Anak yang ditemui Yabui sore itu menulis cerita tentang seorang pekerja pabrik yang selalu pulang membawa sesuatu dari tempat kerjanya. Hari pertama membawa sarung tangan, hari kedua membawa baut, hari ketiga membawa kartu makan. Ketika Yabui bertanya kenapa semua barang harus dibawa pulang, anak itu menjawab sambil tetap menulis.
“Biar rumahnya tahu dia sudah pulang.”
Yabui tidak sempat menanyakan maksudnya karena ayah anak itu datang dari luar sambil membawa helm proyek kuning. Wawancara selesai beberapa menit kemudian. Buku catatan masuk ke tas hitam, dua lembar tulisan anak diselipkan ke map, lalu Yabui berjalan menuju Stasiun Cibitung untuk pulang.

Hari sudah mulai turun ketika ia sampai. Penumpang bergerak dalam kelompok kecil menuju peron, sebagian mengenakan seragam kerja yang tertutup jaket, sebagian masih membawa tas makan dan botol minum. Dari sisi luar stasiun sesekali terdengar kendaraan lewat, lalu suara itu tertutup bunyi kereta yang melintas.
Yabui berdiri tidak jauh dari bangku.
Sebuah helm proyek berada di bawahnya.
Warnanya putih kusam dengan satu garis reflektif mengelilingi bagian belakang. Ada bekas goresan di sisi kiri dan satu stiker kecil yang sudah hampir terkelupas. Tidak ada tas, jaket, atau benda lain di dekatnya.
Seorang lelaki berseragam abu-abu duduk di bangku sambil membuka bekal.
“Pak, helmnya?”
Lelaki itu melihat ke bawah.
“Bukan punya saya.”
Yabui menunjuk benda tersebut.
“Kirain ketinggalan.”
“Kalau punya saya, warnanya biru.”
Lelaki itu menunjukkan helm biru yang tergantung pada tas di sebelahnya.
“Yang putih biasanya orang teknik.”
“Teknik apa?”
Lelaki itu mengunyah sebentar.
“Ya teknik yang pakai helm putih.”
Yabui tertawa.
Lelaki itu ikut tertawa sambil kembali membuka bungkus makanannya.
Kereta arah Cikarang datang.
Beberapa orang berdiri. Penumpang turun lebih dahulu, kemudian arus berganti masuk. Lelaki berseragam abu-abu ikut naik setelah menutup tempat makannya.
Sebelum masuk, ia menunjuk helm putih.
“Kalau enggak ada yang ambil, Bapak bawa saja.”
“Buat apa?”
“Biar kelihatan punya proyek.”
Pintu menutup sebelum Yabui sempat menjawab.
Peron kembali sedikit lebih lengang.
Helm masih berada di bawah bangku.
Yabui memilih duduk. Ia membuka ponsel untuk mengecek perjalanan berikutnya. Ketika layar menyala, garis reflektif pada helm ikut memantulkan cahaya.
Terang sekali.
Yabui menurunkan ponsel.
Pantulannya hilang.
Ponsel kembali diarahkan ke helm.
Garis putih menyala lagi.
Tidak ada yang aneh.
Benda reflektif memang bekerja begitu.
Seorang perempuan datang bersama seorang anak laki-laki. Anak itu langsung duduk di bangku lalu melihat helm di bawah.
“Bu, punya siapa?”
“Jangan dipegang.”
“Kenapa?”
“Bukan punya kita.”
Anak itu tetap melihat helm.
Yabui tersenyum.
Kalimat yang ditulis informan sore tadi kembali teringat.
Biar rumahnya tahu dia sudah pulang.
Kereta lain melintas tanpa berhenti. Anginnya membuat beberapa bungkus plastik di ujung peron bergerak. Helm putih bergeser sedikit, lalu berhenti dengan bagian reflektif menghadap ke arah rel.
Perempuan tadi mengajak anaknya berdiri.
Mereka berjalan menuju bagian peron yang lebih dekat dengan pintu kereta.
Yabui tinggal sendiri di bangku.
Beberapa lampu di bagian ujung peron menyala lebih dulu karena hari semakin gelap.
Satu lampu dekat bangku berkedip.
Padam.
Garis reflektif pada helm tetap terlihat.
Yabui menoleh ke lampu.
Lampu di sebelahnya masih menyala, tetapi cukup jauh. Cahaya dari layar ponsel juga sudah padam karena ponsel diletakkan di paha.
Garis pada helm masih terang.
Seorang petugas berjalan mendekat.
“Pak.”
Yabui menunjuk ke bawah.
“Ada helm ketinggalan.”
Petugas melihat benda itu.
“Dari tadi?”
“Iya.”
Petugas mengambil helm lalu membaliknya.
Bagian dalam kosong.
Tidak ada nama.
Tidak ada nomor pekerja.
Tidak ada tulisan perusahaan.
Hanya ada satu stiker kecil pada sisi belakang.
Petugas mencoba membacanya.
“Sudah pudar.”
“Serahkan ke barang hilang saja, Pak.”
Petugas mengangguk.
Helm dibawa pergi.
Yabui kembali melihat ponsel.
Kereta berikutnya masih beberapa menit.
Lampu dekat bangku menyala lagi.
Tidak ada lagi yang perlu diperhatikan.
Sampai seseorang duduk di tempat tadi.
Seorang lelaki muda dengan tas kerja besar. Ia melepas sepatu sedikit dari tumit, menyandarkan badan, lalu mengeluarkan helm putih dari dalam tas.
Bentuknya hampir sama.
Garis reflektif mengelilingi bagian belakang.
Yabui melihatnya beberapa detik.
Lelaki itu sadar.
“Kenapa, Pak?”
“Helmnya mirip yang tadi.”
“Helm apa?”
“Ada yang ketinggalan.”
Lelaki itu tersenyum.
“Helm proyek memang mukanya sama semua.”
“Yang punya beda-beda.”
“Nah, itu masalah perusahaan.”
Mereka tertawa.
Lelaki itu meletakkan helmnya di bawah bangku.
Beberapa menit kemudian listrik di salah satu bagian peron mati sesaat.
Tidak seluruh stasiun.
Hanya deretan lampu dekat mereka.
Peron menjadi lebih gelap.
Penumpang di kejauhan masih terlihat karena lampu dari bagian lain tetap menyala.
Helm di bawah bangku justru paling jelas terlihat.
Garis reflektifnya terang.
Lelaki muda itu menunduk.
“Wah.”
“Kenapa?”
“Bagus juga reflektornya.”
Yabui melihat sekeliling.
“Memantulkan apa?”
Lelaki itu ikut mengangkat kepala.
Tidak ada lampu yang mengarah ke helm.
Ponsel mereka berada di tangan dengan layar menghadap ke atas.
Kereta belum datang.
Lampu di sekitar mereka masih padam.
Garis pada helm tetap menyala.
Lelaki itu mengambil helm.
Begitu diangkat, garis reflektif ikut bergerak.
“Ini baru beli,” katanya.
“Coba ditutup.”
“Pakai apa?”
Yabui mengambil kantong kain hitam kecil dari tas.
Helm dimasukkan.
Kantong ditutup.
Dari dalam kain, garis putih masih terlihat samar.
Lelaki itu berhenti tertawa.
“Pak.”
“Ya?”
“Ini reflektor, kan?”
“Harusnya.”
“Kalau reflektor tanpa cahaya?”
Yabui mengangkat bahu.
“Berarti rajin.”
Lelaki itu tertawa sekali.
Pendek.
Kemudian membuka kantong lagi.
Garis pada helm tetap terang.
Kereta akhirnya datang.
Lampu depan rangkaian membuat reflektor helm menyala jauh lebih kuat. Kali ini masuk akal. Lelaki itu segera memakai helm sebelum naik.
“Kenapa dipakai?”
“Biar enggak hilang.”
“Di kereta pakai helm?”
“Daripada nyala sendiri di tas.”
Yabui ikut masuk.
Gerbong cukup penuh. Mereka berdiri dekat pintu, saling berhadapan. Lelaki itu tetap memakai helm, membuat beberapa penumpang melihat sebentar lalu kembali ke ponsel masing-masing.
Satu stasiun berlalu.
Kemudian stasiun berikutnya.
Garis reflektif pada helm masih menyala setiap kali terkena cahaya.
Biasa saja.
Ketika kereta melewati bagian jalur yang gelap, lampu dalam gerbong mendadak mati selama beberapa detik.
Orang-orang mengeluarkan ponsel.
Ada yang tertawa.
Seseorang berkata, “Wah, hemat listrik.”
Dalam gelap, satu garis putih terlihat di tengah gerbong.
Helm lelaki tadi.
Terang.
Tidak memantulkan apa pun.
Justru menjadi satu-satunya benda yang tampak.
Seseorang di belakang Yabui berkata, “Mas, helmnya nyala.”
Lelaki itu tidak menjawab.
Lampu gerbong kembali hidup.
Semua orang tertawa kecil.
Lelaki itu melepas helm.
“Pak.”
“Hmm?”
“Kayaknya saya turunin aja.”
“Helmnya?”
“Iya.”
“Terus kepala?”
Lelaki itu tertawa, tetapi kali ini tangannya sudah membuka tas.
Helm dimasukkan.
Tas ditutup rapat.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian sesuatu tampak melalui kain hitam tas.
Garis tipis.
Putih.
Lelaki itu menatapnya.
Yabui juga.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Ketika kereta berhenti di stasiun berikutnya, lelaki itu turun terburu-buru.
Yabui ikut turun karena perlu berpindah perjalanan.
Lelaki tersebut berjalan langsung menuju petugas.
“Pak, saya mau titip barang.”
Petugas melihat tas.
“Barang apa?”
“Helm.”
“Kenapa dititip?”
Lelaki itu membuka tas.
Helm dikeluarkan.
Garis reflektifnya sudah tidak menyala.
Petugas melihat mereka bergantian.
“Helmnya kenapa?”
Lelaki itu terdiam.
Yabui menjawab lebih dulu.
“Ketemu di kereta.”
Lelaki itu menoleh kepada Yabui.
Yabui tidak membalas tatapannya.
Petugas menerima helm dan membawanya ke ruang pelayanan.
“Kenapa bilang ketemu?” tanya lelaki itu setelah petugas pergi.
“Kalau bilang punya sendiri terus dititip, nanti ditanya lagi.”
Lelaki itu mengangguk.
“Masuk akal.”
Mereka berpisah setelah itu.
Beberapa hari kemudian Yabui kembali melewati Cibitung.
Sore lebih cepat gelap karena mendung.
Saat turun untuk menunggu perjalanan berikutnya, ia melihat petugas membawa beberapa barang temuan ke ruang pelayanan.
Ada payung.
Botol minum.
Tas kain.
Lalu sebuah helm proyek putih.
Helm itu diletakkan di lantai dekat pintu.
Lampu di ruang pelayanan kemudian dimatikan karena petugas keluar.
Ruangan menjadi gelap.
Yabui sudah berjalan beberapa langkah ketika berhenti.
Di balik kaca ruangan, satu garis putih masih terlihat.
Bukan pada helm yang baru diletakkan.
Ada beberapa garis lain di belakangnya.
Sejajar.
Seperti helm-helm putih lain yang disusun dalam gelap.
Yabui tidak kembali untuk menghitung.
Kereta datang.
Ia memilih naik.
Sejak itu, setiap melihat pekerja membawa helm pulang di kereta, Yabui selalu memperhatikan satu hal.
Bukan warna helmnya.
Bukan perusahaan tempat orang itu bekerja.
Hanya apakah garis reflektifnya masih terlihat ketika tidak ada cahaya yang bisa dipantulkan.