Langkah yang Masuk ke Earphone di Gondangdia

Wawancara sore itu selesai setelah anak yang ditemui Yabui memutar ulang rekaman suaranya sendiri tiga kali. Cerita yang dibuatnya sederhana: seorang anak pulang sekolah sambil menghitung langkah dari gerbang sampai rumah. Setiap kali hitungannya berbeda, anak dalam cerita itu mengulang perjalanan dari awal.

“Kenapa harus dihitung?” tanya Yabui.

Anak itu mengangkat bahu. “Biar tahu sudah sampai.”

Jawaban itu ikut masuk ke rekaman bersama suara kursi yang bergeser dan motor yang lewat di depan rumah.

Yabui menyimpan ponsel, memasukkan buku catatan ke tas hitam, lalu berjalan menuju Stasiun Gondangdia. Sore sudah turun ketika ia sampai. Lampu-lampu di bawah atap peron mulai lebih terlihat daripada cahaya dari luar, sementara deretan gedung di sekitar stasiun masih menyimpan warna langit yang belum sepenuhnya gelap.

Kereta arah Jakarta Kota baru saja lewat.

Yabui memilih duduk sambil menunggu rangkaian berikutnya. Di seberang rel, beberapa orang berdiri dekat garis aman. Seorang perempuan memegang kantong makanan, dua pekerja kantor berbicara sambil menatap layar ponsel, dan seorang lelaki muda duduk dengan ransel di antara kedua kakinya.

Yabui mengeluarkan earphone nirkabel dari tas.

Satu dipasang di telinga kanan.

Satu lagi tetap di kotaknya.

Ia membuka rekaman wawancara tadi karena ingin memastikan suaranya masuk dengan baik. Suara anak terdengar jelas.

“Dari pagar sebelas langkah…”

Yabui menurunkan volume.

“…terus dari pohon sampai pintu tujuh belas…”

Lalu terdengar sesuatu di belakang suara anak.

Tok.

Tok.

Tok.

Yabui menghentikan rekaman.

Suara ikut berhenti.

Ia memutar beberapa detik ke belakang.

“Dari pagar sebelas langkah…”

Tok.

Tok.

Tok.

Yabui melihat layar.

Ia ingat betul tidak ada orang berjalan di ruangan ketika bagian itu direkam. Anak duduk di kursi, ibunya berada di dapur, dan Yabui sendiri duduk di hadapannya.

Rekaman dihentikan lagi.

Tok.

Yabui mengangkat kepala.

Suara itu masih terdengar.

Tok.

Tok.

Kali ini bukan dari ponsel.

See also  Pasar Minggu Baru: Tas ASI yang Pulang Lebih Dulu

Yabui melepas earphone.

Hilang.

Ia memasangnya kembali.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara tersebut bergerak dari sebelah kiri.

Bukan seperti bunyi yang datang melalui rekaman. Ada jarak di dalamnya. Langkah pertama terdengar jauh, berikutnya semakin dekat, lalu bergerak melewati posisi Yabui.

Ia menoleh.

Tidak ada orang yang sedang berjalan di belakang bangku.

Tok.

Suara itu sekarang terasa tepat di atas kepala.

Yabui melihat atap.

Struktur logam membentang mengikuti peron. Lampu-lampu menggantung di bawahnya. Bagian atasnya melengkung dan turun ke sisi peron, cukup miring hingga sulit membayangkan seseorang berjalan di sana.

Tok.

Tok.

Suara bergerak ke arah ujung peron.

Yabui melepas earphone.

Hening.

Dipakai lagi.

Tok.

Tok.

Tok.

Lelaki muda yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan.

“Kenapa, Pak?”

Yabui menunjuk earphone.

“Kayaknya rusak.”

“Suara kresek-kresek?”

“Langkah.”

Lelaki itu tertawa kecil.

“Earphone sekarang fiturnya jauh juga.”

Yabui tersenyum, lalu mengulurkan kotak earphone.

“Mau coba?”

Lelaki itu mengambil sebelah kiri, memasangnya ke telinga, kemudian menunggu.

Ekspresinya tidak berubah beberapa detik.

“Enggak ada.”

Yabui hampir mengambil kembali earphone ketika lelaki itu mengangkat telunjuk.

“Eh.”

Ia melihat ke atas.

Tok.

Tok.

Tok.

Kepalanya bergerak mengikuti sesuatu.

“Dari sana.”

Ia menunjuk bagian atap di belakang Yabui.

Keduanya melihat ke arah yang sama.

Tok.

Langkah itu bergerak pelan.

Tok.

Tok.

Melewati mereka.

Lalu menjauh.

Lelaki itu melepas earphone.

“Kalau dilepas enggak kedengeran.”

“Makanya saya bilang rusak.”

“Kalau rusak kok rusaknya sama?”

Yabui tidak menjawab.

Lelaki itu kembali memasang earphone.

Tok.

Ia langsung tertawa.

“Masih jalan.”

Yabui ikut tertawa.

Entah karena lucu atau karena percakapan seperti itu terdengar lebih baik daripada mengakui bahwa mereka sedang mendengarkan sesuatu berjalan di atas atap stasiun.

“Orangnya rajin juga,” kata lelaki itu.

“Belum tentu orang.”

Lelaki itu menoleh.

“Pak, jangan merusak suasana.”

Kereta dari arah Jakarta Kota masuk ke jalur seberang. Suara roda, rem, dan pengumuman menutup bunyi lain. Penumpang bergerak. Beberapa orang berdiri, beberapa mendekati pintu.

See also  Bojong Gede: Payung yang Tidak Pernah Terbuka

Ketika kereta pergi, langkah itu tidak terdengar lagi.

Lelaki muda menyerahkan earphone.

“Sudah turun kali.”

“Turun di mana?”

“Ya jangan ditanya.”

Mereka tertawa lagi.

Yabui memasukkan kedua earphone ke kotaknya.

Kereta yang ditunggu belum datang.

Ia mencoba memutar rekaman wawancara sekali lagi, kali ini melalui pengeras suara ponsel.

“Dari pagar sebelas langkah…”

Tidak ada bunyi.

“…terus dari pohon sampai pintu tujuh belas…”

Bersih.

Yabui memasang earphone kanan.

Rekaman diulang.

Tok.

Tok.

Tok.

Ia menghentikannya.

“Mas.”

Lelaki muda tadi menoleh.

“Masih ada?”

Yabui mengangguk.

“Di rekaman?”

“Iya.”

“Kalau speaker?”

“Enggak.”

Lelaki itu mendekat lagi.

Mereka mencoba bergantian.

Pengeras suara ponsel tidak menghasilkan apa pun selain suara wawancara. Earphone kiri menghasilkan langkah. Earphone kanan juga.

Lelaki itu mengeluarkan earphone miliknya sendiri.

“Coba kirim rekamannya.”

Yabui mengirim satu potongan pendek melalui aplikasi pesan.

File diterima.

Lelaki itu memutar rekaman melalui earphone miliknya.

Mereka menunggu.

Suara anak terdengar.

“Dari pagar sebelas langkah…”

Lalu sunyi.

Lelaki itu melihat Yabui.

“Enggak ada.”

Yabui mengambil kembali earphone miliknya.

Tok.

Tok.

Tok.

Lelaki itu tersenyum tipis.

“Berarti bukan rekamannya.”

Yabui melihat benda kecil di tangannya.

“Earphone-nya?”

“Kayaknya.”

Kereta arah Bogor mulai terlihat dari kejauhan.

Orang-orang berdiri.

Yabui memasukkan earphone kanan ke kotak. Earphone kiri hendak dimasukkan juga ketika suara langkah kembali terdengar.

Tok.

Tok.

Kali ini cepat.

Tok. Tok. Tok.

Seperti seseorang sedang berlari dari ujung peron menuju tempat mereka berdiri.

Yabui refleks melihat ke atas.

Lelaki muda ikut melihat meskipun telinganya kosong.

Tok. Tok. Tok. Tok.

Semakin dekat.

Kereta masuk.

Angin dari rangkaian menyapu sisi peron.

Yabui memasukkan earphone ke kotak dan menutupnya.

Suara berhenti.

Pintu kereta terbuka.

Lelaki muda itu masuk lebih dahulu. Yabui mengikutinya, lalu berdiri dekat pintu karena gerbong cukup penuh.

Beberapa saat kemudian kereta bergerak meninggalkan Gondangdia.

See also  Tebet: Kursi yang Selalu Disisakan

Lelaki tadi berdiri di seberang Yabui.

“Pak.”

“Ya?”

“Nanti kalau dipakai di rumah masih bunyi gimana?”

“Ya saya jual.”

“Jangan bilang masalahnya.”

“Second, pemakaian normal.”

Lelaki itu tertawa.

Yabui ikut tertawa.

Perjalanan berikutnya berlangsung biasa. Cikini lewat. Manggarai datang. Penumpang semakin banyak, lalu berganti lagi. Earphone tetap berada di dalam tas sampai Yabui tiba di rumah.

Malamnya, ketika memindahkan catatan wawancara ke komputer, Yabui melihat kotak earphone di meja.

Ia hampir membiarkannya.

Kemudian teringat percakapan di Gondangdia.

Satu earphone dipasang.

Tidak ada suara.

Yabui membuka rekaman sore tadi.

“Dari pagar sebelas langkah…”

Tidak ada langkah.

“…terus dari pohon sampai pintu tujuh belas…”

Tetap tidak ada.

Yabui tersenyum kecil.

“Ya memang stasiunnya.”

Ia hendak melepas earphone ketika suara anak dalam rekaman melanjutkan cerita.

“Kalau sudah sampai pintu, hitung dari atas.”

Yabui berhenti.

Ia belum pernah mendengar kalimat itu.

Rekaman terus berjalan.

Suara anak hilang.

Lalu muncul satu langkah.

Tok.

Bukan di dalam rekaman.

Tepat di atas kepala Yabui.

Tok.

Yabui melepas earphone.

Hening.

Ia melihat langit-langit rumah.

Jaraknya tidak sampai tiga meter.

Tidak ada lantai di atasnya.

Yabui memasang earphone kembali.

Tok.

Tok.

Langkah itu berjalan perlahan melintasi langit-langit.

Dari depan rumah menuju bagian belakang.

Yabui tidak mengikutinya.

Keesokan paginya earphone itu dimasukkan kembali ke kotaknya dan disimpan di dalam tas.

Beberapa hari kemudian Yabui melewati Gondangdia lagi.

Ia tidak mengeluarkan earphone.

Ketika berdiri menunggu kereta, seorang perempuan di ujung bangku tiba-tiba melepas sebelah earphone dari telinganya.

Perempuan itu melihat ke atas.

Lalu memasangnya kembali.

Kepalanya bergerak pelan mengikuti sesuatu yang berjalan di sepanjang atap.

Yabui memilih melihat ke arah rel.

Tok.

Ia tetap tidak menoleh.

Kadang benda kecil memang tidak membawa sesuatu pulang.

Benda itu hanya mengajari telinga di mana harus mendengarkan.