
Harga sayur naik. Cicilan bank keliling belum dibayar. Warga saling mengawasi dari halaman rumah susun. Lalu seekor babi hitam melintas dan membuat satu lingkungan mendadak gaduh.
Namun, babi yang muncul dalam Rusun Goyang bukan babi ngepet seperti yang hidup dalam cerita-cerita lama. Ia tidak lagi bergantung pada lilin, kemenyan, atau ritual di ruang gelap. Babi ngepet itu telah memiliki aplikasi.
Cukup mengunduh, menyetujui kontrak, lalu mengirim suami mencari uang. Ketika situasi mulai berbahaya, sebuah notifikasi muncul di telepon genggam. Sang suami dapat dipanggil pulang melalui satu tombol.
Gagasan itu terdengar konyol. Justru dari kekonyolan tersebut, Rusun Goyang mulai memperlihatkan sesuatu yang terasa dekat: kebiasaan manusia modern menggantungkan harapan pada aplikasi, tren, dan prosedur yang menjanjikan perubahan instan.
Pertunjukan Teater Arthritala Rombel 1 Universitas Negeri Jakarta ini dipentaskan di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 12 Juli 2026. Pertunjukan tersebut merupakan adaptasi dari terjemahan Rhinoceros karya Eugène Ionesco yang berjudul Badak-Badak oleh Jim Lim. Dramaturginya dikerjakan oleh Dr. Deden Haerudin, M.Sn. dan Dr. Fachri Yabuy, M.Pd.
Di atas panggung, badak berubah menjadi babi ngepet. Kota Eropa berubah menjadi rumah susun Jakarta. Kegelisahan eksistensial bertemu harga tomat, utang harian, TikTok, dan aplikasi telepon genggam.
Yang menarik bukan hanya perubahan latarnya, tetapi cara pertunjukan membuat mitos lama terasa seperti bagian dari pengalaman digital hari ini.
Warga Rusun Tidak Pernah Benar-Benar Sendiri
Pertunjukan dibuka melalui kehidupan sehari-hari penghuni rumah susun. Para ibu berbelanja sayur, bercakap, bernyanyi, dan menari. Percakapan berpindah cepat dari harga pangan, telur omega, cuaca, utang, hingga kebutuhan rumah tangga.
Belum ada babi. Belum ada kepanikan. Namun sejak awal, panggung telah memperlihatkan bahwa kehidupan di rusun berlangsung melalui tubuh yang saling berdekatan.
Seseorang berbicara, yang lain mendengar. Seseorang mengeluh, yang lain menanggapi. Masalah pribadi hampir selalu memperoleh gema sosial.
Ketika seorang anak mengaku melihat babi, informasi tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman satu orang. Para warga berkumpul, mengulang cerita, menambahkan detail, dan menghubungkannya dengan berbagai informasi yang pernah mereka lihat.
Ada yang membicarakan warna babi. Ada yang memperdebatkan taring dan tanduknya. Ada pula yang mengingat video di TikTok.
Wujud babi masih kabur, tetapi ceritanya telah tumbuh.
Ini menunjukkan bahwa ketakutan tidak hanya muncul karena seseorang melihat sesuatu. Ketakutan juga dibentuk melalui pengulangan. Satu kesaksian berpindah dari mulut ke mulut sampai akhirnya diterima sebagai kenyataan bersama.
Proses tersebut menjadi lebih kuat karena para pemain berasal dari lingkungan pendidikan tari. Gerak tubuh mereka tidak hadir sebagai hiasan setelah dialog. Gerak menjadi cara pengalaman kolektif itu dibentuk. Para pemain merapat, berlari, bersembunyi, berpencar, lalu kembali membangun kerumunan.
Yang sedang bekerja di sini bukan sekadar koreografi. Tubuh para pemain memperlihatkan bagaimana kesadaran individual perlahan larut ke dalam suasana kelompok.
Saat Kehidupan Sehari-hari Naik ke Panggung
Dalam teori mimesis, karya tidak harus dipahami sebagai salinan lurus dari kenyataan. Aristoteles melihat seni sebagai tindakan menghadirkan kembali karakter, emosi, dan tindakan melalui medium tertentu. Tari, misalnya, dapat merepresentasikan tindakan dan perasaan melalui gerak ritmis.
Dari posisi tersebut, rumah susun dalam Rusun Goyang bukan replika dokumenter dari satu rusun tertentu. Panggung tidak sedang mengatakan bahwa semua penghuni rusun hidup persis seperti tokoh-tokoh di dalam cerita.
Pertunjukan memilih potongan pengalaman yang mudah dikenali: harga kebutuhan pokok, bank keliling, obrolan tetangga, tren aplikasi, rasa takut tertinggal, dan keinginan mendapatkan uang dengan cepat.
Potongan-potongan itu kemudian disusun ulang melalui dialog, nyanyian, komedi, serta gerak tubuh.
Mimesis di sini bekerja sebagai pengolahan pengalaman. Kehidupan sehari-hari tidak sekadar dipindahkan ke panggung, tetapi diperbesar agar pola yang biasanya samar menjadi terlihat.
Dalam kehidupan nyata, tekanan untuk mengikuti tren mungkin hadir melalui percakapan kecil, unggahan media sosial, atau rasa malu karena tidak memakai sesuatu yang sedang populer. Dalam pertunjukan, tekanan tersebut diwujudkan melalui warga yang hampir semuanya memiliki aplikasi babi ngepet.
Warga yang belum memakai aplikasi dianggap tertinggal. Kepemilikan babi tidak lagi menjadi rahasia yang disembunyikan, tetapi berubah menjadi tanda keikutsertaan dalam pergaulan.
Pertanyaan besarnya adalah: apakah warga memakai aplikasi karena benar-benar percaya, atau karena takut menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut?
Babi Ngepet sebagai Produk Budaya Populer
Dominic Strinati tidak menawarkan satu definisi tunggal yang sederhana mengenai budaya populer. Ia memetakan budaya populer melalui perdebatan tentang budaya massa, industri budaya, ideologi, konsumsi, strukturalisme, feminisme, hingga postmodernisme. Dengan demikian, budaya populer dapat dibaca sebagai arena tempat produksi media, konsumsi, kekuasaan, dan pengalaman masyarakat saling bertemu.
Melalui pembacaan tersebut, aplikasi babi ngepet menjadi menarik karena ia tidak hanya berfungsi sebagai lelucon tentang teknologi.
Aplikasi itu bekerja seperti produk populer. Ia mudah dikenali, dibicarakan banyak orang, digunakan bersama, lalu berkembang menjadi ukuran sosial. Warga rusun tidak cukup hanya mengetahui keberadaan aplikasi. Mereka merasa perlu memilikinya.
Di sinilah logika budaya populer bertemu dengan mitos.
Babi ngepet sebelumnya hidup melalui cerita lisan tentang ritual rahasia dan kekayaan gaib. Dalam Rusun Goyang, mitos tersebut masuk ke dalam sistem distribusi digital. Ia memiliki antarmuka, kontrak pengguna, notifikasi, dan tombol pemanggil.
Perubahan bentuk ini tidak menghilangkan keinginan lama yang berada di belakangnya. Orang tetap menginginkan jalan cepat untuk keluar dari tekanan ekonomi. Yang berubah adalah kemasannya.
Mitos memperoleh tampilan yang lebih modern. Kepercayaan memperoleh desain aplikasi.
Yang menarik bukan hanya bahwa warga percaya kepada babi ngepet, tetapi bahwa mereka mulai mengonsumsinya sebagai tren.
Hampir semua orang mempunyai aplikasi yang sama. Akibatnya, jalan pintas tersebut kehilangan keistimewaannya. Warga mengambil uang dari lingkungan yang juga sedang kesulitan, sementara kawasan orang kaya diceritakan telah mempunyai babi ngepet sendiri.
Hasilnya terasa ironis. Semua orang memiliki alat untuk mencari kekayaan, tetapi mereka tetap dikejar utang.
Kontradiksi inilah yang membuat pertunjukan bergerak lebih jauh daripada komedi tentang pesugihan. Aplikasi menjanjikan perubahan, tetapi kehidupan para penggunanya terus berputar pada persoalan yang sama.
Bank Keliling yang Datang dengan Tubuh Centil
Tekanan ekonomi dalam pertunjukan memperoleh bentuk paling jelas ketika tokoh penagih bank keliling memasuki panggung.
Kamil, pemeran tokoh tersebut, hadir dengan gestur centil, intonasi yang hidup, dan gerak tubuh yang lincah. Kehadirannya mengubah penagihan utang menjadi adegan komikal. Penonton tertawa, sementara para penghuni rusun berusaha menghindari pembayaran.
Ketika ditanya kapan utang akan dilunasi, mereka menjawab, “Besok-besok.” Jawaban itu kemudian dipanjangkan menjadi “besok-besoknya besok.”
Waktu diperlakukan seperti benda elastis. Ia dapat ditarik sejauh mungkin untuk menunda perjumpaan dengan kenyataan.
Kelucuan adegan tersebut tumbuh karena ancamannya tetap terasa. Bank keliling memang tampil centil, tetapi buku tagihan tetap berada di tangannya. Para warga boleh menari dan bercanda, tetapi utang tidak ikut menghilang.
Yang sedang bekerja di sini bukan sekadar kemampuan aktor menghasilkan tawa. Tubuh aktor memberi wajah kepada tekanan ekonomi yang sebelumnya hadir sebagai angka, cicilan, dan tenggat pembayaran.
Penonton tidak hanya memahami utang sebagai informasi. Mereka mengalaminya sebagai ritme pengejaran, penghindaran, rasa malu, dan kelakar bersama.
Semua Orang Sedang Memainkan Ulang Sesuatu
Richard Schechner mengembangkan gagasan mengenai restored behavior atau perilaku yang dipulihkan. Dalam pandangan ini, tindakan dalam pertunjukan tidak sepenuhnya lahir untuk pertama kali. Manusia memainkan kembali pola perilaku yang telah dipelajari, diwariskan, dilatih, atau dijumpai dalam kehidupan sebelumnya. Schechner menyebutnya sebagai perilaku yang dilakukan untuk kedua kalinya.
Konsep tersebut dapat dibaca melalui gerak warga dalam Rusun Goyang.
Para tokoh tidak hanya memainkan individu. Mereka menghidupkan pola yang terus berulang dalam kehidupan sosial: berkumpul ketika ada kabar, memperbesar rumor, menghindari penagih, meniru pilihan tetangga, mengikuti tren, serta menyembunyikan kesulitan melalui humor.
Perilaku tersebut terasa akrab karena penonton mungkin pernah menjumpainya dalam bentuk berbeda.
Ketika satu warga mengaku mempunyai aplikasi babi ngepet, warga lain ikut mengaku. Ketika kepemilikan aplikasi menjadi tanda normalitas, penolakan terhadapnya menjadi semakin sulit.
Para tokoh sedang melakukan kembali perilaku sosial yang telah mereka kenali: meniru agar diterima.
Dari sini, panggung dan kehidupan sehari-hari tidak lagi terpisah secara tegas. Pertunjukan memang berlangsung di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, tetapi pola tindakannya dapat muncul di grup percakapan, media sosial, ruang kelas, lingkungan kerja, dan lingkaran pertemanan.
Bukankah banyak tren bekerja dengan cara serupa?
Seseorang mencoba. Orang lain mengunggahnya. Pengguna berikutnya ikut karena melihat banyak orang telah melakukannya. Pada satu titik, pertanyaan mengenai manfaat mulai kalah oleh dorongan untuk tidak tertinggal.
Babi ngepet hanyalah bentuk ekstrem dari pola yang terasa sangat sehari-hari.
Dari Ketakutan Menuju Normalitas Baru
Pada awal pertunjukan, babi dipandang sebagai ancaman. Para warga berteriak, berlari, dan mencoba memahami makhluk yang mereka lihat.
Lalu arah kesadaran mereka berubah.
Ketakutan bergerak menjadi rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu berkembang menjadi penerimaan. Setelah banyak orang menggunakannya, babi ngepet tidak lagi dianggap ganjil. Ia menjadi bagian dari rutinitas.
Perubahan tersebut menjadi pusat penting pertunjukan. Sesuatu tidak menjadi normal karena sejak awal dianggap benar atau masuk akal. Sesuatu dapat menjadi normal karena terus diulang, dipakai, dan diterima oleh banyak orang.
Di tengah arus itu, muncul seorang ibu yang menyatakan tidak memiliki aplikasi babi ngepet. Ia mempertanyakan manfaatnya. Bila aplikasi tersebut memang menghasilkan uang, mengapa para penggunanya masih berutang kepada bank keliling?
Untuk sesaat, tokoh itu terlihat berada di luar kebiasaan kelompok.
Namun, penutup pertunjukan membalik posisinya. Ia ternyata memakai aplikasi lain. Anak perempuannya bekerja melalui “aplikasi tuyul”.
Yang menarik bukan hanya kejutan ceritanya. Penutup tersebut memperlihatkan bahwa seseorang dapat menolak bentuk tertentu tanpa meninggalkan pola yang mendasarinya.
Ia menolak babi, tetapi menerima tuyul. Ia menolak satu aplikasi, tetapi memakai aplikasi lain. Bentuknya berubah, sedangkan logika jalan pintas tetap dipertahankan.
Pertanyaan kemudian tidak lagi berhenti pada siapa yang mempunyai babi ngepet.
Pertanyaannya bergeser: seberapa jauh seseorang benar-benar dapat berada di luar kebiasaan yang sedang ia kritik?
Ketika Panggung Menjadi Layar Kehidupan Digital
Rusun Goyang membawa banyak persoalan sekaligus: harga pangan, utang, media sosial, relasi keluarga, tekanan kelompok, kebijakan publik, mitos, dan teknologi.
Kelimpahan tersebut membuat panggung penuh energi. Dialog terus bergerak, lagu muncul, tubuh-tubuh menari, dan karakter datang silih berganti. Pada beberapa bagian, kepadatan isu membuat sejumlah gagasan hanya memperoleh ruang singkat untuk berkembang.
Namun, justru dari kepadatan itu terlihat bahwa kehidupan digital tidak pernah berdiri sendiri.
Aplikasi dalam pertunjukan tidak hanya berhubungan dengan teknologi. Ia bertemu mitos, ekonomi, rasa malu, keinginan untuk diterima, serta imajinasi tentang perubahan hidup.
Tinjauan budaya populer membantu melihat bagaimana aplikasi menjadi tren dan tanda sosial. Mimesis memperlihatkan cara pengalaman sehari-hari dipilih lalu disusun ulang di atas panggung. Sementara pemikiran Schechner membuka kemungkinan untuk membaca tindakan para tokoh sebagai pengulangan pola sosial yang telah hidup di luar pertunjukan.
Ketiga jalur tersebut bertemu pada satu pengalaman: manusia tidak hanya memakai teknologi, tetapi juga membentuk cerita, ritual, dan perilaku baru di sekitarnya.
Babi ngepet dalam Rusun Goyang memang tidak nyata dalam pengertian harfiah. Namun, keinginan mengunduh jalan pintas, mengikuti apa yang digunakan banyak orang, lalu menganggapnya sebagai kewajaran terasa jauh lebih dekat.
Pada akhirnya, yang bergoyang bukan hanya warga rusun.
Mitos ikut bergoyang ketika memasuki layar digital. Tubuh pemain bergoyang untuk memperlihatkan ketakutan dan kegembiraan kolektif. Kesadaran penonton pun ikut bergerak, dari menertawakan babi ngepet menuju pertanyaan yang lebih mengganggu:
Berapa banyak “aplikasi babi ngepet” yang sebenarnya telah kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari? (Yabui)