Alya menggambar seorang perempuan berlari sambil membawa dua tas.
Tas pertama berwarna hitam dan tergantung di bahu. Tas kedua berbentuk kotak, berwarna biru muda, dan dipeluk di depan dada. Di belakang perempuan itu, sebuah kereta telah membuka pintu.
“Dia terlambat?” tanya Yabui.
Alya mengangguk tanpa mengangkat wajah. Pensil birunya terus bergerak, menebalkan tali pada tas kotak.
Pertemuan menulis sore itu diadakan di sebuah ruang belajar dekat Pasar Minggu. Anak-anak duduk mengelilingi meja panjang, menulis tentang perjalanan pulang. Ada yang memilih angkot, sepeda motor, bus kota, dan kereta. Alya satu-satunya yang tidak menggambar rumah sebagai tujuan.
Di halaman berikutnya, perempuan yang sama sudah berada di dalam gerbong. Tas hitam masih menggantung di bahu, tetapi tas birunya tidak terlihat.

“Yang ini ke mana?” Yabui menunjuk ruang kosong di depan tubuh perempuan.
“Sudah pulang.”
“Pulang sama siapa?”
“Sendiri.”
Yabui melihat halaman berikutnya.
Tas biru tergambar di atas sebuah meja. Di sampingnya terdapat empat botol kecil. Seorang bayi tidur di kamar belakang, sedangkan perempuan yang tadi berlari masih berdiri di dalam kereta.
“Kalau tasnya sudah sampai rumah, ibunya kenapa masih di kereta?”
Alya menaruh pensilnya.
“Karena yang paling penting jangan terlambat.”
“Yang paling penting tasnya?”
“Isinya.”
Baru saat itu Yabui memahami bentuk tas yang digambar Alya. Bukan tas bekal biasa, melainkan tas pendingin untuk membawa ASI perah.
“Ini cerita siapa?”
Alya menutup bukunya.
“Ibu-ibu yang tiap hari lari.”
“Kenal?”
“Aku sering lihat.”
“Di mana?”
“Pasar Minggu Baru.”
Seorang perempuan memanggil Alya dari pintu. Anak itu berdiri, memasukkan buku gambar ke ransel, lalu menghampiri ibunya.
Sebelum pergi, ia kembali ke meja dan menyerahkan pensil birunya kepada Yabui.
“Ketinggalan,” kata Yabui.
“Buat Bapak.”
“Saya tidak menggambar.”
“Nanti juga perlu.”
Alya pergi bersama ibunya.
Yabui memasukkan pensil tersebut ke dalam tas hitam. Di luar, cahaya sore mulai turun di antara bangunan. Udara terasa lembap, membawa bau hujan yang belum jatuh.
Ia berjalan menuju Stasiun Pasar Minggu Baru sambil mengingat gambar perempuan yang terus berada di dalam kereta meskipun tasnya telah sampai di rumah. Cerita itu sederhana, tetapi ada sesuatu yang tertinggal dalam cara Alya mengucapkan kata pulang. Seolah-olah pulang bukan gerak satu tubuh menuju satu tempat. Ada bagian-bagian tertentu yang dapat tiba lebih dahulu, sementara bagian lain terus berjalan tanpa sempat menyusul.
Kereta tujuan Bogor baru saja meninggalkan peron ketika Yabui sampai.
Pintu telah tertutup, tetapi seorang perempuan masih berlari di samping rangkaian yang bergerak. Ia mengenakan kemeja abu-abu dan celana hitam. Tas kerja tergantung di bahu kirinya. Tangan kanannya terulur ke arah jendela gerbong kedua.
“Berhenti!”
Kereta terus melaju.
Perempuan itu mengikuti beberapa langkah lagi, lalu berhenti dekat garis kuning. Napasnya tersengal. Salah satu sepatunya hampir terlepas.
Yabui mendekat.
“Ibu ketinggalan kereta?”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Tatapannya masih mengikuti rangkaian yang menjauh.
“Bukan saya.”
“Lalu?”
“Tas saya.”
Yabui melihat kedua tangannya. Ia hanya membawa tas kerja hitam.
“Tertinggal di dalam?”
Perempuan itu mengangguk.
“Tas pendingin. Biru muda.”
Yabui teringat gambar Alya.
“Isinya ASI?”
Wajah perempuan itu menegang.
“Bapak lihat?”
“Tidak. Saya baru datang.”
Perempuan itu langsung berbalik menuju ruang petugas. Yabui ikut berjalan karena arah mereka sama.
“Bisa dilaporkan ke stasiun berikutnya,” katanya.
“Sudah pernah.”
“Apa?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia mempercepat langkah, tetapi sebelum mencapai ruang petugas, suara benda jatuh terdengar dari bangku peron.
Sebuah tas kotak berwarna biru muda tergeletak di lantai.
Perempuan itu berhenti.
Tas tersebut tidak ada di sana beberapa detik sebelumnya. Yabui yakin bangku itu kosong ketika ia datang.
“Punya Ibu?”
Perempuan itu tidak bergerak.
Di bagian depan tas terpasang gantungan berbentuk awan. Pada salah satu sudutnya terdapat noda hitam seperti bekas tergesek pintu kereta.
“Punya saya,” katanya pelan.
Yabui mendekati tas, tetapi perempuan itu menarik lengannya.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Tasnya tadi ada di kereta.”
“Mungkin ada yang menurunkan sebelum pintu tertutup.”
“Kereta itu tidak berhenti lagi.”
“Bisa jadi petugas memindahkan—”
“Saya melihatnya di dalam.”
Nada suara perempuan itu membuat Yabui menghentikan kalimatnya.
“Di bawah kursi. Pintu sudah tutup. Keretanya jalan.”
Mereka memandang tas tersebut.
Ritsletingnya tertutup rapat. Lapisan luarnya tampak kering, meskipun sebuah garis air membentang dari bawah tas menuju tepi peron.
Yabui mengikuti garis itu dengan pandangan.
Air tersebut tidak berasal dari bangku. Jejaknya muncul dari arah rel, seolah tas itu baru saja ditarik naik dari bawah kereta.
“Nama Ibu siapa?”
“Mira.”
“Bu Mira, kita bawa ke petugas. Setelah itu periksa isinya.”
Mira menggeleng.
“Kalau dibawa masuk, nanti dia ikut.”
“Siapa?”
Perempuan itu menatap tas.
Sebelum menjawab, terdengar suara bayi menangis.
Tangisannya pendek dan serak, datang dari dalam tas biru.
Yabui refleks mundur.
Mira menutup mulutnya sendiri.
Tangisan terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
Bukan rekaman telepon. Bukan bunyi mainan. Ada tarikan napas kecil di antara dua tangisan, kemudian suara bibir mencari sesuatu.
Yabui berjongkok di depan tas.
“Di dalamnya hanya botol, kan?”
Mira tidak menjawab.
“Bu?”
“Harusnya empat.”
“Empat botol?”
Mira mengangguk.
Yabui menyentuh pegangan tas. Dingin dari permukaannya langsung merambat ke telapak tangan.
Ia menarik ritsleting beberapa sentimeter.
Mira mencengkeram bahunya.
“Jangan dibuka di peron.”
Tangisan dari dalam berhenti.
Seluruh suara stasiun ikut berhenti bersama tangisan itu.
Tidak ada pengumuman, percakapan, atau langkah kaki. Penumpang di sekitar mereka masih bergerak, tetapi geraknya tidak mengeluarkan suara. Seorang pedagang mendorong kereta kecil tanpa derit roda. Pintu kereta di jalur sebelah menutup tanpa bunyi.
Yabui melepaskan ritsleting.
Suara peron kembali sekaligus.
Mira menarik tas dari lantai dan memeluknya.
“Kita keluar.”
“Petugasnya di sana.”
“Jangan bawa ke ruang tertutup.”
“Ibu mau ke mana?”
“Pulang.”
Mira berjalan cepat menuju tangga.
Yabui mengikutinya.
“Mau naik kereta berikutnya?”
“Tidak.”
“Rumah Ibu di mana?”
“Bogor.”
“Kalau tidak naik kereta, bagaimana?”
Mira berhenti di anak tangga pertama.
Tas biru di pelukannya bergerak.
Bukan berguncang karena langkah. Ada tekanan dari dalam yang mendorong salah satu sisinya, lalu menghilang.
Mira hampir menjatuhkannya.
Yabui menangkap bagian bawah tas.
Beratnya membuat kedua lengannya turun.
“Ini tidak mungkin cuma empat botol.”
Mira memandangnya dengan wajah pucat.
“Tadi pagi memang empat.”
Mereka mengangkat tas bersama-sama menuju jembatan penyeberangan. Penumpang turun dari arah berlawanan, memaksa mereka merapat ke pagar. Setiap tubuh yang melewati tas membuat tangisan bayi terdengar samar dari dalamnya.
Beberapa orang menoleh.
Seorang perempuan berkerudung bahkan berhenti.
“Bayinya di mana?”
Mira tidak menjawab.
Yabui berkata, “Suara dari telepon.”
Perempuan itu masih memandang tas, lalu melanjutkan langkah.
Mereka tiba di bagian tengah jembatan. Dari sana, rel-rel terlihat memanjang ke dua arah. Kereta yang tadi membawa tas Mira sudah tidak tampak.
“Ini pernah terjadi?” tanya Yabui.
Mira bersandar pada pagar.
“Saya pernah meninggalkannya sekali.”
“Kapan?”
“Lima tahun lalu.”
“Anak Ibu masih bayi?”
Mira mengangguk.
“Saya turun di Pasar Minggu Baru. Tasnya terbawa sampai Depok. Petugas menemukan dan mengembalikan malam itu.”
“Lalu?”
“Isinya masih dingin. Semua botol utuh.”
“Bagus, kan?”
Mira menatapnya.
“Di rumah, anak saya tidak mau menyusu.”
Angin dari bawah jembatan meniup rambutnya ke wajah.
“Setiap kali botol dibuka, dia menangis seperti melihat orang asing. Besok paginya, saya buang semuanya.”
Yabui melihat tas biru yang mereka letakkan di lantai.
“Setelah itu?”
“Anak saya terus terbangun setiap kali ada kereta lewat. Dia bilang ada ibu di depan pintu kamar membawa tas biru.”
“Anak lima tahun bisa mengingat kejadian saat masih bayi?”
“Dia tidak pernah melihat tas ini lagi.”
Mira menyentuh gantungan awan di bagian depan.
“Saya simpan di gudang. Baru dua minggu lalu saya pakai kembali karena anak kedua saya lahir.”
Dari dalam tas terdengar ketukan.
Tuk.
Mira menarik tangannya.
Tuk.
Tuk.
Seperti kuku kecil menyentuh dinding bagian dalam.
Yabui membuka tas hitamnya dan mencari telepon. Tangannya menyentuh pensil biru pemberian Alya.
Ketika pensil itu dikeluarkan, ujungnya telah basah oleh cairan putih.
Yabui mengusapnya dengan tisu.
“Ini tadi kering.”
Mira melihat pensil tersebut.
“Anak saya punya pensil seperti itu.”
“Yang pertama?”
“Iya. Alya.”
Yabui menatapnya.
“Alya anak Ibu?”
“Bapak kenal?”
“Saya baru bertemu dengannya di kelas menulis.”
Mira berdiri terlalu cepat.
“Kapan?”
“Sore ini.”
“Tidak mungkin.”
“Dia datang bersama seorang perempuan.”
Mira menggeleng berkali-kali.
“Alya di rumah. Sejak pulang sekolah dia demam. Saya berangkat kerja setelah neneknya datang.”
Yabui hendak menunjukkan foto kegiatan, tetapi layar teleponnya tidak menyala. Ia menekan tombol daya. Tidak ada respons.
Mira mengeluarkan teleponnya sendiri dan menelepon rumah.
Panggilan tersambung.
“Alya?”
Suara anak terdengar dari pengeras suara. Lemah, tetapi Yabui mengenalinya.
“Ibu belum pulang?”
“Ibu masih di stasiun. Kamu tadi ke tempat menulis?”
“Enggak.”
Mira menatap Yabui.
Suara Alya berlanjut.
“Tapi tas Ibu sudah datang.”
Keduanya memandang tas biru di lantai jembatan.
Mira menggenggam telepon lebih erat.
“Tasnya sama Ibu.”
“Yang di rumah juga sama.”
Dari sambungan terdengar tangisan bayi.
Mira menutup telinga sebelahnya agar dapat mendengar.
“Adek kenapa?”
“Dia lapar.”
“Nenek di mana?”
“Aku enggak tahu.”
“Alya, cari Nenek.”
“Aku enggak bisa keluar kamar.”
“Kenapa?”
“Di depan pintu ada Ibu.”
Sambungan terputus.
Mira langsung mengangkat tas.
“Kita harus pulang.”
“Naik kereta?”
“Kereta berikutnya sebentar lagi.”
Mereka berlari menuruni tangga menuju peron arah Bogor. Tas itu semakin berat setiap beberapa langkah. Di tengah tangga, ritsletingnya terbuka sendiri.
Sebuah botol jatuh.
Yabui menangkapnya sebelum menggelinding ke bawah.
Botol itu kosong.
Pada labelnya tertulis nama Alya, bukan nama bayi Mira.
“Alya sudah lima tahun,” kata Yabui.
Mira menatap label tersebut.
“Tanggalnya lima tahun lalu.”
Di bawah nama Alya tercetak tanggal ketika tas itu pertama kali tertinggal.
Dari celah ritsleting terlihat botol lain.
Mira membukanya sedikit lebih lebar.
Bagian dalam tas tidak lagi memiliki lapisan perak. Di balik ritsleting terdapat lorong sempit dengan dinding putih. Lampu panjang tergantung di langit-langit. Pada ujung lorong, seorang perempuan membelakangi mereka sambil menggendong bayi.
Mira segera menutupnya.
Tubuhnya gemetar.
“Itu saya.”
“Lima tahun lalu?”
“Saya memakai baju itu saat kembali mengambil tas.”
Pengumuman kereta terdengar.
Rangkaian tujuan Bogor akan segera memasuki stasiun.
Mira berlari ke peron. Yabui membawa botol kosong di satu tangan dan membantu menopang tas dengan tangan lain.
Kereta masuk.
Ketika pintu terbuka, penumpang berdesakan turun. Mira berusaha menerobos masuk, tetapi tas biru mendadak tertarik ke arah gerbong paling belakang.
Pegangannya terlepas dari tangannya.
Tas itu meluncur di lantai.
Yabui mengejar.
Tas melewati kaki penumpang tanpa menabrak siapa pun, lalu masuk ke gerbong terakhir beberapa detik sebelum pintu menutup.
Yabui menyelipkan tubuhnya di antara pintu.
Sensor berbunyi. Pintu terbuka kembali.
“Mira!”
Perempuan itu berlari menyusul.
Mereka masuk bersama-sama.
Gerbong hampir kosong.
Hanya ada seorang perempuan tua tertidur di sudut dan seorang laki-laki yang berdiri dekat pintu penghubung. Tas biru berada di tengah lorong.
Tangisan bayi terdengar dari arah gerbong depan.
Mira mengambil tas.
Pintu menutup.
Kereta bergerak meninggalkan Pasar Minggu Baru.
“Telepon rumah lagi,” kata Yabui.
Mira mencoba, tetapi panggilannya tidak tersambung.
Tas bergerak dalam pelukannya.
Ketukan dari dalam semakin cepat.
Yabui mengeluarkan pensil biru. Pada batangnya muncul goresan-goresan seperti tulisan tangan anak.
JANGAN BAWA PULANG TAS YANG SUDAH SAMPAI
“Mira.”
Perempuan itu membaca tulisan tersebut.
“Kalau tas ini sudah ada di rumah, yang kita bawa apa?”
Lampu gerbong padam.
Ketika menyala kembali, perempuan tua dan laki-laki di dekat pintu telah hilang.
Kursi-kursi dipenuhi tas pendingin.
Ada yang hitam, abu-abu, merah muda, dan biru. Semua tertutup rapat. Beberapa memakai gantungan nama. Sebagian tampak sangat lama, dengan kain mengelupas dan tali putus.
Dari setiap tas terdengar tangisan bayi yang berbeda.
Mira berdiri memeluk tasnya di antara suara-suara itu.
Pintu menuju gerbong depan terbuka.
Alya berdiri di sana.
Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat pertemuan menulis. Di tangannya terdapat buku gambar.
“Mama pulangnya lama,” katanya.
Mira melangkah maju.
“Alya?”
Yabui menahan bahunya.
“Itu bukan Alya yang di rumah.”
Anak tersebut membuka buku.
Gambar pertama menunjukkan Mira berlari di peron.
Gambar kedua memperlihatkan tas memasuki kereta.
Pada gambar ketiga, Yabui dan Mira berdiri di tengah gerbong yang dipenuhi tas pendingin.
Halaman berikutnya masih kosong.
“Alya,” kata Yabui, “siapa yang menyuruh kamu datang ke kelas menulis?”
Anak itu tersenyum.
“Tasnya.”
“Kenapa?”
“Biar ada yang bantu mengantar.”
“Mengantar ke mana?”
Alya menunjuk tas biru dalam pelukan Mira.
“Ke ibu yang pertama.”
Ritsleting tas terbuka.
Lorong putih kembali terlihat di dalamnya.
Perempuan yang menggendong bayi kini telah berbalik.
Wajahnya sama dengan Mira, tetapi matanya tertutup. Bayi dalam pelukannya bukan bayi kedua Mira.
Itu Alya saat masih kecil.
Mira mendekati tas.
“Dia bagian saya yang tertinggal,” bisiknya.
“Jangan masuk,” kata Yabui.
“Saya membuang susunya. Saya pikir setelah itu selesai.”
Perempuan di dalam lorong membuka mata.
Tangannya terulur keluar melalui celah ritsleting.
Jari-jarinya mencengkeram pergelangan Mira.
Tubuh Mira tertarik ke depan.
Yabui memegang pinggangnya.
Tas biru jatuh ke lantai, tetapi tangan dari dalam terus menarik. Ritsletingnya melebar seperti pintu. Udara dingin memenuhi gerbong, membawa bau sabun bayi, plastik steril, dan kain yang terlalu lama disimpan.
Alya berdiri di dekat pintu penghubung.
“Kalau Mama masuk, tasnya bisa kosong.”
“Tidak,” teriak Yabui. “Tasnya cuma akan mencari ibu berikutnya.”
Ia melihat pensil biru di tangannya.
Ujungnya masih basah.
Yabui membuka buku gambar Alya yang terjatuh di lantai, lalu mencoret halaman kosong. Ia menggambar tas biru dengan ritsleting tertutup.
Tangannya bergerak kasar. Bentuknya tidak rapi, tetapi begitu garis terakhir menyambung, ritsleting tas di lantai bergerak sedikit.
Mira menarik tangannya.
Perempuan dari dalam menjerit tanpa suara.
Yabui menebalkan garis ritsleting.
Pensil patah.
Tas menutup separuh.
Mira jatuh ke belakang.
Tangan dari dalam masih menjulur, terjepit di antara ritsleting. Kulitnya semakin pucat, kemudian berubah menjadi cairan putih yang menetes ke lantai.
Alya memandang gambar.
“Kalau ditutup, bayinya lapar.”
“Bayinya sudah bukan bayi,” kata Yabui. “Alya sudah besar.”
Anak di dekat pintu menunduk.
Mira meraih buku gambar.
Dengan potongan pensil yang tersisa, ia menggambar rumah di sebelah tas.
Lalu menggambar dirinya berdiri di dalam rumah bersama dua anak.
“Ini rumah kita,” katanya kepada Alya. “Bukan tas itu.”
Alya melihat gambar tersebut.
Tubuhnya mulai memudar.
“Kalau Mama pulang, aku masih ada?”
Mira menahan tangis.
“Kamu ada. Kamu sedang menunggu Ibu.”
Ia menggambar pintu rumah terbuka.
“Pulanglah.”
Alya melangkah mendekati gambar.
Ketika ujung jarinya menyentuh kertas, seluruh tas pendingin di gerbong mengeluarkan bunyi ritsleting secara bersamaan.
Bukan terbuka.
Menutup.
Tangisan bayi berhenti satu per satu.
Tas biru di lantai mengempis. Bentuknya kembali seperti tas biasa. Tangan yang terjepit di dalamnya lenyap.
Lampu gerbong berkedip.
Kursi-kursi kembali kosong.
Alya sudah tidak berdiri di depan pintu penghubung.
Kereta melambat memasuki stasiun berikutnya.
Mira meraih tas biru, tetapi Yabui menahannya.
“Jangan dibawa pulang.”
“Itu punya saya.”
“Yang milik Ibu sudah sampai.”
Mira memandang tas itu cukup lama.
Kemudian ia meletakkannya di kursi.
Mereka turun saat pintu terbuka.
Begitu kaki Mira menyentuh peron, teleponnya berdering.
“Alya?”
Suara anaknya terdengar jelas.
“Ibu di mana?”
“Sebentar lagi pulang.”
“Adek sudah minum.”
“Nenek sudah ketemu?”
“Nenek dari tadi di dapur.”
Mira menutup mata.
“Di depan kamar ada siapa?”
“Enggak ada siapa-siapa.”
Mira menangis sambil tetap berdiri di tengah peron. Yabui menunggu sampai ia dapat berjalan lagi.
Mereka kembali naik kereta berikutnya menuju Bogor. Kali ini Mira hanya membawa tas kerja hitam. Tidak ada tangisan, ketukan, atau hawa dingin.
Sebelum turun di stasiunnya, Mira mengucapkan terima kasih.
Yabui menyerahkan buku gambar Alya.
“Bawa ini.”
Mira melihat gambar terakhir: rumah dengan pintu terbuka, dua anak, dan seorang ibu berdiri di dalamnya.
Di luar rumah terdapat sebuah tas biru.
Tas itu telah dicoret hingga hampir tidak terlihat.
Malamnya, Yabui menerima foto dari Mira.
Alya berdiri di samping adiknya yang sedang tidur. Di meja terdapat empat botol ASI dalam tas pendingin baru berwarna abu-abu. Tidak ada tas biru di dekat mereka.
Pesan Alya menyusul dari nomor ibunya.
Bapak sudah bisa menggambar.
Yabui tersenyum, lalu memeriksa tas hitamnya.
Potongan pensil biru masih ada.
Ujungnya telah kering.
Keesokan paginya, petugas kebersihan Stasiun Pasar Minggu Baru menemukan sebuah tas pendingin biru di gerbong terakhir kereta kosong. Tas itu diserahkan ke bagian barang tertinggal.
Tidak ada botol di dalamnya.
Hanya sebuah gambar rumah dengan pintu terbuka.
Di bawah gambar terdapat tulisan tangan anak:
Tasnya tidak perlu pulang. Ibunya sudah sampai.