Seorang mahasiswa ingin membuat media pembelajaran untuk skripsinya. Ia sudah membayangkan bentuk medianya. Mungkin video pembelajaran tari, permainan interaktif untuk siswa sekolah dasar, atau media digital untuk membantu siswa menulis cerita.
Ketika dosen bertanya, “Sudah membaca penelitian sebelumnya?”, ia membuka Google Scholar.
Kata media pembelajaran diketik pada kotak pencarian. Beberapa judul langsung muncul. Satu artikel dibuka, lalu artikel lain, kemudian artikel berikutnya. Ada yang sesuai dengan topik, ada yang hanya mirip judulnya. Sebagian dapat diunduh, sebagian lainnya hanya memperlihatkan abstrak.

Setelah cukup lama mencari, folder unduhannya mulai penuh. Namun, ketika diminta menjelaskan penelitian apa saja yang sudah ditemukan, ia masih harus membuka file satu per satu.
Masalahnya bukan karena ia tidak bisa mencari jurnal. Ia sudah menemukan banyak artikel. Masalahnya adalah hasil pencarian itu belum tertata menjadi bahan yang mudah dibaca dan dipilih.
Di sinilah Publish or Perish (PoP) dapat membantu.
Aplikasi ini memungkinkan kita mencari informasi publikasi ilmiah, melihat data sitasi, lalu menyimpan hasilnya dalam satu file. Kita tidak perlu mencatat judul, penulis, tahun, dan informasi publikasi satu per satu.
Namun, sebelum menggunakannya, ada satu hal yang perlu dipahami. Publish or Perish bukan aplikasi yang otomatis memilihkan jurnal terbaik untuk skripsi. Ia membantu mengumpulkan dan membaca informasi awal. Keputusan apakah sebuah artikel relevan dan layak dijadikan rujukan tetap membutuhkan pemeriksaan kita sendiri.
Dalam latihan ini, kita akan menggunakan satu kata kunci yang cukup dekat dengan berbagai bidang pendidikan: learning media.
Tujuan kita sederhana. Setelah mengikuti langkah-langkahnya, kamu diharapkan memiliki file berisi hasil pencarian literatur, memahami beberapa angka yang ditampilkan Publish or Perish, dan mulai menentukan artikel mana yang perlu dibaca lebih lanjut.
Mengapa Kita Memilih Learning Media?
Bayangkan tiga mahasiswa dari program studi yang berbeda.
Mahasiswa seni tari ingin mengetahui bagaimana video dapat membantu siswa mempelajari rangkaian gerak. Ia tertarik pada kemungkinan membuat media yang memperlihatkan gerakan dari beberapa sudut pengambilan gambar.
Mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia sedang memikirkan media pembelajaran menulis cerpen. Ia ingin mengetahui apakah penggunaan gambar, cerita interaktif, atau aplikasi digital dapat membantu siswa mengembangkan gagasan.
Sementara itu, mahasiswa PGSD ingin membuat media pembelajaran untuk siswa kelas III. Bentuknya mungkin permainan edukatif, kartu bergambar, atau media interaktif yang membantu siswa memahami materi pelajaran.
Ketiganya memiliki minat berbeda, tetapi sama-sama berurusan dengan media pembelajaran.
Dalam pencarian literatur berbahasa Inggris, salah satu istilah yang bisa digunakan adalah learning media.
Istilah ini cukup luas untuk menjadi pintu masuk. Kita belum perlu menentukan apakah medianya berbentuk video, gambar, permainan, aplikasi, atau benda konkret.
Mengapa tidak langsung menggunakan kata kunci yang sangat khusus?
Sebenarnya boleh saja. Jika sejak awal kamu sudah ingin meneliti video pembelajaran tari, misalnya, pencarian dapat langsung menggunakan istilah yang berkaitan dengan tari dan video pembelajaran.
Namun, untuk latihan pertama, kata kunci yang luas membantu kita mengenali cara kerja aplikasi sekaligus melihat beragam penelitian yang mungkin muncul.
Ada konsekuensinya. Karena cakupannya luas, hasil pencarian juga bisa sangat beragam. Sebagian mungkin benar-benar membahas media pembelajaran. Sebagian lainnya mungkin membahas teknologi pendidikan secara umum atau topik yang kurang berhubungan dengan rencana penelitianmu.
Kita akan belajar membedakannya setelah hasil pencarian muncul.
Mengenal Publish or Perish
Publish or Perish merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh Anne-Wil Harzing untuk membantu pencarian dan analisis informasi publikasi akademik.
Aplikasi ini dapat mengambil informasi dari sejumlah sumber akademik yang didukungnya, termasuk Google Scholar. Hasilnya kemudian ditampilkan dalam bentuk daftar publikasi dan sejumlah ukuran sitasi.
Sitasi adalah penyebutan atau pengutipan suatu karya oleh karya ilmiah lain. Ketika sebuah artikel digunakan sebagai rujukan dalam penelitian berikutnya, artikel tersebut dapat memperoleh tambahan sitasi yang tercatat dalam basis data tertentu.
Melalui Publish or Perish, kita dapat melihat informasi seperti judul artikel, nama penulis, tahun publikasi, sumber publikasi, dan jumlah sitasi.
Untuk mahasiswa yang baru menyusun proposal, informasi tersebut berguna sebagai bahan awal mengenali penelitian terdahulu.
Misalnya, kita ingin mengetahui apakah media pembelajaran interaktif pernah diteliti sebelumnya. Kita dapat mencari publikasi yang berkaitan dengan topik tersebut, kemudian memeriksa bagaimana penelitian dilakukan, siapa partisipannya, dan apa hasil yang dilaporkan.
Publish or Perish belum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara lengkap. Akan tetapi, aplikasi ini membantu menemukan pintu masuk menuju artikel yang perlu dibaca.
Jika belum memiliki aplikasinya, kamu dapat mengunjungi situs resmi Publish or Perish di Harzing.com, kemudian mengikuti petunjuk pengunduhan dan pemasangan sesuai perangkat yang digunakan.
Tampilan aplikasi dapat mengalami perubahan mengikuti pembaruan versi. Karena itu, perhatikan nama fitur dan fungsi utamanya, bukan hanya posisi tombol pada gambar.
Memulai Pencarian Literatur
Sekarang kita mulai latihan.
Buka Publish or Perish, lalu pilih sumber pencarian Google Scholar.
Google Scholar digunakan dalam contoh ini karena kita ingin melihat publikasi yang ditemukan melalui layanan tersebut. Publish or Perish membantu mengambil dan menyajikan hasilnya dalam bentuk yang lebih mudah dikelola.
Setelah memilih Google Scholar, perhatikan beberapa kolom pencarian yang tersedia.
Ada kolom untuk nama penulis, nama publikasi, kata dalam judul, kata kunci, dan batas tahun.
Kita tidak perlu mengisi semuanya.
Untuk latihan ini, gunakan pengaturan berikut:
| Pengaturan | Isi |
|---|---|
| Sumber | Google Scholar |
| Keywords | learning media |
| Tahun awal | 2022 |
| Tahun akhir | 2026 |
| Maximum results | 500 |
Kolom nama penulis dan nama publikasi dapat dibiarkan kosong karena kita belum membatasi pencarian pada penulis atau jurnal tertentu.
Rentang 2022–2026 dipilih agar latihan menggunakan publikasi dalam periode yang relatif baru. Rentang ini bukan aturan bahwa penelitian harus memakai artikel lima tahun terakhir. Literatur yang lebih lama tetap dapat penting, terutama jika menjadi dasar teori atau memperkenalkan konsep tertentu.
Pada contoh pencarian, pilihan CITATIONS dan Patents dalam aplikasi masih tercentang. Artinya, hasil yang diperoleh perlu diperiksa karena dapat memuat jenis rekaman yang tidak semuanya berupa artikel jurnal.
Untuk latihan berikutnya, pilihan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Jika tujuanmu memang mengumpulkan artikel jurnal, pemeriksaan jenis publikasi menjadi bagian yang penting.
Setelah pengaturan selesai, klik tombol Search.

Perhatikan bahwa pencarian mungkin membutuhkan waktu. Jumlah hasil juga tidak selalu sama ketika dilakukan pada hari yang berbeda. Data publikasi dapat bertambah, informasi sitasi dapat diperbarui, dan hasil dari sumber pencarian dapat berubah.
Karena itu, catat tanggal pencarian sebagai bagian dari pekerjaan penelitian.
Dalam contoh yang digunakan pada tulisan ini, pencarian dilakukan pada 2 November 2026.
Ketika 500 Hasil Muncul di Layar
Pada contoh pencarian kita, Publish or Perish menampilkan 500 hasil untuk kata kunci learning media dalam rentang tahun 2022–2026.
Bagi mahasiswa yang biasanya mencari artikel satu per satu, angka ini mungkin terasa menyenangkan.
Bayangkan, hanya dengan memasukkan satu kata kunci, kita mendapatkan ratusan rekaman publikasi.
Tetapi jangan buru-buru menyebutnya 500 artikel yang siap digunakan.
Angka 500 menunjukkan jumlah hasil yang dikumpulkan berdasarkan pengaturan pencarian. Kita memang menetapkan batas maksimum 500 hasil. Artinya, angka tersebut tidak membuktikan bahwa hanya ada 500 penelitian tentang media pembelajaran.
Bisa saja jumlah publikasi yang berkaitan dengan topik ini jauh lebih banyak.
Selain itu, belum tentu seluruh hasil sesuai dengan pertanyaan penelitian yang akan disusun.
Ada perbedaan antara hasil pencarian dan literatur yang benar-benar dipilih untuk penelitian.
Hasil pencarian adalah bahan awal. Literatur terpilih adalah bagian dari bahan tersebut yang sudah diperiksa relevansi dan kelayakannya berdasarkan tujuan penelitian.
Perbedaan ini penting karena mahasiswa kadang merasa sudah memiliki tinjauan pustaka hanya karena berhasil mengunduh banyak PDF.
Padahal, mengumpulkan artikel baru merupakan satu tahap. Membaca, membandingkan, dan memahami hubungannya dengan masalah penelitian adalah pekerjaan berikutnya.
Pada tahap ini, kita cukup berkenalan dengan hasil yang muncul.
Membaca Daftar Hasil Pencarian
Lihat bagian bawah tampilan Publish or Perish.
Di sana terdapat daftar publikasi dengan beberapa kolom informasi.
Kolom Authors memperlihatkan nama penulis. Kolom Title menampilkan judul publikasi. Kolom Year menunjukkan tahun terbit. Kolom Publication memberikan informasi sumber penerbitan. Sementara kolom Cites memperlihatkan jumlah sitasi yang tercatat.
Pada data latihan kita, salah satu judul yang muncul adalah:
The strategic role of learning media in optimizing student learning outcomes (2023).
Judul tersebut memberikan petunjuk bahwa publikasinya berkaitan dengan peran media pembelajaran terhadap hasil belajar siswa.
Ada pula judul:
Efektivitas media pembelajaran interaktif dalam meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa sekolah dasar (2025).
Judul kedua mungkin menarik perhatian mahasiswa PGSD karena menyebut media interaktif, minat, motivasi, dan siswa sekolah dasar.
Sementara itu, mahasiswa seni tari mungkin masih perlu mencari artikel yang lebih dekat dengan pembelajaran gerak, demonstrasi, atau media audiovisual dalam pendidikan seni.
Perhatikan bahwa judul dapat membantu kita mengambil keputusan awal, tetapi belum cukup untuk menentukan isi penelitian.
Misalnya, sebuah judul menggunakan kata efektivitas. Apakah penelitian tersebut benar-benar menguji efektivitas dengan desain yang memadai? Bagaimana kemampuan siswa diukur? Apakah ada kelompok pembanding? Pertanyaan seperti itu baru dapat dijawab setelah metode dan isi artikelnya diperiksa.
Untuk membuka informasi publikasi, kamu dapat memilih atau mengklik dua kali hasil yang tersedia. Jika tautan daring ditemukan, aplikasi akan mengarahkan ke halaman terkait melalui peramban.
Tidak setiap hasil menyediakan teks lengkap. Kadang kita hanya menemukan abstrak atau halaman informasi publikasi.
Itu tidak berarti artikelnya tidak berguna. Namun, jika kamu ingin menggunakan hasil penelitian sebagai dasar argumentasi, usahakan memperoleh dan membaca sumber aslinya.
Apa Gunanya Angka-Angka di Samping Layar?
Selain daftar publikasi, Publish or Perish menampilkan panel Citation metrics.
Bagian ini berisi angka-angka seperti Papers, Citations, Cites/year, Cites/paper, h-index, dan g-index.
Untuk mahasiswa pemula, deretan angka itu mungkin terlihat lebih rumit daripada daftar judulnya.
Sebenarnya kita tidak perlu menguasai seluruh perhitungannya pada pertemuan pertama. Cukup memahami informasi apa yang diberikan dan bagaimana menggunakannya secara tepat.

Papers: Berapa Banyak Hasil yang Kita Miliki?
Pada contoh ini, nilai Papers adalah 500.
Artinya, ada 500 rekaman publikasi dalam kumpulan hasil yang sedang ditampilkan dan dihitung.
Bagi mahasiswa, angka ini membantu mengetahui banyaknya bahan awal yang ditemukan.
Namun, Papers bukan jumlah artikel yang wajib dibaca. Juga bukan ukuran bahwa sebuah topik sudah terlalu banyak diteliti.
Kita perlu melihat isi dan cakupan hasil terlebih dahulu.
Jika pencarian terlalu luas, jumlah hasil bisa besar, tetapi sebagian tidak sesuai kebutuhan. Sebaliknya, pencarian yang lebih khusus mungkin menghasilkan lebih sedikit artikel, tetapi lebih dekat dengan masalah penelitian.
Karena itu, jangan menjadikan banyaknya hasil sebagai perlombaan.
Citations: Seberapa Banyak Publikasi Itu Dikutip?
Dalam contoh ini, Publish or Perish menampilkan total 342.637 sitasi.
Angka tersebut merupakan penjumlahan sitasi yang tercatat pada kumpulan hasil pencarian.
Artinya bukan ada 342.637 penelitian tentang media pembelajaran. Angka itu juga tidak berarti 342.637 orang telah membaca publikasi tersebut.
Sitasi menunjukkan pencatatan pengutipan dalam sumber data yang digunakan, bukan jumlah pembaca.
Untuk memahami kegunaannya, bayangkan dua artikel.
Artikel pertama diterbitkan beberapa tahun lalu dan telah dikutip ratusan kali. Artikel kedua baru diterbitkan dan memperoleh beberapa sitasi.
Artikel pertama mungkin penting karena sering menjadi rujukan. Namun, kita belum dapat menyimpulkan bahwa artikel pertama pasti lebih tepat untuk penelitian kita.
Bisa saja artikel kedua membahas media pembelajaran yang lebih dekat dengan persoalan yang ingin diteliti.
Jumlah sitasi dapat menjadi petunjuk awal untuk menentukan bacaan, bukan pengganti pemeriksaan isi.
Cites per Paper: Rata-Rata Sitasi
Nilai Cites/paper pada contoh kita adalah 685,27.
Angka ini diperoleh dengan membagi total sitasi dengan jumlah hasil pencarian.
Secara sederhana, perhitungannya adalah:
342.637 ÷ 500 = 685,274.
Jika dibulatkan menjadi dua angka di belakang koma, hasilnya 685,27.
Namun, jangan membayangkan setiap publikasi memiliki sekitar 685 sitasi.
Rata-rata dapat meningkat karena beberapa publikasi memperoleh sitasi sangat tinggi, sementara publikasi lainnya hanya memperoleh sedikit.
Bayangkan satu kelas berisi lima mahasiswa. Empat mahasiswa membawa masing-masing satu buku. Seorang mahasiswa membawa 21 buku. Rata-ratanya menjadi lima buku per mahasiswa.
Padahal, sebagian besar mahasiswa hanya membawa satu buku.
Hal serupa dapat terjadi pada data sitasi.
Untuk mahasiswa yang sedang memilih rujukan, nilai rata-rata ini bukan penentu utama. Ia lebih berguna sebagai gambaran statistik kumpulan hasil.
Cites per Year: Sitasi per Tahun
Publish or Perish juga menampilkan Cites/year, yaitu rata-rata jumlah sitasi per tahun selama periode perhitungan yang digunakan aplikasi.
Pada contoh ini, nilainya 85.659,25.
Nilai tersebut diperoleh dari total sitasi dibagi empat tahun sitasi sebagaimana ditampilkan pada panel hasil.
Angka ini tidak berarti bahwa semua publikasi menerima sitasi sebanyak itu setiap tahun. Ini merupakan ukuran agregat atas kumpulan hasil pencarian.
Bagi pemula, cukup pahami bahwa metrik ini memberi gambaran aktivitas sitasi dalam periode tertentu.
Kita belum perlu menggunakannya untuk menentukan judul skripsi.
h-index: Mengapa Angkanya 339?
Salah satu metrik yang sering membuat mahasiswa penasaran adalah h-index.
Pada kumpulan hasil pencarian ini, nilainya 339.
Secara sederhana, h-index sebesar 339 berarti setidaknya terdapat 339 hasil yang masing-masing memiliki sedikitnya 339 sitasi.
Untuk contoh yang lebih mudah, bayangkan kita mempunyai lima artikel dengan jumlah sitasi 12, 8, 5, 2, dan 1.
Dari lima artikel itu, terdapat tiga artikel yang masing-masing sudah menerima setidaknya tiga sitasi. Namun, tidak ada empat artikel yang masing-masing menerima sedikitnya empat sitasi.
Maka h-index kumpulan tersebut adalah 3.
Dalam Publish or Perish, h-index dihitung berdasarkan hasil yang sedang digunakan.
Ini perlu diperhatikan karena h-index juga dikenal sebagai ukuran yang dapat diterapkan pada publikasi seorang peneliti.
Pada layar latihan kita, h-index 339 bukan h-index seorang mahasiswa, bukan h-index penulis artikel ini, dan bukan pula h-index seluruh bidang media pembelajaran.
Angka tersebut hanya menjelaskan kumpulan hasil yang dipilih.
Metrik lain seperti g-index dan hI,norm juga tersedia. Untuk sementara, kita tidak perlu menghitungnya satu per satu. Kita dapat mempelajarinya jika nanti memiliki kebutuhan analisis sitasi yang lebih khusus.
Yang perlu diingat, angka-angka ini dihitung dari informasi yang berhasil dikumpulkan. Jika data mengandung kesalahan, hasil pengukurannya pun dapat terpengaruh.
Apakah Artikel dengan Sitasi Terbanyak Harus Dibaca Lebih Dahulu?
Pertanyaan ini sering muncul ketika mahasiswa melihat kolom Cites.
Jawabannya: boleh dijadikan salah satu pertimbangan, tetapi jangan menjadi satu-satunya alasan.
Misalnya, mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia sedang merancang media untuk membantu siswa menulis cerpen.
Ia menemukan artikel dengan 2.000 sitasi tentang teknologi pendidikan secara umum. Di sisi lain, ada artikel dengan 15 sitasi yang secara khusus membahas penggunaan media cerita interaktif dalam pembelajaran menulis.
Artikel pertama mungkin penting untuk memahami gambaran besar. Namun, artikel kedua bisa lebih dekat dengan kebutuhan penelitiannya.
Hal yang sama berlaku pada mahasiswa seni tari.
Penelitian tentang media digital dengan sitasi tinggi belum tentu menjelaskan bagaimana siswa mempelajari rangkaian gerak, menerima koreksi tubuh, atau menggunakan video untuk berlatih secara mandiri.
Dalam penelitian seni dan humaniora, perhatian kita juga tidak selalu hanya pada skor atau hasil belajar. Kita mungkin perlu membaca pengalaman, proses, makna, kebiasaan, dan hubungan antara media dengan kegiatan belajar.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar “berapa kali artikel ini dikutip?”, melainkan “apakah artikel ini membantu memahami masalah yang sedang saya teliti?”
Jumlah sitasi membantu menemukan jejak pengaruh sebuah publikasi. Relevansi membantu menentukan apakah jejak itu perlu kita ikuti.
Keduanya tidak selalu menunjuk ke arah yang sama.
Melihat Tahun Publikasi: Benarkah Penelitian Semakin Sedikit?
Sekarang kita membuka data hasil pencarian yang sudah disimpan.
Dari 500 rekaman dalam RIS latihan, informasi tahun publikasi terbagi sebagai berikut:
| Tahun | Jumlah hasil |
|---|---|
| 2022 | 216 |
| 2023 | 167 |
| 2024 | 91 |
| 2025 | 20 |
| 2026 | 5 |
| Tidak tercantum | 1 |
Jika dibaca sepintas, jumlah hasil terlihat semakin sedikit dari 2022 menuju 2026.
Apakah ini berarti penelitian media pembelajaran sedang menurun?
Belum tentu.
Kita perlu mengingat cara data diperoleh.
Pencarian menggunakan kata kunci tertentu, mengambil hasil dari Google Scholar, dan membatasi maksimum hasil menjadi 500.
Kumpulan ini bukan sensus seluruh publikasi tentang media pembelajaran. Cara sistem mengurutkan dan mengembalikan hasil dapat memengaruhi komposisi tahun.
Publikasi tahun 2026 juga belum mencakup satu tahun penuh pada waktu pencarian.
Karena itu, kita tidak boleh langsung membuat kesimpulan bahwa minat peneliti terhadap media pembelajaran semakin rendah.
Ini salah satu pelajaran terpenting dalam menggunakan aplikasi penelitian. Angka bisa terlihat jelas, tetapi maknanya tetap bergantung pada cara angka itu diperoleh.
Jika kita ingin benar-benar meneliti perkembangan publikasi dari tahun ke tahun, diperlukan strategi pencarian yang lebih terencana, termasuk pemeriksaan cakupan data, pemilihan sumber, dan cara pengumpulan yang konsisten.
Untuk latihan pertama, tabel tahun cukup digunakan untuk mengenali isi file.
Menyimpan Hasil Pencarian dalam Format RIS
Sekarang kita sampai pada pekerjaan yang dapat langsung digunakan setelah menutup Publish or Perish.
Kita sudah menjalankan pencarian, membaca daftar publikasi, dan mengenali beberapa metriknya.
Langkah berikutnya adalah menyimpan hasil tersebut dalam format RIS.
RIS merupakan format pertukaran data bibliografi. Secara sederhana, format ini memungkinkan informasi tentang suatu publikasi dipindahkan dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
Misalnya, kita menemukan puluhan artikel melalui Publish or Perish. Daripada menyalin nama penulis, judul, tahun terbit, dan nama jurnal satu per satu ke aplikasi pengelola referensi, informasi tersebut dapat disimpan dalam satu file RIS.
File tersebut nantinya bisa diimpor ke Zotero atau Mendeley.
Kita belum perlu mempelajari cara menggunakan kedua aplikasi tersebut sekarang. Yang penting, hasil pencarian kita sudah tersimpan dalam format yang sesuai untuk pekerjaan berikutnya.
Cara Mengekspor File RIS dari Publish or Perish
Perhatikan daftar publikasi yang muncul setelah pencarian selesai.
Pada bagian kiri setiap rekaman terdapat tanda centang. Tanda tersebut digunakan untuk menentukan hasil mana yang akan disertakan ketika data diekspor.
Secara bawaan, seluruh rekaman biasanya sudah tercentang.
Jika kamu ingin menyimpan seluruh hasil pencarian, pastikan rekaman yang dibutuhkan tetap tercentang.
Kemudian ikuti langkah berikut:
- Buka menu File pada Publish or Perish.
- Pilih Save As RIS/RefManager.
- Tentukan folder penyimpanan.
- Beri nama file, misalnya
learning_media_2022_2026.ris. - Simpan file tersebut.

Sampai di sini, kita sudah memperoleh file RIS yang berisi informasi referensi dari hasil pencarian.
Perlu diperhatikan bahwa file RIS tidak sama dengan kumpulan PDF artikel.
Jika kamu mengekspor 500 rekaman, bukan berarti komputer otomatis mengunduh 500 naskah artikel lengkap.
Yang disimpan adalah informasi bibliografinya, seperti judul, penulis, tahun, sumber publikasi, DOI, dan tautan apabila tersedia.
File RIS berfungsi sebagai wadah data referensi. Untuk membaca artikel lengkap, kita tetap perlu memperoleh naskah dari sumber yang sesuai.
Apa Isi File RIS Kita?
File yang digunakan dalam contoh ini berisi 500 baris data publikasi dengan 26 kolom.
Beberapa kolomnya mudah dipahami, seperti Authors, Title, Year, dan Source.
Ada juga Cites untuk jumlah sitasi, DOI untuk pengenal digital publikasi jika tersedia, Abstract untuk ringkasan artikel, dan beberapa kolom tautan.
DOI merupakan pengenal digital yang dapat membantu menemukan suatu publikasi. Namun, tidak semua rekaman dalam hasil pencarian memiliki DOI yang terisi.
Pada data latihan ini, 226 dari 500 rekaman memiliki isi pada kolom DOI. Sebanyak 488 rekaman mempunyai isi pada kolom abstrak, sedangkan 404 memiliki isi pada kolom tautan teks lengkap.
Angka tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Kolom yang terisi belum tentu berarti informasinya lengkap atau tautannya dapat langsung diakses.
Misalnya, sebuah rekaman memiliki tautan teks lengkap. Kita masih perlu membukanya untuk memastikan halaman tersebut benar-benar menyediakan naskah yang sesuai.
Begitu pula abstrak. Ringkasan yang tersedia dapat membantu penyaringan awal, tetapi tidak menggantikan pembacaan artikel lengkap ketika metode dan hasil penelitiannya akan digunakan.
Untuk mahasiswa pemula, kita tidak perlu mengolah seluruh 26 kolom sekaligus.
Cukup mulai dengan lima informasi: judul, penulis, tahun, sumber publikasi, dan tautan atau DOI. Setelah itu, tambahkan kolom baru untuk mencatat keputusan kita.
Apa yang Bisa Dilakukan dengan File RIS?
Bayangkan kamu sudah menyimpan file bernama learning_media_2022_2026.ris.
File tersebut dapat menjadi bahan awal untuk membangun perpustakaan referensi pribadi.
Salah satu aplikasi yang dapat menerima RIS adalah Zotero.
Sebagai gambaran, setelah memasang dan membuka Zotero, kamu dapat memilih menu File → Import → A file, lalu menunjuk file RIS yang telah disimpan.
Zotero kemudian mencoba membaca informasi referensi dalam file tersebut dan menambahkannya ke perpustakaan.
Namun, kita tidak perlu membahas seluruh fitur Zotero dalam artikel ini. Pengelolaan folder, pengaturan sitasi, dan pembuatan daftar pustaka dapat menjadi latihan tersendiri.
Ada hal penting yang tidak boleh dilewati.
Berhasil mengimpor RIS belum berarti semua informasi referensinya pasti benar.
Kita perlu memeriksa apakah nama penulis sudah tepat, tahun terbit sesuai, judul lengkap, sumber publikasi benar, dan DOI merujuk pada publikasi yang dimaksud.
Informasi yang diperoleh dari Google Scholar dapat mengandung kekurangan atau kesalahan. Kesalahan tersebut mungkin ikut terbawa ke file RIS.
Karena itu, referensi yang akan dikutip dalam skripsi sebaiknya dicocokkan dengan halaman penerbit atau artikel aslinya.
Mengapa File RIS Perlu Disimpan Meskipun Belum Digunakan?
Mungkin kamu bertanya, untuk apa menyimpan ratusan referensi jika belum semuanya akan dibaca?
Pertanyaan itu masuk akal.
Pada tahap awal, kita memang belum mengetahui publikasi mana yang akhirnya menjadi rujukan utama.
File RIS membantu mempertahankan hasil pencarian sehingga informasi bibliografinya tidak perlu dikumpulkan ulang satu per satu.
Tetapi menyimpan hasil tidak sama dengan menyatakan semuanya layak digunakan.
Kita tetap harus melakukan seleksi.
Karena itu, saya menyarankan membuat dua file RIS dengan fungsi berbeda.
File pertama berisi hasil pencarian awal. Misalnya:
learning_media_2022_2026_asli.ris
File kedua berisi publikasi yang sudah dipilih untuk diperiksa lebih lanjut. Misalnya:
learning_media_bacaan_awal.ris
Dengan begitu, hasil pencarian asli tetap tersedia, sementara kumpulan bacaan pilihan dapat dikembangkan secara bertahap.
Kita tidak perlu menghapus informasi awal hanya karena belum memerlukannya hari ini.
Memilih Lima Artikel untuk Dibaca
Setelah mengetahui cara menyimpan RIS, sekarang kita kembali ke daftar hasil dalam Publish or Perish.
Untuk latihan, pilih 20 rekaman yang tampaknya berkaitan dengan minat penelitianmu.
Angka 20 hanya digunakan agar pekerjaan tetap mudah dilakukan dalam satu sesi. Bukan aturan metodologi bahwa mahasiswa wajib memeriksa tepat 20 artikel.
Bacalah judulnya terlebih dahulu. Jika tersedia, lanjutkan dengan abstrak.
Kemudian tentukan lima publikasi yang paling layak dibaca lebih jauh.
Misalnya, mahasiswa PGSD ingin membuat media pembelajaran interaktif.
Ia mungkin memilih artikel yang membahas pengembangan media, kebutuhan siswa, cara penggunaan media di kelas, serta pengukuran hasil belajar.
Mahasiswa seni tari mungkin memilih publikasi tentang pembelajaran gerak, demonstrasi, penggunaan video, dan pengalaman siswa selama berlatih.
Mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia dapat memilih penelitian tentang media pembelajaran menulis, pengembangan cerita digital, atau strategi meningkatkan keterampilan berbahasa.
Pilihan tersebut perlu disertai alasan.
Kamu dapat membuat catatan sederhana di buku atau dokumen terpisah.
| Publikasi | Alasan dipilih | Hal yang perlu diperiksa |
|---|---|---|
| Artikel A | Membahas media interaktif | Bagaimana medianya digunakan? |
| Artikel B | Sesuai jenjang pendidikan | Siapa partisipannya? |
| Artikel C | Menggunakan video pembelajaran | Bagaimana hasil belajar diukur? |
| Artikel D | Berkaitan dengan motivasi belajar | Apa desain penelitiannya? |
| Artikel E | Menawarkan pendekatan berbeda | Apa keterbatasannya? |
Tabel ini hanya contoh bentuk catatan, bukan hasil analisis terhadap lima artikel tertentu.
Setelah memilih lima rekaman dalam Publish or Perish, atur tanda centang sehingga hanya hasil yang ingin disimpan yang terpilih.
Kemudian gunakan kembali menu File → Save As RIS/RefManager dan simpan sebagai file bacaan awal.
Sekarang kamu memiliki satu file RIS berisi hasil pencarian awal dan satu file RIS berisi daftar bacaan pilihan.
Keduanya dapat digunakan kembali ketika mulai mengelola referensi.
Jangan Menganggap Semua Rekaman sebagai Artikel Jurnal
Ada satu hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan file hasil ekspor.
Google Scholar dapat menampilkan berbagai jenis dokumen akademik. Hasil yang muncul tidak selalu berupa artikel jurnal dengan informasi lengkap.
Dalam contoh pencarian kita, beberapa hasil juga ditandai sebagai CITATION.
Rekaman semacam ini dapat menunjukkan karya yang dikenali melalui pengutipan pada dokumen lain. Namun, informasi publikasinya mungkin belum lengkap.
Karena itu, jangan langsung menganggap setiap baris sebagai artikel jurnal yang telah diperiksa.
Jika menemukan informasi yang meragukan, telusuri kembali judulnya. Periksa halaman penerbit, DOI, atau sumber lain yang dapat membantu memastikan identitas publikasinya.
Perhatikan pula kemungkinan duplikasi.
Kadang karya yang sama muncul dengan variasi informasi penulis atau judul. Namun, dua judul yang mirip juga belum tentu merupakan karya yang sama.
Pemeriksaan duplikasi sebaiknya mempertimbangkan nama penulis, tahun, judul lengkap, DOI, dan sumber publikasi.
Jika kamu hendak memakai referensi untuk mendukung argumen dalam skripsi, utamakan pemeriksaan pada artikel asli.
File RIS mempermudah pengelolaan referensi, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan kebenaran informasinya.
Apakah File RIS Sudah Bisa Menjadi Tinjauan Pustaka?
Belum.
File RIS membantu menyimpan dan memindahkan informasi referensi.
Namun, tinjauan pustaka memerlukan pekerjaan yang berbeda.
Misalnya, mahasiswa seni tari ingin meneliti penggunaan video untuk membantu siswa mempelajari rangkaian gerak.
Ia perlu memahami bagaimana penelitian sebelumnya menjelaskan pembelajaran gerak, penggunaan media audiovisual, proses latihan, dan pengalaman siswa.
Setelah membaca beberapa artikel, ia mulai menemukan persamaan dan perbedaan.
Mungkin ada penelitian yang menekankan ketepatan gerak. Ada yang memperhatikan motivasi belajar. Ada pula yang lebih tertarik pada pengalaman siswa ketika belajar secara mandiri.
Dari situ, pertanyaan penelitian dapat berkembang.
Hal serupa berlaku pada mahasiswa bahasa Indonesia dan PGSD.
Mengumpulkan referensi membantu mengetahui siapa yang pernah meneliti suatu persoalan. Membaca dan membandingkan penelitian membantu memahami apa yang sudah diketahui serta apa yang masih perlu dipertanyakan.
Karena itu, jangan menjadikan jumlah referensi sebagai ukuran tunggal kemajuan penelitian.
Lima artikel yang benar-benar dibaca dan dipahami dapat menjadi titik awal yang lebih berguna daripada ratusan judul yang belum pernah diperiksa.
Latihan Mandiri: Dua File RIS untuk Memulai Penelitian
Sekarang coba lakukan latihan secara utuh.
- Buka Publish or Perish dan jalankan pencarian learning media dari Google Scholar dengan rentang 2022–2026.
- Catat tanggal pencarian, jumlah hasil, total sitasi, dan h-index yang ditampilkan.
- Simpan seluruh rekaman yang ingin dipertahankan dalam file RIS pertama.
- Periksa 20 hasil berdasarkan judul dan abstrak, lalu tentukan lima publikasi yang paling relevan.
- Ekspor lima publikasi tersebut sebagai file RIS kedua dan buat catatan singkat alasan pemilihannya.
Pada akhir latihan, kamu memiliki dua file referensi serta satu catatan seleksi.
File pertama menyimpan hasil pencarian awal. File kedua menyimpan bacaan yang diprioritaskan.
Catatan seleksi membantu menjelaskan mengapa publikasi tersebut dipilih.
Jika hasil pencarianmu berbeda dari contoh, tidak masalah. Jumlah hasil bergantung pada waktu, pengaturan, dan data yang tersedia.
Keberhasilan latihan bukan ditentukan oleh apakah kamu memperoleh tepat 500 publikasi.
Keberhasilannya terletak pada kemampuan menjalankan pencarian, memahami hasilnya, menyimpan referensi, dan memilih bahan bacaan berdasarkan alasan yang dapat dijelaskan.
Setelah Punya RIS, Apa Langkah Berikutnya?
Sekarang kita memiliki file yang bisa dibawa ke aplikasi lain.
Melalui Zotero atau Mendeley, kita dapat mulai mengelola informasi referensi, mengelompokkan bacaan, dan menyiapkan sitasi untuk penulisan akademik.
Jika ingin melihat hubungan antarpublikasi atau memetakan tema penelitian, kita juga dapat mempelajari aplikasi VOSviewer.