JIS: Gelang untuk Acara yang Belum Ada

Wawancara sore itu selesai ketika anak yang ditemui Yabui masih sibuk merapikan kertas gambar. Ibunya datang membawa dua gelas es teh, lalu percakapan bertambah hampir setengah jam karena anak itu masih ingin menunjukkan beberapa cerita yang pernah dibuat. Ketika Yabui akhirnya memasukkan buku catatan ke tas hitam, langit Jakarta Utara sudah mulai berubah warna.

Jalan menuju kawasan Jakarta International Stadium masih ramai, tetapi arus orang mulai lebih longgar. Beberapa orang berjalan menuju stasiun, sebagian membawa tas kerja, sebagian mengenakan kaus sepak bola, dan beberapa anak berjalan sambil memegang tangan orang tuanya. Yabui mengikuti arah yang sama karena perjalanan pulang paling mudah dilanjutkan dari sana.

Stasiun JIS masih terasa baru. Cat, papan petunjuk, atap peron, dan jalur pejalan kaki belum mempunyai lapisan kusam yang biasanya tumbuh setelah bertahun-tahun disentuh orang. Dari peron, bentuk stadion masih terlihat besar di kejauhan, sementara beberapa penumpang berdiri menghadap rel sambil mengecek ponsel.

Kereta belum datang.

Yabui duduk dekat ujung bangku dan membuka ponsel untuk mengecek perjalanan pulang. Seorang lelaki muda berdiri beberapa meter di depan sambil mencoba memotret stadion dari sela struktur peron. Dua perempuan di dekat garis aman membicarakan jadwal kereta sambil sesekali melihat ke arah rel.

Sesuatu menyentuh sepatu Yabui.

Sebuah gelang hitam.

Bentuknya seperti gelang masuk konser atau pertandingan yang dipasang sekali lalu dipotong setelah acara selesai. Bahannya tipis dengan pengunci plastik kecil. Yabui mengambil benda itu karena hampir terinjak orang yang baru lewat.

Tulisan putih masih terlihat pada permukaannya.

GATE C — JIS

Di bawahnya tercetak tanggal.

Yabui membaca sekali.

Lalu sekali lagi.

Tanggal itu belum datang.

Seorang lelaki yang sejak tadi berdiri dekat tiang melihat Yabui membalik gelang tersebut.

See also  Stasiun Karet: Kursi Kosong

“Bekas acara, Pak?”

Yabui menunjukkan bagian tanggal.

Lelaki itu mendekat sedikit.

“Wah.”

“Kenapa?”

“Acara masa depan.”

Yabui tertawa. “Lumayan. Tiketnya enggak perlu rebutan.”

Lelaki itu ikut tertawa, lalu kembali menunggu kereta. Gelang tersebut masuk ke saku celana Yabui bersama uang receh dan struk minimarket. Tidak ada alasan untuk memikirkannya lebih jauh. Bisa saja tanggal cetaknya salah. Bisa juga gelang itu merupakan contoh produksi untuk acara yang belum berlangsung.

Kereta tiba beberapa menit kemudian.

Penumpang bergeser mendekati pintu. Yabui berdiri, merapikan tas, lalu ikut masuk bersama rombongan kecil yang menunggu sejak tadi. Tidak banyak kursi kosong, tetapi perjalanan menuju Jakarta Kota juga tidak panjang.

Yabui memilih berdiri dekat pintu.

Kereta bergerak.

Beberapa saat setelah meninggalkan JIS, ponsel Yabui bergetar. Pesan dari ibu informan masuk.

Pak, tadi ada gelang hitam ketinggalan ya?

Yabui membaca pesan itu dua kali.

Gelang apa, Bu?

Balasan datang cepat.

Yang tadi dipakai anak saya. Gelang hitam. Katanya sempat dilepas waktu gambar.

Yabui membuka saku.

Gelang hitam masih ada.

Saya nemu gelang di stasiun. Tapi kayaknya bukan punya anak Ibu.

Yabui memotret gelang tersebut dan mengirimkannya.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Mirip banget, Pak.

Pesan berikutnya datang beberapa detik kemudian.

Tapi punya anak saya ada di meja.

Yabui menatap layar.

Kereta masuk Ancol.

Pintu terbuka dan beberapa orang turun. Lelaki yang tadi bercanda tentang acara masa depan berjalan keluar sambil mengangkat tangan kecil sebagai salam. Sebelum pintu tertutup, lelaki itu sempat menunjuk saku Yabui.

“Jangan lupa datang acaranya, Pak.”

Yabui mengangkat alis.

“Kalau gratis.”

Pintu menutup.

Kereta bergerak lagi.

Yabui melihat gelang lebih lama. Selain nama gerbang dan tanggal, ternyata ada tulisan kecil lain pada sisi dalam. Hurufnya sangat kecil sehingga baru terbaca ketika gelang didekatkan ke cahaya.

See also  Pasar Minggu Baru: Tas ASI yang Pulang Lebih Dulu

ENTRY 18.42

Yabui melihat jam ponsel.

18.17.

Tanggalnya memang belum sampai.

Jam masuknya juga belum.

Yabui memasukkan gelang kembali ke saku.

Di Kampung Bandan, seorang perempuan dan anak laki-laki naik ke gerbong. Anak itu membawa bola kecil dan mengenakan kaus merah. Setelah duduk, anak tersebut melihat ke arah Yabui beberapa kali sebelum akhirnya berbisik kepada ibunya.

“Ma, Om itu dapat gelang.”

Ibunya sedang melihat ponsel.

“Gelang apa?”

“Yang nanti.”

Perempuan itu berhenti menggulir layar.

Yabui ikut menoleh.

Anak tersebut segera menundukkan kepala dan memutar bolanya dengan kedua tangan.

Perempuan itu tersenyum canggung.

“Maaf ya, Pak. Anak kecil suka ngomong sembarangan.”

Yabui mengangguk.

Kereta kembali bergerak.

Beberapa menit kemudian Yabui turun di Jakarta Kota untuk melanjutkan perjalanan pulang. Gelang masih berada di saku. Ketika melewati gerbang, Yabui sempat berpikir untuk membuang benda itu ke tempat sampah dekat pintu keluar.

Tangannya sudah masuk saku.

Kemudian berhenti.

Tanggal pada gelang tinggal beberapa hari lagi.

Yabui akhirnya membawanya pulang.

Gelang hitam itu masuk ke dalam kotak kecil tempat Yabui biasa menyimpan tiket, kartu nama informan, potongan kertas, dan benda-benda lain yang kadang terbawa setelah penelitian. Kotaknya ditutup. Beberapa hari berlalu tanpa peristiwa apa pun.

Pada tanggal yang tercetak di gelang, Yabui baru mengingat benda itu menjelang sore.

Tidak ada rencana pergi ke JIS hari itu.

Yabui sedang duduk di rumah ketika sebuah pesan masuk dari nomor yang belum tersimpan.

Pak, ini yang kemarin ketemu di Stasiun JIS.

Foto profilnya menampilkan lelaki yang sempat bercanda soal acara masa depan.

Pesan berikutnya berupa foto.

Peron Stasiun JIS terlihat penuh. Banyak orang memakai gelang hitam yang sama. Di kejauhan, sebagian orang berjalan menuju kawasan stadion.

See also  Robot Kuning Pertama

Yabui membalas.

Ada acara apa?

Jawaban lelaki itu singkat.

Makanya saya mau nanya Bapak.

Foto kedua masuk.

Sebuah gelang hitam berada di telapak tangan lelaki itu.

Saya nemu lagi.

Yabui membuka kotak kecil di meja.

Gelang yang dibawa pulang masih ada.

Tanggalnya sama.

Tulisan gerbangnya sama.

Yang berbeda hanya satu bagian.

Pada gelang milik Yabui tertulis:

ENTRY 18.42

Yabui melihat jam.

18.35.

Pesan ketiga masuk.

Pak, sekarang di mana?

Yabui belum menjawab ketika foto keempat muncul.

Foto itu diambil dari peron JIS. Beberapa penumpang berdiri menghadap rel. Di antara orang-orang tersebut tampak seorang lelaki berbaju putih, memakai kupluk putih, dengan tas hitam melintang di dada.

Wajahnya tidak terlihat karena membelakangi kamera.

Lelaki itu berdiri dekat tempat Yabui menemukan gelang beberapa hari sebelumnya.

Yabui memperbesar foto.

Kemudian melihat pakaian yang sedang dikenakannya sendiri.

Kaos putih.

Kupluk putih tergeletak di meja.

Tas hitam tergantung di belakang kursi.

Jam berubah menjadi 18.38.

Yabui menutup foto.

Tiga menit kemudian pesan baru masuk.

Pak, orangnya baru masuk kereta.

Yabui mengambil gelang dari kotak.

Pada bagian ENTRY, angka yang tadi tercetak jelas mulai memudar.

18.42.

Beberapa detik kemudian hanya tersisa bekas putih tipis.

Sejak hari itu, gelang acara yang tergeletak di stasiun tidak lagi terlihat seperti sampah bagi Yabui.

Kadang sebuah benda kecil memang hanya menunggu dipungut.

Kadang benda itu sudah lebih dulu tahu siapa yang akan memungutnya.