Kereta Terakhir dari Stasiun Ancol

Malam itu, Stasiun Ancol tampak seperti tempat yang lupa ditinggalkan.

Peron hampir kosong. Hanya satu lampu tua di ujung jalur yang terus berkedip, menyala sebentar, lalu padam sekejap, seolah-olah ada seseorang yang sedang memberi tanda dari kejauhan. Di luar pagar stasiun, angin dari arah laut berembus pelan, membawa bau asin yang bercampur dengan aroma besi basah dan lantai peron yang lembap.

Budi duduk di bangku kayu dekat ruang petugas. Jaket birunya tertutup sedikit debu. Di tangan kanannya ada gelas kopi plastik yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Ia sudah hampir lima tahun menjaga stasiun itu, dan selama itu pula ia belajar bahwa malam punya cara sendiri untuk membuat benda-benda biasa terdengar mencurigakan.

Kereta Terakhir Stasiun Ancol

Suara kabel yang bergesek bisa terdengar seperti bisikan.

Suara tikus di bawah bangku bisa terdengar seperti langkah kaki.

Dan suara rel yang memuai setelah hujan bisa terdengar seperti kereta yang datang dari tempat yang jauh.

Budi menatap jam dinding di atas papan jadwal.

11.45 malam.

Ia mengerutkan dahi.

Jarum jam itu seharusnya bergerak. Tapi sejak tadi, jarum panjangnya tetap menunjuk angka sembilan, sementara jarum pendeknya tertahan di antara sebelas dan dua belas. Budi bangkit, mendekat, lalu mengetuk kaca jam dengan ujung jarinya.

Tok.

Tok.

Tidak bergerak.

“Jam tua,” gumamnya.

Ia kembali duduk, mencoba tidak memikirkannya. Dalam pekerjaan seperti ini, terlalu banyak memikirkan hal kecil hanya akan membuat malam terasa lebih panjang.

Namun, malam itu memang terasa berbeda.

Biasanya, menjelang tengah malam, suara kota masih terdengar samar dari kejauhan. Klakson motor, suara orang tertawa, atau deru kendaraan dari jalan besar. Tapi malam itu, semua suara seperti berhenti sebelum mencapai stasiun. Seolah-olah Stasiun Ancol berdiri sendiri di tengah ruang kosong yang tidak terhubung ke mana pun.

Lalu pengeras suara di sudut peron mendengung.

Budi menoleh.

Suara itu muncul tiba-tiba, serak dan patah-patah, seperti kaset lama yang diputar setelah bertahun-tahun disimpan.

“Perhatian…”

Budi berdiri.

“Kereta terakhir dari Stasiun Ancol akan segera tiba. Mohon berhati-hati.”

Setelah itu, pengeras suara kembali mati.

Budi memandangi kotak pengeras suara itu cukup lama. Ia tahu jadwal malam. Ia hafal kereta mana yang masuk, mana yang lewat, mana yang sudah selesai beroperasi. Seharusnya setelah pukul sebelas lewat, tidak ada lagi kereta masuk ke jalur itu.

Ia mengambil ponsel dari saku, membuka pesan jadwal dari supervisor.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada pemberitahuan tambahan.

Tidak ada kereta terakhir pukul dua belas.

Budi menelan ludah. Ia hampir menelepon ruang kendali, tetapi sebelum jarinya menekan layar, terdengar bunyi dari kejauhan.

Dari arah rel.

Mula-mula hanya getaran kecil, seperti dengung yang merambat di bawah lantai. Lalu semakin jelas. Roda logam bergesekan dengan rel, panjang dan berat, memecah sunyi malam.

Lampu di ujung peron berkedip lebih cepat.

Bau asin dari arah laut mendadak semakin tajam.

Budi berdiri kaku di tepi peron.

Dari gelap jalur, sebuah kereta muncul perlahan.

Tidak ada pengumuman kedatangan di papan digital. Tidak ada suara petugas dari radio. Tidak ada cahaya terang dari kabin masinis seperti kereta biasa. Kereta itu datang dengan lampu depan yang redup, seolah-olah cahaya di dalamnya sudah kehabisan tenaga.

Ketika kereta berhenti, suara remnya melengking panjang.

Pintu-pintu gerbong terbuka satu per satu.

Hembusan dingin keluar dari dalam.

Budi memperhatikan gerbong-gerbong itu. Semua tampak kosong. Kursi-kursinya sunyi. Pegangan tangan bergoyang pelan, padahal tidak ada angin di dalam. Lampu gerbong menyala redup, kekuningan, membuat lorong kereta tampak lebih panjang daripada seharusnya.

Lalu seseorang turun dari gerbong kedua.

Seorang pria tua.

Tubuhnya kurus. Punggungnya sedikit membungkuk. Ia memakai jas panjang hitam yang tampak kebesaran, dan di tangan kanannya ada tongkat kayu tua. Setiap kali tongkat itu menyentuh lantai peron, terdengar bunyi kering.

Krek.

Ia melangkah lagi.

Krek.

Budi memperhatikan pria itu dalam diam.

Ada sesuatu yang ganjil.

Lampu di atas peron menyinari tubuh pria itu, tetapi di lantai tidak ada bayangan. Sepatu hitamnya menyentuh lantai basah, tetapi tidak meninggalkan jejak. Bahkan ujung tongkatnya, yang berkali-kali diketukkan ke peron, tidak membuat genangan air bergetar sedikit pun.

Pria itu berjalan mendekati Budi.

Krek.

Krek.

Krek.

Ia berhenti beberapa langkah di depannya.

Wajahnya tua, tetapi sulit diingat. Seolah-olah setiap bagian wajah itu berubah ketika Budi mencoba memperhatikannya terlalu lama. Matanya cekung. Bibirnya pucat. Di kepalanya ada topi gelap yang menutupi sebagian dahi.

“Kereta malam ini sepi, ya?” katanya.

Suaranya rendah. Lembut. Tapi ada gema aneh di belakangnya, seperti suara itu tidak hanya keluar dari mulutnya, melainkan juga dari pengeras suara tua di sudut peron.

Budi tidak langsung menjawab.

“Iya, Pak,” katanya akhirnya.

Pria tua itu tersenyum. Senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya.

“Sepi itu baik,” katanya. “Kalau terlalu ramai, kadang kita sulit tahu siapa yang masih hidup.”

Budi merasakan tengkuknya dingin.

“Bapak turun di sini?” tanya Budi, mencoba terdengar biasa.

Pria tua itu menoleh ke arah gerbong terakhir. Gerakannya lambat, nyaris kaku.

“Kadang turun,” jawabnya. “Kadang naik lagi.”

Budi tidak paham harus mengatakan apa.

Pria itu kembali menatapnya.

“Kamu petugas baru?”

“Sudah hampir lima tahun, Pak.”

“Oh.” Pria tua itu mengangguk pelan. “Berarti belum terlalu lama.”

Belum terlalu lama.

Kalimat itu terdengar aneh. Lima tahun bagi Budi bukan waktu sebentar. Lima tahun cukup untuk mengenal suara rel, jadwal kereta, wajah penumpang tetap, bahkan lampu mana yang akan mati lebih dulu saat hujan turun.

Tapi di mulut pria tua itu, lima tahun terdengar seperti hitungan kecil.

Seperti seseorang yang sedang membandingkannya dengan waktu yang jauh lebih panjang.

“Jangan tinggalkan stasiun ini dulu,” kata pria tua itu tiba-tiba.

Budi mengerutkan dahi.

“Maksud Bapak?”

Pria tua itu menunduk sedikit, lalu mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai.

Krek.

“Kamu belum tahu apa yang turun malam ini.”

Sebelum Budi sempat bertanya lagi, pria itu berjalan melewatinya. Bau dingin seperti besi tua tertinggal di udara. Budi menoleh mengikuti langkahnya, tetapi pria itu tidak menuju pintu keluar. Ia berjalan ke arah ujung peron, ke bagian yang lampunya mati.

Krek.

Krek.

Krek.

Lalu suaranya hilang.

Budi berdiri terpaku.

Ia menatap gerbong-gerbong yang masih terbuka. Tidak ada penumpang lain. Tidak ada masinis yang turun. Tidak ada tanda bahwa kereta itu akan segera berangkat.

Radio kecil di meja petugas tiba-tiba berbunyi.

Kresek.

Budi tersentak, lalu bergegas mengambilnya.

“Halo? Pusat? Ini Ancol.”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara statis.

Kresek.

Kresek.

Lalu di antara suara itu, terdengar bisikan pelan.

“Gerbong terakhir…”

Budi menahan napas.

“Halo? Ulangi?”

Suara itu tidak kembali.

Budi menoleh ke kereta.

Gerbong terakhir berada di ujung peron, sedikit melewati lampu yang berkedip-kedip. Dari tempatnya berdiri, bagian dalam gerbong itu tampak lebih gelap daripada gerbong lainnya. Lampunya mati sebagian. Pintu terbuka. Tidak ada suara.

Budi tahu ia seharusnya tidak mendekat.

Ia juga tahu bahwa sebagai petugas, ia harus memeriksa.

Ada perbedaan tipis antara kewajiban dan rasa ingin tahu. Malam itu, keduanya bercampur sampai Budi tidak bisa membedakannya.

Ia berjalan pelan menuju gerbong terakhir.

Setiap langkah membuat suara sepatunya menggema di peron. Angin dari laut berembus lagi, kali ini lebih dingin. Bau asin berubah menjadi bau lembap yang lebih berat, seperti pakaian basah yang terlalu lama disimpan di ruang tertutup.

Ketika Budi sampai di depan pintu gerbong terakhir, ia berhenti.

Di dalam, udara tampak berkabut.

Budi memegang sisi pintu. Besinya dingin sekali, lebih dingin daripada seharusnya. Ia melangkah masuk.

Lampu gerbong berkelip.

Satu kali.

Dua kali.

Lalu menyala redup.

Di sudut paling belakang, seseorang duduk sendirian.

Sosok itu memakai jas panjang hitam. Di kepalanya ada topi gelap yang menunduk rendah, menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya terlipat di atas tongkat kayu tua yang berdiri di antara kedua lututnya.

Budi berhenti bernapas.

Tongkat itu.

Jas itu.

Topi itu.

Sosok itu tidak bergerak, tetapi Budi tahu ia sedang diperhatikan.

“Selamat malam,” kata sosok itu.

Suaranya sama.

Rendah. Lembut. Bergema seperti keluar dari pengeras suara tua.

Budi mundur satu langkah.

“Bapak tadi…”

Sosok itu mengangkat wajahnya sedikit.

Di bawah topi, Budi melihat wajah pria tua tadi. Tapi hanya sebentar. Sebab pada kedipan lampu berikutnya, wajah itu tampak lebih muda. Kedipan berikutnya, wajah itu tampak hangus di satu sisi. Kedipan berikutnya lagi, wajah itu menjadi gelap seluruhnya, seperti lubang yang menelan cahaya.

Budi merasa lututnya melemas.

“Siapa Anda?” tanyanya.

Sosok itu tersenyum.

“Petugas,” jawabnya.

Budi menggeleng pelan.

“Saya petugas di sini.”

“Iya,” kata sosok itu. “Sekarang.”

Pegangan tangan di sepanjang gerbong tiba-tiba bergoyang bersamaan.

Ting.

Ting.

Ting.

Seperti ada banyak penumpang tak terlihat yang baru saja berdiri.

Budi menoleh ke kursi-kursi kosong. Dalam pantulan kaca jendela, ia melihat bayangan samar orang-orang duduk berderet. Seorang ibu memeluk anak kecil. Seorang laki-laki muda menunduk dengan tas di pangkuan. Seorang perempuan berdiri dekat pintu, wajahnya menghadap ke luar, tetapi matanya tidak ada.

Ketika Budi menoleh langsung ke kursi, semuanya kosong.

Ia kembali melihat kaca.

Mereka ada di sana.

Diam.

Menatapnya dari pantulan.

Sosok berjas mengetukkan tongkatnya ke lantai gerbong.

Krek.

Semua pantulan itu menghilang.

“Kamu dengar pengumuman tadi?” tanya sosok itu.

Budi tidak menjawab.

“Kereta terakhir selalu tiba tepat waktu,” lanjutnya. “Yang berubah hanya orang-orang yang menunggunya.”

Budi mundur lagi. Punggungnya hampir menyentuh pintu.

“Saya harus lapor ke pusat,” katanya, meski suaranya terdengar asing bagi dirinya sendiri.

Sosok itu tertawa kecil.

“Sudah banyak yang melapor.”

Lampu gerbong padam sesaat.

Dalam gelap, Budi mendengar suara jeritan. Bukan satu, melainkan banyak. Suara rem kereta. Suara logam patah. Suara kaca pecah. Suara orang memanggil nama seseorang. Semua datang sekaligus, menghantam kepalanya seperti ingatan yang bukan miliknya.

Lalu lampu menyala kembali.

Sosok itu kini berdiri di depan Budi.

Terlalu dekat.

Budi tidak melihatnya berjalan.

“Jangan tinggalkan stasiun ini,” kata sosok itu. Kali ini suaranya tidak lagi seperti nasihat. Lebih seperti perintah yang sudah diulang selama bertahun-tahun.

Budi mendorong tubuhnya keluar dari gerbong.

Ia hampir jatuh ke peron, lalu berlari menjauh. Di belakangnya, pintu-pintu kereta tertutup perlahan, satu per satu.

Duk.

Duk.

Duk.

Gerbong terakhir tertutup paling akhir.

Sebelum pintunya menutup sempurna, Budi melihat sosok itu berdiri di balik kaca. Wajahnya kembali seperti pria tua tadi. Ia mengangkat satu tangan, seolah memberi salam.

Lalu kereta bergerak.

Tanpa suara peluit.

Tanpa pengumuman.

Roda-rodanya berderak pelan, membawa gerbong-gerbong itu kembali ke arah gelap. Lampu depan kereta semakin redup, lalu hilang di tikungan.

Peron kembali sepi.

Jam dinding masih menunjukkan pukul 11.45.

Budi berdiri lama di tengah peron. Tangannya gemetar. Kopi dinginnya masih tertinggal di bangku. Radio kecil di meja petugas sudah mati.

Lalu ponselnya berbunyi.

Nama supervisor muncul di layar.

Budi mengangkatnya dengan tangan kaku.

“Bud, kamu masih di stasiun?”

“Iya, Pak.”

Di seberang, supervisor terdiam sejenak.

“Kamu nggak apa-apa?”

Budi menatap rel yang kosong.

“Pak,” katanya pelan, “tadi ada kereta masuk.”

Hening.

Hening yang terlalu panjang.

“Jam berapa?” tanya supervisor akhirnya.

Budi menoleh ke jam dinding.

“Sebelas empat lima.”

Supervisor menarik napas berat.

“Budi, dengar saya baik-baik. Malam ini nggak ada jadwal kereta masuk Ancol setelah pukul sebelas.”

Budi memejamkan mata.

“Tapi tadi ada, Pak.”

“Nomor rangkaiannya kelihatan?”

Budi mencoba mengingat. Di badan gerbong terakhir tadi, ada angka tua yang tertutup karat. Ia sempat melihatnya ketika kereta berhenti, tetapi saat itu ia belum memikirkannya.

Angka itu muncul di kepalanya seperti bekas luka.

“Bud?” suara supervisor terdengar semakin cemas.

Budi tidak menjawab.

Supervisor melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Dulu ada kecelakaan di jalur Ancol. Tahun 1995. Kereta malam. Banyak korban. Setelah itu, ada beberapa laporan aneh, tapi sudah lama nggak terdengar lagi.”

Budi membuka mata.

Di ujung peron, lampu tua kembali berkedip.

“Pak,” katanya, “di laporan dulu… ada petugas juga?”

Supervisor tidak langsung menjawab.

“Ada,” katanya akhirnya. “Petugas malam. Katanya dia sempat bantu evakuasi, tapi setelah itu hilang. Nggak pernah ditemukan.”

Budi menatap bangku kayu tempat pria tua tadi sempat melewatinya.

“Apa dia pakai jas hitam?” tanya Budi.

Suara supervisor menjadi pelan sekali.

“Kamu lihat dia?”

Budi tidak menjawab.

Dari pengeras suara di sudut peron, terdengar dengung pendek.

Kresek.

Kresek.

Lalu suara serak itu muncul lagi.

“Perhatian…”

Budi menurunkan ponselnya perlahan.

“Kereta terakhir dari Stasiun Ancol akan segera tiba. Mohon berhati-hati.”

Budi menatap rel.

Jauh di dalam gelap, sebuah cahaya redup mulai muncul.

Di lantai peron, tepat di depannya, terdengar bunyi tongkat.

Krek.

Budi berbalik cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Tetapi di kaca jendela ruang petugas, ia melihat pantulan seorang pria tua berdiri di belakangnya. Jasnya panjang. Topinya gelap. Tangannya memegang tongkat kayu.

Wajah pria itu tersenyum samar.

Ketika Budi menoleh lagi, pantulan itu hilang.

Malam berikutnya, Budi tidak kembali ke Stasiun Ancol.

Ia mengirim pesan singkat kepada supervisor, mengatakan bahwa ia sakit dan butuh istirahat. Setelah itu, ia mematikan ponsel, menutup semua tirai rumahnya, dan mencoba tidur lebih awal.

Tapi pukul 11.45 malam, ia terbangun.

Bukan karena mimpi.

Bukan karena suara dari luar.

Melainkan karena bau asin memenuhi kamarnya.

Budi duduk di tepi ranjang. Jantungnya berdetak keras. Dari meja kecil di samping tempat tidur, ponselnya menyala sendiri, padahal ia yakin sudah mematikannya.

Layarnya gelap.

Tidak ada panggilan.

Tidak ada pesan.

Hanya suara pengeras tua yang keluar dari speaker kecilnya.

“Perhatian, kereta terakhir dari Stasiun Ancol akan segera tiba.”

Budi menatap layar ponsel itu, tidak mampu bergerak.

Lalu terdengar suara tongkat dari luar pintu kamar.

Krek.

Diam.

Krek.

Semakin dekat.

Krek.

Budi menahan napas.

Di bawah celah pintu, tidak ada bayangan siapa pun. Tapi bau laut semakin kuat, dan udara kamar menjadi sangat dingin.

Suara itu berhenti tepat di depan pintu.

Lalu seseorang mengetuk pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara pria tua itu terdengar dari balik pintu.

“Kereta malam ini sepi, ya?”

Sejak hari itu, Budi tidak pernah bercerita panjang kepada siapa pun. Ketika rekan-rekannya bertanya kenapa ia berhenti, ia hanya tertawa kecil dan menggeleng.

“Kalau kalian lihat kereta terakhir dari Stasiun Ancol,” katanya, “jangan naik.”

Mereka mengira Budi bercanda.

Tapi beberapa malam setelah itu, seorang petugas baru mengaku melihat pria tua bertongkat berjalan di peron menjelang tengah malam. Pria itu turun dari kereta yang tidak tercatat di jadwal, lalu bertanya dengan suara pelan apakah stasiun masih dijaga.

Petugas baru itu tidak menjawab.

Ia hanya memperhatikan satu hal.

Ketika pria tua itu berjalan melewatinya, tubuhnya tidak punya bayangan.

Dan dari gerbong terakhir, seorang pria berjas hitam berdiri di balik kaca, menunggu dengan senyum yang sama.

Selesai.