Raka menggambar jam lebih besar daripada stasiunnya.
Atap peron hanya berupa dua garis miring. Kereta digambar seperti kotak panjang dengan jendela-jendela hitam. Orang-orang di bawahnya kecil dan rapat, sedangkan jam bundar memenuhi hampir separuh halaman.
“Jarumnya cuma satu?” tanya Yabui.
Raka mengangguk.
Pertemuan menulis sore itu hampir selesai. Anak-anak lain mulai memasukkan pensil dan kertas ke dalam tas. Dari halaman rumah belajar terdengar suara orang tua memanggil nama anak masing-masing, bersahutan dengan deru kendaraan dari jalan.

Yabui menggeser gambar itu mendekat.
Jarum tunggal pada jam mengarah ke bawah, tepat pada seorang anak yang berdiri sendirian di antara kerumunan.
“Jam apa ini?”
“Jam stasiun.”
“Kenapa menunjuk orang?”
“Lagi menghitung.”
“Orangnya banyak. Kok cuma satu yang ditunjuk?”
Raka menutup kotak pensilnya.
“Yang lain sudah ada yang ingat.”
Yabui menatapnya, menunggu penjelasan berikutnya. Anak itu justru mengambil gambar dari meja dan memasukkannya ke dalam map.
“Kalau enggak ada yang ingat, orangnya diapakan?”
Raka mengangkat bahu.
“Dijadikan waktu.”
Ibunya telah menunggu di pintu. Raka berdiri, mengenakan tas, lalu ikut berjalan keluar. Sebelum melewati ambang, ia kembali kepada Yabui dan menyerahkan selembar kertas kecil.
Di atasnya terdapat gambar jam yang sama, tetapi tanpa stasiun dan penumpang. Hanya satu lingkaran dengan jarum mengarah lurus ke bawah.
“Buat apa?”
“Kalau Bapak lihat jamnya.”
“Jam yang mana?”
Raka sudah berlari menyusul ibunya.
Yabui memasukkan kertas itu ke dalam tas hitam. Ia tidak mengejar. Anak-anak sering meninggalkan cerita dalam bentuk yang belum selesai, lalu membiarkan orang dewasa sibuk mencari ujungnya.
Menjelang magrib, Yabui naik kereta menuju Bogor. Ia berdiri dekat pintu dengan tali tas melintang di atas kaus putihnya. Kacamata baca bertengger di kepala. Pertemuan bersama anak-anak tadi masih berputar dalam pikirannya: rumah yang mengingat suara penghuni, burung yang takut pada langit, lemari yang menyimpan hari Minggu, dan jam Raka yang mengubah manusia menjadi waktu.
Kereta melambat saat memasuki Kampung Bandan.
Peron tampak penuh bahkan sebelum pintu terbuka. Penumpang berdiri di bawah atap, sebagian bersiap naik, sebagian menunggu kereta ke jalur lain. Di atas mereka tergantung sebuah jam bundar berbingkai hitam.
Jarumnya menunjukkan pukul enam lewat dua puluh tiga menit.
Yabui turun bersama arus penumpang. Tubuh-tubuh bergerak cepat menuju tangga dan lorong perpindahan. Ia ikut melangkah beberapa meter sebelum sebuah suara kecil terdengar di belakangnya.
“Ibu!”
Tidak ada yang berhenti.
Yabui menoleh.
Seorang anak perempuan berdiri di dekat pintu kereta yang baru saja menutup. Usianya mungkin tujuh tahun. Ia mengenakan jaket merah muda dan membawa tas sekolah kecil berbentuk kepala kucing.
“Ibu!”
Kereta mulai bergerak.
Anak itu berlari mengikuti pintu, tetapi rangkaian segera bertambah cepat. Melalui kaca, seorang perempuan berdiri membelakangi peron sambil memegang telepon. Anak tersebut menepuk-nepuk jendela dari luar.
Perempuan itu tidak menoleh.
Yabui menangkap bahu anak itu sebelum ia terlalu dekat dengan tepi peron.
“Jangan lari.”
“Ibu di dalam.”
“Namamu siapa?”
Anak itu terus melihat kereta yang menjauh.
“Naya.”
“Kamu turun sendiri?”
“Ibu turun duluan.”
“Tapi ibumu masih di kereta.”
Naya menggeleng keras.
“Tadi Ibu ada di sini.”
Yabui memandang sekeliling. Tidak ada perempuan yang tampak mencari anak. Orang-orang melewati mereka tanpa perhatian, bahkan ketika Naya kembali memanggil ibunya.
Yabui mengangkat tangan kepada petugas di ujung peron.
“Pak!”
Petugas tersebut tidak menoleh.
Yabui memanggil lebih keras. “Pak, ada anak terpisah dari ibunya!”
Petugas terus berjalan.
Naya menarik ujung kaus Yabui.
“Dia enggak dengar.”
“Dengar. Mungkin terlalu ramai.”
“Bukan.”
Naya menunjuk ke atas.
Jam bundar itu masih menunjukkan pukul enam lewat dua puluh tiga menit.
Jarumnya tidak bergerak.
Yabui memeriksa telepon genggam. Pukul enam lewat dua puluh sembilan.
“Jamnya mati,” katanya.
Naya menatap jam dengan wajah tegang.
“Belum.”
“Belum apa?”
Jarum panjang bergerak mundur satu langkah.
Bersamaan dengan gerak itu, suara peron meredup.
Pengumuman masih terdengar, tetapi seperti datang dari lorong yang sangat jauh. Langkah kaki, percakapan, dan derit kereta melemah sesaat, lalu kembali seperti semula.
Naya menggenggam tali tasnya.
“Dia mulai.”
Yabui hendak bertanya, tetapi seorang lelaki berkemeja biru menabrak bahunya. Lelaki itu tidak meminta maaf. Ia bahkan tidak terlihat menyadari bahwa ada dua orang di jalurnya.
Orang berikutnya juga hampir menyenggol Naya.
Yabui menarik anak itu mendekat ke tiang.
“Berdiri di sini.”
Seorang perempuan berjalan melewati mereka sambil menatap layar telepon. Bahunya menyentuh tiang, padahal ruang di samping Yabui masih cukup lebar. Perempuan itu berbelok sedikit, seperti sedang menghindari benda mati, bukan manusia.
Yabui melambaikan tangan tepat di depan wajahnya.
Tidak ada reaksi.
Jarum jam bergerak mundur lagi.
Naya tampak lebih pucat.
“Apa yang terjadi?”
Anak itu memegang lengannya sendiri.
“Mereka mulai enggak lihat.”
“Siapa?”
“Aku.”
Yabui berjongkok agar sejajar dengannya.
“Dengar. Kita cari petugas. Setelah itu petugas menghubungi ibumu.”
Naya menatap wajah Yabui.
“Bapak masih lihat aku?”
“Jelas.”
“Jangan lupa.”
Yabui menggenggam tangan Naya, lalu membawa anak itu menyusuri peron. Mereka harus bergerak melawan arus penumpang yang turun dari tangga. Beberapa orang menabrak bahu Yabui. Tidak ada satu pun yang menunjukkan bahwa mereka melihat Naya.
Di dekat ruang petugas, seorang laki-laki berseragam berdiri sambil memperhatikan jalur.
Yabui menghampiri.
“Pak, anak ini terpisah dari ibunya.”
Petugas menoleh kepada Yabui.
“Anak yang mana?”
Yabui mengangkat tangan Naya.
“Ini.”
Petugas melihat ke arah tangan mereka, tetapi tatapannya tidak berhenti pada wajah anak itu.
“Bapak sendirian.”
Naya mencengkeram tangan Yabui.
“Pak, lihat baik-baik. Jaket merah muda. Tas kucing.”
Petugas mundur sedikit.
“Mungkin Bapak perlu duduk.”
“Ada anak di sini.”
Yabui menarik Naya ke depan.
Tubuh petugas berbelok, memberi jalan kepada Yabui, tetapi matanya tetap tidak mengenali anak tersebut. Seolah ia hanya melihat ruang kosong yang didorong ke arahnya.
Jarum jam bergerak mundur lagi.
Naya terhuyung.
Tas berbentuk kucing terlepas dari bahunya dan jatuh ke lantai. Orang-orang menginjak talinya, tetapi tidak ada yang menunduk.
Yabui mengambil tas itu.
“Naya?”
Anak tersebut berdiri di sampingnya, tetapi tubuhnya tampak lebih tipis daripada sebelumnya. Warna jaketnya memudar di bawah cahaya peron.
“Bapak masih ingat namaku?”
“Naya.”
“Lagi.”
“Naya.”
Wajah anak itu kembali sedikit jelas.
Yabui menatap jam.
Jarumnya kini mengarah ke bawah.
Sama seperti gambar Raka.
Ia membuka tas hitam dengan satu tangan, meraba di antara buku catatan dan botol minum, lalu menemukan kertas kecil pemberian anak itu.
Gambar lingkaran di atas kertas telah berubah.
Di bawah jam, terdapat seorang anak perempuan dengan tas berbentuk kucing. Di belakangnya berdiri laki-laki berkaus putih dan berkacamata di kepala.
Yabui membalik kertas.
Sebuah kalimat tertulis dengan pensil.
Jam menghitung orang sampai tak ada lagi yang memanggilnya.
Yabui melihat Naya.
“Siapa nama ibumu?”
“Mama.”
“Nama aslinya?”
Naya menggeleng.
“Coba ingat. Orang lain memanggilnya apa?”
Anak itu memejamkan mata.
Kereta lain memasuki stasiun. Anginnya mendorong tubuh mereka. Ketika pintu terbuka, arus penumpang kembali memenuhi peron.
Jarum jam bergerak mundur.
Tubuh Naya menjadi nyaris transparan.
Yabui meraih bahunya, tetapi tangannya hampir menembus jaket anak itu.
“Naya, lihat saya.”
Anak tersebut membuka mata.
“Nama ibumu.”
“Aku enggak tahu.”
“Nama yang tertulis di telepon, di kartu, atau yang dipanggil teman-temannya.”
Naya mulai menangis tanpa suara.
Yabui memeriksa tas berbentuk kucing. Ritsletingnya macet. Ia menarik lebih kuat hingga terbuka.
Di dalamnya terdapat tempat pensil, buku latihan, botol minum, dan sebuah dompet kain kecil. Tidak ada telepon. Tidak ada kartu pelajar.
Yabui mengeluarkan buku latihan.
Pada halaman depan tertulis:
Nama: Naya Putri Rahmawati
Nama Orang Tua: Dina Rahmawati
“Dina,” kata Yabui.
Naya menatapnya.
“Nama ibumu Dina?”
Anak itu mengangguk cepat.
Yabui berlari menuju ruang petugas.
“Pak, pinjam pengeras suara.”
Petugas yang tadi ditemuinya berdiri di balik meja.
“Tidak bisa sembarangan.”
“Anak hilang.”
“Bapak tadi bilang begitu, tapi—”
“Namanya Naya Putri Rahmawati. Ibunya Dina Rahmawati. Mereka terpisah saat kereta berangkat.”
Petugas memandang buku latihan yang disodorkan Yabui.
Tulisan pada halaman depan mulai memudar.
Huruf pertama nama Naya sudah hampir hilang.
“Cepat, Pak!”
Petugas masih ragu.
Yabui meraih mikrofon meja.
Petugas menahan pergelangan tangannya.
“Bapak tidak boleh—”
“Kalau terlambat, Bapak tidak akan tahu siapa yang hilang.”
Yabui menarik mikrofon dan menekan tombol.
Suara dengung memenuhi peron.
“Perhatian.”
Kalimat pertamanya terdengar pecah dari pengeras suara.
Beberapa penumpang menoleh.
“Bagi penumpang bernama Dina Rahmawati, anak Anda, Naya Putri Rahmawati, berada di Stasiun Kampung Bandan.”
Naya berdiri di luar ruang petugas. Tubuhnya tinggal bayangan tipis di antara orang-orang yang berlalu.
Yabui mengulang pengumuman.
“Ibu Dina Rahmawati, Naya menunggu Anda di peron.”
Jarum jam bergerak mundur.
Ujungnya telah melewati angka enam.
Nama Naya pada buku latihan menghilang seluruhnya. Hanya tersisa tulisan Putri Rahmawati.
Yabui memegang mikrofon lebih dekat.
“Naya memakai jaket merah muda dan membawa tas berbentuk kucing. Ia memanggil ibunya sejak kereta berangkat. Siapa pun yang mengenal Dina Rahmawati, hubungi dia sekarang.”
Petugas merebut mikrofon.
“Cukup.”
Yabui menahannya.
“Panggil namanya.”
“Apa?”
“Panggil Naya.”
Petugas melihat ke arah peron.
“Tidak ada anak.”
“Panggil saja.”
Petugas menggeleng.
Jarum jam bergerak lagi.
Naya jatuh berlutut.
Yabui meninggalkan ruang petugas dan menerobos kerumunan. Ia mengangkat tas kucing tinggi-tinggi.
“Naya!”
Beberapa orang menoleh.
“Naya Putri Rahmawati!”
Seorang perempuan berhenti berjalan.
“Naya siapa?” tanyanya.
“Anak yang kehilangan ibunya. Panggil namanya.”
Perempuan itu tampak bingung, tetapi akhirnya berseru pelan, “Naya?”
Suara itu membuat tubuh Naya muncul kembali sesaat.
Yabui menghadap kerumunan.
“Ada anak hilang! Namanya Naya!”
“Naya!” seru perempuan tadi, kali ini lebih keras.
Seorang lelaki di dekat garis kuning ikut menoleh.
“Naya!”
Petugas dari ruang tadi keluar. Wajahnya mulai memperlihatkan keraguan, seolah sesuatu yang tidak terlihat sedang berusaha memasuki ingatannya.
“Naya Putri Rahmawati!” teriak Yabui.
Nama itu menyebar melalui peron.
Seorang pedagang memanggilnya.
Dua perempuan yang baru turun dari tangga mengulanginya.
Seorang anak laki-laki berteriak paling keras, meskipun tidak tahu siapa yang dicari.
“Naya!”
Setiap panggilan mengembalikan sedikit warna pada jaket anak itu.
Jam mulai bergetar.
Kacanya berdenting halus.
Jarum panjang mencoba bergerak mundur, tetapi tertahan.
Dari pengeras suara terdengar bunyi sambungan telepon.
Petugas mengangkat gagang di meja.
“Stasiun Kampung Bandan.”
Suara perempuan terdengar dari ujung sambungan. Terlalu panik untuk dipahami.
Petugas melihat Yabui.
“Ibunya.”
“Pasang ke pengeras suara.”
Petugas menekan tombol.
Suara perempuan memenuhi peron.
“Naya!”
Anak itu mengangkat kepala.
“Ibu!”
“Naya, Ibu di Rajawali. Ibu turun tanpa sadar kamu enggak ikut. Naya, tunggu Ibu. Jangan pergi.”
Tubuh Naya kembali utuh.
Orang-orang di sekitarnya tersentak. Seorang perempuan menabrak bahunya dan segera meminta maaf. Laki-laki yang tadi tidak melihatnya kini menepi, memberi ruang.
Jam mengeluarkan satu dentang keras.
Jarumnya berhenti.
Kemudian bergerak maju.
Pukul enam lewat tiga puluh satu menit.
Sesuai dengan telepon Yabui.
Naya berlari ke arahnya dan memeluk pinggangnya. Tangannya tidak lagi dingin.
Petugas mendekat sambil membawa mikrofon.
“Maaf,” katanya. “Saya tadi benar-benar enggak lihat.”
Yabui tidak menjawab. Ia memandang jam.
Benda itu kembali tampak seperti jam biasa.
Ibu Naya datang dengan kereta berikutnya.
Begitu pintu terbuka, ia berlari melintasi peron dan memeluk anaknya. Ia meminta maaf berkali-kali, lalu berterima kasih kepada Yabui dan petugas. Tidak ada penjelasan yang cukup masuk akal tentang mengapa dirinya turun sementara Naya tetap berada di dalam kereta, atau mengapa setelah itu ia sempat percaya bahwa sejak awal bepergian sendirian.
Yabui tidak mencoba menjelaskan jam.
Ia hanya mengembalikan buku latihan dan tas berbentuk kucing.
Sebelum pergi, Naya menoleh ke atas.
“Bapak.”
“Ya?”
“Jamnya masih lihat.”
Yabui mengikuti pandangannya.
Jarum detik bergerak mengelilingi lingkaran dengan teratur.
“Sekarang sudah normal.”
Naya menggeleng.
“Bukan lihat waktu.”
Ibunya menggandeng tangannya. Keduanya berjalan menuju tangga dan menghilang bersama penumpang lain.
Kereta tujuan Bogor tiba tidak lama kemudian.
Yabui masuk dan berdiri dekat pintu. Ketika rangkaian mulai meninggalkan Kampung Bandan, ia mengeluarkan kertas pemberian Raka.
Gambar jam masih ada.
Naya sudah tidak terlihat di bawahnya.
Kini hanya terdapat satu orang.
Laki-laki berkaus putih, tas hitam melintang di dada, dan kacamata bertengger di kepala.
Jarum tunggal mengarah tepat kepadanya.
Yabui menatap gambar itu cukup lama.
Telepon genggamnya bergetar.
Pesan dari Raka masuk.
Bapak lihat jamnya?
Yabui mengetik jawaban.
Sudah.
Balasan muncul hampir seketika.
Dia menghitung siapa?
Yabui mengangkat wajah.
Di kaca pintu, pantulan gerbong terlihat penuh oleh penumpang. Ada yang duduk, berdiri, berbicara, dan menatap telepon.
Di antara seluruh pantulan itu, hanya tubuh Yabui yang tidak terlihat.
Kereta terus bergerak menuju stasiun berikutnya.
Dari kejauhan, dentang jam Kampung Bandan terdengar sekali.