat trotoar, lalu menyimpan kartu ke dompet. Ponsel dikeluarkan untuk memesan kendaraan pulang.

Sebelum kendaraan datang, ponselnya bergetar. Pesan dari ibu informan sore tadi masuk. “Pak, anak saya tanya satu hal.” Yabui membalas, “Apa, Bu?” Jawabannya datang beberapa detik kemudian. “Tadi waktu pulang, ada yang panggil nama Bapak?”

Yabui membaca pesan itu dua kali. Ia mengetik, “Kenapa?” Balasan berikutnya lebih lama. “Katanya kalau sudah dipanggil, jangan jawab.”

Yabui baru sadar sejak di gate tadi ia tidak pernah sekalipun menjawab ketika namanya dipanggil. Petugas yang menyebut. Perempuan yang menyebut. Pengeras suara yang pertama kali menyebut. Semua nama itu lewat di udara, dan Yabui tidak pernah membalas dengan satu kata pun.

Ia mengetik lagi. “Kenapa jangan jawab?”

Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

“Katanya nanti dianggap sudah datang.”

Kendaraan yang dipesan tiba. Yabui menyimpan ponsel dan naik. Perjalanan berlangsung biasa. Lampu jalan lewat di kaca, kendaraan berhenti beberapa kali, dan suara aplikasi navigasi muncul dari ponsel pengemudi. Tidak ada lagi bunyi gerbang sampai kendaraan hampir tiba di rumah.

See also  Langkah yang Masuk ke Earphone di Gondangdia

Ponsel Yabui berbunyi.

Bip.

Bukan notifikasi pesan.

Bunyi yang sama seperti kartu ditempelkan ke gate.

Yabui melihat layar. Tidak ada apa-apa. Beberapa detik kemudian bunyi itu muncul lagi. Bip. Pengemudi sempat melihat kaca tengah. “HP-nya, Pak?” Yabui menjawab, “Iya,” lalu mematikan layar. Bunyi berhenti.

Setelah sampai, Yabui turun dan berjalan menuju pintu rumah. Tangannya masuk ke tas mencari kunci. Dari dalam tas terdengar bunyi pelan.

Bip.

Yabui berhenti.

Bip.

Kartu perjalanan berada di dalam dompet. Ia mengeluarkannya. Tidak ada cahaya, tidak ada mesin, tidak ada sensor. Yabui hendak memasukkannya kembali ketika ponsel mengeluarkan suara statis kecil.

Krek.

Kemudian namanya terdengar.

“Fachri.”

Yabui tidak menjawab.

Pintu rumah berada beberapa langkah di depan. Ia memasukkan kunci. Klik. Pintu terbuka. Yabui masuk tanpa melihat kembali ke ponsel.

Keesokan harinya kartu itu dicoba di stasiun lain. Bip. Hijau. Klik. Normal. Hari-hari berikutnya juga normal. Tidak ada nama, tidak ada gate yang menolak, dan kartu kembali menjadi benda biasa.

Beberapa minggu kemudian Yabui kembali melewati Juanda. Ia memilih gate yang berbeda dan menempelkan kartu. Bip. Merah. Yabui tidak mencoba kedua kali. Ia berpindah ke gate lain. Bip. Merah lagi. Seorang penumpang di belakang mulai menunggu, sehingga Yabui bergeser dan mempersilakannya lewat.

Penumpang itu menempelkan kartu.

Bip.

Hijau.

Klik.

Gerbang terbuka.

Sebelum orang itu melangkah, pengeras suara di atas mereka berdesis.

Krek.

Yabui tidak menunggu nama disebut. Kartu langsung dimasukkan ke tas, lalu ia berjalan menuju petugas. Sejak itu, setiap mendengar bunyi gate gagal di Juanda, Yabui tidak pernah lagi menertawakan orang yang mencoba kartu berkali-kali.

Kadang masalahnya memang saldo.

Kadang posisi kartu kurang tepat.

Dan kadang sebuah pintu mungkin sedang memastikan siapa yang berdiri di depannya.