Citayam: Sepatu Putih di Jalur Pulang

Nisa datang bersama ibunya dengan sepeda motor.

Mereka berhenti di depan kedai kecil tidak jauh dari Stasiun Citayam. Ibunya memarkir motor di bawah pohon, lalu duduk di meja sebelah sambil memeriksa pesan di telepon.

Nisa membawa buku gambar tipis berwarna biru.

“Katanya kamu menulis cerita dari perjalanan pulang,” kata Yabui.

Nisa mengangguk.

Ia membuka halaman tengah. Gambar pertama memperlihatkan jalan sempit selepas hujan. Ada pagar rumah, saluran air, tiang listrik, dan sepasang sepatu putih di tepi jalan.

Tidak ada orang di dekatnya.

“Ini sepatu siapa?”

“Enggak tahu.”

“Pernah lihat langsung?”

Nisa kembali mengangguk.

“Di mana?”

“Dekat jalan belakang stasiun.”

“Ditinggal begitu saja?”

“Waktu pertama lihat, iya.”

“Lalu?”

Nisa membalik halaman.

Sepatu yang sama muncul di dekat rel.

Pada halaman berikutnya, keduanya berada di bawah tangga stasiun.

Yabui memperhatikan bentuknya. Nisa menggambar sol tebal, tali putih, dan satu noda kecil di sisi kiri. Letaknya berubah, tetapi bentuknya tetap sama.

“Siapa yang memindahkan?”

Nisa mengangkat bahu.

“Mungkin orang.”

“Mungkin?”

“Kalau orang, harusnya tangannya kelihatan.”

Yabui tersenyum.

“Bisa dipindah saat kamu tidak melihat.”

Nisa menutup bukunya sebentar.

“Kalau begitu, kenapa sepatunya selalu menghadap rumah?”

“Rumah siapa?”

Nisa belum menjawab ketika ibunya berdiri.

“Sudah, Nis. Kita pulang. Hujan mau turun.”

Langit memang telah gelap. Udara membawa bau tanah dan aspal yang belum sempat kering dari hujan siang.

Nisa memasukkan buku ke dalam tas.

Satu lembar terlepas dan jatuh ke lantai.

Yabui memungutnya.

Pada gambar itu, sepasang sepatu putih berdiri di depan sebuah pintu hijau.

“Ini rumah yang tadi?”

Nisa mengambil kertas itu, tetapi kemudian mengulurkannya kembali kepada Yabui.

“Bapak simpan saja.”

“Untuk apa?”

“Biar enggak lupa jalannya.”

Ibunya memanggil dari atas motor.

Nisa mengenakan helm, naik ke jok belakang, lalu menepuk bahu ibunya.

Sebelum motor bergerak, ia menoleh.

“Kalau lihat sepatunya, jangan dipindahin ke arah stasiun.”

“Kenapa?”

Namun suara mesin sudah lebih dahulu menelan jawabannya.

Motor berbelok ke jalan utama.

Yabui melipat gambar itu dan memasukkannya ke dalam tas hitamnya.

Hujan mulai turun ketika ia memasuki stasiun.

Tidak deras. Hanya cukup untuk membuat orang-orang mempercepat langkah dan merapatkan tas ke tubuh. Beberapa pengendara motor berhenti di bawah atap toko untuk mengenakan jas hujan. Di pintu masuk stasiun, lantai mulai licin oleh air yang terbawa sepatu.

Yabui turun ke peron.

Kereta menuju Jakarta belum tiba.

Di jalur sebelah, seorang petugas berdiri sambil menyorotkan senter ke rel.

“Ada apa?” tanya seseorang.

“Barang jatuh,” jawab penumpang lain.

Yabui melihat ke arah cahaya senter.

Di antara batu rel terdapat satu benda putih.

Petugas turun setelah menerima aba-aba dari rekannya. Ia berjalan beberapa meter, membungkuk, lalu mengangkat sebuah sepatu.

Sepatu kanvas putih.

Tali masih terikat.

Permukaannya bersih.

Petugas membawanya ke peron dan meletakkannya di dekat pos.

“Cuma satu?” tanya petugas lain.

“Cuma satu.”

Mereka memeriksa rel kembali. Tidak ditemukan pasangan satunya.

Beberapa penumpang sempat melihat, lalu kembali menatap jalur. Kereta yang terlambat jauh lebih penting daripada sepatu tanpa pemilik.

Yabui berdiri tidak jauh dari pos.

Sepatu itu mengingatkannya pada gambar Nisa, tetapi ia tidak ingin menyimpulkan terlalu cepat. Sepatu putih mudah dikenali karena kontras dengan batu rel yang gelap. Kesamaannya mungkin hanya berasal dari bentuk yang umum.

Kereta masuk beberapa menit kemudian.

Yabui naik ke gerbong tengah.

See also  Bogor: Orang Terakhir yang Masuk

Di dalam, ia berdiri dekat pintu. Air hujan membentuk garis-garis panjang di kaca. Cahaya dari rumah dan warung di sisi rel bergerak cepat, putus-putus oleh tiang.

Kereta baru meninggalkan Citayam ketika seorang anak kecil berkata kepada ibunya, “Ma, sepatunya ada lagi.”

Ibunya tidak menoleh.

“Sepatu apa?”

“Yang di luar.”

Yabui mengikuti arah pandangan anak itu.

Di sisi jalur, dekat semak basah, berdiri satu sepatu putih.

Bukan tergeletak.

Berdiri.

Ujungnya menghadap ke arah belakang, menuju Citayam.

Kereta melaju melewatinya.

Yabui menatap melalui kaca sampai benda itu hilang.

Satu sepatu di rel telah dibawa petugas. Yang ini mungkin pasangan lainnya.

Masuk akal.

Namun beberapa menit kemudian, di dekat jalan kecil yang sejajar dengan jalur, ia melihat dua sepatu putih.

Keduanya berdiri berdampingan.

Satu sedikit lebih maju.

Seolah seseorang berhenti ketika hendak melangkah.

Yabui mendekat ke kaca.

Kereta berbelok. Pemandangan tertutup tembok rumah.

“Bapak lihat juga?”

Seorang perempuan berdiri di sampingnya. Usianya sekitar lima puluh tahun. Ia membawa tas belanja dan mengenakan jas hujan yang belum sempat dilepas.

“Sepatu putih?”

Perempuan itu mengangguk.

“Sering kelihatan kalau habis hujan.”

“Punya siapa?”

Perempuan tersebut melihat ke luar.

“Katanya anak sekolah.”

“Katanya?”

“Orang sini banyak cerita.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Kalau sudah kelihatan dua-duanya, biasanya jangan dilihat lagi.”

“Kenapa?”

Perempuan itu tidak menjawab.

Pintu terbuka di stasiun berikutnya. Ia turun tanpa menoleh kembali.

Yabui tetap berada di gerbong.

Ia membuka tas dan mengeluarkan gambar pemberian Nisa.

Sepasang sepatu putih masih berada di depan pintu hijau.

Ia memeriksa arahnya.

Ujung kedua sepatu menghadap rumah.

Sama seperti yang dikatakan Nisa.

Kereta kembali bergerak.

Yabui mencoba mengingat posisi sepatu di luar tadi. Apakah benar menghadap ke Citayam? Atau ia hanya menghubungkannya dengan cerita Nisa?

Saat perhatian sudah terarah pada satu benda, benda serupa mudah terasa muncul di mana-mana.

Ia melipat kertas itu kembali.

Namun ketika hendak memasukkannya ke dalam tas, ia melihat noda kecil di sisi sepatu kiri.

Noda gelap, tepat di dekat sol.

Noda yang sama terlihat pada sepatu yang ditemukan petugas.

Yabui turun di stasiun berikutnya dan berganti kereta menuju Citayam.

Hujan semakin rapat.

Ketika ia kembali, peron jauh lebih lengang. Sebagian besar penumpang telah berangkat. Petugas yang tadi menemukan sepatu masih berada di pos.

“Pak,” kata Yabui, “sepatu yang dari rel tadi masih ada?”

Petugas menunjuk ke bawah meja.

“Masih.”

Yabui melihat.

Sepatu itu berada di sana.

Hanya satu.

Sepatu kiri.

“Memang dari awal cuma satu?”

“Iya.”

“Tidak ada yang membawa pasangannya?”

Petugas menggeleng.

Yabui menatap sepatu tersebut. Noda kecil terlihat jelas di sisi sol.

Sama persis dengan gambar.

Dari pengeras suara terdengar pengumuman kedatangan kereta. Petugas keluar dari pos untuk mengatur penumpang.

Yabui berdiri sendiri beberapa langkah dari meja.

Lalu terdengar suara kecil.

Gesek.

Ia menoleh.

Sepatu itu masih diam.

Gesek.

Kali ini lebih jelas.

Seperti sol karet digeser pelan di lantai.

Yabui mendekat.

Sepatu kiri tidak berubah posisi.

Namun di depan pos, pada lantai yang basah, terdapat jejak tipis berbentuk setengah telapak.

Satu.

Lalu jejak kedua muncul beberapa sentimeter di depannya.

Yabui belum sempat memanggil petugas ketika suara seseorang terdengar dari ujung peron.

“Pak, itu ada sepatu!”

Beberapa orang menunjuk ke arah jalur.

See also  Stasiun Karet: Kursi Kosong

Di dekat ujung peron, berdiri sepatu kanan.

Sepatu itu menghadap ke tangga turun.

Petugas mengambil senter.

“Dari mana lagi itu?”

Ia hendak turun, tetapi lampu kereta sudah terlihat dari kejauhan.

“Jangan turun!” teriak petugas lain.

Klakson terdengar.

Semua orang mundur dari garis kuning.

Kereta melaju masuk.

Angin menyapu peron. Air hujan berhamburan. Sepatu kanan tertutup badan rangkaian yang lewat.

Yabui menunggu sampai gerbong terakhir hilang.

Sepatu itu tidak lagi berada di rel.

Kini ia berdiri di tepi peron.

Tidak ada yang melihat bagaimana benda itu berpindah.

Seorang penumpang muda tertawa pendek, mungkin karena gugup.

“Pasti kena angin.”

Tak seorang pun menanggapi.

Petugas mengambil sepatu itu dengan tongkat, lalu membawanya ke pos.

Ia meletakkan sepatu kanan di samping sepatu kiri.

Sepasang.

Keduanya bersih.

“Masukkan lemari,” kata rekannya.

Sepatu dimasukkan ke lemari barang tertinggal. Pintu ditutup dan dikunci.

“Sudah. Besok diserahkan ke bagian kehilangan.”

Peron kembali tenang.

Yabui memilih menunggu kereta berikutnya. Ia duduk dekat tangga, masih dapat melihat pos dari tempatnya.

Beberapa menit berlalu.

Lampu di dalam pos berkedip.

Sekali.

Lalu mati.

Petugas menyalakan senter dari telepon.

Dari dalam lemari terdengar bunyi.

Gesek.

Diam.

Gesek lagi.

Petugas pertama menatap rekannya.

“Kamu taruh apa lagi di situ?”

“Cuma sepatu.”

Bunyi itu terdengar untuk ketiga kalinya.

Petugas membuka kunci.

Pintu lemari dibuka.

Di dalam hanya ada sepatu kiri.

Sepatu kanan sudah hilang.

Tidak ada celah di belakang lemari. Tidak ada pintu lain. Kunci masih terpasang.

Petugas memeriksa bawah meja.

Kosong.

“CCTV,” katanya.

Mereka masuk ke ruang kecil di belakang pos.

Yabui ikut melihat dari pintu.

Rekaman menunjukkan sepatu dimasukkan ke lemari. Tidak ada orang mendekat setelah itu.

Beberapa menit kemudian, lampu padam.

Gambar menjadi gelap.

Ketika kamera kembali menyala, pintu lemari sudah terbuka sedikit.

Sepatu kanan berada di luar.

Ujungnya bergerak ke depan.

Berhenti.

Bagian belakangnya menyusul.

Gerakannya pendek dan canggung.

Seperti langkah seseorang yang baru belajar berjalan.

Petugas mematikan layar.

“Gangguan rekaman.”

Kalimat itu terdengar terlalu cepat, seolah diucapkan agar tidak ada orang lain yang memberi nama berbeda pada apa yang baru mereka lihat.

Dari arah tangga terdengar bunyi gesekan.

Semua menoleh.

Sepatu kanan berada di anak tangga paling atas.

Menghadap ke bawah.

Gesek.

Sepatu itu turun satu anak tangga.

Berhenti.

Tidak ada yang bergerak.

Gesek.

Turun lagi.

Yabui berdiri lebih dekat.

Sepatu kiri di dalam lemari tiba-tiba jatuh ke lantai.

Kemudian bergerak keluar.

Satu langkah.

Berhenti.

Satu langkah lagi.

Kedua sepatu itu berjalan bergantian menuju tangga.

Orang-orang yang masih berada di peron mundur. Beberapa merekam, tetapi tidak ada yang berani mendekat.

Yabui mengikuti dari belakang.

Tangga menuju lorong bawah mulai sepi. Hanya suara hujan, lampu neon yang berdengung, dan gesekan sol yang berpindah dari satu anak tangga ke anak tangga lain.

Sepatu kanan turun lebih dahulu.

Sepatu kiri menyusul.

Tidak ada kaki.

Tidak ada bayangan tubuh.

Namun langkahnya teratur.

Di tengah lorong, sepatu itu berhenti.

Yabui berhenti pula.

Di dinding sebelah kanan terdapat bekas rembesan air. Di sebelah kiri, kios-kios telah tutup. Lampu paling ujung berkedip pelan.

Sepatu kanan bergerak lagi.

Sepatu kiri mengikuti.

Mereka menuju pintu keluar belakang stasiun.

Yabui berjalan beberapa meter di belakangnya.

Begitu keluar, suara hujan menelan bunyi gesekan. Namun sepatu itu masih terlihat jelas karena tetap putih di atas aspal yang gelap.

See also  Ketukan yang Berpindah

Keduanya berbelok ke jalan sempit di belakang stasiun.

Jalan itu dipenuhi motor yang diparkir rapat. Beberapa orang baru selesai mengenakan jas hujan. Seorang ibu menyalakan motornya, lalu berhenti ketika melihat dua sepatu bergerak melewati roda depan.

“Sepatu siapa itu?” katanya.

Tak ada yang menjawab.

Sepatu berjalan terus.

Yabui mengikutinya melalui deretan rumah, warung yang hampir tutup, dan saluran air yang mulai meluap.

Semakin jauh dari stasiun, langkahnya semakin lambat.

Sepatu kanan bergerak.

Berhenti.

Sepatu kiri menyusul.

Berhenti lebih lama.

Seolah sesuatu yang tidak terlihat mulai kelelahan.

Mereka akhirnya sampai di depan rumah kecil bercat hijau.

Pintunya tertutup.

Lampu teras menyala.

Sepatu berhenti di depan pagar.

Yabui berdiri beberapa langkah di belakang.

Pintu rumah terbuka.

Seorang perempuan muncul. Rambutnya diikat seadanya. Ia mengenakan baju rumah dan memegang kain lap.

Pandangan perempuan itu jatuh pada kedua sepatu.

Wajahnya berubah.

“Dini?”

Sepatu kanan bergerak satu langkah.

Sepatu kiri mengikuti.

Perempuan itu turun dari teras.

Tangannya gemetar ketika menyentuh tali sepatu kiri.

Begitu jarinya menyentuh kain, warna putihnya berubah.

Lumpur muncul di ujung sol.

Menyebar ke sisi sepatu.

Naik ke tali.

Dalam beberapa detik, keduanya menjadi basah dan kotor.

Perempuan itu menangis.

“Ini sepatu terakhir yang dia pakai.”

Yabui tidak bertanya siapa Dini.

Perempuan itu mengangkat kedua sepatu dan memeluknya ke dada.

“Terima kasih sudah mengantar.”

“Saya hanya mengikuti.”

Perempuan itu mengangguk, lalu masuk ke rumah.

Pintu tertutup.

Lampu teras padam.

Yabui menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Ia mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

Pintu terbuka sedikit.

Di dalam gelap.

Tidak ada suara.

Yabui mendorong perlahan.

Ruang depan kosong.

Tidak ada meja. Tidak ada kursi. Tidak ada perempuan.

Lantai tertutup debu.

Hanya ada dua jejak kaki kecil yang mengarah dari pintu menuju kamar belakang.

Yabui berdiri di ambang.

Dari dalam terdengar suara anak perempuan.

“Ibu?”

Lalu suara perempuan menjawab pelan:

“Iya. Pulanglah.”

Yabui mundur.

Pintu menutup sendiri.

Ia tidak mencoba membukanya lagi.

Keesokan paginya, Yabui kembali ke jalan itu.

Rumah bercat hijau tidak ada.

Di antara dua bangunan hanya terdapat lahan sempit yang dipenuhi rumput.

Seorang warga yang sedang mengambil motor melihat Yabui berdiri di sana.

“Cari siapa, Pak?”

“Rumah yang dulu ada di sini.”

“Oh, rumah Bu Rini?”

“Anaknya bernama Dini?”

Warga itu mengangguk.

“Sudah lama dibongkar.”

“Bu Rini pindah?”

Warga tersebut berhenti memasang helm.

“Bu Rini meninggal beberapa tahun lalu.”

“Anaknya?”

“Tidak pernah ditemukan.”

Yabui membuka tas.

Gambar pemberian Nisa masih ada.

Namun sepasang sepatu putih itu tidak lagi berdiri di depan pintu.

Sekarang pintunya terbuka.

Di dalam, tampak dua sosok saling berpelukan.

Di bagian bawah gambar, terdapat satu kalimat yang sebelumnya tidak ada:

Ada barang yang lebih dahulu menemukan jalan pulang daripada pemiliknya.

Sejak itu, orang-orang di sekitar Stasiun Citayam mulai mengenal cerita tentang sepasang sepatu putih.

Satu kadang ditemukan di rel.

Pasangannya muncul di peron.

Setelah hujan, keduanya bergerak menuju jalan belakang stasiun.

Tidak ada yang tahu rumah mana yang mereka cari.

Namun orang-orang percaya pada satu tanda.

Selama sepatu itu tetap putih, perjalanan belum selesai.

Ketika lumpur mulai muncul, seseorang telah membuka pintu.