Menjelang magrib, orang di Stasiun Manggarai biasanya berjalan sedikit lebih cepat. Ada yang baru turun dari kereta Bogor, ada yang memotong arus menuju tangga, ada pula yang berdiri dekat layar sambil memastikan jalur berikutnya. Yabui baru keluar dari rangkaian ketika ujung sepatunya menyentuh selembar karton kecil di lantai. Benda itu hampir ikut terseret langkah orang lain kalau Yabui tidak lebih dulu membungkuk mengambilnya.
Karton itu sebesar dua ruas jari, berwarna cokelat kusam, dengan satu sisi yang sudah lembek seperti pernah terkena air. Bentuknya menyerupai karcis kereta lama yang biasa muncul dalam foto-foto stasiun. Nama Manggarai masih terbaca di tengah, sementara tulisan lain tertutup bekas cap dan lubang kecil di salah satu sudut. Yabui membaliknya dua kali sebelum memasukkannya ke telapak tangan.

Seorang lelaki berkemeja biru yang berdiri di sebelahnya ikut melihat. “Dapat apa, Mas?”
“Karcis kayaknya.”
“Masih berlaku?”
Yabui mengangkat karton itu. “Kalau masih, murah banget ongkosnya.”
Lelaki itu tertawa lalu kembali melihat ponsel. Kereta lain masuk dari arah selatan dan suara roda menelan percakapan mereka. Arus penumpang bergerak lagi, membuat Yabui ikut melangkah menuju tangga sambil tetap menggenggam karcis kecil tadi. Baru tiga atau empat langkah, suara pengumuman di atas kepala terputus.
Bukan mengecil. Bukan tertutup suara kereta.
Terputus.
Yabui masih berjalan ketika menyadari orang-orang di depannya juga mulai berkurang. Papan elektronik yang tadi menggantung di ujung lorong tidak terlihat lagi. Cahaya putih dari lampu stasiun berganti menjadi kuning redup, seperti lampu rumah yang dinyalakan terlalu awal menjelang malam. Dari luar bangunan terdengar peluit pendek, disusul suara logam saling menghantam.
Lelaki berkemeja biru masih berjalan di belakangnya.
“Mas.”
Yabui menoleh.
“Ini jalan ke mana?”
Pertanyaannya terdengar biasa sampai Yabui melihat ke belakang. Tangga yang baru mereka turuni sudah tidak ada. Di tempatnya berdiri dinding dengan pintu kayu tinggi dan jendela berbingkai lebar. Catnya pucat, beberapa bagiannya mengelupas, dan di atas pintu terpasang papan bertuliskan nama ruangan dengan huruf yang terasa datang dari masa lain.
Mereka berjalan menuju peron karena hanya arah itu yang terbuka. Bangunan stasiun masih bernama Manggarai, tetapi wajahnya berubah. Tiang besi menyangga atap yang lebih rendah, bangku kayu berjajar dekat dinding, dan papan perjalanan tidak memakai layar bercahaya. Orang-orang membawa koper dengan tangan, tas kain, keranjang, dan beberapa gulungan barang yang diikat tali.
Tidak ada seorang pun yang tampak bingung.
Seorang bapak membaca koran sambil menyilangkan kaki. Dua perempuan berbicara dekat pintu ruang tunggu. Seorang anak berdiri di samping ibunya sambil menggigit ujung roti. Yabui dan lelaki berkemeja biru justru menjadi dua orang yang paling aneh di tempat itu karena terus menoleh ke segala arah.
“Ini acara apa?” bisik lelaki itu.
“Kalau acara, figuran sebanyak ini mahal.”
Lelaki tersebut menatap Yabui sebentar, lalu tertawa pendek. Tawanya berhenti ketika seorang petugas berjalan mendekat.
“Karcsinya.”
Yabui dan lelaki itu sama-sama mengeluarkan kartu elektronik.
Petugas menerima kartu milik Yabui lebih dahulu. Ia membaliknya, mengusap permukaannya dengan ibu jari, kemudian memandang Yabui seperti baru diberi kartu nama dari usaha yang tidak ia kenal.
“Ini apa?”
“Kartu kereta.”
Petugas melihat benda itu sekali lagi. “Kalau karcis hilang, bilang saja hilang. Jangan bikin sendiri.”
Lelaki berkemeja biru menahan senyum. Yabui memasukkan kembali kartunya, lalu teringat benda yang tadi dipungut dari lantai. Karcis cokelat itu masih ada di telapak tangannya.
Petugas langsung mengambilnya.
Ia tidak bertanya dari mana karcis itu berasal. Tangannya meraih penjepit logam kecil dari pinggang, lalu membuat satu lubang baru di sisi karton. Bunyi ceklek terdengar pendek. Karcis kemudian dikembalikan kepada Yabui.
“Yang satu?”
Petugas menunjuk lelaki berkemeja biru.
“Enggak punya.”
“Berarti beli.”
“Bayarnya pakai apa?”
Petugas mengernyit. “Uang.”
Lelaki itu perlahan memasukkan kartu elektroniknya kembali ke dompet. “Saya sebenarnya sudah menduga jawabannya.”
Dari kejauhan, azan magrib mulai terdengar. Suaranya datang tipis melewati rel dan bangunan, bersamaan dengan orang-orang yang mulai bergerak mendekati tepi peron. Sebuah kereta akan datang. Getaran kecil muncul dari rel sebelum lampunya terlihat di kejauhan.
Yabui memperhatikan karcisnya lagi.
Ada sesuatu yang berbeda.
Lubang baru dari penjepit petugas membuat pola tertentu bersama lubang lama. Tiga lubang kecil membentuk garis miring di sudut karton. Di bawah nama Manggarai terdapat angka yang sebelumnya tertutup noda.
Yabui mendekatkannya ke cahaya.
Angka tahun.
Ia belum selesai membacanya ketika lelaki berkemeja biru menarik lengannya.
“Mas, kita naik apa jangan?”
Kereta masuk perlahan. Bentuk gerbongnya berbeda dari KRL yang baru saja mereka tumpangi. Jendelanya lebih kecil, tubuhnya lebih berat, dan suara remnya terdengar kasar sampai membuat beberapa burung yang bertengger di atap beterbangan. Penumpang berdiri tanpa berebut, menunggu orang turun sebelum bergerak mendekati pintu.
Yabui melihat orang-orang naik.
Lelaki berkemeja biru tetap di sampingnya.
“Kalau naik, kita sampai mana?”
Yabui menggeleng.
“Kalau enggak naik?”
Yabui kembali menggeleng.
“Mas ini dari tadi banyak membantu.”
Mereka tertawa, sedikit terlalu keras untuk dua orang yang tidak tahu sedang berada di tahun berapa.
Petugas yang tadi memeriksa karcis berdiri beberapa meter dari mereka. Ia meniup peluit sekali. Orang terakhir naik ke gerbong, pintu mulai ditutup satu per satu, lalu petugas menatap Yabui.
“Kalau mau pulang, jangan lama-lama pegang karcisnya.”
Yabui menoleh.
“Apa?”
Petugas menunjuk tangannya.
Karcis cokelat masih tergenggam di sana.
Yabui spontan membuka jari.
Suara pengeras stasiun meledak tepat di atas kepala.
Peron kembali terang.
Kereta lama hilang. Bangku kayu menghilang. Dinding, pintu, petugas, penjual, koper, dan orang-orang yang tadi menunggu ikut lenyap dalam satu perubahan yang bahkan tidak sempat terlihat terjadi. Yabui sudah kembali berdiri di Stasiun Manggarai sekarang, dengan penumpang mengalir di kanan-kiri dan layar elektronik kembali menyala.
Lelaki berkemeja biru masih berdiri di sebelahnya.
Beberapa detik mereka hanya melihat orang-orang lewat.
“Mas.”
“Ya?”
“Kalau saya cerita di rumah, istri saya bakal bilang saya kurang makan.”
Yabui membuka telapak tangannya.
Karcis itu masih ada.
Lelaki tersebut langsung merapat.
Lubang baru dari penjepit petugas juga masih ada. Tiga lubang kecil membentuk pola di pojok karton. Angka tahun yang tadi hendak dibaca Yabui sudah memudar, tetapi bekas cap Manggarai masih cukup jelas.
Lelaki berkemeja biru menarik napas panjang.
“Simpan.”
“Kenapa?”
“Kalau dibuang, nanti ada yang pungut.”
Mereka berpisah setelah kereta berikutnya datang. Lelaki itu berlari mengejar jalurnya. Yabui memasukkan karcis ke dompet kecil di dalam tas hitam lalu melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, tangannya beberapa kali menyentuh bagian tas itu hanya untuk memastikan benda kecil tadi masih berada di sana.
Tiga hari kemudian Yabui kembali melewati Manggarai menjelang magrib.
Ia sengaja tidak mengeluarkan karcis.
Kereta datang, orang turun, orang berpindah peron, suara pengumuman memantul di antara bangunan. Semuanya bekerja seperti biasa. Yabui hampir tertawa sendiri karena beberapa hari sebelumnya ia berdiri di tempat yang sama sambil memikirkan sebuah karcis kecil seperti orang yang baru pulang membawa benda pusaka.
Lalu seorang perempuan di depannya berhenti.
Ia membungkuk.
Ketika berdiri lagi, tangannya memegang selembar karton cokelat.
Perempuan itu menunjukkan benda tersebut kepada temannya.
“Ini apaan?”
Temannya melihat sekilas.
“Karcis kali.”
“Masih berlaku?”
Keduanya tertawa.
Yabui memasukkan tangan ke dalam tas.
Karcis miliknya masih ada.
Azan magrib mulai terdengar dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya, Yabui memilih berjalan sedikit lebih cepat.