Pulpen yang Ada Bekas Gigitan

Pulpen itu tergeletak di dekat laptop, sedikit miring di atas meja. Warnanya hitam, klipnya masih utuh, dan tintanya masih lancar ketika dicoba di selembar kertas. Dari jauh, tampilannya biasa saja. Baru ketika diambil, terlihat bagian belakang batangnya penuh dengan lekukan kecil yang segera mudah dikenali sebagai bekas gigi.

Sebagian lekukannya dangkal, sebagian lain cukup dalam sampai warna plastik terlihat memutih. Ada bagian yang terasa kasar ketika disentuh ujung jari. Entah sudah berapa kali pulpen itu masuk ke mulut pemiliknya, lalu kembali lagi ke meja dan melanjutkan hidupnya sebagai alat tulis seperti biasa.

Kejadian seperti itu cukup mudah dibayangkan. Seseorang duduk di depan layar, membaca kalimat yang sama dua atau tiga kali sambil memegang pulpen. Ujungnya sesekali mengetuk meja, lalu beberapa menit kemudian bagian belakangnya sudah berada di antara gigi. Perpindahan kecil itu bisa terjadi begitu saja, nyaris tanpa perhatian khusus.

Mungkin saat itu pemiliknya sedang memikirkan pekerjaan, menunggu sesuatu, atau sekadar merasa bosan. Bekas pada pulpen hanya memberi petunjuk bahwa pada suatu waktu, pikiran orang itu sedang sibuk dengan hal lain sementara tubuhnya tetap mencari gerakan kecil untuk dilakukan. Dari situlah pulpen mulai merekam sesuatu yang lebih panjang daripada fungsi menulisnya.

Kebiasaan semacam ini mudah ditemukan dalam keseharian. Ada orang yang memutar cincin di jari saat berbicara, mengetukkan kaki ketika menunggu, mencoret pinggir kertas selama rapat, atau terus membuka dan menutup tutup pulpen sambil membaca. Gerakan kecil yang berulang seperti itu sering dibahas sebagai fidgeting, yakni aktivitas motorik ringan yang muncul ketika seseorang sedang bosan, tegang, menunggu, atau berusaha mempertahankan perhatian.

See also  Cara Mengajar Kosakata dengan Cerita Pendek: Dragon in the Hall

Pulpen punya posisi yang cukup menarik di antara benda-benda semacam itu. Ia ringan, mudah digenggam, dan hampir selalu berada dekat tangan ketika seseorang bekerja atau belajar. Bentuknya memungkinkan banyak perlakuan: diputar, diketuk, diselipkan di telinga, dipakai menunjuk sesuatu di layar, lalu sesekali berakhir di mulut. Setiap gerakan meninggalkan kemungkinan jejak yang berbeda.

Kalau diperhatikan, banyak benda di sekitar kita juga berubah lewat pola pemakaian yang berulang. Tombol keyboard tertentu menjadi lebih mengilap karena lebih sering disentuh, sisi meja kehilangan lapisan cat pada tempat lengan biasa bertumpu, sol sepatu menipis mengikuti cara seseorang berjalan, dan buku yang sering dibuka di bagian tertentu lama-lama lebih mudah terbelah pada halaman itu. Permukaan benda perlahan mengikuti kebiasaan orang yang menggunakannya.

Pada pulpen bergigi tadi, jejaknya terasa sedikit lebih aneh karena tumbuh dari kebiasaan tambahan. Pabrik membayangkan benda itu berpindah dari tangan ke kertas, sementara pemiliknya menambahkan perjalanan lain: dari tangan ke meja, dari meja ke mulut, lalu kembali lagi ke tangan. Setelah cukup lama, jalur penggunaan itu meninggalkan bentuk yang semakin khas.

Hal serupa terjadi pada banyak benda yang kita pakai setiap hari. Sebuah kursi akhirnya memiliki sisi favorit untuk diduduki, sebuah mug menjadi pilihan pertama setiap pagi, dan sebuah tas mempunyai kantong yang hampir selalu digunakan untuk menyimpan kunci. Fungsi awal benda perlahan bertemu dengan kebiasaan pemiliknya, lalu dari pertemuan itu muncul cara penggunaan yang semakin personal.

Pulpen yang penuh bekas gigitan juga tumbuh melalui proses semacam itu. Ia mungkin dibeli bersama beberapa pulpen lain yang bentuknya sama persis, tetapi beberapa bulan kemudian perbedaannya mulai mudah dikenali. Ada goresan kecil pada badan, merek yang mulai pudar, dan sederet lekukan di bagian belakang yang terbentuk sedikit demi sedikit.

See also  Gesekan Korek Api Kayu

Riwayat benda sering muncul dengan cara seperti ini. Kita jarang mencatat kapan sebuah mug pertama kali retak halus, kapan sisi meja mulai memudar, atau kapan lekukan pertama muncul pada sebuah pulpen. Perubahan berlangsung perlahan, kemudian suatu hari baru terlihat sebagai pola yang sudah terbentuk cukup jauh.

Satu gigitan mungkin hampir tak terlihat. Beberapa hari kemudian muncul satu lagi, lalu bertambah ketika pemiliknya menunggu, membaca sesuatu yang sulit, atau sekadar melamun terlalu lama. Setelah cukup lama, bagian belakang pulpen berubah menjadi semacam peta kecil dari kebiasaan yang berulang, sementara waktu kejadiannya sendiri sudah sulit diingat.

Besok pagi pulpen itu mungkin kembali berada di atas meja yang sama. Laptop terbuka, secangkir minuman diletakkan di sampingnya, dan sebuah pekerjaan baru dimulai. Tangan meraih pulpen, menggunakannya sebentar, lalu tanpa banyak perhatian membawanya mendekati wajah. Beberapa menit kemudian, satu lekukan baru mungkin bergabung dengan jejak-jejak lama yang sudah lebih dulu tinggal di sana.