Sore itu Yabui pulang membawa satu lembar gambar yang belum sempat dimasukkan ke map. Anak yang baru ditemuinya menggambar sebuah keluarga di dalam kereta, tetapi satu orang dibuat berdiri sendirian dekat pintu. Ketika ditanya siapa, anak itu hanya menjawab, “Yang belum dapat tempat duduk.” Jawaban itu masih teringat ketika Yabui turun di Stasiun Tebet untuk menunggu kereta berikutnya.
Peron cukup ramai. Beberapa penumpang berdiri menghadap rel sambil melihat ponsel, dua orang berseragam kantor berbicara dekat tiang, dan seorang ibu mengipas anaknya menggunakan bungkus makanan. Bangku di dekat Yabui hampir penuh. Hanya satu kursi di bagian tengah yang kosong.
Di atas kursi itu tergeletak tas kain kecil berwarna abu-abu.

Tasnya tipis, tidak lebih besar dari buku tulis. Tidak ada gambar, tulisan, atau gantungan apa pun yang bisa menunjukkan pemiliknya. Seorang perempuan berdiri tepat di depan kursi tersebut beberapa detik, tetapi akhirnya memilih tetap berdiri. Sesekali perempuan itu melihat ke kanan dan kiri seperti menunggu seseorang datang mengambil tas.
“Duduk aja, Bu,” kata seorang bapak di ujung bangku.
Perempuan itu menunjuk tas kecil.
“Ada yang punya.”
Bapak itu ikut melihat kanan-kiri. “Orangnya mana?”
“Ya makanya.”
Mereka tertawa.
Kereta arah Jakarta Kota datang. Sebagian orang di bangku berdiri, termasuk perempuan tadi. Dalam beberapa detik peron berubah padat, lalu kembali renggang setelah pintu kereta menutup.
Bangku itu sekarang kosong.
Kecuali satu kursi.
Tas kain abu-abu masih ada di sana.
Yabui duduk dua kursi dari tas tersebut sambil membuka ponsel. Ia sempat berpikir pemiliknya mungkin sedang membeli minum atau pergi ke toilet. Beberapa menit berlalu. Orang datang dan pergi. Tidak ada seorang pun yang mengambil tas.
Seorang anak muda kemudian duduk di ujung bangku. Ia memakai earphone sebelah dan membawa helm di pangkuan. Setelah melihat kursi kosong di tengah, anak muda itu bergeser mendekat.
Tangannya baru hendak menyentuh tas ketika seorang ibu yang berdiri di depannya berkata, “Mas, jangan. Ada orang.”
Anak muda itu berhenti.
“Mana orangnya, Bu?”
Ibu itu menunjuk tas.
Anak muda itu melihat tas, kemudian melihat ibu tadi.
“Kalau orangnya ada, masa tasnya doang yang duduk?”
Beberapa orang tertawa.
Anak muda itu akhirnya mengambil tas dan meletakkannya di lantai, tepat di bawah bangku. Ia kemudian duduk di kursi kosong tersebut dan kembali melihat ponsel. Tidak terjadi apa-apa.
Sampai kereta berikutnya masuk.
Anak muda itu berdiri cepat karena melihat tujuan kereta. Helm dimasukkan ke lengan, ponsel masih di tangan, lalu ia ikut bergerak bersama penumpang lain. Beberapa detik kemudian pintu menutup dan kereta pergi.
Yabui melihat bangku.
Tas kain abu-abu sudah kembali berada di atas kursi.
Ia tidak melihat siapa yang memindahkannya.
Seorang bapak yang sejak tadi berdiri dekat tiang juga melihat hal yang sama.
“Mas.”
Yabui menoleh.
“Tadi tasnya di bawah, kan?”
Yabui mengangguk.
Bapak itu mendekat dan membungkuk melihat bagian bawah bangku.
Kosong.
“Dibawa angin kali.”
Yabui melihat tas.
“Anginnya sopan. Balikin ke kursi.”
Bapak itu tertawa. “Iya juga.”
Mereka tidak membicarakannya lagi.
Beberapa menit kemudian seorang perempuan membawa dua tas belanja datang dan berhenti di depan bangku. Wajahnya sudah terlihat lelah. Semua kursi terisi kecuali kursi dengan tas kain abu-abu.
Perempuan itu menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Akhirnya Yabui menunjuk kursi tersebut.
“Duduk aja, Bu.”
Perempuan itu melihat tas.
“Punya siapa?”
“Enggak tahu.”
“Orangnya ke mana?”
Yabui mengangkat bahu.
Perempuan itu tetap berdiri.
Yabui mengambil tas kain tersebut dan memindahkannya ke pangkuan.
“Nanti kalau orangnya datang, saya kasih.”
Perempuan itu tersenyum kecil lalu duduk.
Tas kain terasa hampir tidak memiliki berat. Yabui membuka sedikit bagian atasnya. Tidak ada dompet, ponsel, atau barang berharga di dalam. Hanya selembar kain putih yang dilipat kecil.
“Isinya apa?” tanya bapak tadi.
“Kain.”
“Wah, makin jelas pemiliknya siapa.”
“Siapa?”
“Orang yang punya kain.”
Yabui tertawa.
Perempuan yang duduk ikut tertawa sambil mengatur tas belanjanya di antara kaki.
Pengeras suara mengumumkan kereta berikutnya. Orang-orang di peron mulai mengubah posisi. Perempuan tadi melihat papan tujuan, kemudian berdiri.
“Mas, saya duluan.”
Yabui mengangguk.
Perempuan itu baru berjalan dua langkah ketika seorang petugas melintas.
“Bu.”
Perempuan itu berhenti.
Petugas menunjuk kursi yang baru ditinggalkannya.
“Barangnya ketinggalan.”
Perempuan itu melihat bangku.
Tas kain abu-abu berada di sana.
Yabui spontan melihat pangkuannya.
Kosong.
Perempuan itu menggeleng.
“Bukan punya saya, Pak.”
Petugas mengambil tas tersebut.
“Punya siapa?”
Bapak dekat tiang langsung menunjuk Yabui.
“Tadi dipegang Mas itu.”
Petugas mendekat.
“Punya Bapak?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Dari tadi ada di situ.”
Petugas melihat tas kain sebentar. Ia membukanya, memeriksa isi, lalu mengeluarkan kain putih yang terlipat di dalam.
Kain itu ternyata saputangan.
Tidak ada nama.
Tidak ada tulisan.
Petugas memasukkannya kembali.
“Kalau barang tertinggal biasanya diserahkan.”
Yabui mengangguk.
Petugas membawa tas itu pergi.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Tebet, seluruh bangku dapat diduduki.
Seorang laki-laki langsung mengambil kursi tengah.
“Dari tadi pengin duduk,” katanya sambil tertawa.
Bapak dekat tiang menjawab, “Kenapa enggak dari tadi?”
“Kirain ada orang.”
Kereta berikutnya datang.
Yabui tidak ikut naik. Ia masih menunggu perjalanan yang lebih longgar. Bapak dekat tiang akhirnya pergi, laki-laki yang duduk tadi naik kereta, dan bangku kembali berganti penghuni.
Sekitar dua puluh menit kemudian petugas yang membawa tas tadi kembali melintas.
Yabui memanggilnya.
“Pak, tas yang tadi sudah disimpan?”
Petugas berhenti.
“Tas apa?”
“Yang abu-abu.”
Petugas tampak berpikir.
“Yang isinya saputangan.”
“Oh.”
Petugas menunjuk ke arah ruang pelayanan.
“Sudah saya taruh.”
Yabui mengangguk.
Petugas berjalan lagi.
Kereta datang dari arah Manggarai. Angin dari rangkaian membuat beberapa lembar kertas di tangan penumpang bergerak. Yabui berdiri, memasukkan gambar informan ke dalam tas, lalu maju mendekati garis aman.
Sebelum pintu kereta terbuka, seorang perempuan di belakangnya berkata kepada temannya.
“Duduk dulu aja kalau capek.”
Temannya menjawab, “Enggak ada.”
“Ada tuh satu.”
Yabui menoleh.
Bangku yang tadi ditinggalkan kini penuh.
Kecuali satu kursi di tengah.
Di atasnya tergeletak tas kain kecil berwarna abu-abu.
Yabui tidak bergerak sampai pintu kereta terbuka.
Seorang penumpang yang baru turun berhenti di depan bangku. Ia melihat tas tersebut, lalu memilih berdiri.
Temannya bertanya, “Kenapa enggak duduk?”
Orang itu menunjuk kursi.
“Ada yang punya.”
Tidak ada seorang pun yang bertanya orangnya ke mana.