Stasiun Universitas Indonesia: Nama yang Tidak Dipanggil
Kereta meninggalkan Pondok Cina ketika sebagian penumpang sudah berdiri dekat pintu. Yabui menyelipkan ponsel ke saku. Tas hitam tetap menggantung pada satu bahu. Di hadapannya, tujuh mahasiswa berdiri berdekatan sambil mengenakan tali identitas berwarna kuning. Mereka membawa map, botol minum, dan kantong-kantong kecil berisi perlengkapan kegiatan kampus. Seorang perempuan berkacamata menghitung mereka dengan telunjuk. “Rani.” “Hadir.” “Dito.” “Hadir.” “Nala.” “Hadir.” Nama-nama dipanggil di antara bunyi roda dan percakapan penumpang. Setiap orang menjawab sambil mengangkat tangan. Beberapa tertawa ketika salah satu dari mereka menjawab terlalu keras. Di luar lingkaran kecil itu, seorang mahasiswa berdiri sendirian. Ia mengenakan kemeja putih, celana hitam,…