Kalimat yang Sama pada Tiga Struk di Tigaraksa

Pertemuan terakhir hari itu selesai lebih cepat karena anak yang ditemui Yabui harus berangkat mengaji. Sebelum pergi, anak itu menyerahkan dua lembar cerita yang baru ditulis dan meminta Yabui membaca bagian akhirnya di perjalanan. Yabui memasukkan kertas tersebut ke dalam tas hitam, berpamitan kepada orang tuanya, lalu mencari kendaraan menuju Stasiun Tigaraksa. Langit masih terang, tetapi cahaya sore sudah mulai turun di antara rumah, warung, dan kendaraan yang bergerak menuju jalan utama.

Yabui tiba dengan perut lapar. Kereta berikutnya masih cukup lama, sehingga langkahnya berbelok ke sebuah minimarket kecil dekat akses stasiun. Sebotol air, roti, dan kopi kaleng cukup untuk perjalanan pulang. Kasir memasukkan barang ke kantong, menekan beberapa tombol, lalu menyerahkan struk bersama uang kembalian.

“Struknya sekalian, Pak.”

Yabui hampir membuangnya ke tempat sampah dekat pintu. Tangannya berhenti karena bagian bawah kertas memuat satu baris yang tidak biasa.

JANGAN PULANG DENGAN BARANG YANG BUKAN MILIKMU.

Yabui membacanya lagi.

Tulisan itu tercetak dengan jenis huruf yang sama seperti daftar barang dan jumlah pembayaran. Tidak ada tanda kutip, tidak ada logo promosi, dan tidak ada penjelasan lain. Letaknya tepat di bawah total belanja, seolah-olah kalimat tersebut merupakan bagian biasa dari transaksi.

Yabui kembali ke kasir.

“Mas, ini promo apa?”

Kasir mengambil struk.

“Promo apa, Pak?”

“Yang bawah.”

Kasir membaca sebentar, lalu tertawa.

“Wah, baru lihat.”

“Dari mesinnya?”

“Harusnya enggak ada.”

Kasir memanggil temannya. Mereka membaca kalimat itu bergantian, kemudian mencoba mencetak ulang transaksi terakhir. Struk kedua keluar dengan daftar barang yang sama, jumlah yang sama, dan bagian bawah yang kosong.

“Nah,” kata kasir. “Yang ini normal.”

Yabui melipat struk pertama dan memasukkannya ke saku. Tidak ada alasan untuk memperpanjang urusan dengan mesin kasir. Bisa saja sistemnya salah mencetak teks lama, promosi belum selesai dihapus, atau seseorang sedang mencoba fungsi baru. Penjelasan apa pun terdengar lebih masuk akal daripada berdiri di depan kasir sambil berdebat dengan selembar kertas.

Di peron, Yabui membuka roti sambil membaca cerita anak yang tadi dibawanya. Ceritanya tentang seorang anak yang menemukan mobil-mobilan milik temannya, lalu membawanya pulang karena mengira benda tersebut sudah dibuang. Bagian akhirnya belum selesai. Kalimat terakhir berhenti pada tokoh yang memasukkan mobil itu ke tas.

See also  Stasiun Depok: Anak yang Menulis Kedatangan

Yabui tersenyum.

“Pantes tadi minta dibaca.”

Seorang perempuan yang duduk dua kursi dari Yabui menoleh sebentar. Yabui baru sadar kalimat tadi terucap cukup keras. Perempuan itu kemudian kembali sibuk dengan beberapa kantong belanja di bawah bangku.

Kereta belum datang.

Yabui menghabiskan rotinya lalu membeli teh dari seorang pedagang kecil di luar area peron. Pembayarannya tunai. Pedagang itu menghitung uang, memasukkan beberapa lembar ke kotak plastik, kemudian menyerahkan sebuah struk kecil dari mesin portabel yang tergantung dekat meja.

“Sekarang pakai beginian juga, Bu?”

“Biar anak saya gampang ngitung dagangan.”

Yabui menerima struk sambil tersenyum.

Baru beberapa langkah, ia berhenti.

Di bawah harga teh tercetak satu kalimat.

JANGAN PULANG DENGAN BARANG YANG BUKAN MILIKMU.

Yabui kembali.

“Bu.”

Pedagang itu menoleh.

“Ini memang ada tulisan begini?”

Perempuan itu mengambil struk.

“Apaan?”

Yabui menunjuk bagian bawah.

Pedagang membaca, lalu mengerutkan kening.

“Mesinnya suka ngaco kali.”

“Pernah keluar begini?”

“Enggak tahu. Orang struknya juga jarang diambil.”

Pedagang tersebut menarik kertas baru dan mencetak transaksi yang sama. Struk keluar.

Tidak ada kalimat tambahan.

Yabui mengeluarkan struk minimarket dari saku dan meletakkannya di atas meja.

Dua kertas berasal dari mesin berbeda. Ukurannya berbeda. Nama usahanya berbeda. Jenis hurufnya pun tidak benar-benar sama.

Kalimatnya persis.

Pedagang melihat kedua struk.

“Bapak habis beli apa?”

“Air, roti, kopi.”

“Di sini teh.”

“Iya.”

Perempuan itu mengangkat bahu.

“Berarti jangan beli lagi.”

Yabui tertawa.

“Solusi dagangnya bagus juga.”

Pedagang ikut tertawa dan mengembalikan kedua struk.

Suara pengumuman dari arah stasiun membuat Yabui segera berjalan kembali. Beberapa penumpang sudah berdiri mendekati sisi peron. Tas hitam dirapatkan ke badan, dua struk dimasukkan ke saku, lalu Yabui ikut menunggu bersama orang-orang yang mulai melihat ke arah datangnya kereta.

Rangkaian belum terlihat.

Seorang anak kecil di dekat Yabui memainkan mobil-mobilan berwarna merah. Mobil itu didorong di atas bangku, jatuh, lalu diambil lagi. Ibunya beberapa kali menyuruh anak itu berhenti karena khawatir benda tersebut masuk ke rel.

Ketika suara kereta mulai terdengar dari kejauhan, anak itu berdiri.

See also  Citayam: Sepatu Putih di Jalur Pulang

Mobil merah tertinggal di bangku.

Ibunya menarik tangannya.

“Ayo.”

Mereka berjalan bersama penumpang lain.

Yabui melihat mobil itu.

Kereta masuk.

Orang-orang mulai bergerak. Pintu terbuka, penumpang turun, lalu arus berbalik masuk ke gerbong. Yabui mengambil mobil kecil dari bangku dan mencoba mencari anak tadi.

Tidak terlihat.

Ia berjalan beberapa langkah menyusuri peron.

Pintu kereta mulai memberi tanda akan menutup.

Yabui memasukkan mobil kecil ke tas.

“Nanti kalau ketemu petugas saya serahkan.”

Ia masuk tepat sebelum pintu tertutup.

Kereta bergerak meninggalkan Tigaraksa.

Beberapa menit pertama berlalu biasa. Yabui berdiri dekat pintu karena kursi penuh. Di dalam tas, dua lembar cerita anak tadi bercampur dengan buku catatan, botol air, dan sebuah mobil-mobilan merah yang bukan miliknya.

Yabui baru mengingat dua struk di saku ketika hendak mengambil ponsel.

Kalimat itu kembali terbaca.

JANGAN PULANG DENGAN BARANG YANG BUKAN MILIKMU.

Yabui tertawa kecil.

“Pas banget.”

Lelaki di sebelahnya menoleh.

“Kenapa, Pak?”

Yabui menunjukkan struk.

Lelaki itu membaca.

“Wah, bijak juga minimarket sekarang.”

“Yang ini dari pedagang teh.”

Yabui menunjukkan struk kedua.

Lelaki tersebut membandingkan keduanya.

“Kok sama?”

“Itu yang saya enggak tahu.”

“Bapak habis ngambil barang orang?”

Yabui menunjuk tas.

“Nemunya sih.”

Lelaki itu tertawa.

“Nah.”

Kereta berhenti di stasiun berikutnya. Beberapa orang turun, kursi mulai tersedia, tetapi Yabui tetap berdiri. Ia memutuskan akan menyerahkan mobil itu kepada petugas saat transit nanti.

Sebelum menyimpan kembali dua struk, Yabui membuka aplikasi pembayaran di ponsel. Ada satu transaksi kecil dari pagi hari yang belum pernah diperhatikan: pembelian kopi di dekat rumah informan pertama. Struk digital tersedia di aplikasi.

Yabui membukanya.

Daftar transaksi tampil normal.

Kopi susu.

Satu gelas.

Jumlah pembayaran.

Di bagian paling bawah ada satu kolom catatan.

Yabui mendekatkan layar ke wajah.

JANGAN PULANG DENGAN BARANG YANG BUKAN MILIKMU.

Tiga struk.

Tiga tempat berbeda.

Transaksi pertama bahkan dilakukan beberapa jam sebelum mobil merah ditemukan.

Lelaki di sebelah Yabui masih melihat layar.

“Pak.”

“Hmm?”

“Kalau tulisannya sudah ada dari pagi…”

Yabui memasukkan ponsel ke saku.

“Jangan diterusin.”

Lelaki itu mengangguk.

See also  Depok Baru: Tiga Menit yang Tak Tercatat

Untuk beberapa saat keduanya hanya mendengar suara roda dan pengumuman di dalam kereta.

Pada stasiun berikutnya Yabui turun. Ia mencari petugas, mengeluarkan mobil-mobilan merah dari tas, lalu menjelaskan bahwa benda itu tertinggal di bangku Stasiun Tigaraksa.

Petugas menerima mobil tersebut.

“Merah, ya?”

“Iya.”

“Sebentar.”

Petugas membuka laci di meja pelayanan.

Di dalamnya ada mobil-mobilan merah lain.

Bentuknya sama.

Ukuran sama.

Bahkan goresan kecil di bagian atapnya tampak berada di tempat yang sama.

Petugas mengambil mobil dari Yabui, lalu meletakkannya berdampingan.

“Yang ini tadi sudah ada yang menyerahkan.”

Yabui menatap kedua mobil.

“Siapa?”

“Penumpang.”

“Kapan?”

Petugas berpikir sebentar.

“Sebelum kereta Bapak sampai.”

Yabui tidak langsung menjawab.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari ibu anak yang diwawancarai sore tadi.

Pak, maaf. Ada mobil-mobilan merah ikut masuk ke tas Bapak enggak?

Yabui membaca pesan tersebut sambil berdiri di depan dua mobil yang sama.

Pesan kedua menyusul.

Anak saya bilang tadi dimasukin ke tas Bapak waktu sebelum pulang.

Yabui membuka tas hitam.

Buku catatan ada.

Dua lembar cerita ada.

Botol air ada.

Tidak ada mobil.

Petugas masih memegang kedua mobil merah.

“Yang mana punya anaknya, Pak?”

Yabui melihat satu.

Lalu yang lain.

Tidak ada yang bisa dibedakan.

Ia mengeluarkan tiga struk dari saku dan ponsel.

Kalimat pada struk minimarket masih ada.

Kalimat pada struk teh masih ada.

Struk digital juga masih menampilkan pesan yang sama.

JANGAN PULANG DENGAN BARANG YANG BUKAN MILIKMU.

Yabui memilih tidak membawa satu pun mobil.

Keduanya ditinggalkan di meja petugas.

Beberapa hari kemudian, ibu informan mengirim pesan lagi. Mobil anaknya sudah ditemukan di bawah meja belajar di rumah. Tidak ada yang tahu sejak kapan benda itu berada di sana.

Yabui membuka dompet dan mencari dua struk kertas yang masih disimpan.

Tulisan tambahan pada keduanya sudah hilang.

Hanya daftar barang dan jumlah pembayaran yang tersisa.

Struk digital juga kembali normal.

Sejak itu, Yabui mulai membuang struk lebih lambat.

Bukan karena ingin mencatat pengeluaran.

Kadang sebuah transaksi rupanya selesai jauh sebelum barangnya benar-benar sampai kepada orang yang tepat.