
International Seminar on Humanity, Education, and Language atau ISHEL 2026 berlangsung pada 13 Juli 2026, pukul 09.00–15.00 WIB. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Magister dan Doktor Linguistik Terapan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta ini diikuti oleh 197 peserta, dengan 160 presenter yang memaparkan makalah dalam berbagai bidang kajian bahasa, budaya, pendidikan, kemanusiaan, dan keberlanjutan.
Tahun ini menjadi penyelenggaraan kedua ISHEL. Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus., membuka kegiatan melalui sambutan kepada para pembicara, presenter, dan peserta. Penyelenggaraan seminar berada dalam lingkungan Program Magister dan Doktor Linguistik Terapan UNJ yang dikoordinasikan oleh Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd.
Besarnya jumlah presenter segera menunjukkan luasnya percakapan akademik yang berlangsung sepanjang hari. Namun, daya ungkap seminar ini baru terasa ketika berbagai paparan mulai dibaca dalam satu rangkaian. Bahasa muncul sebagai medium yang menghubungkan pengalaman sosial, ingatan budaya, pengetahuan ekologis, dan proses belajar.
Assoc. Prof. Dr. Amal Abdullah Abdulrahman Al-Rashed dari King Saud University, Arab Saudi, membawa pembahasan pada perjalanan pengalaman sosial menuju memori budaya. Pengalaman yang hidup di tengah masyarakat melewati proses seleksi, penafsiran, dan pembingkaian ulang sebelum menetap sebagai ingatan bersama.
Di dalam proses itu, bahasa memberi susunan. Sebuah pengalaman yang semula berada dalam wilayah personal dapat berubah menjadi rujukan kolektif ketika diceritakan, dituliskan, dan diulang dalam kehidupan sosial. Bagian tertentu memperoleh penekanan, bagian lain perlahan memudar, lalu terbentuk susunan ingatan yang dapat dikenali oleh sebuah komunitas.
Memori budaya karena itu bergerak melalui cerita. Masa lalu tetap hadir bukan karena disimpan secara utuh, melainkan karena terus diberi bentuk dalam kesadaran masa kini. Bahasa memperpanjang usia sebuah pengalaman dengan membawanya masuk ke dalam tuturan, simbol, dan ingatan bersama.
Pembahasan kemudian bergeser ke pantun Melayu melalui paparan Assoc. Prof. Dr. Tengku Intan Marlina Binti Tengku Mohd Ali dari Universiti Malaya, Malaysia. Gunung, laut, padi, pohon, buah, hujan, dan angin dibaca sebagai unsur yang menyimpan jejak pengetahuan ekologis masyarakat.
Unsur-unsur alam itu tumbuh dari pengalaman hidup yang dekat dengan lingkungan. Masyarakat mengenali musim, mengamati tumbuhan, membaca perubahan cuaca, memahami hasil bumi, lalu menyusunnya ke dalam bahasa yang ringkas, berirama, dan mudah diingat.
Hubungan antara pembayang dan maksud membuat pantun mampu membawa lebih dari satu lapisan makna. Sebuah larik tentang hujan dapat menyimpan pengalaman mengenai musim. Padi membawa ingatan tentang pertanian. Pohon dan buah dapat menghubungkan ruang hidup dengan nasihat, hubungan sosial, dan akal budi.
Pantun kemudian tampil sebagai tempat pengetahuan ekologis dan ingatan kolektif bertemu. Pengalaman masyarakat terhadap alam tidak berhenti sebagai pengamatan sehari-hari, tetapi bergerak menjadi bentuk budaya yang dapat dituturkan kembali. Setiap pengulangan membuka kembali jejak hubungan manusia dengan lingkungan tempatnya hidup.
Dari memori budaya dan pantun, pembahasan bergerak menuju ruang kelas. Ahmad Abdan Sakuro, M.A. dari Roi Et Rajabhat University, Thailand, memaparkan penggunaan cue card dan vlogging dalam pembelajaran keterampilan berbicara.
Penelitian terhadap 55 mahasiswa mencatat kenaikan nilai berbicara rata-rata sebesar 14,13 poin. Angka tersebut memberi gambaran mengenai perubahan hasil belajar, sementara proses di baliknya menunjukkan cara teknologi memperluas pengalaman mahasiswa dalam berlatih.
Cue card membantu mahasiswa menyusun gagasan sebelum berbicara. Vlogging memberi ruang untuk merekam, menonton kembali, memperbaiki penyampaian, lalu membuat rekaman baru. Pengalaman berbicara yang biasanya berlalu dalam beberapa menit berubah menjadi bahan yang dapat diamati kembali.
Mahasiswa dapat mendengar suaranya sendiri, melihat ekspresi, mengenali jeda, dan menyadari bagian yang masih perlu diperbaiki. Rekaman mempertemukan mahasiswa dengan performanya sendiri. Di titik itu, teknologi berfungsi sebagai cermin belajar.
Proses tersebut membuat mahasiswa berada dalam dua posisi sekaligus: sebagai pembicara dan sebagai pengamat atas tindakannya. Kemampuan berbicara berkembang melalui latihan, pengulangan, dan kesadaran yang muncul ketika seseorang melihat kembali apa yang telah dilakukan.
Ketiga paparan itu bergerak melalui medan yang berbeda. Satu membahas pengalaman sosial, satu membaca hubungan manusia dengan alam melalui pantun, dan satu mengamati proses belajar berbicara melalui teknologi. Ketika diletakkan berdampingan, ketiganya memperlihatkan pola yang berdekatan.
Pengalaman memperoleh bentuk melalui bahasa. Setelah memperoleh bentuk, pengalaman dapat diingat, diwariskan, diamati, dan dikembangkan. Dalam memori budaya, bahasa membawa pengalaman sosial menuju ingatan bersama. Dalam pantun, bahasa menyimpan pengetahuan ekologis. Dalam pembelajaran berbicara, bahasa dan teknologi memberi mahasiswa kesempatan untuk membaca perkembangan dirinya.
Di sinilah tema keberlanjutan memperoleh bentuk yang lebih konkret. Keberlanjutan hadir ketika pengalaman menemukan medium untuk terus bergerak. Ingatan bertahan melalui penceritaan, pengetahuan ekologis bergerak melalui pantun, dan kemampuan berbicara berkembang melalui refleksi berulang.
Rangkaian paparan tersebut juga menunjukkan bahwa keberlanjutan selalu melibatkan proses perubahan bentuk. Pengalaman sosial berubah menjadi memori budaya. Pengamatan terhadap alam berubah menjadi simbol. Performa berbicara berubah menjadi rekaman yang dapat dipelajari kembali.
ISHEL 2026 mempertemukan proses-proses itu dalam satu forum akademik. Sebanyak 160 presenter membawa persoalan, metode, dan temuan dari bidangnya masing-masing. Ketika dipresentasikan, penelitian keluar dari ruang kerja individual dan memasuki ruang tanggapan.
Temuan bertemu dengan pertanyaan. Metode berhadapan dengan konteks lain. Gagasan memperoleh kesempatan untuk dibaca ulang dari sudut pandang yang berbeda. Di sanalah seminar memperoleh fungsi yang lebih luas daripada sekadar penyampaian makalah.
Pelaksanaan ISHEL 2026 turut didukung oleh Bumi Aksara Group sebagai sponsor kegiatan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari terselenggaranya forum yang mempertemukan peneliti, pendidik, mahasiswa, dan berbagai gagasan lintas negara.
Pada akhir rangkaian, bahasa tampak berada di tengah seluruh pembahasan. Bahasa menyimpan pengalaman, membawa alam ke dalam ingatan budaya, dan membantu pembelajar mengenali perkembangan dirinya.
Dari sana, ISHEL 2026 dapat dibaca sebagai ruang tempat pengalaman dibawa ke dalam penelitian, penelitian dipertemukan dalam percakapan, dan percakapan membuka kemungkinan bagi pengetahuan untuk terus bergerak.