Stasiun Universitas Pancasila: Orang yang Mengetahui Namamu

Kereta meninggalkan Lenteng Agung ketika Maria memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kali.

Nama pengemudi masih sama.

Deni.

Nomor kendaraan masih sama.

B 4362 KTZ.

Foto pengemudinya menampilkan lelaki berkumis tipis dengan jaket hijau. Titik penjemputan berada di sisi barat Stasiun Universitas Pancasila, dekat minimarket yang lampunya biasa terlihat dari pintu keluar.

Maria memperbesar peta, lalu mengambil tangkapan layar.

Baterai ponselnya tinggal sembilan persen.

Di sebelahnya, Yabui berdiri sambil menahan tas hitam pada satu bahu. Gerbong tidak terlalu penuh. Sebagian besar penumpang sudah turun di Universitas Indonesia dan Lenteng Agung. Beberapa mahasiswa masih duduk dengan laptop terbuka, sedangkan dua pekerja tertidur sambil memeluk ransel.

Maria memasukkan ponsel ke saku jaket, lalu mengeluarkannya lagi.

Ia membuka percakapan dengan teman kos.

Aku sudah dekat.

Pesan itu tidak segera terkirim.

Sinyal bergerak antara satu garis dan dua garis.

Pengeras suara mengumumkan stasiun berikutnya.

“Universitas Pancasila.”

Maria berdiri lebih awal.

Ia merapatkan tas ke dada, memeriksa ritsleting, lalu menyentuh saku tempat dompetnya disimpan. Setelah itu, ia melihat kembali nomor kendaraan pada tangkapan layar.

Yabui memperhatikan rangkaian gerak tersebut.

Bukan karena Maria tampak panik. Justru karena semuanya dilakukan terlalu teratur, seperti urutan yang telah dilatih agar tidak ada satu bagian pun terlewat.

Kereta melambat.

Pintu terbuka.

Maria turun mengikuti arus penumpang. Yabui turun beberapa langkah di belakangnya.

Peron terang oleh lampu putih. Papan informasi digital menyala di atas jalur. Mahasiswa bergerak menuju tangga, sebagian sambil mencari kendaraan melalui ponsel. Tidak ada suasana yang benar-benar sepi, tetapi malam membuat setiap kelompok terlihat seperti pulau kecil yang bergerak sendiri-sendiri.

Maria berhenti di dekat tiang.

Ia membuka aplikasi kendaraan.

Pesan dari pengemudi baru masuk.

Mbak, titik jemput dipindah ke pintu timur. Di sini tidak bisa berhenti.

Maria membaca pesan itu dua kali.

Kemudian ia membuka peta stasiun.

Tidak ada penanda jelas mengenai pintu timur.

Ia mengetik:

Dekat apa, Pak?

Balasan datang cepat.

Ikuti saja orang keluar. Nanti ada gang kecil, saya tunggu di dekat pagar.

Maria tidak bergerak.

Beberapa penumpang melewatinya menuju tangga. Seorang mahasiswa yang membawa tabung gambar hampir menyenggol bahunya.

“Maaf,” katanya.

Maria mengangguk.

Yabui berdiri tidak jauh darinya.

“Kesulitan mencari pintu keluar?”

Maria menoleh. Tatapannya singkat, lalu turun ke kaos putih dan tas hitam Yabui.

“Pintu timur lewat mana, Pak?”

“Saya juga belum lihat petunjuknya.”

“Pengemudi bilang lewat gang kecil.”

“Nomornya sudah cocok?”

Maria menunjukkan tangkapan layar tanpa menyerahkan ponselnya.

“Sudah.”

“Dia minta pindah titik?”

Maria mengangguk.

“Katanya tidak bisa berhenti di tempat biasa.”

Yabui melihat papan petunjuk. Arah keluar ditunjukkan ke tangga depan. Tidak ada tulisan pintu timur.

“Lebih baik tanya petugas.”

Maria menggeleng kecil.

“Tidak apa-apa. Katanya dekat.”

Ia mengatakan kalimat itu seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Mereka berjalan menuju tangga.

Di tengah perjalanan, ponsel Maria bergetar lagi.

Saya sudah dekat pagar biru. Mbak pakai jaket cokelat, ya?

Langkah Maria berhenti.

Yabui ikut berhenti.

“Kenapa?”

“Dia tahu baju saya.”

“Mungkin terlihat dari foto profil.”

“Saya tidak pakai foto ini di aplikasi.”

Maria membuka profilnya. Foto yang terpasang adalah gambar bunga dengan latar putih.

Ia membaca ulang pesan tersebut.

Kemudian pesan baru masuk.

Tas hitam kecil, sepatu putih. Benar, kan?

Maria menoleh ke sekeliling.

Di ujung peron, seorang perempuan berdiri dekat mesin penjual minuman. Umurnya sekitar tiga puluh tahun. Rambutnya diikat, mengenakan kemeja biru muda dan membawa tas selempang.

Perempuan itu menatap Maria.

Lalu tersenyum.

“Mbak Maria?”

Maria tidak menjawab.

Perempuan itu mendekat.

“Dari Ambon, ya?”

Maria merapatkan tas ke dada.

“Siapa?”

“Saya kakaknya Pak Deni. Mobilnya tidak bisa masuk. Saya antar ke titik jemput.”

Yabui berdiri di sisi Maria.

“Pak Deni di mana?”

“Di depan.”

“Kenapa tidak menelepon langsung?”

“Baterainya habis.”

“Barusan mengirim pesan.”

Perempuan itu tersenyum lagi.

“Pakai ponsel saya.”

See also  Orang Sebelah Gang Mayong

Ia mengangkat sebuah telepon genggam.

Pada layarnya terlihat percakapan dengan nama Maria.

Foto profil bunga.

Nomor pemesanan.

Titik awal dan tujuan.

Semua tampak sesuai.

“Sudah malam,” katanya. “Kasihan Mbak Maria menunggu.”

Maria memandang layar itu cukup lama.

“Arah pintu timur lewat mana?”

Perempuan tersebut menunjuk ke lorong sisi kanan setelah tangga.

“Nanti keluar dekat pagar. Tinggal ikut saya.”

“Mobilnya nomor berapa?”

“B 4362.”

“Belakangnya?”

Perempuan itu terdiam sepersekian detik.

“KTZ.”

Jawabannya benar.

Maria menoleh kepada Yabui.

“Sepertinya benar.”

Yabui belum bergerak.

“Nama lengkap pengemudinya?”

Perempuan itu tertawa kecil.

“Pak Deni. Di aplikasi juga begitu.”

“Nama lengkapnya?”

“Mas, ini urusan penumpang dan pengemudi.”

“Saya hanya memastikan.”

Perempuan itu memandang Maria.

“Mbak takut?”

Maria tidak langsung menjawab.

“Tidak usah takut. Di sini aman. Semua mahasiswa lewat jalan itu.”

Kalimat itu seharusnya menenangkan.

Namun, Maria justru semakin merapatkan tas.

“Nama saya dipanggil apa di rumah?” tanyanya.

Perempuan itu mengerutkan dahi.

“Apa?”

“Kalau orang rumah menelepon, mereka panggil saya apa?”

“Mbak Maria.”

“Bukan.”

Perempuan itu tertawa, kali ini lebih pendek.

“Saya kan bukan keluarga Mbak.”

“Tapi tadi bilang tahu saya dari Ambon.”

“Data dari aplikasi.”

“Di aplikasi tidak ada asal saya.”

Perempuan itu tidak lagi tersenyum.

“Kalau tidak mau ikut, silakan. Saya cuma membantu.”

Ia berbalik menuju tangga.

Maria melihatnya pergi.

“Jangan diikuti,” kata Yabui.

Maria tidak menjawab.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan dari pengemudi:

Mbak, kakak saya sudah ketemu? Ikuti saja dia.

Maria menunjukkan layar.

“Pengemudinya bilang begitu.”

“Coba telepon melalui aplikasi.”

Maria menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar.

Dari arah tangga, telepon milik perempuan berkemeja biru ikut berdering.

Perempuan itu tidak menoleh.

Ia mematikan panggilan.

Pada saat yang sama, sambungan di ponsel Maria terputus.

Yabui langsung berjalan cepat.

“Petugas.”

Maria mengikutinya.

Mereka kembali ke area peron, tetapi petugas yang tadi berjaga sudah berpindah ke sisi lain. Kereta berikutnya masuk, membuat arus penumpang menutup pandangan.

Ketika kereta berangkat, perempuan berkemeja biru tidak terlihat lagi.

Maria menarik napas panjang.

“Pemesanan dibatalkan,” katanya.

Di layar muncul pemberitahuan bahwa pengemudi telah membatalkan perjalanan.

Beberapa detik kemudian, nomor tidak dikenal mengirim pesan.

Kalau tetap mau pulang, keluar lewat pintu timur.

Maria memblokir nomor tersebut.

“Teman kosmu bisa menjemput?” tanya Yabui.

“Tidak punya motor.”

“Keluarga?”

“Mereka di Ambon.”

“Pesan kendaraan baru dari titik resmi.”

Maria melihat baterai.

Enam persen.

Ia membuka aplikasi lagi. Waktu tunggu kendaraan berikutnya sebelas menit. Titik jemput tetap mengarah ke sisi barat.

“Jangan keluar sendiri,” kata Yabui. “Tunggu dekat petugas.”

Maria mengangguk.

Mereka turun melalui tangga utama.

Di dekat pintu keluar, beberapa penumpang memindai kartu elektronik. Petugas keamanan berdiri di samping gerbang. Maria menjelaskan bahwa seorang perempuan mengaku sebagai keluarga pengemudi dan mengetahui data perjalanannya.

Petugas meminta melihat nomor, pesan, serta tangkapan layar.

“Bisa jadi akun pengemudinya diretas,” katanya.

“Atau mereka melihat pesanan dari ponsel pengemudi,” kata Yabui.

Petugas mencatat nomor kendaraan.

Maria memandang jalur keluar di belakang gerbang.

“Pintu timur itu sebenarnya di mana?”

Petugas menunjuk sisi berlawanan.

“Tidak ada pintu yang disebut begitu secara resmi. Mungkin maksudnya akses samping.”

“Gang kecil?”

“Ada jalan servis, tetapi bukan titik jemput.”

Maria menelan ludah.

“Banyak orang lewat sana?”

“Kalau malam jarang.”

Petugas meminta seorang rekannya memeriksa kamera pengawas. Mereka menunggu di ruang kecil dekat gerbang.

Maria duduk di ujung bangku. Kedua tangannya menggenggam ponsel.

Yabui duduk beberapa kursi darinya.

“Sering pulang malam?”

“Kadang.”

“Selalu mencatat nomor kendaraan?”

Maria mengangguk.

“Saya kirim juga ke teman kos.”

“Bagus.”

“Teman-teman bilang saya terlalu banyak cek.”

“Karena?”

“Katanya di Jakarta semua orang juga naik kendaraan sendiri. Katanya saya harus biasa.”

Maria membuka percakapan dengan teman kos. Ada banyak foto pelat kendaraan, tangkapan layar perjalanan, dan pesan singkat mengenai lokasi.

“Mereka suka bilang, ‘dekat, kok’. Atau, ‘ikut orang saja’. Tapi saya tidak selalu tahu orang-orang itu menuju mana.”

See also  Stasiun Depok Baru: Pintu yang Selalu Terbuka

“Kamu pernah tersesat?”

“Dua kali.”

“Ada kejadian lain?”

Maria terdiam.

Kemudian ia mengunci layar ponsel.

“Waktu baru pindah, saya pernah ikut kendaraan yang pelatnya hampir sama. Saya sadar setelah jalan terlalu jauh.”

“Apa yang terjadi?”

“Pengemudinya berhenti setelah saya teriak. Dia bilang cuma salah penumpang.”

Maria mengusap ujung lengan jaket.

“Saya tidak tahu benar atau tidak.”

Sejak saat itu, ia memeriksa nomor kendaraan tiga kali. Memotret kendaraan sebelum naik. Duduk dekat pintu. Mengirim lokasi. Menyimpan titik penting sebagai tangkapan layar.

Teman-temannya menganggapnya kebiasaan berlebihan.

Bagi Maria, urutan itu bukan sekadar kewaspadaan. Itu cara mengembalikan kendali pada tubuh yang pernah dibawa ke arah yang tidak dikenalnya.

Petugas kembali dari ruang kamera.

“Kami melihat perempuan tadi.”

“Dia keluar ke mana?” tanya Yabui.

Petugas meletakkan tablet di meja.

Rekaman menampilkan Maria berdiri di peron. Yabui berada beberapa langkah di belakangnya. Perempuan berkemeja biru terlihat mendekat dari sisi mesin minuman.

Ia berbicara kepada Maria.

Lalu berjalan menuju tangga.

“Wajahnya jelas?” tanya Maria.

Petugas memperbesar gambar.

Wajah perempuan itu kabur karena posisi kamera dan cahaya dari papan digital.

Rekaman dilanjutkan.

Perempuan tersebut turun melalui tangga, tetapi tidak melewati gerbang keluar. Ia berbelok ke lorong layanan yang seharusnya tertutup untuk penumpang.

“Kenapa dia bisa masuk?”

Petugas menggeleng.

“Kartu akses diperlukan.”

Rekaman dari kamera lorong diperiksa.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya Maria dan Yabui yang terlihat dari sudut lain ketika berada di atas tangga.

“Perempuannya tidak terekam?” tanya Maria.

“Kamera mungkin punya titik buta.”

Namun, pada rekaman pertama, perempuan itu terlihat jelas memasuki lorong.

Pada rekaman kedua, lorong tetap kosong.

Petugas memutar ulang.

Hasilnya sama.

“Bisa jadi dia berhenti di antara dua kamera,” katanya.

Tidak seorang pun benar-benar yakin.

Kendaraan baru Maria tiba di titik resmi.

Kali ini petugas mengantar mereka sampai area penjemputan. Pelat nomor diperiksa. Nama pengemudi cocok. Wajah pada aplikasi sama dengan orang di balik kemudi.

Maria belum masuk.

Ia berdiri dekat pintu mobil.

“Bapak tahu nama tujuan saya?”

Pengemudi membaca alamat dari aplikasinya.

Benar.

“Nama saya?”

“Maria.”

“Siapa yang memesan?”

“Mbak sendiri.”

Maria masih memegang gagang pintu.

Yabui tidak menyuruhnya segera naik.

Ia menunggu.

Petugas juga menunggu.

Pengemudi tersebut terlihat sedikit bingung, tetapi tidak mendesak.

“Tidak apa-apa, Mbak,” katanya. “Dicek dulu saja.”

Baru setelah itu Maria membuka pintu.

Sebelum masuk, ia menoleh kepada Yabui.

“Bapak tidak bilang saya berlebihan.”

“Karena saya tidak mengalami perjalananmu.”

Maria mengangguk kecil.

Mobil berangkat.

Yabui kembali ke dalam stasiun.

Ia belum merasa urusan selesai.

Nomor kendaraan pertama terdaftar dalam aplikasi. Seseorang menguasai akun pengemudi atau memperoleh akses pada informasi perjalanan. Perempuan berkemeja biru mengetahui pakaian Maria sebelum mereka bertemu. Ia juga mengetahui asal daerah Maria, padahal informasi itu tidak tercantum di aplikasi.

Jejak datanya harus berasal dari tempat lain.

Petugas keamanan menemukan petunjuk dari sebuah akun media sosial kampus. Beberapa jam sebelumnya, Maria muncul dalam unggahan kegiatan mahasiswa. Ia mengenakan jaket cokelat, sepatu putih, dan tas hitam kecil. Nama lengkapnya ditandai dalam foto. Pada unggahan lama, Maria pernah menulis bahwa ia berasal dari Ambon dan tinggal di sebuah kos dekat Pasar Minggu.

Informasi itu terbuka untuk umum.

Pelaku hanya perlu menghubungkan nama pemesan dengan akun media sosial.

Keesokan harinya, pengemudi pertama ditemukan. Ia mengaku ponselnya dipinjam seseorang di warung dekat stasiun dengan alasan ingin menelepon keluarga. Setelah ponsel dikembalikan, akun aplikasinya masih aktif. Ia tidak menyadari ada pemesanan yang masuk dan dibatalkan.

Perempuan berkemeja biru belum ditemukan.

Namun, polisi menerima laporan serupa dari dua mahasiswi lain. Keduanya dihampiri orang yang mengetahui nama, kampus, dan tujuan mereka. Satu orang sempat dibawa ke kendaraan sebelum curiga karena nomor pelat berbeda.

See also  Stasiun Depok: Anak yang Menulis Kedatangan

Tidak ada bukti bahwa pelaku bekerja sendiri.

Maria kembali ke Stasiun Universitas Pancasila satu minggu kemudian.

Kali ini ia pulang lebih awal. Di dalam kereta, ia duduk dekat pintu bersama seorang mahasiswi baru bernama Aulia.

Aulia terus melihat peta perjalanan.

“Nanti keluarnya lewat mana?” tanyanya.

“Pintu utama.”

“Katanya teman saya lewat akses samping lebih cepat.”

“Lebih cepat belum tentu lebih mudah.”

“Dekat, katanya.”

Maria tidak langsung membantah.

Ia menunjukkan gambar jalur keluar yang disimpan di ponselnya.

“Ini pintu utama. Titik jemput ada di area terang. Kalau pengemudi minta pindah, kita tanya petugas dulu.”

Aulia tertawa kecil.

“Kak Maria hafal banget.”

“Saya perlu tahu jalannya.”

“Takut tersesat?”

Maria melihat pintu kereta.

“Takut tidak percaya pada rasa takut sendiri.”

Ketika mereka turun, Aulia menerima telepon dari pengemudi.

Titik jemput diminta pindah.

“Katanya ikut orang-orang ke gang,” ujar Aulia.

Maria berhenti.

“Nomornya cocok?”

“Cocok.”

“Foto?”

“Cocok.”

“Dia tahu kamu pakai baju apa?”

Aulia mengangguk.

“Kok Kakak tahu?”

Di ujung peron, seorang perempuan berkemeja biru berdiri dekat mesin penjual minuman.

Rambutnya diikat.

Tas selempang tergantung di bahu.

Ia melambaikan tangan.

“Mbak Aulia?”

Aulia hendak menjawab.

Maria menahan lengannya.

Perempuan itu tersenyum.

“Saya kakaknya pengemudi. Mobilnya menunggu di pintu timur.”

Maria menatap wajahnya.

Kali ini ia tidak bertanya tentang nomor pelat atau nama pengemudi.

“Aulia lebih suka dipanggil apa oleh keluarganya?”

Perempuan itu kehilangan senyum.

“Apa?”

“Kalau keluarganya menelepon, nama panggilannya apa?”

“Ya Aulia.”

Maria menoleh kepada mahasiswi di sampingnya.

Aulia menggeleng.

Nama panggilannya Lia.

Ketika Maria kembali melihat ke depan, perempuan berkemeja biru sudah berjalan cepat menuju tangga.

Mereka memanggil petugas.

Perempuan itu dikejar sampai lorong layanan. Salah satu petugas melihatnya membuang telepon genggam ke tempat sampah sebelum keluar melalui pintu darurat.

Ia berhasil ditangkap di dekat jalan raya.

Di dalam tasnya ditemukan beberapa kartu identitas mahasiswa, dua belas kartu SIM, catatan nama, akun media sosial, tempat tinggal, serta ciri pakaian calon korban. Tidak ada benda gaib. Tidak ada kemampuan membaca pikiran.

Ia hanya mengumpulkan cukup banyak data untuk terdengar seperti seseorang yang layak dipercaya.

Namun, satu bagian tetap tidak terjawab.

Ketika polisi memeriksa rekaman malam pertama, perempuan yang ditangkap tidak mengenali dirinya sendiri.

Ia mengaku belum pernah berada di Stasiun Universitas Pancasila pada malam Maria hampir dibawa keluar. Menurut catatan lokasi telepon, ia berada di Bekasi.

Polisi menganggapnya kebohongan.

Maria tidak terlalu memikirkan pengakuan itu.

Baginya, perempuan di peron dan perempuan yang ditangkap bekerja dengan cara yang sama. Keduanya mengetahui nama, pakaian, kampus, dan tempat tinggal. Keduanya membawa informasi yang cukup untuk menyerupai kedekatan.

Namun, keduanya tidak mengenal dirinya.

Sejak kejadian tersebut, cerita mengenai pintu timur mulai beredar di antara mahasiswa.

Katanya, pintu itu hanya muncul kepada penumpang yang sedang sendirian. Di dekatnya akan berdiri seseorang yang mengetahui nama lengkap, jurusan, tempat tinggal, dan tujuan perjalanan.

Orang itu akan berkata bahwa jalan di depan aman.

Ia akan meminta penumpang mengikuti gang kecil karena semua orang biasa melewatinya.

Namun, apabila ditanya sesuatu yang tidak pernah ditulis di media sosial, wajahnya akan berubah kabur.

Beberapa mahasiswa mulai menguji orang yang mengaku datang menjemput.

Bukan dengan menanyakan nomor kendaraan.

Mereka menanyakan nama panggilan di rumah, makanan yang tidak disukai, lagu yang dinyanyikan ibu ketika mereka kecil, atau satu kebiasaan yang hanya dikenal orang dekat.

Katanya, orang yang salah menjawab akan berjalan menuju pintu timur dan tidak pernah terlihat melewati gerbang keluar.

Sejak malam itu, Yabui memahami bahwa mengetahui data seseorang tidak sama dengan mengenalnya.

Dan rasa aman tidak selalu lahir karena orang lain berkata sebuah jalan aman.

Kadang-kadang, rasa aman bermula ketika seseorang diberi ruang untuk percaya pada kegelisahan tubuhnya sendiri.

Selesai