Stasiun Universitas Indonesia: Nama yang Tidak Dipanggil

  • Post published:
  • Reading time:13 mins read

Kereta meninggalkan Pondok Cina ketika sebagian penumpang sudah berdiri dekat pintu. Yabui menyelipkan ponsel ke saku. Tas hitam tetap menggantung pada satu bahu. Di hadapannya, tujuh mahasiswa berdiri berdekatan sambil mengenakan tali identitas berwarna kuning. Mereka membawa map, botol minum, dan kantong-kantong kecil berisi perlengkapan kegiatan kampus. Seorang perempuan berkacamata menghitung mereka dengan telunjuk. “Rani.” “Hadir.” “Dito.” “Hadir.” “Nala.” “Hadir.” Nama-nama dipanggil di antara bunyi roda dan percakapan penumpang. Setiap orang menjawab sambil mengangkat tangan. Beberapa tertawa ketika salah satu dari mereka menjawab terlalu keras. Di luar lingkaran kecil itu, seorang mahasiswa berdiri sendirian. Ia mengenakan kemeja putih, celana hitam,…

Stasiun Pondok Cina: Nama-Nama yang Tidak Pulang

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Kereta melambat setelah melewati Universitas Indonesia. Yabui yang sejak tadi berdiri dekat pintu mengangkat wajah dari layar ponsel. Di luar jendela, deretan bangunan, atap rumah, dan lampu-lampu kos bergerak semakin pelan. Beberapa penumpang mulai merapat ke pintu. Tas disampirkan kembali, earphone dilepas sebelah, lalu tubuh-tubuh yang semula diam mendadak bersiap turun. Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara. “Stasiun berikutnya, Pondok Cina.” Seorang mahasiswa di depan Yabui langsung menyimpan laptop ke dalam tas. Dua perempuan di sebelah pintu masih membicarakan tugas kelompok, tetapi suara mereka terpotong ketika kereta mengerem lebih keras. Pintu terbuka. Udara peron masuk bersama suara langkah dan percakapan…

Stasiun Depok Baru: Pintu yang Selalu Terbuka

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Yabui tiba di Stasiun Depok Baru menjelang pukul delapan malam. Hujan sudah berhenti, tetapi air masih menetes dari ujung atap peron. Lantai licin memantulkan cahaya lampu, membuat langkah para penumpang tampak seperti bayangan yang bergerak di permukaan kaca. Kereta datang dan pergi dalam jeda pendek. Pintu terbuka, orang-orang turun, lalu arus tubuh berpindah menuju tangga dan pintu keluar. Di dekat tiang nomor tiga, seorang anak perempuan berdiri sambil memegang map plastik biru. Usianya sekitar dua belas tahun. Rambutnya dikuncir rendah, seragam sekolahnya tertutup jaket tipis, dan kedua sepatunya tampak basah. Setiap kali kereta berhenti, ia maju beberapa langkah, memperhatikan pintu-pintu…

Stasiun Depok: Anak yang Menulis Kedatangan

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Yabui tiba di Stasiun Depok menjelang petang, ketika langit menggantung rendah di atas atap peron dan udara menyimpan bau hujan yang belum jatuh. Kereta dari arah Jakarta baru saja membuka pintu. Penumpang tumpah ke peron, berjalan cepat menuju tangga dan pintu keluar. Sebagian menunduk menatap layar ponsel. Sebagian lain saling mendahului sambil merapatkan tas ke dada. Di tengah arus itu, seorang anak laki-laki tetap duduk di ujung bangku. Usianya kira-kira sebelas tahun. Seragam sekolahnya sudah kusut. Sebuah buku tulis terbuka di atas paha, sementara tangan kanannya bergerak cepat menorehkan kalimat. Anak itu tidak terlihat sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Ia beberapa…

Citayam: Sepatu Putih di Jalur Pulang

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Nisa datang bersama ibunya dengan sepeda motor. Mereka berhenti di depan kedai kecil tidak jauh dari Stasiun Citayam. Ibunya memarkir motor di bawah pohon, lalu duduk di meja sebelah sambil memeriksa pesan di telepon. Nisa membawa buku gambar tipis berwarna biru. “Katanya kamu menulis cerita dari perjalanan pulang,” kata Yabui. Nisa mengangguk. Ia membuka halaman tengah. Gambar pertama memperlihatkan jalan sempit selepas hujan. Ada pagar rumah, saluran air, tiang listrik, dan sepasang sepatu putih di tepi jalan. Tidak ada orang di dekatnya. “Ini sepatu siapa?” “Enggak tahu.” “Pernah lihat langsung?” Nisa kembali mengangguk. “Di mana?” “Dekat jalan belakang stasiun.” “Ditinggal…

Bojong Gede: Payung yang Tidak Pernah Terbuka

  • Post published:
  • Reading time:8 mins read

Payung itu diletakkan Rara di atas meja. Warnanya hitam. Ukurannya kecil, jenis payung lipat yang biasa dimasukkan ke dalam tas. Tali pengikatnya sudah kusam, sedangkan gagangnya memiliki retakan tipis di bagian tengah. “Punya kamu?” tanya Yabui. Rara menggeleng. Mereka duduk di warung dekat pintu masuk Stasiun Bojong Gede. Dari tempat itu, suara pengumuman kereta masih terdengar, bercampur dengan klakson angkot dan suara pedagang yang sedang membereskan dagangan. “Punya siapa?” “Enggak tahu.” “Terus kenapa kamu bawa?” “Tadi ada di kursi.” Rara menunjuk bangku plastik di sebelah warung. Ia menemukan payung itu ketika datang bersama ibunya. Karena khawatir tertinggal, ia membawanya ke…

Cilebut: Rumah yang Mengikuti Kereta

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Nara menunjukkan gambar rumah itu tanpa banyak penjelasan. Atapnya miring. Cat temboknya putih kusam. Ada dua jendela di depan dan satu pohon pisang di sisi kanan. Di antara kedua jendela itu, sebuah pintu digambar dengan pensil hitam sampai nyaris menembus kertas. “Rumah siapa?” tanya Yabui. Nara menggeleng. Mereka duduk di teras tempat les yang hanya berjarak beberapa gang dari Stasiun Cilebut. Sore baru selesai diguyur hujan. Air masih menetes dari talang, sedangkan dari kejauhan terdengar suara kereta melintas. “Aku lihat dari kereta,” kata Nara. “Di mana?” “Enggak tahu.” “Dekat Cilebut?” “Awalnya.” Yabui mengamati gambar itu lagi. “Awalnya?” Nara membuka buku…

Bogor: Orang Terakhir yang Masuk

  • Post published:
  • Reading time:11 mins read

Saka menggambar sebuah pintu. Dua garis tegak. Satu garis mendatar di atasnya. Di depan pintu itu berdiri seorang anak kecil dengan tas sekolah. Di belakang anak tersebut, Saka menggambar satu bayangan panjang. Yabui mengamati gambar itu cukup lama. “Bayangan siapa?” Saka tidak langsung menjawab. Ia masih menekan ujung pensil pada kertas, mempergelap bagian kaki anak itu. Mereka duduk di sebuah kedai roti tidak jauh dari Stasiun Bogor. Dari jendela, gerbang masuk stasiun terlihat dipenuhi payung. Hujan turun sejak sore, membuat jalanan berkilat oleh lampu kendaraan dan papan iklan. “Bayangannya punya anak itu?” tanya Yabui lagi. “Bukan.” “Punya siapa?” “Orang yang…

Ketika Babi Ngepet Masuk Aplikasi: Membaca Rusun Goyang sebagai Pertunjukan Budaya Populer

  • Post published:
  • Reading time:9 mins read

Harga sayur naik. Cicilan bank keliling belum dibayar. Warga saling mengawasi dari halaman rumah susun. Lalu seekor babi hitam melintas dan membuat satu lingkungan mendadak gaduh. Namun, babi yang muncul dalam Rusun Goyang bukan babi ngepet seperti yang hidup dalam cerita-cerita lama. Ia tidak lagi bergantung pada lilin, kemenyan, atau ritual di ruang gelap. Babi ngepet itu telah memiliki aplikasi. Cukup mengunduh, menyetujui kontrak, lalu mengirim suami mencari uang. Ketika situasi mulai berbahaya, sebuah notifikasi muncul di telepon genggam. Sang suami dapat dipanggil pulang melalui satu tombol. Gagasan itu terdengar konyol. Justru dari kekonyolan tersebut, Rusun Goyang mulai memperlihatkan sesuatu…

Penumpang Misterius di Stasiun Cawang

  • Post published:
  • Reading time:10 mins read

Malam setelah hujan selalu meninggalkan rasa yang aneh di stasiun. Lantainya basah, lampu-lampunya tampak lebih buram, dan suara langkah orang terdengar lebih jelas daripada biasanya. Di Stasiun Cawang, malam itu, suasana terasa lebih lengang. Tidak benar-benar kosong, tetapi juga tidak cukup ramai untuk membuat seseorang merasa aman. Beberapa penumpang duduk berjauhan di bangku peron. Ada yang menunduk menatap ponsel. Ada yang menyandarkan kepala ke tiang. Ada pula yang berdiri dekat garis kuning, menunggu kereta terakhir dengan wajah lelah. Semua tampak seperti orang-orang kota pada umumnya: ingin cepat pulang, ingin cepat sampai, ingin segera berhenti berpikir. Dimas termasuk salah satunya. Jaket…

End of content

No more pages to load