Struk yang Mencetak Perjalanan Kemarin di Jayakarta

Anak yang ditemui Yabui sore itu menulis cerita dari belakang ke depan.

Bukan karena diminta. Anak itu memang memulai dari tokoh yang sudah sampai di rumah, lalu menulis adegan ketika tokohnya turun dari kendaraan, membeli minum, menyeberang jalan, dan akhirnya menutup cerita dengan kalimat tentang seseorang yang baru bersiap pergi.

“Kalau dibaca begini, kan pulangnya dulu,” kata Yabui sambil membalik kertas.

Anak itu mengangguk.

“Biar dia tahu mau ke mana.”

Wawancara selesai ketika cahaya di luar rumah mulai turun. Yabui memasukkan dua lembar cerita ke dalam map, merapikan tas hitam, lalu melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Jayakarta. Ia masih memikirkan susunan cerita anak tadi ketika naik ke area peron yang berada di atas jalan.

Warna merah muda pada beberapa bagian stasiun masih terlihat jelas meskipun sore mulai gelap. Dari atas, suara kendaraan sesekali naik bersama bunyi klakson, lalu tenggelam ketika kereta melintas. Penumpang tidak terlalu padat. Sebagian berdiri menghadap arah Jakarta Kota, sebagian duduk sambil menunggu perjalanan ke selatan.

Saldo kartu Yabui hampir habis.

Ia berjalan ke mesin untuk menambah saldo sebelum kereta datang. Kartu ditempelkan, nominal dipilih, pembayaran selesai. Mesin mengeluarkan bunyi pendek, kemudian selembar struk turun dari celah kecil.

Yabui mengambilnya.

Nominalnya benar.

Saldo akhirnya benar.

Tanggalnya salah.

Tanggal pada bagian atas menunjukkan kemarin.

Yabui melihat jam ponsel.

Tanggal hari itu jelas berbeda satu hari.

Ia menekan layar mesin sekali lagi, memastikan tidak ada pengaturan yang bisa dilihat pengguna. Tidak ada. Seorang penumpang di sebelahnya sedang melakukan isi ulang pada mesin lain.

“Mas,” panggil Yabui.

Lelaki itu menoleh.

“Struknya tanggal berapa?”

Lelaki itu memeriksa.

“Hari ini.”

Yabui menunjukkan struknya.

“Punya saya kemarin.”

Lelaki itu tertawa kecil.

“Berarti saldonya sudah masuk dari kemarin.”

“Kalau begitu saya rugi sehari.”

“Komplain saja, minta bunganya.”

Mereka tertawa.

Kereta arah Jakarta Kota terdengar dari kejauhan. Lelaki tadi segera berjalan menuju peron. Yabui melipat struk dan memasukkannya ke saku. Kesalahan tanggal pada mesin bukan masalah yang perlu dipikirkan lama. Bisa saja sistem waktunya sempat bermasalah, lalu transaksi berikutnya sudah kembali normal.

See also  Bojong Gede: Payung yang Tidak Pernah Terbuka

Kereta masuk.

Yabui belum naik.

Perjalanannya masih panjang dan ia memilih menunggu rangkaian berikutnya yang sedikit lebih lengang.

Beberapa menit kemudian, Yabui mengeluarkan struk itu lagi.

Di bawah informasi saldo ada bagian yang tadi tidak diperhatikan.

Riwayat transaksi terakhir.

Satu baris tercetak di sana.

JAYAKARTA — MASUK 18.11

Yabui melihat jam.

17.54.

Ia tersenyum kecil.

“Mesinnya sekalian meramal.”

Seorang perempuan yang duduk dekat mesin menoleh.

“Kenapa, Pak?”

Yabui menunjukkan struk.

“Katanya saya masuk jam enam lewat sebelas.”

Perempuan itu melihat jam tangannya.

“Masih lama.”

“Iya.”

“Berarti jangan masuk dulu.”

Yabui tertawa.

Perempuan itu ikut tertawa, lalu kembali melihat ponsel.

Pukul 18.02 kereta berikutnya masuk.

Yabui berdiri.

Pintu terbuka.

Ia sudah melangkah mendekati gerbong ketika teringat angka pada struk.

18.11.

Entah kenapa ia berhenti.

Orang di belakangnya hampir menabrak.

“Masuk, Pak?”

Yabui bergeser.

“Silakan.”

Pintu menutup.

Kereta pergi.

Perempuan yang tadi duduk dekat mesin masih ada. Ia melihat Yabui lalu tersenyum.

“Nunggu ramalan?”

“Sekalian dites.”

“Kalau benar?”

“Berarti saya minta nomor togel.”

Perempuan itu tertawa cukup keras.

Jam berubah menjadi 18.07.

Yabui mulai merasa tindakannya sendiri sedikit bodoh. Menunda kereta hanya untuk membuktikan angka pada struk tentu bukan keputusan yang biasa ia lakukan. Ia memasukkan kembali kertas itu ke saku dan berdiri dekat garis aman.

Pukul 18.10 suara kereta terdengar.

Rangkaian masuk satu menit kemudian.

18.11.

Yabui melihat jam.

Lalu melihat struk.

Perempuan tadi ikut melihat dari bangku.

“Nah.”

“Cocok.”

“Masuk enggak?”

“Kalau enggak, nanti struknya tersinggung.”

Yabui naik.

Pintu menutup.

Kereta bergerak menuju Jakarta Kota.

Hanya satu stasiun.

Perjalanan terlalu pendek untuk dijadikan sesuatu yang aneh. Penumpang sudah berdiri mendekati pintu bahkan sebelum kereta benar-benar mencapai ujung jalur. Yabui ikut bergerak bersama mereka.

See also  Citayam: Sepatu Putih di Jalur Pulang

Saat keluar dari gerbong, ponselnya bergetar.

Pesan dari informan sore tadi.

Pak, tadi ada satu lembar cerita anak saya ikut terbawa?

Yabui berhenti dekat dinding.

Map dikeluarkan.

Dua lembar masih ada.

Ia menghitung.

Seharusnya tiga.

Yabui membalas.

Kayaknya ada satu yang ikut saya bawa. Saya cek dulu.

Kertas-kertas di dalam tas diperiksa.

Tidak ada.

Yang ditemukan justru struk isi ulang tadi.

Yabui membuka lipatannya.

Sekarang ada baris kedua.

JAKARTA KOTA — KELUAR 18.17

Jam di ponsel menunjukkan 18.16.

Yabui belum melewati gerbang keluar.

Ia berdiri beberapa meter dari sana.

Orang-orang terus berjalan melewatinya.

18.17.

Yabui tidak bergerak.

Gerbang berada di depan.

Ponsel kembali bergetar.

Pesan dari ibu informan masuk.

Sudah ketemu, Pak. Ternyata masih di meja.

Yabui membaca pesan itu.

Lalu melihat struk.

Baris JAKARTA KOTA — KELUAR 18.17 masih tercetak.

Jam berubah menjadi 18.18.

Untuk pertama kalinya, sesuatu yang ditulis pada struk tidak terjadi.

Yabui tersenyum.

“Ya sudah.”

Ia melipat struk.

Kemudian memilih duduk sebentar sebelum keluar stasiun.

Beberapa menit berlalu.

Saat akan berdiri, seorang laki-laki terburu-buru menabrak sisi bangku. Sebuah botol minum jatuh dari tasnya dan menggelinding ke bawah kaki Yabui.

“Maaf, Pak.”

Yabui mengambil botol itu.

“Nih.”

“Terima kasih.”

Lelaki tersebut pergi menuju gerbang.

Yabui ikut berdiri.

Saat melewati gerbang keluar, kartu ditempelkan.

Bip.

Ia baru sadar tidak melihat jam.

Ponsel dikeluarkan.

18.24.

Yabui tersenyum kecil.

Struk ternyata salah.

Ia berjalan keluar.

Di bawah stasiun, arus kendaraan masih ramai. Lampu toko mulai mendominasi jalan. Yabui berhenti di dekat trotoar untuk memesan kendaraan pulang.

Tangannya masuk ke saku.

Struk tadi terasa lebih tebal.

Ketika dibuka, terdapat tiga baris.

JAYAKARTA — MASUK 18.11

JAKARTA KOTA — KELUAR 18.17

JAKARTA KOTA — KELUAR 18.24

Baris kedua tidak hilang.

Yabui membandingkan dua waktu keluar.

See also  Manggarai: Karcis Menjelang Magrib

Satu tidak pernah terjadi.

Satu baru saja terjadi.

Di bawah keduanya muncul baris baru.

JAYAKARTA — MASUK 17.43

Yabui berhenti.

Jam tersebut sudah lewat.

Jauh sebelum ia melakukan isi ulang.

Ia mencoba mengingat.

Pukul 17.43 tadi mungkin masih berada di perjalanan menuju Jayakarta.

Atau mungkin baru masuk kawasan stasiun.

Ia tidak yakin.

Struk dimasukkan kembali ke saku.

Kendaraan yang dipesan datang.

Perjalanan pulang berlangsung biasa.

Malamnya, Yabui membuka lagi cerita anak yang diwawancarai sore tadi. Salah satu halaman memuat urutan perjalanan tokohnya.

Sampai rumah.

Turun kendaraan.

Membeli minum.

Menyeberang.

Pergi.

Yabui membaca dari atas ke bawah.

Lalu dari bawah ke atas.

Di samping map tergeletak struk Jayakarta.

Ia membukanya lagi.

Sekarang hanya tersisa satu baris.

JAYAKARTA — MASUK 17.43

Semua catatan setelahnya hilang.

Yabui melihat bagian atas.

Tanggalnya masih kemarin.

Keesokan harinya struk itu dibawa kembali melewati Jayakarta.

Yabui tidak berniat melakukan apa pun. Ia hanya ingin melihat apakah tulisan di atas kertas berubah ketika kembali ke tempat asalnya.

Saat berada di peron, struk dikeluarkan.

Tanggalnya masih kemarin.

Baris terakhir masih sama.

JAYAKARTA — MASUK 17.43

Seorang petugas kebersihan lewat sambil membawa kantong sampah.

“Buang, Pak?”

Yabui hampir menyerahkan struk.

Tangannya sudah bergerak.

Kemudian kertas itu dibalik.

Pada sisi belakang terdapat satu baris tipis yang sebelumnya kosong.

JAYAKARTA — DITEMUKAN 17.43

Yabui melihat jam.

17.39.

Ia memasukkan struk kembali ke saku.

Kereta datang empat menit kemudian.

Yabui naik.

Saat pintu menutup, jam berubah menjadi 17.43.

Struk tetap berada di saku.

Tidak ada yang ditemukan.

Setidaknya belum.

Sejak itu, setiap menerima struk di stasiun, Yabui selalu membaca tanggal terlebih dahulu.

Bukan untuk memastikan transaksi itu benar.

Hanya untuk mengetahui apakah kertas tersebut sedang mencatat perjalanan yang sudah dilakukan, atau perjalanan yang belum sempat terjadi.