Kereta dari Citayam baru saja melaju ketika laki-laki itu berdiri.
Sejak tadi ia duduk di dekat pintu sambil memangku tas kertas cokelat. Bagian atasnya dilipat dua kali, lalu direkatkan dengan pita kuning yang mulai kusut. Sesekali ia merapikan lipatan itu, memeriksa jam tangan, kemudian menoleh ke layar informasi di atas pintu.
Stasiun berikutnya: Depok.
Yabui sempat mengira laki-laki itu takut kelewatan. Ia sudah berdiri bahkan sebelum kereta mulai melambat.
Namun, begitu papan nama Depok terlihat dari balik kaca, laki-laki itu malah mundur.
Pintu terbuka.
Penumpang di belakangnya mulai bergerak keluar.

“Turun, Pak?” tanya seorang pemuda.
Laki-laki itu tidak menjawab. Tatapannya tertuju ke peron, tepatnya ke tangga di seberang jalur. Ia seperti sedang menunggu seseorang muncul dari sana.
Orang-orang melewatinya dari kanan dan kiri.
Bunyi peringatan terdengar.
Laki-laki itu menepi.
Pintu menutup.
Kereta kembali berjalan.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu duduk lagi seolah baru saja lolos dari sesuatu.
Di Depok Baru, ia turun tergesa-gesa.
Yabui melihatnya menyeberang ke peron arah Bogor, lalu masuk ke kereta yang baru datang. Entah karena penasaran atau karena tidak ingin kehilangan jejak, Yabui ikut berpindah.
Di gerbong arah Bogor, laki-laki itu kembali berdiri dekat pintu.
Tas kertas masih dipeluknya.
Ketika pengumuman menyebut Depok, ia mengangguk kecil. Kali ini ia tampak lebih siap. Bahkan sempat merapikan kerah kemejanya.
Kereta berhenti.
Pintu terbuka.
Ia melangkah maju.
Ujung sepatunya menyentuh lantai peron.
Lalu ia berhenti.
Seorang ibu tua berdiri tidak jauh dari pintu sambil membawa kantong belanja. Perempuan itu sama sekali tidak memperhatikannya, tetapi wajah laki-laki itu mendadak pucat.
Ia mundur ke dalam gerbong.
“Pak, jadi turun enggak?” keluh seseorang dari belakang.
Laki-laki itu menunduk.
Pintu menutup.
Kereta bergerak ke Citayam.
Sepanjang perjalanan, ia tidak duduk. Ia berdiri menghadap kaca, memandangi bayangannya sendiri.
Sesampainya di Citayam, ia turun, menyeberang, lalu menunggu kereta menuju Jakarta.
Yabui mulai memahami jalurnya.
Citayam.
Depok.
Depok Baru.
Depok.
Citayam.
Laki-laki itu tidak tersesat. Ia mengitari satu stasiun dari dua arah, lalu selalu gagal turun di tempat yang sama.
Pada perjalanan berikutnya, Yabui duduk berhadapan dengannya.
“Bapak mau ke Depok?”
Laki-laki itu menatapnya sebentar.
“Iya.”
“Kenapa tadi enggak turun?”
“Pintunya cepat.”
Padahal pintu terbuka cukup lama.
“Sekarang saya bantu.”
Laki-laki itu tersenyum tipis.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Saya harus turun sendiri.”
Kereta mulai melambat.
Laki-laki itu berdiri dan menyerahkan tas kertasnya kepada Yabui.
“Tolong pegang.”
Tas itu ringan. Dari dalamnya tercium aroma pandan yang samar.
Pintu terbuka.
Laki-laki itu turun.
Satu kaki.
Lalu kaki lainnya.
Untuk beberapa detik, ia benar-benar berdiri di peron.
Yabui ikut bangkit hendak menyerahkan tasnya.
Di ujung peron, seorang anak laki-laki berkaus kuning sedang berlari sambil menggandeng tangan ibunya.
Laki-laki itu menatap anak tersebut.
Wajahnya berubah.
Ia segera berbalik, masuk lagi ke gerbong, dan merebut tas dari tangan Yabui.
Pintu menutup.
Kereta bergerak menuju Depok Baru.
“Bapak tadi sudah turun,” kata Yabui.
Laki-laki itu menggeleng.
“Saya belum sampai.”
“Tapi kaki Bapak sudah di peron.”
“Kalau sudah sampai, saya tidak akan berada di sini.”
Di Depok Baru, ia kembali menyeberang.
Putaran berikutnya dimulai ketika malam semakin turun.
Gerbong lebih lengang. Beberapa penumpang tertidur. Cahaya dari luar bergeser cepat di kaca.
Menjelang Depok, lampu gerbong berkedip.
Sekali.
Pada saat gelap singkat itu, lipatan tas kertas terbuka.
Yabui sempat melihat seragam sekolah dasar di dalamnya. Kemeja putih. Celana pendek merah. Terlipat rapi seperti belum pernah dipakai.
Ketika lampu menyala kembali, yang tampak hanya kotak plastik transparan.
Laki-laki itu memeluk tas lebih erat.
Pintu terbuka.
Ia tidak melangkah.
Dari peron terdengar suara anak kecil.
“Ayah.”
Suara itu pelan, nyaris tertutup pengumuman kedatangan kereta.
Laki-laki itu menatap keluar.
“Sebentar lagi,” katanya.
Seorang perempuan yang duduk dekat pintu langsung menoleh.
“Bapak bicara sama siapa?”
Laki-laki itu tidak menjawab.
Pintu menutup.
Kereta bergerak lagi ke Citayam.
Di kaca, bayangan laki-laki itu tampak berdiri sedikit terlambat. Tubuhnya sudah bergeser, tetapi pantulannya masih menghadap peron.
Yabui menahan napas.
Begitu kereta masuk ke jalur gelap, bayangan itu ikut bergerak.
“Siapa yang menunggu Bapak?” tanya Yabui.
Laki-laki itu terus menatap kaca.
“Anak saya.”
“Di Depok?”
“Dulu.”
Setibanya di Citayam, ia kembali turun.
Kali ini langkahnya lebih lambat. Namun, ia tetap menyeberang dan naik kereta arah Jakarta.
Di dalam gerbong berikutnya, seorang ibu berkata kepada anaknya, “Nanti turun di Depok. Jangan sampai kelewatan.”
Anaknya bertanya, “Kalau kelewatan bisa balik?”
“Bisa.”
Laki-laki dengan tas kertas menoleh.
“Tidak selalu,” katanya.
Ibu itu langsung menarik anaknya mendekat.
Ketika kereta mendekati Depok, percakapan di dalam gerbong perlahan mereda. Tidak ada yang meminta orang lain diam. Suara-suara itu berhenti begitu saja.
Laki-laki itu berjalan ke pintu.
Yabui berdiri di belakangnya.
“Turun saja,” katanya.
Laki-laki itu menatap peron.
“Apa yang terjadi kalau saya turun?”
“Bapak sampai.”
Laki-laki itu menoleh cepat.
Raut wajahnya seperti seseorang yang baru saja diancam.
Pintu terbuka.
Angin dari peron masuk membawa bau besi basah dan pandan.
Dari luar terdengar suara anak kecil lagi.
“Ayah, kuenya mana?”
Tas kertas di tangan laki-laki itu bergetar.
Ia mundur.
Yabui refleks menahan bahunya.
Tubuh laki-laki itu dingin sekali.
“Saya pernah turun,” bisiknya.
Yabui melepaskan tangan.
“Lalu?”
Laki-laki itu memandang tangga peron.
“Dia sudah tidak ada.”
Bunyi peringatan pintu terdengar.
Laki-laki itu mundur lagi.
Kereta berangkat menuju Depok Baru.
Baru setelah itu ia bercerita.
Bertahun-tahun lalu, anaknya dirawat di sebuah rumah sakit dekat Stasiun Depok. Hari itu ulang tahunnya yang kedelapan. Ia berjanji datang membawa kue pandan dan seragam sekolah baru.
Dalam perjalanan dari Bogor, ia tertidur.
Saat terbangun, kereta sudah melewati Depok.
Ia turun di Depok Baru, lalu pindah ke kereta arah sebaliknya.
Ketika kereta kembali berhenti di Depok, telepon dari rumah sakit masuk.
Ia tidak turun.
Ia membiarkan pintu menutup dan terus terbawa sampai Citayam.
“Kenapa?” tanya Yabui.
Laki-laki itu menunduk pada tasnya.
“Selama saya belum turun, saya belum terlambat.”
Di Depok Baru, mereka kembali pindah ke kereta arah Bogor.
Gerbong nyaris kosong.
Tas kertas diletakkan di antara mereka.
“Sudah berapa lama Bapak bolak-balik begini?”
“Saya tidak tahu.”
“Setiap hari?”
“Setiap kali pintunya terbuka.”
Kereta mendekati Depok dari arah Jakarta.
Kali ini tidak terdengar pengumuman.
Layar di atas pintu tetap menampilkan tulisan DEPOK BARU, meskipun papan nama Depok sudah terlihat di luar.
Kereta berhenti.
Pintu terbuka.
Peron tampak kosong.
Tidak ada petugas.
Tidak ada penumpang.
Tidak terdengar suara kendaraan dari luar.
Seorang anak laki-laki berdiri dekat bangku.
Kausnya kuning.
Ia memegang lilin kecil di tangan kanan.
Laki-laki itu bangkit.
Tas kertas di lantai membuka sendiri.
Di dalamnya ada sepotong kue pandan yang telah mengering. Sebuah lilin berbentuk angka delapan tertancap di atasnya.
“Ayah,” panggil anak itu.
Suara itu terdengar dari peron.
Lalu terdengar lagi dari dalam tas.
Laki-laki itu melangkah keluar.
Satu kaki.
Dua kaki.
Anak itu mundur.
Laki-laki itu mengikutinya.
Yabui ikut berdiri, tetapi seseorang mencengkeram lengannya dari belakang.
Seorang petugas berseragam gelap berdiri di sana.
“Jangan turun.”
Yabui menoleh kembali ke peron.
Anak berkaus kuning sudah tidak ada.
Laki-laki itu masih berdiri sendirian dekat bangku.
Pintu menutup.
Kereta bergerak menuju Citayam.
Dari balik kaca, Yabui melihat laki-laki itu semakin jauh. Ia tidak membawa tas kertasnya.
Tas itu masih tertinggal di lantai gerbong.
Saat Yabui menoleh kepada petugas tadi, tempat itu sudah kosong.
Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
Yabui turun di Citayam, lalu kembali ke Depok dengan kereta berikutnya.
Laki-laki itu tidak ditemukan.
Petugas malam mengaku tidak melihat siapa pun turun dari kereta sebelumnya. Rekaman kamera hanya memperlihatkan pintu terbuka dan menutup kembali.
Peronnya kosong.
Tas kertas yang dibawa Yabui juga sudah berubah.
Kotak kue tidak ada.
Di dalamnya hanya tersimpan seragam putih-merah yang terlipat rapi. Pada bagian dada terdapat label nama yang hampir pudar.
ARYA.
Pagi harinya, seorang pedagang di luar stasiun mengenali nama itu.
Katanya, bertahun-tahun lalu ada seorang ayah yang sering terlihat bolak-balik membawa kue. Ia naik dari Citayam, melewati Depok, turun di Depok Baru, lalu kembali ke arah Bogor.
Begitu terus.
Orang-orang mulai hafal wajahnya.
Sebagian pernah mencoba mendorongnya keluar ketika pintu terbuka. Sebagian lain menawarkan diri mengantar.
Tidak ada yang berhasil.
Suatu malam, laki-laki itu hilang.
Namun, setelah itu beberapa penumpang masih mencium aroma pandan ketika kereta berhenti di Depok. Ada yang mendengar anak kecil memanggil dari peron kosong. Ada pula yang melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu sambil membawa tas kertas berpita kuning.
Sejak saat itu, penumpang lama punya kebiasaan sendiri.
Ketika seseorang berdiri terlalu lama di depan pintu menjelang Depok, mereka akan bertanya pelan,
“Bapak benar-benar mau turun?”
Bukan karena takut orang itu kelewatan.
Mereka hanya ingin memastikan penumpang yang berdiri di sana masih tahu ke mana ia hendak pulang.
Selesai.