Pulpen yang Ada Bekas Gigitan

  • Post published:
  • Reading time:4 mins read

Pulpen itu tergeletak di dekat laptop, sedikit miring di atas meja. Warnanya hitam, klipnya masih utuh, dan tintanya masih lancar ketika dicoba di selembar kertas. Dari jauh, tampilannya biasa saja. Baru ketika diambil, terlihat bagian belakang batangnya penuh dengan lekukan kecil yang segera mudah dikenali sebagai bekas gigi. Sebagian lekukannya dangkal, sebagian lain cukup dalam sampai warna plastik terlihat memutih. Ada bagian yang terasa kasar ketika disentuh ujung jari. Entah sudah berapa kali pulpen itu masuk ke mulut pemiliknya, lalu kembali lagi ke meja dan melanjutkan hidupnya sebagai alat tulis seperti biasa. Kejadian seperti itu cukup mudah dibayangkan. Seseorang duduk…

Manggarai: Karcis Menjelang Magrib

  • Post published:
  • Reading time:6 mins read

Menjelang magrib, orang di Stasiun Manggarai biasanya berjalan sedikit lebih cepat. Ada yang baru turun dari kereta Bogor, ada yang memotong arus menuju tangga, ada pula yang berdiri dekat layar sambil memastikan jalur berikutnya. Yabui baru keluar dari rangkaian ketika ujung sepatunya menyentuh selembar karton kecil di lantai. Benda itu hampir ikut terseret langkah orang lain kalau Yabui tidak lebih dulu membungkuk mengambilnya. Karton itu sebesar dua ruas jari, berwarna cokelat kusam, dengan satu sisi yang sudah lembek seperti pernah terkena air. Bentuknya menyerupai karcis kereta lama yang biasa muncul dalam foto-foto stasiun. Nama Manggarai masih terbaca di tengah, sementara…

Duren Kalibata: Langkah di Bawah Peron

  • Post published:
  • Reading time:6 mins read

Kereta dari arah Bogor belum terlihat ketika seorang laki-laki menjatuhkan sandal jepitnya ke bawah peron Stasiun Duren Kalibata. Bukan kedua-duanya. Hanya sandal sebelah kiri yang terlepas ketika ia mundur memberi jalan kepada penumpang lain, lalu tersenggol tumit seseorang dan jatuh melewati garis kuning. “Waduh.” Laki-laki itu membungkuk. Beberapa orang ikut melihat ke bawah meskipun tidak ada satu pun yang berniat mengambil sandal tersebut. Rel berada beberapa langkah dari mereka, kerikil memenuhi sela bantalan, sementara bagian bawah bibir peron membentuk ruang gelap yang sulit terlihat dari atas. Yabui berdiri tidak jauh dari sana. Ia baru saja turun dari kereta menuju Jakarta…

Nambo: Ujung Jalur yang Bergeser

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Kereta yang membawa Yabui ke Nambo tinggal menyisakan sedikit penumpang ketika melewati Cibinong. Seorang ibu sudah mengumpulkan kantong belanjaannya ke pangkuan, dua anak sekolah berdiri dekat pintu meskipun kereta belum sampai, sementara lelaki di ujung bangku tertidur dengan tas ransel dipeluk seperti bantal. Dari jendela, bangunan semakin jarang dan bidang-bidang hijau muncul lebih lama di antara rumah, gudang, serta jalan yang sesekali berlari sejajar dengan rel. Yabui sebenarnya tidak punya urusan di Nambo. Pagi itu ia hanya ingin melihat ujung salah satu cabang KRL yang selama ini selalu lewat sebagai nama di peta. Bogor masih memberinya gambaran tentang kota, Jakarta…

Dari Cerita Anak Menuju Imajinasi Populer

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Pada 3 Agustus 2026, saya mempertahankan disertasi berjudul “Imajinasi Populer: Proses Imajinasi Penulis Anak” dalam ujian terbuka Program Doktor Linguistik Terapan di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Di ruang sidang itu, perjalanan akademik selama beberapa tahun dipertemukan dengan pertanyaan para penguji. Seluruh data, konsep, model, dan batas teori harus kembali dijelaskan dari dasar empirisnya. Ujian terbuka menjadi ruang pertanggungjawaban atas gagasan yang saya rumuskan sebagai Imajinasi Populer atau IPOP. Dari Cerita Anak Menuju Imajinasi Populer Kegelisahan dari Cerita Anak Penelitian ini berawal dari pembacaan terhadap cerita-cerita yang ditulis anak. Ceritanya beragam, tetapi sejumlah pola terus muncul. Tokoh bergerak melalui peran…

Pasar Minggu Baru: Tas ASI yang Pulang Lebih Dulu

  • Post published:
  • Reading time:13 mins read

Alya menggambar seorang perempuan berlari sambil membawa dua tas. Tas pertama berwarna hitam dan tergantung di bahu. Tas kedua berbentuk kotak, berwarna biru muda, dan dipeluk di depan dada. Di belakang perempuan itu, sebuah kereta telah membuka pintu. “Dia terlambat?” tanya Yabui. Alya mengangguk tanpa mengangkat wajah. Pensil birunya terus bergerak, menebalkan tali pada tas kotak. Pertemuan menulis sore itu diadakan di sebuah ruang belajar dekat Pasar Minggu. Anak-anak duduk mengelilingi meja panjang, menulis tentang perjalanan pulang. Ada yang memilih angkot, sepeda motor, bus kota, dan kereta. Alya satu-satunya yang tidak menggambar rumah sebagai tujuan. Di halaman berikutnya, perempuan yang…

Kampung Bandan: Jam yang Menghitung Penumpang

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Raka menggambar jam lebih besar daripada stasiunnya. Atap peron hanya berupa dua garis miring. Kereta digambar seperti kotak panjang dengan jendela-jendela hitam. Orang-orang di bawahnya kecil dan rapat, sedangkan jam bundar memenuhi hampir separuh halaman. “Jarumnya cuma satu?” tanya Yabui. Raka mengangguk. Pertemuan menulis sore itu hampir selesai. Anak-anak lain mulai memasukkan pensil dan kertas ke dalam tas. Dari halaman rumah belajar terdengar suara orang tua memanggil nama anak masing-masing, bersahutan dengan deru kendaraan dari jalan. Yabui menggeser gambar itu mendekat. Jarum tunggal pada jam mengarah ke bawah, tepat pada seorang anak yang berdiri sendirian di antara kerumunan. “Jam apa…

Depok Baru: Tiga Menit yang Tak Tercatat

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Kereta meninggalkan Stasiun Depok pukul 21.47. Yabui mengetahui waktunya karena baru saja melihat jam di atas pintu gerbong. Angkanya merah dan terlalu terang untuk suasana malam yang mulai sepi. 21.47. Ia menyandarkan punggung, lalu memeriksa ponsel. 21.47 juga. Perjalanan ke Depok Baru seharusnya singkat. Bahkan sebelum orang sempat merasa nyaman di kursi, kereta biasanya sudah melambat lagi. Gerbong malam itu tidak penuh. Seorang perempuan tertidur sambil memeluk tas kerja. Dua mahasiswa berbagi earphone di ujung kursi. Di dekat pintu, seorang anak laki-laki berseragam sekolah berdiri bersama ayahnya. Anak itu masih mengenakan seragam putih abu-abu, meski hari sudah larut. Dasi abu-abunya…

Depok: Penumpang yang Menolak Sampai

  • Post published:
  • Reading time:7 mins read

Kereta dari Citayam baru saja melaju ketika laki-laki itu berdiri. Sejak tadi ia duduk di dekat pintu sambil memangku tas kertas cokelat. Bagian atasnya dilipat dua kali, lalu direkatkan dengan pita kuning yang mulai kusut. Sesekali ia merapikan lipatan itu, memeriksa jam tangan, kemudian menoleh ke layar informasi di atas pintu. Stasiun berikutnya: Depok. Yabui sempat mengira laki-laki itu takut kelewatan. Ia sudah berdiri bahkan sebelum kereta mulai melambat. Namun, begitu papan nama Depok terlihat dari balik kaca, laki-laki itu malah mundur. Pintu terbuka. Penumpang di belakangnya mulai bergerak keluar. “Turun, Pak?” tanya seorang pemuda. Laki-laki itu tidak menjawab. Tatapannya…

Stasiun Universitas Pancasila: Orang yang Mengetahui Namamu

  • Post published:
  • Reading time:12 mins read

Kereta meninggalkan Lenteng Agung ketika Maria memeriksa layar ponselnya untuk ketiga kali. Nama pengemudi masih sama. Deni. Nomor kendaraan masih sama. B 4362 KTZ. Foto pengemudinya menampilkan lelaki berkumis tipis dengan jaket hijau. Titik penjemputan berada di sisi barat Stasiun Universitas Pancasila, dekat minimarket yang lampunya biasa terlihat dari pintu keluar. Maria memperbesar peta, lalu mengambil tangkapan layar. Baterai ponselnya tinggal sembilan persen. Di sebelahnya, Yabui berdiri sambil menahan tas hitam pada satu bahu. Gerbong tidak terlalu penuh. Sebagian besar penumpang sudah turun di Universitas Indonesia dan Lenteng Agung. Beberapa mahasiswa masih duduk dengan laptop terbuka, sedangkan dua pekerja tertidur…

End of content

No more pages to load