Kereta melambat setelah melewati Universitas Indonesia.
Yabui yang sejak tadi berdiri dekat pintu mengangkat wajah dari layar ponsel. Di luar jendela, deretan bangunan, atap rumah, dan lampu-lampu kos bergerak semakin pelan. Beberapa penumpang mulai merapat ke pintu. Tas disampirkan kembali, earphone dilepas sebelah, lalu tubuh-tubuh yang semula diam mendadak bersiap turun.
Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara.
“Stasiun berikutnya, Pondok Cina.”
Seorang mahasiswa di depan Yabui langsung menyimpan laptop ke dalam tas. Dua perempuan di sebelah pintu masih membicarakan tugas kelompok, tetapi suara mereka terpotong ketika kereta mengerem lebih keras.

Pintu terbuka.
Udara peron masuk bersama suara langkah dan percakapan yang saling bertumpuk.
Yabui turun mengikuti arus penumpang.
Pondok Cina masih ramai meskipun hari mulai gelap. Mahasiswa bergerak menuju tangga, sebagian sambil membuka aplikasi kendaraan, sebagian lagi berhenti untuk menunggu teman. Dari seberang rel terdengar suara kereta lain yang baru berangkat. Lampu papan informasi digital memantul di lantai peron yang masih lembap.
Yabui membiarkan kerumunan mendahuluinya.
Ia baru berjalan beberapa langkah ketika melihat seorang anak laki-laki duduk di bangku dekat tiang kedua.
Seragam sekolah dasarnya kusut. Tasnya diletakkan di lantai. Sebuah buku tulis terbuka di atas paha, dan tangannya bergerak cepat setiap kali seseorang turun dari kereta.
Anak itu tidak menggambar kereta.
Ia menulis nama.
Seorang mahasiswi dengan tabung gambar melewatinya.
Anak itu mengangkat kepala, memperhatikan kartu identitas yang tergantung di leher mahasiswi tersebut, lalu menulis:
Alia — gerbong tiga — tangga kiri.
Seorang lelaki berjaket kampus berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Anak itu menulis lagi.
Dimas — gerbong dua — menunggu.
Yabui berhenti.
Penumpang terus bergerak di sekeliling mereka, tetapi anak itu tidak pernah kehilangan sasaran. Ia mengangkat kepala, memilih satu orang, lalu menurunkan pensilnya. Tidak semua penumpang dicatat. Hanya beberapa.
Seorang perempuan membawa dua tas belanja.
Seorang mahasiswa yang berkali-kali melihat ke belakang.
Seorang lelaki berkemeja abu-abu yang turun paling akhir dari gerbong kelima.
Pada nama terakhir, pensil anak itu berhenti lebih lama.
Ia menggambar lingkaran.
Yabui duduk di ujung bangku.
“Kamu kenal mereka?”
Anak itu menutup bukunya.
“Belum.”
“Lalu kenapa ditulis?”
Anak itu memandang ke arah tangga, memastikan lelaki berkemeja abu-abu sudah pergi.
“Supaya saya tahu kalau mereka datang lagi.”
“Nunggu seseorang?”
Anak itu mengangguk.
“Siapa?”
“Kakak saya.”
“Kerjanya di sekitar sini?”
Anak itu menggeleng.
“Sudah setahun belum pulang.”
Namanya Ilham.
Usianya sepuluh tahun. Ia tinggal bersama ibunya di belakang deretan kos, tidak jauh dari jalan menuju kampus. Sepulang sekolah, ia membantu menjaga warung nasi sampai menjelang magrib. Setelah itu, jika ibunya sedang sibuk, ia pergi ke stasiun.
Bukan untuk naik kereta.
Untuk mencatat siapa yang datang.
“Kakakmu terakhir turun di sini?” tanya Yabui.
Ilham membuka kembali bukunya, tetapi bukan pada halaman yang tadi.
Di bagian tengah terdapat satu halaman yang sudah kusut karena terlalu sering dibuka.
Tio — 20.14 — jaket hitam — tas punggung — gerbong empat.
Di bawahnya ada kalimat lain.
Tidak sampai rumah.
“Kamu melihat sendiri?”
Ilham menggeleng.
“Saya masih di rumah.”
“Lalu dari mana tahu jam dan gerbongnya?”
“Dari orang-orang.”
Ia membalik halaman.
Tulisan di sana tidak lagi berbentuk daftar. Ada nama penjaga warung, pengemudi ojek, mahasiswa kos, dan petugas parkir. Di samping setiap nama, Ilham menulis potongan keterangan.
Pak Darto: melihat Tio turun sendirian.
Mbak Rani: Tio terlihat bicara dengan lelaki berkemeja abu-abu.
Bang Oji: ada mobil hitam menunggu dekat gang.
Dina kamar tujuh: Tio takut pulang malam.
Raka kampus: Tio sedang punya masalah.
“Kamu tanya mereka satu per satu?”
Ilham mengangguk.
“Semua menjawab?”
“Awalnya.”
“Sekarang?”
“Mereka bilang saya jangan ikut campur.”
Yabui membaca ulang catatan tersebut. Sebagian keterangan saling menyambung. Sebagian lain bertabrakan. Ada yang melihat Tio berjalan ke arah kos. Ada yang mengaku ia kembali masuk ke stasiun. Ada pula yang mengatakan Tio naik kendaraan bersama dua orang.
Tidak ada satu cerita yang utuh.
Hanya serpihan.
Ilham menutup bukunya ketika pengumuman kedatangan terdengar lagi.
Kereta masuk dari arah Jakarta. Cahaya dari jendela gerbong bergerak di sepanjang peron. Beberapa penumpang yang tadi duduk langsung berdiri. Ilham ikut berdiri, tetapi tidak mendekati pintu.
Ia memperhatikan.
Pintu terbuka.
Mahasiswa turun dalam kelompok kecil. Seorang perempuan berbaju cokelat menuntun koper. Dua lelaki bercelana kerja berjalan cepat menuju tangga. Seorang pengemudi ojek daring turun sambil membawa helm.
Ilham menulis tiga nama.
Kemudian seorang mahasiswi berjaket hijau melangkah keluar dari gerbong keempat. Tas selempangnya terbuka sedikit. Ia tidak menyadarinya.
Lelaki berkemeja abu-abu muncul beberapa orang di belakangnya.
Ilham segera menulis.
Abu-abu — gerbong empat — dekat jaket hijau.
Lelaki itu berjalan searah dengan mahasiswi tersebut. Jarak mereka mula-mula sekitar dua meter. Ketika arus penumpang menyempit di dekat tangga, jarak itu hilang.
Ilham mencengkeram pensil.
“Kenapa?” tanya Yabui.
Anak itu tidak menjawab.
Lelaki berkemeja abu-abu bergerak di sisi kiri mahasiswi. Tangan kanannya masuk ke antara tubuh-tubuh yang berdesakan. Gerakannya tertutup tas seorang penumpang lain.
Beberapa detik kemudian, ia mundur.
Di tangannya ada benda kecil berwarna cokelat.
Dompet.
Yabui berdiri.
Lelaki itu segera menyerahkan dompet kepada pengemudi ojek daring yang turun sebelumnya. Penyerahan itu berlangsung cepat, seperti dua orang yang hanya bersenggolan.
Pengemudi tersebut berbalik menuju ujung peron.
Yabui mengejarnya.
“Mas.”
Pengemudi itu menoleh, lalu mempercepat langkah.
Yabui semakin yakin.
“Berhenti dulu.”
Pengemudi itu berlari.
Beberapa penumpang berteriak ketika ia menyenggol mereka. Helm yang dibawanya jatuh dan menggelinding ke bawah bangku. Seorang petugas keamanan yang berdiri dekat tangga mendengar keributan dan langsung menghadang.
Pengemudi itu mencoba berbalik, tetapi Yabui sudah menutup jalur di belakangnya.
Petugas memegang lengannya.
“Ada apa?”
“Periksa tasnya,” kata Yabui.
“Saya tidak ngapa-ngapain!”
Petugas membuka tas kecil di pinggangnya.
Sebuah dompet cokelat jatuh ke lantai.
Mahasiswi berjaket hijau baru menyadari tasnya terbuka ketika seorang penumpang memanggilnya. Ia memeriksa isi tas, lalu berlari mendekat.
“Itu dompet saya.”
Pengemudi tersebut masih mencoba mengelak.
“Dia yang kasih,” katanya sambil menunjuk ke arah tangga.
Namun, lelaki berkemeja abu-abu sudah menghilang.
Petugas membawa pengemudi itu ke ruang pelayanan. Yabui dan Ilham ikut diminta memberikan keterangan.
Di dalam ruangan, pengemudi tersebut duduk dengan kepala menunduk. Petugas menemukan dua telepon genggam lain di dalam tasnya, beberapa kartu ATM, dan tiga kartu identitas atas nama orang yang berbeda.
“Aku cuma disuruh bawa,” katanya.
“Siapa yang menyuruh?”
Ia diam.
Petugas menunjukkan rekaman kamera pengawas dari peron. Pada layar terlihat lelaki berkemeja abu-abu berdiri dekat mahasiswi, lalu menyerahkan dompet kepada pengemudi tersebut.
“Namanya siapa?”
Pengemudi itu melihat layar sebentar.
“Pak Arman.”
Ilham yang sejak tadi diam mendadak berdiri.
Pensilnya jatuh ke lantai.
Yabui menoleh.
“Kamu kenal nama itu?”
Ilham membuka buku dengan tangan gemetar. Ia membalik halaman demi halaman sampai menemukan catatan tentang Tio.
Di bagian bawah ada satu nama yang dicoret berkali-kali.
Arman.
“Dia yang terakhir bicara dengan Kak Tio,” kata Ilham.
Petugas keamanan mendekat.
“Kamu yakin?”
Ilham menunjuk tulisan Mbak Rani.
Tio terlihat bicara dengan Arman dekat tiang kedua.
Pengemudi itu mengangkat wajah.
“Kakaknya siapa?”
“Tio,” jawab Ilham.
Pengemudi tersebut memucat.
Perubahan wajahnya berlangsung singkat, tetapi semua orang di ruangan melihatnya.
“Kamu tahu Tio?” tanya petugas.
Ia menggeleng terlalu cepat.
“Enggak.”
“Barusan wajahmu berubah.”
“Enggak kenal.”
Petugas menutup pintu ruangan.
Pemeriksaan berlangsung lebih lama.
Pada awalnya, pengemudi itu hanya mengakui keterlibatannya dalam pencopetan. Ia bertugas membawa barang dari stasiun menuju kamar kos sementara. Barang tersebut kemudian dipilah. Telepon dijual. Kartu identitas dibuang. Dompet dikosongkan.
Nama Tio membuat ceritanya tersendat.
Ia mengaku pernah melihat seorang mahasiswa berjaket hitam datang ke salah satu kamar kos bersama Arman. Mahasiswa itu marah karena menemukan beberapa tas dan laptop di dalam lemari. Ia sempat mengambil foto dengan ponselnya.
“Terus?” tanya petugas.
“Pak Arman suruh saya keluar.”
“Setelah itu?”
“Saya enggak tahu.”
“Mobil hitam?”
Pengemudi tersebut terdiam.
Petugas mengulang pertanyaan.
“Ada mobil hitam malam itu?”
“Ada.”
“Siapa yang membawa?”
Ia menelan ludah.
“Pak Arman sama satu orang lagi.”
“Mereka membawa Tio?”
Pengemudi itu menatap Ilham, lalu menunduk.
“Dia masih hidup waktu dimasukkan ke mobil.”
Ilham tidak menangis.
Ia hanya memegang ujung meja begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.
Yabui duduk di sampingnya.
“Mobilnya ke mana?” tanya petugas.
“Saya enggak tahu. Saya disuruh bersihin kamar.”
“Ada barang Tio yang tertinggal?”
“Tas.”
“Di mana?”
Pengemudi itu menyebut sebuah alamat kos di belakang jalan utama, sekitar sepuluh menit dari stasiun.
Petugas menghubungi kepolisian.
Malam itu juga, mereka mendatangi lokasi.
Bangunan kos tersebut berdiri di antara tempat fotokopi dan rumah makan. Dari luar tidak ada yang mencurigakan. Lampu teras menyala terang. Beberapa sepeda motor terparkir rapi. Suara televisi terdengar dari kamar lantai bawah.
Kamar yang disebut pengemudi berada di lantai dua.
Pemilik kos membuka pintu dengan kunci cadangan.
Bau lembap langsung keluar.
Ruangan itu tampak seperti kamar yang ditinggalkan tergesa-gesa. Kasur sudah tidak ada. Lemari terbuka. Meja belajar hanya menyisakan debu dan lingkaran bekas gelas.
Di bagian atas lemari ditemukan tas punggung hitam.
Ilham mengenalinya sebelum tas itu diturunkan.
“Itu punya Kak Tio.”
Ia mencoba mendekat, tetapi petugas menahannya.
Isi tas dikeluarkan satu per satu.
Dua buku kuliah.
Sebuah jaket tipis.
Tempat pensil.
Pengisi daya.
Kartu mahasiswa.
Tidak ada ponsel.
Di bagian dasar tas terdapat secarik kertas yang sudah terlipat kecil. Tulisan di sana menggunakan pulpen biru.
Kalau aku tidak pulang, cari nama-nama yang sering datang tanpa membawa apa-apa, lalu pulang dengan tas berbeda.
Di bawah kalimat itu terdapat empat nama.
Salah satunya Arman.
Yang menarik bukan hanya bahwa Tio sudah menyadari kegiatan kelompok tersebut. Ia juga menggunakan cara yang hampir sama dengan Ilham: mengamati orang yang datang, mencatat kebiasaan, lalu mencari pola.
Ilham tidak pernah diajari kakaknya secara langsung.
Namun, selama setahun menunggu, ia mengulang cara berpikir yang sama.
Bukan karena tahu.
Karena ingin memahami.
Petugas memeriksa lemari lebih teliti. Di balik papan bagian belakang ditemukan telepon genggam lama yang dibungkus plastik. Layarnya retak dan tidak dapat menyala.
Ponsel itu dibawa untuk diperiksa.
Ilham menunggu hasilnya selama dua hari.
Pada hari ketiga, sebuah rekaman suara berhasil dipulihkan.
Suara Tio terdengar pelan, seolah ia merekam sambil menyembunyikan ponsel.
“Aku di kamar dua belas. Arman tahu aku lihat barang-barangnya. Kalau rekaman ini ditemukan, jangan percaya kalau mereka bilang aku pergi sendiri.”
Setelah itu terdengar pintu terbuka.
Suara langkah.
Seseorang bertanya, “Kamu kirim apa?”
Rekaman berakhir.
Arman ditangkap pada malam berikutnya di sebuah rumah kontrakan di Jakarta Timur. Dari pemeriksaan, polisi menemukan keterlibatannya dalam jaringan pencurian barang penumpang di beberapa stasiun dan kawasan kos.
Tentang Tio, jawabannya tidak segera muncul.
Arman menyangkal telah mencelakainya. Ia mengaku hanya membawa Tio untuk menakut-nakuti, lalu menurunkannya di sebuah kawasan industri. Keterangan itu berubah beberapa kali. Lokasi yang disebut juga tidak menghasilkan apa-apa.
Pencarian tetap dilakukan.
Hari-hari berikutnya tidak membawa Tio pulang.
Namun, Ilham berhenti duduk di bangku dekat tiang kedua setiap sore.
Ia masih datang ke stasiun, tetapi tidak lagi mencatat semua orang yang turun. Ia hanya membawa satu buku baru dengan sampul biru.
Yabui bertemu dengannya seminggu kemudian.
Ilham duduk di tempat yang sama, tetapi halaman bukunya kini berisi paragraf panjang.
“Masih mencari kakakmu?” tanya Yabui.
Ilham mengangguk.
“Lalu kenapa tidak mencatat nama orang?”
“Saya sudah tahu siapa yang harus dicari.”
“Apa yang kamu tulis sekarang?”
Ilham menyerahkan bukunya.
Judul di halaman pertama berbunyi:
Orang-Orang yang Pulang Membawa Nama Orang Lain
Cerita itu berkisah tentang seorang anak yang berdiri di stasiun setiap malam. Ia memperhatikan penumpang yang turun, lalu menyadari bahwa sebagian orang pulang membawa benda yang bukan miliknya. Dompet, telepon, kartu identitas, dan nama-nama.
Semakin banyak benda berpindah tangan, semakin banyak orang kehilangan jejak.
Pada halaman terakhir, tokoh kakak dalam cerita belum ditemukan.
Namun, Ilham tidak menulisnya sebagai orang yang hilang.
Ia menulis:
Kakak belum sampai.
Yabui membaca kalimat itu dua kali.
“Kenapa belum sampai?”
“Kalau saya tulis hilang, ceritanya berhenti.”
Kereta datang dari arah Jakarta.
Ilham menutup buku. Ia tidak lagi mengamati setiap wajah. Ia hanya melihat pintu gerbong keempat selama beberapa detik, lalu memasukkan pensil ke dalam tas.
Beberapa bulan setelah penangkapan Arman, cerita tentang seorang anak pencatat nama menyebar di sekitar Stasiun Pondok Cina.
Mahasiswa mengaku pernah melihatnya duduk dekat tiang kedua, menulis nama penumpang yang baru turun. Ada yang mengatakan nama orang yang akan kehilangan barang diberi lingkaran. Ada pula yang percaya bahwa orang yang namanya ditulis tanpa tanda panah tidak akan sampai ke rumah.
Cerita itu membuat sebagian penumpang mulai menutupi kartu identitas kampus mereka. Beberapa orang mempercepat langkah ketika melewati bangku. Yang lain memeriksa tas dan saku sambil menoleh ke belakang.
Mereka takut namanya masuk ke dalam buku.
Padahal, Ilham tidak pernah menulis masa depan.
Ia hanya mencatat kebiasaan yang berulang terlalu lama: siapa yang turun tanpa tujuan, siapa yang mengikuti penumpang lain, siapa yang pulang membawa tas berbeda, dan siapa yang mendadak tidak pernah terlihat lagi.
Sejak itu, tiang kedua di Stasiun Pondok Cina tidak lagi dianggap sekadar tempat menunggu.
Katanya, di sanalah nama-nama mulai kehilangan jalan pulang.
Selesai